
Ketika datang dan mendapati penolakan Maria, yang tergambar dalam pandangan Sir William adalah kebencian yang mengerikan. Maria melihatnya sebagai kekecewaan karena ia melanggar janji, tetapi yang dilihat oleh Jose adalah kilat yang bisa menghanguskan.
"Boleh aku bicara denganmu? Empat mata?" Sir William meminta pada Maria, melontarkan pandangan penuh permusuhan pada Jose yang berdiri agak di belakang Maria.
Jose sebenarnya tidak ingin melepaskan gadis itu, tetapi Maria memberinya lirikan tajam yang meminta privasi. Maka, setelah balas memberi lontaran tatapan sengit bermakna kucincang kau kalau macam-macam pada William, Jose segera mundur makin menjauh.
"Jadi," Sir William tersenyum canggung. Ia tampak memesona dengan setelan jas dan mantel formalnya. Aroma kolonye tercium samar dari kerah bajunya. "Kau membatalkan janji kita karena putra keempat Argent?"
Maria menaikkan sebelah alisnya, menangkap nada keras dalam suara lembut itu. "Begini Tuan, sebenarnya kita belum benar-benar membuat janji. Tidak ada kartu undangan kau kirim padaku, jadi—"
"Bukankah aku mengatakannya langsung waktu berkunjung ke rumahmu tempo lalu?"
Maria balas tersenyum menyesal. Kadang ia merasa heran pada cara bicara Sir William yang terlalu formal, seperti orang kuno, tetapi menurutnya itu hanya masalah adat dan kebiasaan daerah saja. "Maafkan aku, Tuan, tapi keluargaku memang sangat ketat. Tidak ada surat undangan berarti tidak ada janji. Dan mereka tidak mau memberi izin keluar kecuali aku bersama Jose."
"Jose?"
"Emm ... Jose Argent, yang barusan," Maria berkata pelan, mengira Sir William tidak mengenal Jose. "Lelaki yang bersamaku barusan."
"Kau memanggilnya dengan nama depan?" Sir William memberi tatapan sakit hati yang membuat jantung Maria bergetar. "Maksudku, kalau kau keberatan aku mengajakmu pergi, atau kau sudah menambatkan hati pada orang lain, tolong katakan saja. Aku dengan lapang dada akan mundur."
Menambatkan? Lapang dada? Maria hampir menyemburkan tawa mendengar ungkapan barusan. Itu hanya didapatinya dalam buku-buku puisi di sekolah. Ia benar-benar tidak menyangka masih ada orang yang menggunakan istilah itu dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum tawanya benar-benar lepas, Maria segera mengibaskan tangan. "Dia teman sejak kecil. Keluarga kami bersahabat lama sekali. Begitu pula aku dengan Jose, apalagi kami hampir seumur. Hanya beda satu tahun."
"Oh, hanya teman?"
__ADS_1
Pertanyaan itu diucapkan dengan nada yang sedemikian rupa sehingga membuat kedua pipi Maria merona merah. Ia mengerjap-ngerjap gugup, lalu menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga. "Begitulah ... hanya teman."
"Aku senang mendengarnya," Sir William berkata. Suaranya kedengaran lembut dan begitu lega. Ia bahkan tersenyum lebar. "Omong-omong, sebenarnya aku ingin menyerahkan ini padamu nanti. Tapi karena aku belum mendapat kepercayaan Tuan dan Nyonya Garnet untuk mengajakmu keluar, kuserahkan sekarang saja."
"Apa itu?" tanya Maria tertarik. Bola mata birunya bersinar ceria.
William menyodorkan selembar kartu padanya. Sebuah undangan.
"Formalnya, aku harus menunggu balasan dulu darimu. Tapi aku benar-benar berharap kau akan datang besok. Cuma pesta sosialita biasa, ada beberapa tamu dari luar kota yang berkunjung ke sini, dan tidak enak rasanya kalau berpesta tanpa teman-teman baru dari Bjork."
"Oh, aku ..."
"Kau akan datang, kan?"
"Kau bisa datang dengan Mr. Argent, kalau itu membuat Tuan Garnet mengizinkanmu keluar." Sir William maju melangkah setapak, memaksa.
