BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 86


__ADS_3

"Tidak, Jose. Aku bukan memintamu melarangku. Bagaimana, sih, kau ini? Mana mungkin sementara orang-orang keluar ke jalan, bersenang-senang, aku tidur-tiduran saja di kamar?"


"Kau pikir orang-orang akan berani keluar rumah?" balas Jose cepat.


"Tentu saja! Bahkan Lidya pun akan keluar. Oh, dia masih sering datang dan mengeluh soal Dave. Aku benar-benar tidak tahan."


Jose menatap sahabatnya dengan simpatik. Ia mengenal Maria sebagai gadis yang selalu ceria dan hanya melihat segalanya dalam keindahan. Maria tidak suka pada hawa negatif dan percakapan yang membuat suasana jadi buruk. Bicara dengan Lidya pasti benar-benar melelahkan. Namun kalau hanya itu yang membuat kawannya jadi sedikit lelah, Jose bersyukur. Setidaknya bukan karena hal-hal yang aneh. Setidaknya, bukan karena Sir William.


"Lagi pula, memangnya apa yang bisa dilihat di festival, sih? Kembang api seperti biasa, kan?" Jose menukas, masih mencoba membujuk Maria untuk membatalkan janjinya dengan William. Ia tidak senang mendengar ide itu. "Tidak sebanding dengan kesehatanmu."


"Jangan merayuku, Jose, tidak mempan." Kini Maria melempar rumputnya ke wajah pemuda itu. "Aku sudah janji dengannya. Kalau festival jadi diadakan, aku sudah janji akan mengajaknya berjalan-jalan."


"Maria," Jose menghela napas. "Dia itu populer. Pasti sudah ada banyak perempuan yang mengajaknya pergi ke mana-mana. Kau tolak pun tidak masalah."


"Aaaaaah, kenapa kau mengatakan itu, sih??" Maria tertawa gemas. "Ayolah, Jose. Kau kan kawanku. Harusnya kau mendukungku, dong."


"Jangan ngawur," balas Jose cepat, menyingkirkan kepalan tangan Maria di bahunya. Ia berpikir agak lama, kemudian melontarkan usulan, "Kalau kau segitu inginnya main di festival, aku saja yang menemanimu."


"Kau?" balas Maria dengan mata menyipit.


"Seperti dulu. Kau dan aku. Lagi pula, kalau aku yang mengajakmu, pasti orang tuamu mengizinkan. Ya, kan?" Jose tertawa. "Aku tidak yakin kau akan diizinkan pergi kalau bersama dengan orang lain. Terlebih Sir William. Dia memang populer dan sebagainya, tapi tetap saja orang asing bagi Marquis dan Marchioness Garnet, kan?"


Maria mengerucutkan bibirnya tak senang, tetapi dalam hati mengakui bahwa Jose benar. Orang tuanya tidak mau mengizinkan ia pergi saat malam. Kecuali kalau ditemani oleh Jose.


"Aku tidak mau," bisik Maria keras kepala. "Kau ajak saja anak kumuh itu atau pacar pustakawanmu."

__ADS_1


"Dia bukan anak kumuh, namanya Nolan."


Maria menoleh, lalu tersenyum sangat manis. "Aku tidak peduli," katanya dingin.


Jose mengalihkan wajah, memandangi danau. Ia tidak mau menanggapi selama Maria masih kesal seperti ini. Ia tidak tahu apa sebabnya, tapi Maria jelas sedang jengkel. Yah, tentu saja, pikir Jose, mana mungkin dia tidak sebal? Aku mendadak muncul dan menyuruhnya tidak dekat-dekat Sir William.


"Aku cuma ingin menghabiskan waktu denganmu," kata Jose pelan. Ia ingat kembali bagaimana tatapan Sir William di toko Krip. Cara lelaki itu membicarakan Maria membuatnya tak nyaman. "Mungkin aku cuma cemburu melihatmu bersama Sir William."


Maria mengerjap heran. "Apa?"


"Apa?" balas Jose tak kalah heran, kaget karena Maria tiba-tiba mencondongkan tubuh mendekatinya. Wajah gadis itu begitu dekat, ia bahkan bisa mencium aroma shampo dari rambut Maria.


"Kau? Cemburu katamu?"


Jose baru menyadari kesalahannya. "Maksudku bukan cemburu yang seperti itu," ucapnya tergesa, jarinya mendorong kening Maria menjauh.


