BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 231


__ADS_3

William tahu ada yang tidak beres ketika mendengar desing aneh di belakang keretanya, tapi ia tidak punya waktu untuk berhenti. Lagi pula tidak akan ada yang bisa melukaiku, pikirnya tenang.


Berapa tahun sudah berlalu sejak saat itu? William berusaha mengingat agar rasa cemasnya bisa dialihkan. Berapa ratus tahun yang lalu?


Ia tidak ingat berapa tahun yang lalu tepatnya ketika ia masuk ke dalam hutan di Rumania. Langkahnya ringan dan cepat, seolah dituntun sesuatu. Saat itu umurnya sembilan tahun. Begitu sadar bahwa ia sudah terlalu jauh melangkah ke dalam hutan, semuanya sudah terlambat. William tidak ingat lagi kapan dan bagaimana ia masuk ke dalam gedung sekolah, yang ia ingat hanya saat-saat ia mendapat pelajaran dari sang iblis sendiri. Tidak hanya dirinya yang ada di sana, ada sembilan anak lain juga yang berumur kurang lebih sama dengannya. Tidak ada yang lebih dari dua belas tahun. Belakangan, William baru tahu bahwa patokan umur tersebut ada hubungannya dengan otak. Otak manusia berkembang pesar pada kisaran umur tersebut.


Iblis itu wujudnya seperti manusia. Persis seperti manusia. Ada yang berwujud wanita cantik, ada juga pria perlente yang klimis dan sopan. Iblis itu menyebut diri mereka guru karena mereka berikrar akan mengajari rahasia ilahi pada anak-anak yang dikumpulkannya. Awalnya anak-anak senang. Mereka bermimpi bisa terbang, mengendalikan cuaca, bicara dengan binatang, mengubah daun jadi makanan, serta hal manis yang dijanjikan oleh sang guru. William juga termasuk dalam salah satu yang senang belajar. Berada di sekolah tersebut membuat ia lupa pada rumah aslinya. Di tempat itu ia mendapat makanan enak, dibimbing dengan sabar, punya banyak teman seumurannya. Apa lagi yang kurang?


William baru merasa aneh ketika menyadari bahwa ia tidak pernah melihat kedua gurunya berada dalam satu waktu yang sama. Ketika hendak bertanya, ia tak sengaja menatap langsung ke dalam mata sang guru yang tidak dilapisi kacamata. Saat itu juga William segera tahu bahwa yang ditatapnya adalah iblis. Sesuatu dalam dirinya mengenal mata itu, sesuatu yang purba dalam dirinya mengenal induk dari segala dosa. Dengan segera, William juga langsung sadar bahwa dua guru mereka sebenarnya hanya satu sosok yang sama.


Lalu bagaimana dengan koki sekolah? Petugas bersih-bersih? Pria tua yang dilihatnya selalu merokok di halaman dan membuat kitiran ketika anak-anak bermain? William jatuh dalam kengerian ketika ia menyadari bahwa semua orang itu tidak pernah kelihatan bersama dalam satu waktu. Sekolah mereka hanya dimiliki satu fasilitator, sang iblis.


Ia sempat mengurung diri di kamar beberapa hari, tapi kemudian tidak lagi merasa terlalu takut setelah menyadari bahwa mereka tidak dalam bahaya. Mereka toh hanya belajar. William tidak mencoba pergi. Ia tidak ingin meninggalkan teman-temannya. Lagi pula mereka dijanjikan akan lulus sepuluh tahun lagi.


William menghabiskan sepuluh tahun hidupnya mempelajari semua yang diajarkan oleh sang iblis dengan tekun, sayangnya ia tidak berbakat dengan sihir. Ia tidak bisa melakukannya meski tahu apa teorinya dan bagaimana melakukannya. Sang guru biasanya hanya tersenyum setiap kali melihatnya gagal, kelihatan tidak heran.


Di hari kelulusan, sang guru membuka kedoknya sebagai iblis dan memberi satu ujian terakhir.


"Kalian semua bebas pergi dari sini," suara iblis itu, sang guru, seperti diserukan oleh banyak orang. "Tapi yang tertinggal paling akhir akan menjadi Solomonari dan mendapat tugas istimewa dariku."


William tidak tahu tugas istimewa apa yang dimaksud iblis itu, yang ia tahu adalah ujian tersebut sebenarnya keji. Sang iblis memaksa mereka saling meninggalkan, saling berkhianat, dorong-mendorong dan memusuhi satu sama lain. Tidak ada yang mau tinggal. Mereka semua rindu melihat dunia luar, jadi William membuat taruhan dengan dirinya sendiri. Dirinyalah yang akan ditinggalkan, kemudian ia akan meninggalkan bayangannya.


William memejamkan mata. Kereta berjalan ribut mengguncang tubuh. Keningnya berkerut mengingat wajah gembira kawan-kawannya waktu itu. Semuanya merasa itu ide bagus. Mereka memeluk dan menepuk bahunya dengan senang, meledeknya sebagai yang paling brilian meski selalu mendapat nilai jelek di Scholomance.

__ADS_1


Mereka berjanji akan bertemu lagi, hidup bersama di luar.


William membenturkan sisi kepalanya ke dinding kereta yang terguncang. Naif. Ia benar-benar naif.


Begitu tahu bahwa dirinya ditipu, iblis itu menutup gerbang Scholomance, melindas remuk sembilan remaja yang lewat di bawahnya. Lalu untuk William, sebagai hadiah karena sudah memberikan bayangannya, sang guru memberikan ia satu iblis peliharaan. Setan kecil yang tak bisa bicara, yang sembunyi dalam permukaan gerbang neraka.


