
"Tuan Marco selalu melangkah dengan tenang dan teratur. Tuan Edgar sedikit berat pada kaki kanan, mungkin karena lutut kirinya masih selalu sakit. Nyonya Renata langkahnya kecil dan ringan. Tuan Kecil selalu agak meloncat," lapornya dengan wajah bersemu merah karena bangga.
"Dan Tuan Jacob langkahnya panjang dan berat," lanjut Hans, membuat Rolan teringat pada rencana Jacob untuk berkunjung ke Bjork atas permintaan Renata.
"Baiklah, apa lagi? Suara langkah siapa yang kalian dengar? Kalian hapal suara langkah para pelayan juga?" tanyanya, berusaha menyingkirkan pertanyaan soal kunjungan Jacob. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah misteri tentang kematian Tuan Wallace.
"Bukan, Dokter. Para pelayan punya langkah monoton yang terlatih. Itu suara yang," Gerald berhenti sebentar, terlihat berpikir. Ia menggaruk alisnya yang tebal. "Seperti 'tuk-tuk-tuk', seperti itu. Dokter paham?"
Rolan membuka mulutnya, melongo. Ia menggeleng. "Aku tidak bisa membayangkannya. Baiklah, lompati dulu bagian itu. Lalu, apa yang terjadi?"
"Kami mendengar suara orang tertawa," Hans dan Gerald menjawab bersamaan. Wajah mereka tampak pucat di bawah temaram lampu.
"Wallace?" tanya Rolan.
Keduanya menggeleng lagi, bersamaan seperti anak kembar. Bahkan raut keduanya juga sama. Tegang. Ngeri.
"Awalnya, kami memang mengira itu suara tawa dari si babi," Gerald menggeram, tidak sudi mempertuan Wallace. "Tapi suaranya beda."
"Ya," Hans mengangguk lagi. "Waktu mendengar tawa itu, si gendut itu awalnya senang. Dia seperti menyambut tamu yang sudah ia tunggu-tunggu. Dia berteriak-teriak, 'Anda sudah datang!', membuat kami berpikir dia mengira Tuan Marco datang. Tapi dia bicara tentang orang lain."
Rolan merasa bulu kuduknya meremang. Ia menelan ludah, sedikit menyesal karena memilih pondok Higgins sebagai tempat untuk bicara. Tetapi memang hanya tempat ini yang tidak berani didatangi oleh para pekerja dan pelayan, membuatnya otomatis menjadi tempat yang eksklusif untuk wawancara rahasia.
Untuk sesaat tidak ada yang bicara. Rolan menyapukan pandangan ke sekitar, menatap jendela dan pintu pondok dibiarkan terbuka, membuat udara malam masuk, menggoyang keberanian tiga orang di dalam pondok.
Tidak ada hidangan apa-apa di atas meja. Mereka bertiga hanya duduk berhadap-hadapan, dua lawan satu, di atas meja kayu di tengah ruangan. Tepat di tempat Higgins ditemukan mati. Rolan sengaja tidak membawa brendi atau makanan lain karena merasa bahwa minuman atau makanan akan mengalihkan pikiran, padahal yang mereka perlukan adalah ingatan yang fokus. Makanya, ia bahkan tidak mengizinkan dua pekerja itu merokok. Ia juga tidak membawa rokok juga sebagai bentuk solidaritas.
__ADS_1
Rolan menyesali keputusannya. Suhu dalam ruangan anjlok. Udara benar-benar dingin, dan ia ikut tegang menyimak apa yang diceritakan dua pekerja itu. "Lanjutkan," katanya, menahan gemeletuk gigi. Hawa dingin menelusup sampai ke tulang-tulang.
"Kami merasa bahwa apa pun yang akan datang, itu pasti bukan hal yang baik," lanjut Hans sembari meremat kedua tangannya di atas meja. Bola mata di bawah alis tebal itu menyipit, berusaha mengingat. "Kami mendengar suara ketukan. Kami pikir, musuh datang. Tetapi yang datang adalah George."
"Saat itu, kami mengira bahwa apa yang kami rasakan hanya karena ketegangan saja. Karena babi itu meracau," Gerald melanjutkan pelan. Ia diam beberapa kali ketika suara kembang api menyela. "Tapi untuk berjaga-jaga, kami minta supaya George mengunci pintu dan tidak membiarkan seorang pun masuk ke dalam kamar sampai Tuan Marco sendiri yang tiba."