"Cemburu ... yang ... platonik?" Jose menjawab hati-hati, yang justru membuat Maria tergelak.


"Lalu bagaimana dengan anak kum—maksudku, Nolan," Maria segera meralat. "Atau dengan pustakawan itu? Perasaanmu juga platonik?"


Jose menaikkan sebelah alis, tidak mengerti kenapa Maria terus menyebut dua orang itu. "Jangan bicara seperti itu, orang bisa salah paham kalau dengar. Aku dan Nolan cuma berteman. Aku suka mendengar pendapat jujurnya. Cuma sedikit orang yang mau bersikap seperti itu padaku."


"Pustakawan itu juga?"


"Aku menemuinya beberapa kali untuk urusan khusus," Jose menukas. Ia tersenyum kecil. Tidak menjelaskan apakah urusannya adalah pertanda bahwa yang sedang ia kerjakan adalah hal gelap khas Argent. Maria cukup tahu diri dan tidak bertanya.

__ADS_1


"Sayang sekali," Maria mendecak. Senyum yang tersungging di bibirnya kelihatan sangat manis. "Padahal kupikir akhirnya kau punya pacar."


"Kalau aku punya pacar, kau akan jadi orang pertama yang kuberi tahu," sahut Jose. "Omong-omong soal pacar, bagaimana kabar calon tunanganmu? Dia pasti tidak akan suka kalau kau jalan-jalan dengan Sir William."


Maria tergelak. "Aku sudah menolaknya sejak lama, Jose. Aku kan sudah cerita. Kau tidak akan bisa menggunakan siapa pun untuk alasan supaya aku menolak Sir William. Lagi pula aku sudah janji dengannya."


Jose terlihat lucu, jadi Maria ingin menggodanya, tetapi batal ia lakukan begitu melihat kawannya itu menatap dengan serius.


"Jelaskan dulu," Maria berkata. Ia menekuk kedua kakinya di depan dada, mulai penasaran kenapa Jose bersikeras melarangnya pergi dengan Sir William. "Sepertinya ada alasan tertentu kenapa kau begitu ngotot. Sebelumnya aku sering bepergian dengan cowok-cowok lain yang ingin bertunangan denganku, tapi kau biasa saja. Kenapa sekarang gusar?"


Jose balas menatap dalam ke arah mata biru Maria yang jernih dan jujur. Ia membayangkan hantu hitam yang dilihatnya berkali-kali, kemudian mayat Gladys, kemudian aroma darah yang selalu menyertai Sir William. Jose membayangkan Higgins. Higgins yang mayatnya tidak pernah ia lihat.


"Aku tidak bisa bilang. Semuanya masih belum jelas." Jose tidak mau melontarkan tuduhan tanpa bukti. Maria bisa saja tidak percaya. "Tapi orang itu datang kepadaku tadi pagi, dan dia sengaja memancingku dengan menyebut-nyebut namamu. Dia bilang kau pasti akan kencan dengannya, aku cuma ingin mematahkan hidung sombongnya itu."


Maria tersenyum geli. Pipinya sedikit memanas. "Memancing seperti apa?"


Jose mendengus kesal. Ia tidak mau mengingat bagaimana cara bicara lelaki aneh itu. "Tahu yang menyebalkan? Dia pura-pura tidak tahu siapa kau, dia tanya padaku siapa perempuan manis yang datang bersamaku di pestanya. Tapi kemudian dia menyebut namamu dengan nada mesra yang menjijikan, lalu dia bilang dia ada janji denganmu, dan caranya tersenyum begitu palsu dan—"


Maria tergelak. "Kau marah-marah sejak tadi karena Sir William menyebutku manis dan dia bilang akan kencan denganku?"


"Tidak, bukan itu maksudku!" Jose mengelak jengkel, merasa Maria sengaja membelokkan topik untuk menggodanya. "Dia berbahaya, itu poinku!"


"Bahaya? Karena dia tersenyum menantang padamu?" Maria tertawa lagi.


Jose menghela napas, merasa percuma menjelaskan ketika Maria sedang kumat ingin mengolok-oloknya. Dalam hati ia jengkel pada dirinya sendiri. Ia tahu Sir William berbahaya. Instingnya mengatakan itu. Tidak ada bukti bahwa pria itu memang melakukan hal jahat, tapi ia tidak menyukainya. Dan ia juga benci cara lelaki itu mendekati Maria atau mengucapkan nama Maria.

__ADS_1


***


__ADS_2