Ini semua akan berakhir, pikirnya sambil merapatkan kelopak mata. Masih sempat mengejar gerhana. Arabella akan kembali, kami bisa hidup bersama.


Dari seluruh pori di tubuhnya, asap hitam masih melesap keluar, melayang tanpa henti seperti bara api disiram air. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi mungkin ini ada hubungannya dengan ritual terakhir. Ia hanya ingin bersama dengan Arabella, memperbaiki banyak hal yang tidak sempat ia lakukan bersama gadis itu. Setelah ini, ia tidak perlu membunuh siapa pun lagi. Mereka bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan, berpindah tempat agar tidak dicurigai manusia. Apa yang akan dikatakannya saat Arabella kembali besok? Ia memikirkan baik-baik dalam hati, merasa akan memalukan kalau hanya menyambut dengan hai.


William membuka mata begitu mendengar suara letusan disusul geradak keras. Keretanya terguncang. Ia meraih tongkatnya dan bersiap meloncat. Ada suara ringkik kuda dan seruan kaget sais, kemudian sesuatu terciprat. Darah, pikirnya.


Roda kereta patah. Suara kayu rusak dan hantaman demi hantaman memenuhi udara. William membentur sudut-sudut kereta dengan keras. Kompartemen berguling brutal, melemparnya jatuh ke luar. Ia berguling-guling di rerumputan gatal yang menyayat kulit wajah, baru berhenti ketika lengannya membentur batu. William terbatuk, meludahkan pasir dari mulutnya, dan berguling bangun. Ia hanya sempat mengerjap ketika melihat ujung-ujung silinder hitam yang berminyak diarahkan padanya.


***


Tujuh puluh orang pekerja dibagi menjadi sepuluh unit dengan tiap unit terdiri dari tujuh orang. Begitu Sir William terguling jatuh, satu lapis unit berlari mendekat dan menembak, kemudian mengikat tangan dan kaki Sir William sebelum lelaki itu sempat sadar lalu menggulingkannya ke atas tandu dan membawanya pergi. Setiap setengah meter tandu akan diturunkan dan unit pekerja bergantian menembak sesuai giliran, menjaga agar Sir William tetap tidak sadarkan diri. Semua dilakukan tanpa ada gerakan atau suara yang tidak penting.


Marco bangkit berdiri dari padang rumput. Senapannya masih berasap. Ia sendiri yang menembak roda kereta hingga berguling tadi. Sais kereta dibereskan oleh Gerald.


"Rencanamu sukses?" Tuan Stuart bertanya hati-hati, tapi wajahnya tampak gembira. Ia ikut bangkit menyusul Marco.


"Belum pasti, Ray. Sampai dia tenggelam di sungai Bjork dan awan sialan itu hilang, semuanya masih belum pasti." Marco menyelipkan dua jarinya ke bibir dan bersiul keras. Imbrue muncul menghampirinya dari kejauhan, tak gentar pada suara tembakan yang masih berendeng sahut menyahut.

__ADS_1


"Aku akan mengawal mereka." Marco menyelipkan sepatunya ke sanggurdi dan melompat menaiki Imbrue. "Kau pergilah duluan ke kota. Kabari Robert untuk bersiap. Seharusnya mereka sudah dengar bunyi ini, tapi kadang dia agak lamban. Setelah itu langsung ke tempat Rolan."


Tuan Stuart mengangguk, lalu berlari ke arah mobilnya yang disembunyikan di balik ilalang tinggi dan segera melaju ke arah gerbang utama Bjork.


Marco menarik napas panjang, mengawasi asap hitam aneh yang meliuk keluar dari luka-luka menganga Sir William dengan waspada. Asap itu terlihat seperti pasir halus yang melayang. Tak berbau, tapi kelihatan aneh. Marco merasa jijik melihatnya. Partikel itu kelihatan seperti ratusan biji mata yang mengawasi, melecehkan. Sambil menjaga Imbrue tetap pada jalur, ia mengawasi pekerjaan para pekerjanya dari samping.


Sir William tidak bergerak sedikit pun selain karena guncangan berondongan peluru, tapi pria itu sadar. Matanya yang biru menatap Marco penuh kebencian.


Dia mengumpulkan tenaga untuk lolos, Marco menyadari. Ia menarik kekang, berseru keras, "Lebih cepat, Tuan-tuan! Kita bukan sedang piknik!"


Kalungnya, Marco segera ingat ide Rolan. Ia menoleh, memanggil salah satu pekerja terdekat. "Geledah tubuhnya saat dalam masa jeda tembak. Cari kalung emas dari tubuhnya. Kalau dapat, serahkan padaku langsung."


Pekerja itu mengangguk mantap.


Seolah mendengar apa yang dibisikkan Marco barusan, lesapan asap dari tubuh Sir William bertambah banyak dan deras, meliuk hebat seperti ditiup angin badai.


Marco menyiapkan senjatanya dan membidik dari atas Imbrue yang berdiri tenang. Semua orang diam menunggu perintah, menunggu apa yang terjadi. Suhu anjlok hingga membuat hidung mereka membeku, tapi titik-titik keringat membanjiri wajah dan punggung semua pekerja. Angin menerbangkan daun kering, membuat musik yang gaduh dari gesekan rerumputan.


Setelah menunggu agak lama dan tidak ada apa pun yang terjadi, Marco menarik moncong senjatanya. "Lanjut jalan! Tetap waspada!"


"Jalan, jalan, jalan!" seru Harold. Suaranya menggelegar.


Sebentar kemudian, tujuh senjata kembali menyalak bersamaan dalam tempo teratur.

__ADS_1


***


__ADS_2