
“Yah, tapi sebenarnya cukup dilematis,” Maria berkata, mulai senang karena Jose menanggapi ucapannya. “Habisnya, kalau belum ada kabar seperti ini, orang-orang masih bisa terus berharap. Ada kemungkinan bahwa orang itu masih hidup, kan? Kalau mati, pasti mayatnya diketemukan.”
Jose menatap Maria dengan sangat serius, lurus langsung ke dalam matanya. Maria mengalihkan pandangan dengan jengah, meski sebenarnya ia ingin sekali menjitak ubun-ubun Jose dan bertanya apa sebenarnya yang dipikirkan pemuda itu.
“Kau benar, Mary,” ucap Jose perlahan. Pandangan matanya berubah sayu. “Mereka jadi berharap.”
“Bukankah itu bagus?” Rolan menyahut, masih dengan senyum ramah terulas di bibir. “Harapan membuat seseorang jadi hidup! Dengan berpikir bahwa keluarga mereka masih hidup, mereka masih bisa menjalani hari dengan senyuman, dengan optimis.”
“Itu namanya harapan palsu,” sergah Jose. “Saat mereka tahu yang sebenarnya, hati mereka bisa hancur dan tidak bisa lagi diobati!”
“Yang sebenarnya?” Maria mengerutkan kening dengan heran. “Apa maksudmu? Memangnya yang sebenarnya itu apa? Kau tahu sesuatu?”
“Apa? Tahu soal apa?” Jose malah balas bertanya. Kulit wajahnya mendadak terlihat lebih pucat, tetapi sorot matanya datar.
“Kau tadi bilang, saat mereka tahu yang sebenarnya, orang-orang akan hancur. Apa maksudmu?” Maria mengulang.
Marco berdehem pelan, menarik perhatian orang-orang ke arahnya. Kedua tangannya saling bertaut, ujung-ujung jari saling menyentuh membentuk gunung segi tiga. “Jose beranggapan orang-orang yang hilang sudah meninggal karena tidak adanya kabar. Dia pikir dengan tidak segera mengumumkan hal tersebut, bisa membuat orang-orang jadi kecewa pada akhirnya.”
Jose tersenyum kaku. “Kejujuran selalu lebih berarti!” ucapnya agak keras.
“Tidak, Jose. Kalau begitu sih, namanya bukan kejujuran. Itu pengambilan kesimpulan yang ngawur!” Maria berkata heran, mulai menduga bahwa suasana yang tidak mengenakkan itu pasti karena perdebatan soal nasib orang-orang yang hilang. “Selama belum ada bukti yang menyatakan seratus persen terhadap suatu klaim, sebaiknya klaim itu jangan dibuat. Kita kan belum tahu bagaimana nasib orang-orang yang hilang itu. Siapa tahu kita akan menemukan mereka di suatu tempat, sehat dan selamat ...” Tetapi bahkan saat mengatakan hal tersebut, Maria bisa mendengar suaranya sendiri tidak kedengaran meyakinkan.
Sehat dan selamat? Bukankah itu juga tidak bisa dibuktikan?
__ADS_1
Kalau saja Maria tidak berpikiran bahwa Jose mungkin sedang sakit atau banyak pikiran, ia pasti sudah mengguncang-guncang kerah baju lelaki itu. Meski Marco tetap tidak menyukai Maria, pria itu masih menjaga sopan santun dengan tetap mengajaknya bicara tentang hal-hal yang umum selama ada di jamuan makan siang. Rolan mendominasi percakapan dengan terus bercerita, bertanya, serta melontarkan kelakar. Sementara itu, Jose sendiri malah seperti orang mati. Dia makan dalam diam, hanya sesekali saja bicara ketika ditanya.
“Sepertinya kau sedang sakit, Jose! Cepat sembuh, ya!” ucap Maria sebelum membanting pintu mobil Jose saat lelaki itu mengantarnya pulang.
Jose hanya mengangguk singkat, kemudian melajukan mobilnya pergi dari pekarangan rumah keluarga Garnet. Sepatu yang dikenakan Maria sangat mahal, membuatnya urung melepas salah satunya dan melemparkan benda itu ke mobil Jose.
“Sebenarnya dia itu kenapa, sih?!” bentaknya kesal, tidak bisa lagi menahan emosi yang bercokol di hati. Rasanya ia ingin menghentak-hentakkan kaki dan meledak di tempat. “Sebenarnya makan siang tadi buat apaan, sih?!”
