
Saat tangan dan kaki putranya dipatahkan oleh Sir William, Edgar sedang berada di sisi lain Bjork, dihinggapi dilema. Ia melihat Bjork diserbu monster-monster aneh yang berjalan seperti kera tapi bisa merayap di tembok. Makhluk itu berwarna cokelat muda atau kelabu, menyerang dengan cakar dan giginya yang tajam, mengamuk tanpa pandang bulu. Edgar menebaskan kilij-nya memenggal kepala salah satu makhluk.
"Apa ini yang namanya golem?" tanya Greyland sambil menusuk dengan rapier-nya, melontarkan satu makhluk jauh hingga menabrak dinding rumah.
"Harusnya bukan!" Edgar sendiri belum pernah melihat seperti apa yang namanya golem, tapi setahunya golem tidak jatuh dari langit. Lonceng balai kota berbunyi bersahut-sahutan, beriringan dengan pekik kikikan monster-monster yang tak berhenti jatuh dari langit. Beberapa makhluk tersebut remuk dan hancur ketika jatuh dengan kepala duluan, tapi kebanyakan berhasil mendarat dengan sukses di permukaan Bjork dan mengamuk.
"Kita tetap ke Selatan?" Greyland berseru lagi. Ia sendiri sebenarnya ingin segera mencari Marco, tapi tugasnya saat ini adalah menjaga Edgar. Seorang Greyland tidak boleh meninggalkan Argent yang sedang dijaganya.
Edgar juga ingin ke Selatan, memastikan kondisi keluarganya, tapi makhluk-makhluk di sekitarnya ini jelas berbahaya. Ia melihat beberapa polisi patroli mulai kewalahan. Ada juga yang kabur. "Lindungi Bjork!" serunya, menelan rasa putus asa bulat-bulat. "Bantu polisi patroli!"
Greyland mengangkat rapier-nya dan mengulangi perintah Edgar, yang dibalas dengan hunusan pedang dan seru-seruan penuh semangat. Pasukannya berpencar dalam satuan masing-masing, meninggalkan dua puluh orang di sekitar mereka yang terus menumpas monster tengkorak yang datang.
"Kuharap kau tidak akan menyesali keputusan ini," bisik Greyland pelan di samping Edgar. Tangannya mengelus surai kuda, menenangkan binatang itu.
"Aku akan menyesalinya," Edgar menjawab dingin. Air matanya bergulir jatuh dari mata kiri. "Tapi inilah yang akan dilakukan Marco. Dia sudah menerima tantangan untuk membangun kota ini. Mana mungkin kubiarkan hancur."
"Kau benar." Greyland menatap jalanan Bjork dengan muram lalu menghela napas. "Dia dan harga dirinya yang tinggi."
Mereka mencongklang, ikut melawan setan-setan jatuh di sekitar mereka satu demi satu.
***
Satu shelédbolis jatuh ke sisi Nolan, yang otomatis segera meloncat menyingkir. Makhluk itu mengeluarkan desis seperti bara disiram air. Pekikannya melengking panjang membelah malam. Dave menyumpah kaget dan langsung menyambar satu kayu dari api unggun, mengarahkan nyalanya pada makhluk itu.
"Apa itu?!" jerit Nolan ngeri, tapi sambil refleks menendang kepala shelédbolis lain yang jatuh ke tanah di sampingnya. Makhluk itu membuatnya merinding jijik dan seluruh kulit kepalanya jadi gatal-gatal. Ia meraih satu tongkat api, mengikuti contoh Dave, lalu mengarahkannya pada makhluk tadi, yang masih belum mundur.
Pintu karavan terbuka disusul bunyi dua letusan senjata api yang memekakkan telinga. Nolan merasa telinganya berdenging. Ia menoleh, melihat Tuan Stuart masih menodongkan pistol dengan waspada. Ujung senjatanya berasap. "Kalian semua, masuk!" perintahnya. "Berlindung di karavan!"
Dave menoleh ke sekitar, berniat jadi orang terakhir yang masuk. Yang penting para perempuan dulu. Nolan tidak segera masuk karena menunggu yang lain berlindung duluan. Susan masih menggenggam belati pendek sebagai senjata, punggungnya menempel pada karavan, wajahnya ketakutan.
"Mana Garnet?" tanya Dave ketika tidak ada yang bergerak. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dan berhenti pada Susan. "Ke mana nonamu?"
Mendengar nama Garnet disebut-sebut, Albert menggeser pundak Tuan Stuart dan melangkah turun dari karavan. Mata birunya menatap galak ke sekitar. "Mana Maria?!"
Winona kena serangan panik di dalam karavan, Renata dan Helga berusaha menenangkannya.
Nolan tahu di mana gadis itu. "Pasti menyusul Jose."
