
“Aku membawakan banyak Ikan untukmu, sebelum kau pindah ke rumah ini.”
Memang benar, pasti sulit mengingat yang mana mayat yang dibawa oleh Marco. Rolan menarik napas pelan, kemudian berkata, “Orang ketiga yang kau bawa ke rumahku. Seorang laki-laki, kurus kering. Rambutnya pirang. Kita tidak menemukan data dirinya waktu itu.”
Marco menoleh heran. “Bukannya kau sudah mendapatkannya?”
“Tidak, apa aku pernah bilang begitu?”
Memang tidak pernah, Marco menyesal kenapa ia bisa melupakan hal sepenting itu. Namun mayat pria itu memang yang ketiga, bukan pertama. Dan setelah itu, berturut-turut mayat dengan kondisi yang sama ditemukan, membuatnya sibuk.
“Apa yang mau kau katakan?” tanyanya.
Rolan mengubah posisi duduknya sedikit miring sehingga bisa bersemuka langsung dengan salah satu kepala keluarga Argent tersebut. Ia menjelaskan dengan suara rendah, “Kau ingat bagaimana penampilannya?”
Marco tertawa. “Sejujurnya, tidak. Aku menyerahkan soal identifikasi padamu.”
“Itu masa awal-awal, Marc. Aku masih kaget saat kau membawakan Ikan Kering kedua, lalu setelah yang ketiga, Ikan-ikan lain malah berdatangan banyak sekali. Rasanya aku pasti kurang waras kalau tidak ngeri atau kaget.”
“Ya, lalu?”
“Waktu itu, aku masih belum membuat dokumen rinci. Cuma mencatat asal-asalan pada lembar-lembar kertas yang kutemukan di rumah.”
“Ya, ya, aku bisa melihatnya dari map yang kau bawa itu. Jadi, ada apa sebenarnya?” Marco mulai tidak sabar.
Rolan menyipitkan mata. Napasnya sedikit tidak beraturan sekarang. “Aku memang tidak mencatatnya, tapi aku menghitung jumlahnya sampai sekarang. Dan begitu aku membaca ulang dokumen yang barusan kusalin, aku menyadari sesuatu yang mengerikan.”
Marco menunggu.
__ADS_1
“Jumlah Ikan Kering-nya hilang satu.”
“Maksudmu?”
“Kurang satu Ikan! Ada satu yang tidak kutulis.”
“Kau lupa atau bagaimana?”
“Tidak, tidak, meski aku baru mencatatnya setelah Ikan ketiga datang, setelah makin banyak Ikan yang kau bawakan padaku, tapi aku tidak melewatkan satu pun! Aku tidak lupa mencatat! Ada satu yang hilang dari catatanku!”
“Lalu, bagaimana maksudmu?”
“Yang hilang adalah Ikan yang ketiga.”
Marco merapatkan bibir. Ia menatap Rolan dengan teliti. “Kalau memang kau tidak lupa mencatatnya, mungkin kau menghilangkannya? Mungkin tercecer entah di mana?”
“Kenapa kau panik begini? Apa yang gawat dari catatanmu yang hilang?”
“Marco, kau ini cerdas, kenapa tidak mengerti?” Rolan membeliak. Rasanya ia benar-benar ingin mengguncang-guncang bahu Marco.
Angin dingin masuk lewat sela-sela jendela, memasuki kamar dan membuat gorden yang terpasang jadi menggembung, disinari cahaya transparan. Udara yang berada dalam kamar itu terasa seperti turun drastis. Dua pria yang duduk di atas sofa merasa kedinginan. Rolan bahkan menggigil. Namun Marco menyilangkan kedua lengan di depan dada, bertahan pada posisi kakunya yang tak tergoyahkan. Ekspresi Rolan kali ini benar-benar tidak pernah dilihatnya. Ia sering melihat wajah menyebalkan adik Renata ini. Ia sering melihat Rolan berekspresi serius, jahil, gembira, marah, bahkan takut.
Yang sekarang ini sepertinya mengalahkan segala ekspresi yang lain. Rolan kelihatan bersemangat, tetapi juga ngeri di saat bersamaan.
“Kau mengerti arti dari catatan yang hilang?” Rolan berbisik. “Itu bukan ‘hilang’ dalam artian tercecer, melainkan tidak teridentifikasi. Yang berarti ... mayatnya yang hilang!”