“Kenapa, Nona?”
Maria tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang menegurnya. Ia sangat mengenal suara itu. Itu adalah suara Susan, dayang pribadinya.
“Tidak apa! Aku sedang tidak ingin ke mana-mana hari ini, batalkan semua janjiku!” ucapnya.
Maria menggeleng. Suasana hatinya sedang tidak enak hari ini. Ia lebih suka belanja, membaca, atau mandi saja supaya pikirannya tenang.
“Oh, ya, ada tamu untuk Nona. Lady Lidya dari keluarga Jewel.” Susan berkata sambil mengiringi langkah Maria masuk ke dalam rumah.
Maria mengerjap heran. “Sejak kapan? Sudah lama?”
“Tidak, baru lima belas menit yang lalu. Sesuai perintah Nona kemarin, Lady Lidya kami persilakan menunggu dalam kamar tamu.”
“Bagus,” Maria mengangguk. Ia memberikan tas yang dibawanya pada Susan sementara kakinya melangkah ringan menaiki tangga menuju kamar. Suara ketukan sepatu terdengar berirama di atas lantai marmer yang dingin, membuatnya teringat pada suara jalan para pion di atas papan catur.
__ADS_1
Kamarnya terdiri dari dua lapis ruang. Saat membuka pintu, yang tampak pertama adalah ruangan lebar berisi piano, rak buku, serta satu set tempat duduk. Biasanya Maria mempersilakan kawan-kawannya masuk dan menunggu di situ jika ia belum selesai berbenah. Kamarnya sendiri ada di lapis lebih dalam, selalu terkunci rapat kalau ia sedang tidak berada di rumah.
Seperti kata Susan, ternyata Lidya sudah ada di dalam kamar depan. Perempuan dari keluarga Jewel memang berperawakan kecil, tetapi Lidya yang paling mungil. Tingginya hanya seratus lima puluh lima sentimeter, lima belas senti lebih pendek dari Maria. Wajah Lidya bulat dengan dua pipi berlemak yang selalu merona saat sedang bahagia. Tetapi kali ini Lidya sedang tidak bahagia. Pipinya tidak merona. Alisnya yang tipis menukik turun dengan sentuhan sedih. Bola mata cokelatnya yang bulat terlihat basah. Ketika melihat Maria datang, wanita itu segera bangkit dan memeluknya sebagai salam.
“Bagaimana? Ada kabar terbaru?” tanya Maria sambil membalas cium salam di kedua pipi Lidya. “Apa polisi sudah bergerak?”
“Belum ada kabar, tapi polisi memang akhirnya mau bergerak.” Lidya menghela napas pelan.
Maria mengucap syukur, yang dibalas dengan sambutan serupa.
“Pelayanmu bilang, kau habis makan siang di rumah Keluarga Argent,” Lidya melanjutkan dengan senyum manis.
Maria berharap pelayannya tidak besar mulut, atau besok akan tersebar berita bahwa ia dan Jose memang akan menikah. Ia mengangguk dan meluruskan dengan cepat, “Kau tahu, Argent dan Garnet memang sudah berkawan sejak lama. Anggota keluarganya yang jadi dokter, Dokter Rolan, aku sering bermain bersamanya waktu kecil. Kami cuma mengadakan semacam reuni kecil.”
“Ya, kalian memang kelihatan akrab. Beberapa orang malah berpikir kalian sudah bertunangan.”
Maria memutar bola matanya. “Apa kau juga berpikir begitu, Lidya?”
Gadis itu hanya menyunggingkan senyum kecil. Meski tidak mengatakan apa pun, sorot matanya sudah cukup memberi tahu Maria bahwa Lidya juga berpikiran sama seperti orang lain.
“Memangnya kalian tidak bertunangan?”
Pertanyaan yang polos itu membuat Maria mendesah. “Tentu saja tidak! Kami cuma berteman. Orang-orang sepertinya tidak percaya bahwa bisa saja seorang perempuan dan laki-laki punya hubungan yang tidak lebih dari sekadar pertemanan belaka. Kami bersahabat sejak kecil. Aku sudah menganggapnya seperti adik saja.”
__ADS_1
“Adik?” balas Lidya heran. “Biasanya sahabat laki-laki akan terlihat seperti kakak, kan?”