***
Maria melihat dengan jelas ketika Jose melenyapkan Shakranim. Ia bersembunyi di balik tanaman perdu bersama dengan Hans. Tadinya Maria ingin menyelinap sendirian, tapi ketahuan oleh pekerja itu.
"Aku cuma mau mengintip sebentar lalu kembali," bisik Maria waktu ketahuan, berhati-hati agar tidak ada yang mendengarnya. Susan sedang mengalihkan perhatian Nolan dan Dave dengan membuatkan mereka minuman panas dan meladeni keduanya mengobrol. Tuan Stuart di dalam karavan, diberondong pertanyaan oleh Tuan dan Nyonya Garnet serta Renata.
__ADS_1
"Tuan Kecil minta saya menjaga Nona," Hans memaksa. Karena Gerald selamat, Jose beranggapan itu karena tato di tubuhnya, jadi Hans diutus menjadi penjaga Maria. "Saya harus ikut."
Setelah berdebat sebentar, Maria menyerah dan membiarkan Hans mengikutinya. Keputusan yang bagus karena pria itu kemudian jadi bisa melindunginya dari shelédbolis yang berhujanan jatuh. Perhatian Maria sempat teralihkan oleh makhluk itu hingga ia tidak melihat apa yang terjadi pada Jose. Suara jeritan lelaki itu membuatnya terlonjak kaget dan keluar dari tempat persembunyian.
"Jose!" pekiknya panik melihat lelaki itu dibanting jatuh ke tanah. Segala hal terjadi dengan cepat. Iblis Sir William lenyap, Jose berseru memberi aba, kemudian suara tembakan susul menyusul mengiringi jatuhnya tubuh Sir William. Rolan, Marsh, dan Clearwater beserta pasukan mereka menderap lari menyeberangi jembatan.
Maria menahan napas melihat mereka semua berubah jadi abu dalam sekejap.
"Nona, jangan!" Hans berteriak memanggil Maria yang berlari keluar dari semak perdu. Ia menggeret dan melempar beberapa shelédbolis yang menghalangi serta hampir menyerang Maria. Pria itu tersengal mengejarnya. "Nona!"
Maria tidak peduli. Di depan matanya ia melihat bagaimana Sir William berjalan mendekati Jose seperti predator mendekati mangsa. Mana mungkin ia diam saja. Maria tahu pria itu akan menyakiti Jose. "Sir William!" panggilnya keras sambil terus berlari. Pinggangnya kram dan napasnya sesak. Air matanya merebak panas. "William jangan!!" Suaranya terlalu kecil, tidak kedengaran di tengah gemuruh awan aneh di langit, lonceng balai kota, dan jerit pekik setan yang terus melengking memenuhi kota.
Kalau kau ada di sana, bantu aku! Kumohon bantu aku hentikan kekasihmu! Maria memejamkan mata sambil berlari, membiarkan dengung ribut di kepalanya menguasai kesadaran. Ia akan menyerah, ia memutuskan untuk menyerah. Wanita itu boleh keluar dan mengambil alih tubuhnya asal Jose bisa selamat. Ia tidak ingin melihat Jose terluka.
Rumahnya. Maria terisak. Ia akan menyerahkan rumah itu, rumah aneh dalam jiwanya yang ia rasa tidak hanya ditinggali olehnya seorang. Ia akan menyerahkan apa pun.
Arabella, bantu aku!
Tuhan, tolong hamba-Mu!
***
Jose tahu pria itu tidak akan membunuhnya, tapi Sir William pasti akan membuatnya lumpuh. Ia bisa menebak dengan jelas apa yang ingin dilakukan oleh Sir William.
Aku harus bertahan sampai gerhana, pikirnya. Ulur waktu!
Tapi Jose tidak bisa memikirkan apa pun. Kepalanya pusing dan tulang-tulangnya seperti meleleh. Rasanya panas. Ia salah perhitungan. Harusnya ia membiarkan semua orang tetap di Selatan. Jose membenturkan keningnya ke tanah, menyesali kebodohannya. Harusnya ia bisa menyusun rencana lebih rapi lagi.
Sir William ada di depannya sekarang. Jose bisa melihat ujung sepatunya. Ia bisa merasakan hawa dingin menggigit yang berasal dari tubuh pria itu.
"Sudah menyerah, Argent?"
"Terkutuklah kau!" sahut Jose geram. Ia mengangkat tubuh dengan satu tangan untuk bangun, tapi lengannya ditendang dan tubuhnya kembali terempas jatuh.
"Kau kelihatan lebih manis kalau diam di tanah seperti itu," sahut Sir William tenang. "Mulut lancangmu itu perlu diatasi dulu. Bagaimana kalau lidahmu kutarik lepas?"
