BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 135


__ADS_3

Sinar matahari meresap menembus atap kubah menara yang terbuat dari kaca patri. Atap itu kotor, tetapi cahaya tetap saja bisa menerobos masuk, menerangi bagian dalam menara yang benar-benar hanya berisi tangga batu pilin tanpa selusur.


Marco duduk bersandar di dinding menara di samping pintu baja dengan pedang pendek yang sudah tumpul dan kotor tergeletak di sampingnya, sedang mengunyah permen. Ia masih punya dua bungkus lagi di kantung celana. Permen itu tidak mengenyangkan, tetapi membantunya menjaga asupan gula dan membuatnya berhenti gemetaran.


Memalukan, pikirnya sambil mencengkeram tangannya yang sejak tadi mengalami tremor. Ia menyalahkan umurnya sendiri untuk tremor yang ia alami, tidak mau mengakui bahwa getaran itu adalah sisa dari rasa ngeri dan teror yang menderanya semalaman. Ia tidak tidur dan tangannya gemetaran hebat hingga ia bahkan tidak bisa lagi menggenggam pedang. Sekarang kepalanya sakit dan otot-ototnya nyeri karena dipaksa kerja semalaman, tetapi setidaknya tremor itu sedikit mereda begitu matahari menghangatkan tubuhnya.


Pintu menuju ke luar masih bisa terbuka kalau ia menginjak ubin yang tepat, tetapi pintu itu akan segera menutup begitu Marco meninggalkan tempatnya berdiri. Ia sudah mencoba menggunakan mayat pemuda berpisau sebagai pemberat ubin, tetapi percuma. Marco juga menjajal menggunakan salah satu mayat pemuda yang lain sebagai ganjal pintu dengan cara menggelindingkannya seperti Nolan begitu pintu membuka, tetapi tubuh manusia ternyata terlalu lunak untuk jadi ganjal. Begitu pintu terbanting menutup lagi, mayat tersebut justru tergencet remuk sampai pecah jadi dua bagian.


Marco tidak merasa bersalah melihat kekacauan yang ia buat. Menurutnya, orang yang sudah mati sama saja dengan bangkai atau barang tak hidup lain. Tidak perlu sungkan pada mayat. Apalagi kalau mayat itu adalah milik orang yang ketika hidup sempat ingin mencelakainya.


Marco menyadari cara kerja menara castling ini. Untuk keluar dari menara tersebut, ia membutuhkan pengorbanan seseorang. Seseorang harus tetap tinggal di dalam menara, menginjak ubin dan menjaga agar pintu tetap terbuka. Namun ia tidak punya orang seperti itu, yang berarti ia tidak bisa keluar melalui pintu menara.


Marco menghela napas dengan lelah dan mengurut lembut kakinya yang sakit—ia sempat mencoba melawan waktu pertama dibawa ke penjara ketika bersama Nolan, dan itu membuat pergelangan kaki kanannya mendapat pukulan kuat dengan tongkat logam. Tidak patah dan tidak retak, Marco sudah memeriksanya, tetapi rasa nyeri itu tetap saja ada. Memarnya kini berubah warna dan membengkak.


Tongkat timah. Orang yang memukulnya jelas Charles. Hanya pria itu yang suka berjalan-jalan membawa tongkat timah.


Marco menarik pedang pendek yang ia letakkan di sisinya, yang sudah kotor berlapis lemak daging dan darah kering, kemudian menggunakannya sebagai tumpuan untuk bangkit. Selagi tidak ada beban untuk melindungi siapa pun, ia akan menyelidiki sendiri kastil ini.


Marco menghela tubuhnya untuk bangun. Ia menghaluskan waistcoat-nya, menyisir rambut peraknya dengan jari, kemudian melangkah dengan agak pincang melewati mayat salah satu pemuda berpisau yang berbau tak sedap serta gumpalan daging dan darah sisa hantu hitam. Ia menaiki tangga batu di menara itu perlahan-lahan, sambil bersenandung kecil.

__ADS_1


***


Robert tidak bisa menggambarkan rasa lega sekaligus jengkelnya ia begitu melihat Marco muncul dari pintu rahasia. Ia baru saja hendak memeriksa kondisi Marco karena didengarnya hantu hitam sengaja dilepas semalam untuk memburu pria itu. Ia pikir ia akan menemukan Marco dalam keadaan gila atau cacat, tetapi ternyata tidak. Ajaibnya, Marco kelihatan sehat-sehat saja.


"Menjemputku, Robert?" Marco menyunggingkan senyum tipis. Sikap tubuhnya santai dengan berat tubuh dibebankan di satu kaki, tetapi genggamannya pada gagang pedang mengerat waspada.


