
Keesokan paginya setelah sarapan, Jose mengendap keluar rumah untuk menemui Krip, informan Keluarga Argent.
Sekarang ia sudah berada di tempatnya yang biasa, duduk di atas tong, di samping kasir, tersembunyi dari tamu yang datang.
Krip menyerahkan sedikit laporan tentang Sir William pada Jose, tetapi pemuda itu tahu bahwa yang didapatnya sama sekali tidak ada sedikit dari yang diserahkan pada Marco. Tentu saja Jose tahu bahwa yang diberitahukan padanya sudah melalui penyaringan pamannya. Ia membolak-balik dokumen yang diserahkan padanya, yang ditulis dengan huruf kursif rapi serta diberi klipingan koran.
Setidaknya dari sini ia tahu satu hal: seorang Bannet memang pernah tinggal di kota Bjork. Tiga puluh tahun yang lalu. Jadi, orang yang ada dalam foto di buku kliping itu memang kerabat dari William. Tiga puluh tahun lalu adalah ketika Bjork dilanda demam yang aneh. Orang-orang merasa sakit, pucat, melemah, lalu meninggal.
Jose mencoba mengorek lebih dalam soal apa penyakit apa yang melanda Bjork, tetapi Krip hanya berkata bahwa itu demam yang dibawa pedagang Asia.
"Mereka membawa tikus dalam kapal mereka," kata Krip sambil membuka mesin kasir, menghitung dan melak uang logam yang bergemerincing. "Bukan tikus putih lucu yang berlari-lari dalam roda, bukan yang besar dan biasa berkeliaran di ladang untuk makan ular atau rubah, tapi yang hitam dan botak. Tikus-tikus itu menyebarkan penyakit. Saya dengar, di Asia zaman dulu, tikus dijadikan sebagai senjata perang. Mereka akan melemparkan tikus-tikus berpenyakit ke sebuah kota, lalu tinggal menunggu saja sampai musuh jatuh sendiri."
Jose memutar bola mata. Ia menutup dan menyimpan dokumennya ke dalam saku dada mantel, sudah menduga, Krip pasti tidak akan mau membantunya. Pria itu malah mengocehkan dongeng lama.
"Anda pasti menganggap saya bohong," Krip melirik. "Saya tidak pernah bohong. Binatang memang sering digunakan sebagai senjata perang. Dulu ada yang namanya ketapel tikus! Tikus-tikus sakit dari Asia dilempar melewati tembok tinggi Skot dan menyebarkan wabah! Lalu ada kucing—"
"Krip," Jose mengangkat sebelah tangan, menghentikan ocehan pria itu sebelum muncul rentetan nama binatang serta sejarahnya dalam perang. "Yang ingin kuketahui adalah Bjork. Aku tidak peduli selain itu."
"Tuan Kecil ..."
__ADS_1
"Kau berhutang padaku," Jose menyela. Ia mengangkat kaki kanannya, menumpangkan mata kakinya ke tempurung kiri dalam pose mendominasi, menunjukkan siapa yang berkuasa di tempat itu.
Ini kartu terakhirnya. Jose sebenarnya tidak suka mengungkit-ungkit hutang seseorang. Menurutnya, itu adalah cara yang sangat rendah. Tetapi sekarang tidak ada pilihan lain. Ia benar-benar harus tahu apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Ia tidak mengerjap saat berkata, "Aku pernah menyelamatkan cucumu."
Wajah Krip segera memucat. Tangannya bahkan berhenti kaku di atas pangkuan.
"Kau tentu belum lupa, Krip?"
"Tidak, Tuan Kecil, tentu saja tidak!" pria itu segera berkata. Logam-logam di tangannya segera ditumpahkan kembali ke dalam mesin kasir. "Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Tuan Kecil! Bahkan seumur hidup saya bekerja pun, tidak akan sanggup membayar apa yang sudah Tuan dan Tuan Kecil perbuat bagi saya! Saya tidak pernah melupakannya sedetik pun!"
Dalam pikiran mereka berdua kini terbayang masa lima tahun lalu. Cucu Krip, Sean, umurnya enam tahun. Krip mengajaknya berjalan-jalan, memamerkan cucunya yang baru masuk sekolah itu pada semua orang, juga pada Marco serta Edgar. Marco mengizinkan Sean melihat-lihat kuda-kuda milik keluarga Argent serta bermain dengan domba-domba di peternakan selagi dia dan Krip membicarakan beberapa hal penting. Ketika pembicaraan berubah makin serius, pengawasan Krip melemah. Sean iseng-iseng mencoba menaiki kuda sendiri.