Marco sudah membaca kesimpulan ini. Ia sudah menduganya sejak awal mula dokter di depannya berubah jadi histeris sekaligus antusias, tetapi Marco tidak ingin mempercayai. Mayat yang menghilang! Bukan fakta itu yang ingin dihindari oleh Marco, melainkan penjelasan yang akan dipikirkan oleh Rolan. Ia menebak, iparnya akan mengoceh tentang hal-hal mistis atau yang berbau gaib. Bukan berarti Marco anti terhadap hal-hal klenik, ia hanya ingin mencari opsi sebanyak-banyaknya. Gaib adalah jalan buntu. Tidak akan ada yang bisa didapat dari kesimpulan buntu seperti itu.
__ADS_1
“Dia laki-laki,” bisik Rolan, lebih pada dirinya sendiri. Matanya terpejam dan kedua tangannya memijit pelipis. “Laki-laki, rambutnya pirang. Aku cuma menaruhnya di atas meja papan karena disibukkan dua Ikan yang lain dan juga Ikan-Ikan yang datang setelahnya. Yang kuingat cuma, dia berambut pirang. Dia tidak sekering yang lain. Ya, aku ingat. Ikan yang itu terpatri lumayan jelas karena dia tidak sekering yang lain. Bibirnya kering dan pipinya cekung, tapi dia bukan manusia berbalut tulang. Kau ingat di mana menemukannya, Marc?”
Marco paling tidak suka panggilan akrab seperti Marc, tetapi ia tahu bahwa percuma memprotes hal itu dari Rolan. Marco mengingat kapan dan di mana setiap mayat ditemukan. Ia hampir tidak pernah melupakan apa pun berkata gaya hidupnya yang perfeksionis. Ia juga masih ingat siapa-siapa saja yang bersamanya malam itu. Kali ini bukan berkat daya ingat supernya, melainkan karena tim yang ia bentuk untuk pencarian memang sudah ditetapkan sejak lama.
Ada Inspektur Kepolisian Bjork, Robert. Dua orang pekerja keluarga Argent: Gerald dan Hans. Lalu ada seorang polisi jangkung kepercayaan Robert. Hanya empat orang tersebut yang sering membawa mayat ke tempat Rolan. Prinsip yang dianut Marco adalah, semakin sedikit orang yang mengetahui sebuah rahasia, maka rahasia itu akan semakin aman. Makanya, dia tidak pernah membawa lebih dari lima orang bersamanya.
“Kami menemukan ikan-ikan itu hanyut di sungai,” jawabnya dengan suara perlahan. “Bisa kita bahas ini di tempat lain dan saat lain? Ini bukan hal yang bisa dibicarakan leluasa dalam kamar. Bahkan kamar kerjaku. Bagaimanapun juga, bisa saja Jose tiba-tiba datang ke sini.”
“Kalau dia mau jadi pemimpin belakang Bjork, dia harus tahu semuanya, kan?” tukas Rolan.
“Itu urusanku, aku yang melatih dan membesarkannya,” balas Marco tajam. Ia tidak suka diatur oleh orang lain. “Kenapa kau memanggil tiga pelayan ke sini?”
Rolan menengok ke arah pintu yang terbuka, bertanya-tanya kenapa orang yang dipanggilnya lama sekali tidak datang.
Mei, Shina, dan Era datang bersamaan beberapa saat kemudian. Mereka bertiga bukannya kelihatan takut, malah antusias. Ketiganya menunduk dalam-dalam untuk memberi salam hormat dan baru mengangkat kepala setelah dipersilakan oleh Marco.
Rolan tidak mau basa-basi. Ia langsung menanyakan pada ketiganya kapan tepatnya mereka mendengar suara Jack di bangsal perawatan dan apakah mereka benar-benar melihat anak itu.
Mei yang pertama kali bicara, mengatakan bahwa ia tidak melihat Jack, hanya mendengar suaranya saja. Ia melihat Jack berjalan melewati bangsal belakang sebelumnya, maka wajar baginya untuk menarik kesimpulan bahwa yang berada di dalam kamar tersebut adalah Jack.
“Kau sendiri sedang apa di sana?” balas Rolan. Ia tahu harusnya tidak ada yang mendekati bangsal perawatan.
“Rotasi, Tuan,” jawab Mei sopan. “Saya bertugas membersihkan rumah sebelah belakang.”
“Selain kau, siapa saja yang membereskan bagian belakang?” Rolan mengerutkan kening. “Apakah Shina dan Era juga ikut serta?”
Keduanya mengiyakan hampir bersamaan.
__ADS_1
“Jadi, kalian mendengar suara Jack bersama-sama?” Kali ini Marco yang bertanya.