Robert mengangguk kaku. "Aku diminta membawamu, dan sebaiknya kau patuh."


"Diminta? Oleh Charles? Atau Sir William?"


Robert tidak perlu bertanya dari mana Marco bisa mendapatkan nama-nama tersebut. Ia tahu pria itu pasti sudah bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. "Kau akan tahu nanti," katanya. "Aku berusaha cukup keras untuk bisa diizinkan menjemputmu sendirian."


Robert tak yakin. Ia meneliti Marco dari atas sampai bawah, memperhatikan bahwa meski kumal dan penuh kotoran, pria itu tetap bisa terlihat seperti layaknya bangsawan. "Kau lapar," katanya. "Ini hari kedua kau tidak makan. Kau habis melakukan entah apa di dalam menara itu, dan kau juga terluka. Kau tidak punya tenaga untuk melawan sementara aku membawa revolver. Yakinlah Argent, aku tidak akan segan menggunakannya kali ini. Bahkan meski harus menyeretmu dalam keadaan sekarat, aku tetap akan tetap membawamu ke atas. Jadi sebaiknya jangan buat aku menempuh jalan sulit. Buat ini jadi lebih mudah bagi kau dan aku."


"Kenapa aku harus membuatnya mudah bagimu?" balas Marco tenang, ia melangkah perlahan mendekati Robert. "Aku lebih suka mati ketika melawan daripada mati ketika menyerah."


"Kau tidak akan mati!" Robert menukas pendek, jengkel. "Aku tidak akan membiarkanmu mati."


Marco tertawa pendek. "Bagaimana caranya? Aku kan tetap manusia. Kau mau menjadikanku abadi?"

__ADS_1


"Jangan tolol. Maksudku, aku tidak akan membiarkanmu dibunuh!" Robert jadi jengkel. Ia selalu merasa jengkel setiap bicara dengan Marco. Lelaki itu selalu saja mengkritik dan mempertanyakan balik tiap kata yang ia gunakan, membahas diksinya secara literal. "Sudahlah, aku tahu kau penasaran setengah mati tentang siapa yang membawamu ke sini! Ikut aku sekarang dan bersikaplah seperti anak baik! Tinggalkan pedang itu!"


"Kau tidak akan membiarkanku dibunuh?" ulang Marco hati-hati. "Jadi di atas sana ada yang ingin membunuhku?"


"Kau jelas tahu soal itu. Mereka akan menggunakanmu sebagai tumbal, sebagai kurban."


Marco sudah menduganya. "Kenapa aku?" tanyanya heran. Ia berpikir sebentar, lalu mengubah pertanyaannya, "Apa tumbalnya harus aku?"


"Tidak ada alasan spesial. Tumbal yang sempurna adalah infidel. Semua orang kan tahu kau tidak percaya tuhan." Robert mendengus. "Kau mau ikut atau aku harus menembak tempurung kakimu dulu?"


Marco merasa ini menarik, jadi ia membuang pedangnya dan berkata angkuh, "Dengan ataupun tanpa kau, aku memang hendak ke atas."


"Pintar," cemooh Robert. Kumisnya berkedut ketika ia menahan tawa. "Tanpa aku, kau pasti mati."


"Aku tidak bersamamu ketika berada di dalam menara itu," sahut Marco sambil mengedikkan kepala ke pintu di sampingnya. "Tapi kau lihat sendiri aku selamat. Sehat walafiat."


Itu benar. Robert kehabisan kata-kata. Akhirnya ia hanya mendengus. "Sebaiknya kau pura-pura gila atau shock. Itu akan membuat semuanya lebih mudah." Ia berbalik duluan menuju elevator, kemudian berdiri di samping tuas penggerak dan menunggu Marco yang meski pincang tetap berusaha berjalan dengan bahu tegak.


"Dan kenapa kau tidak ingin aku terbunuh, Robert?" tanya Marco ketika sampai. Titik-titik keringat menghiasi keningnya. Untuk berjalan dengan kaki sakit tanpa mengaduh atau mengernyit adalah perjuangan tersendiri baginya. "Kau mulai menyukaiku? Rasanya mustahil."

__ADS_1


Robert menunggu sampai Marco masuk ke dalam sangkar elevator sebelum menarik tuas dan ikut meloncat masuk ke dalam. "Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu terbunuh," katanya agak keras, menjaga agar suaranya tetap terdengar meski di sekitar mereka begitu berisik. "Aku di sini untuk mengakhiri pembunuhan!"


__ADS_2