Seluruh tubuh Jose bergetar hebat karena ngeri. Ia tahu pria itu serius. Tenang, aku masih punya stamina, pikirnya di tengah rasa kalut. Matanya bergerak gelisah. Pertama sembuhkan dulu kaki, lalu tendang dia ke sungai.
Namun Jose kesulitan berkonsentrasi karena suhu udara anjlok dan Sir William berjongkok di sampingnya, menjambak rambutnya. Jemari pria itu dingin, rasanya seperti disentuh oleh es.
"Kau masih merencanakan sesuatu, Argent?" Mata biru itu menatap tanpa belas kasihan.
Bagaimana bisa matanya punya warna yang sama dengan Maria tapi kelihatan begitu menjijikan?
__ADS_1
"Kau sebelumnya tidak bisa melakukan ini," kata Jose dalam usahanya mengulur waktu. Giginya bergemeletuk hebat hingga suaranya tidak kedengaran terlalu jelas. "Kau tidak bisa memusnahkan orang lain jadi abu. Itu bukan kekuatanmu."
"Memang bukan," jawab Sir William kalem. Bibirnya membentuk kurva senyum yang manis. "Aku meminjam kekuatan guruku."
"Gurumu? Maksudmu Shakranim yang tadi?"
Sir William tergelak. "Aku tahu kau hanya ingin mengulur waktu. Siapa namanya tidak penting untuk kau tahu. Kita kembali ke rumahku sekarang, kau dan aku akan menunggu gerhana di sana. Tapi pertama, lidahmu dulu. Buka mulut sini, bakal lebih mudah kalau kau bekerja sama. Tidak sakit, kok."
Jose menggertakkan gigi, bersiap untuk menerima rasa sakit atau serangan lain ketika telinganya mendengar sebuah suara. Suara yang sangat dikenalnya.
"Billy!"
Baik ia maupun Sir William menengok ke Selatan bersamaan. Keduanya membeliak kaget melihat pemandangan yang ada. Itu Maria.
Maria melangkah menyeberangi lapangan rumput dengan kedua tangan terbuka, seperti hendak memeluk. Rambut cokelat madu gadis itu berkibar diterpa angin, tampak berkilau ditimpa cahaya bulan. Ujung gaunnya yang dilapisi mantel berkelepak ringan di belakang tubuh. Maria melangkah tanpa takut meski shelédbolis berjatuhan dan memekik di sekitarnya.
"Billy, ini aku!" Gadis itu tertawa manis. "Kau tidak mengenalku?"
Jose menganga. Itu bukan Maria. Maria tidak pernah tertawa dengan cara seperti itu. Maria tidak melangkah seperti itu. Maria tidak berekspresi seperti itu. Matanya terasa panas. Maria yang ia kenal tidak akan mungkin menatap lelaki lain seperti itu. Gadis itu hanya mencintainya. "Mary!" teriaknya dengan suara pecah. Ia menumpu tubuhnya dengan tangan yang sehat dan berusaha menyadarkan gadis itu. "Mary kembalilah!"
Sir William melepaskan rambut Jose dan bangkit berdiri. Wajahnya benar-benar cerah. "Bella?"
"Ini di mana?" Maria menengok ke kiri dan kanan dengan heran ketika berada di ujung jembatan. Kepalanya ditelengkan dengan manis ke satu sisi. "Kau melakukan keajaiban lain?"
Nada suara itu bukan Maria. Jose memejamkan mata rapat-rapat untuk menyembuhkan diri sendiri, tapi konsentrasinya selalu buyar. Semuanya hancur. Ia berjuang untuk tidak menyerah, tidak putus asa, tidak menangis, tapi dunia terasa begitu dingin dan gelap saat ini. Segala hal terasa percuma.
***
"Itu Nona Garnet!" seru Nolan dari ujung lapangan rumput. Ia masih membawa obor. Tuan Stuart dan Albert Garnet berada di belakangnya. Dave dan Susan menjaga karavan.
"Apa yang dia lakukan?" Albert bingung melihat putrinya justru menyeberang lapangan rumput dengan santai. Agak jauh di belakang gadis itu, seorang pekerja Argent sibuk menendang dan menghajar setiap shelédbolis yang mau menyerang.
Maria berjalan menyeberangi jembatan, mendekati seorang pria berambut pirang yang berjalan menghampiri sambil membuka tangan seperti hendak memeluk.
Satu shelédbolis memekik nyaring di samping Albert dan melenting menyerang. Tuan Stuart dengan sigap menembak.
Anehnya, bunyi letusan yang terdengar ada dua.
Nolan menatap shelédbolis yang mengejang di tanah dengan kepala pecah berasap, kemudian mengembalikan wajah ke depan. Suara letusan yang kedua berasal dari Maria.
Gadis itu di ujung jembatan, menodongkan senjata dengan dua tangan, kemudian menembak sekali lagi ke arah Sir William yang sudah jatuh ke tanah.
***
__ADS_1