"George kelihatan bingung waktu itu," Hans mengangguk, tertawa untuk menyembunyikan kegugupan. Dia sudah tiga kali mengusap lengannya yang berbulu. Bukan hanya Rolan yang kedinginan. "Kami paham kebingungannya, tetapi tidak bisa menjelaskan apa-apa."
"Kenapa?" tanya Rolan. "Kalau kalian menjelaskannya, George bisa menelepon Marco, atau dia bisa mencari bala bantuan."
Gerald menggeleng. "Kami merasa, kalau kami bicara pada George apa yang kami rasakan, bisa saja musuh itu kabur karena takut ketahuan. Dalam hati kami, meski kami takut, kami benar-benar ingin menangkapnya, menangkap siapa pun yang dimaksud oleh si babi."
"Dan kalian gagal," sahut Rolan tanpa belas kasihan. Ia bahkan tertawa pendek. "Kalian berdua pingsan. Nah, sekarang katakan, apa kalian pingsan sebelum atau sesudah ruangan jadi berantakan?"
"Dia juga berusaha mengulik-ulik dari kami, di mana biasanya Tuan Marco menaruh barang-barang yang penting; apakah di dalam atau di luar kamar," Hans menimpali. "Kami tidak mau menjawab satu pun pertanyaan darinya."
Gerald mengangguk menyetujui. "Kami hanya diam saja dan memandanginya seolah dia orang bodoh. Yah, memang dia itu bodoh. Lalu dia kelihatan takut. Dia menangis meraung-raung, minta diselamatkan."
"Minta diselamatkan? Dari apa?" Rolan makin tertarik.
Sekarang, Gerald dan Hans saling berpandangan, kemudian menggeleng. "Kami tidak tahu, Dokter. Kami bertanya apa yang dia ocehkan, tapi dia tidak mau menjawab. Dia cuma menjerit dan mengulang-ulangi kalimatnya."
"Kalimat apa?"
"Yah, kalimat aneh," kata Gerald, "dia bilang kami salah lah, kami tidak mengerti apa-apa lah, bahwa kami harus segera mengeluarkannya. Semacam itu."
__ADS_1
"Lalu?" Rolan memperhatikan alat perekamnya yang masih berputar perlahan.
"Saya cuma ingat sampai situ," kata Gerald, Hans juga sama.
Rolan menggaruk dagunya pelan-pelan. "Kalung yang aneh. Memangnya sepenting apa, sih kalung itu? Tapi yang membuatku heran, kenapa kalian tidak diapa-apakan? Bahkan Linda dan Anna masih kacau sekarang. Kalian tidak melihat apa pun?"
Kedua pekerja itu menggeleng serempak. Rolan mendecak kesal, merasa penyelidikannya buntu.
"Saya tidak tahu apakah ini berguna untuk dokter atau tidak," Gerald berkata setelah diam beberapa saat. "Tapi saya dan Hans punya tato yang sama."
Rolan mengangkat wajah dengan heran. "Tato?"
Hans menoleh, wajahnya terlihat kaget. "Menurutmu, itu ada hubungannya?"
Gerald menaikkan kedua bahunya. "Siapa tahu. Anda tertarik melihatnya, Dokter?"
"Perlihatkan padaku!" Rolan berkata cepat. Ia rela melihat kemungkinan apa pun yang datang asal itu bisa membantunya memecahkan misteri kematian Wallace. "Tentu saja aku tertarik! Sangat tertarik! Mungkin ada hubungannya!"
Gerald meletakkan lengannya ke atas meja dan menggulung lengan kemeja ke atas. Ada gambar dalam pola yang aneh di sana. Rolan membetulkan letak kaca matanya untuk melihat, tapi lampu di atas mereka mengerjap dan berdenging aneh, seperti mau mati.
Ketiga pria dalam pondok otomatis mengangkat wajah. Rolan meraih tas hitamnya yang ia letakkan di bawah meja, kemudian memeluknya erat di dada.
Kembang api meledak lagi di luar.
Pada saat yang sama, pintu dan jendela-jendela di pondok Higgins terbanting menutup.
__ADS_1