"Eh, maafkan, aku tentu saja sangat senang menerima undangan ini dan benar-benar ingin menghadirinya. Aku akan meminta Jose mendampingi," Maria tersenyum. "Polisi Patroli belakangan ini memperketat penjagaan, jadi aku benar-benar tidak bisa memberi jawaban yang pasti. Maafkan aku."
"Tolong, jangan minta maaf," ucapan Sir William tertutupi ledakan kembang api. Sesaat, keduanya teralihkan dan hanya menatap langit yang berwarna.
Kesempatan itu digunakan Jose untuk menyelinap muncul dan berdiri di sisi Maria. "Sebentar lagi jam malam. Kalau di sini terus, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa digelandang polisi patroli," candanya. Raut wajahnya jenaka, tetapi matanya tajam mengawasi Sir William.
Pria itu balas menatap Jose hanya sekilas, lalu kembali pada Maria. "Aku akan menunggumu di sana," ucapnya sambil meraih tangan gadis itu, lalu mengecup punggung tangannya dengan ringan. "Sebaiknya aku pergi dulu sebelum pengawalmu mengusirku," ujarnya sambil tertawa menyindir pada Jose.
Sir William berbalik pergi, disambut beberapa muda-mudi yang sudah menunggunya sejak tadi. Maria segera menyikut rusuk Jose, membuat lelaki itu mengaduh.
__ADS_1
"Kau tidak sopan sekali, sih," desis gadis itu. "Kan sudah kusuruh menunggu di sana?"
"Dia memaksamu melakukan sesuatu, kan? Aku cuma menolong." Jose balas menabrak bahu Maria main-main, yang segera dibalas lagi dengan tinjuan ringan di lengan.
Keduanya tertawa pelan.
Maria tidak mau mengakui, tetapi ia memang merasa sedikit terselamatkan. Ada yang membuatnya tidak nyaman dari cara Sir William mendesak barusan. Lelaki itu seperti sedang tergesa. Seperti diburu sesuatu. Lagi pula tatapan itu terlihat sedikit aneh. Seperti orang yang ... jatuh cinta.
Tapi Maria merasa itu tidak mungkin. Mereka baru bertemu beberapa kali, dan ia tidak percaya ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Orang harusnya punya alasan kuat untuk mencintai orang lain. Rasa sukanya pada Sir William sendiri, ia sadari, bukan rasa cinta. Hanya kegemaran ketika melihat seseorang yang baru, seperti melihat seniman panggung. Ia hanya terhibur dengan mengagumi dari jauh.
"Jadi, kau mau turun ke jalan atau diam saja di sana?" tanya Jose, tanpa basa-basi menarik lengan Maria turun dari tangga Gedung Diskusi, tempat Sir William mencegat mereka berdua tadi.
Tadinya Jose hanya mampir ke sana untuk mencari tahu soal Dave, tetapi malah bertemu dengan Sir William saat keluar.
"Dia mengundangku ke pestanya," Maria berkata, merangkulkan lengannya pada lengan Jose.
"Aku tahu. Aku lihat dia menjejalkan surat konyol itu ke tanganmu." Jose mendengus, membimbing Maria menyibak keramaian manusia di jalan. "Kerjaannya bikin pesta melulu. Uangnya pasti tumpah-tumpah!"
"Pesta itu perlu untuk sosialisasi, Jose." Maria tertawa, entah kenapa terhibur melihat kejengkelan Jose. "Nah, kau mau menemaniku ke sana, kan? Dia sudah secara khusus mengundangku, tidak enak kalau ditolak."
Jalanan dipenuhi manusia. Bahu menyenggol bahu. Tangan-tangan saling bersenggolan. Bau makanan dan permen memenuhi jalan. Keramaian ini membuat Jose harus sedikit berseru saat menjawab, "Ya, baiklah. Lagi pula, aku bisa apa lagi? Kau pasti memaksa, kan?"
Maria tertawa. Suaranya sehalus dan selembut lonceng. "Bagus! Kau memang yang terbaik!"
Jose melirik sambil tersenyum. Sekali tepuk dua lalat. Ia memang berencana masuk ke rumah Sir William lagi. Aroma mawar dan darah itu masih mengusik pikirannya.
__ADS_1