Waktu itu Krip sangat panik sampai hampir pingsan. Namun ia sempat memohon dengan sangat kepada Edgar dan Marco untuk menyelamatkan cucunya. Edgar mendengarkan, sementara Marco sudah duluan meraih kuda lain, Saw, untuk mengejar Imbrue.
Saw tentu saja kalah cepat dengan Imbrue kalau dalam keadaan biasa. Namun seni berkuda adalah soal keselarasan penunggang dengan kudanya. Kelihaian Marco berhasil membuat Saw mengejar Imbrue. Marco hampir meraih anak itu. Sialnya, Imbrue sempat berontak, dan melontarkan Sean.
Anak itu pasti sudah jatuh menghantam tanah dengan keras, seandainya Jose tidak menangkapnya.
Bukan kebetulan Jose ada di sana. Saat melihat kuda pamannya mengamuk dan anak kecil terlontar-lontar di atas punggung Imbrue, sudah jelas apa yang terjadi. Maka, ia meloncat dari arah berbeda, memperkirakan ke arah mana Imbrue akan lewat.
__ADS_1
Meski tidak percaya diri, tadinya Jose berniat pasang badan dan menghalangi kuda itu menyeret Sean terlalu jauh. Untungnya Marco datang tepat waktu, sehingga Jose yang dari awal mengawasi dengan ketat jadi bisa menangkap Sean dengan sigap.
Keluarga Krip adalah informan milik Argent sejak lama. Mereka sejak dulu hanya melayani satu orang Argent saja, satu kepala keluarga. Manusia tidak akan bisa melayani dua orang tuan. Tetapi saat melihat penyelamatan cucunya waktu itu, Krip memutuskan menyerahkan hidupnya untuk Jose juga.
Dalam kebiasaan Bjork pada saat itu, anak pertama akan mewarisi gelar serta kekayaan orang tua, anak kedua mendapat bagian, anak ketiga dan keempat bisa dibilang sama sekali tidak beruntung. Tidak ada lagi yang akan tersisa untuk mereka kecuali diberikan oleh kakak-kakaknya. Bagian yang diterima dari orang tua jelas cuma sedikit.
Jose adalah anak keempat keluarga Argent, dan bahkan orang-orang tidak terlalu menganggap keberadaannya. Hampir semua kaum elit beranggapan, percuma menjalin persahabatan dengan anak keempat. Lebih baik bicara dan berteman dengan anak pertama atau anak kedua yang akan mewarisi bisnis serta nama keluarga.
Namun bagi Krip saat itu, tidak ada bedanya bahkan meski Jose adalah anak ketujuh sekali pun. Ia mendevosikan hidup dan karirnya untuk Jose, jika Marco tidak lagi berada sebagai kepala keluarga. Krip sudah bersumpah, ia tidak mau melayani putra Argent yang lain.
Ia mengucapkan sumpah itu di depan Marco, Edgar, dan Jose, sambil memeluk cucunya yang menangis. Sebenarnya, sumpah Krip saat itu bisa dilihat sebagai penghinaan pada Edgar, tetapi Edgar sama sekali tidak tersinggung.
Dan sekarang, Jose menagih janjinya.
Krip tampak susah, sepertinya ia benar-benar berada dalam pilihan yang sukar. Di sisi lain ada kesetiaannya pada Marco, dan di sisi lain ada Jose. Sekarang ia sadar kenapa prinsip keluarganya jelas-jelas memberi aturan bahwa mereka hanya boleh melayani satu Argent saja.
Jose sendiri merasa seperti orang rendahan yang menindas seorang tua tidak berdaya. Tetapi ia menggeleng pelan dan meneguhkan hatinya. Ia memang harus tahu.
"Katakan semua yang kau tahu, Krip."
__ADS_1
Krip menatap Jose hati-hati, lalu menggeleng pelan. "Tuan tidak tahu, sebaiknya Tuan menjauh dari urusan ini. Ini fenomena yang ganjil. Sangat aneh. Tuan Marco akan menyelesaikannya, pasti."