
Jose menatap gambar demi gambar pada kertas hasil gambar Nolan, mengangguk-angguk pelan, kemudian menyerahkan lembar yang sudah dilihatnya pada Rolan.
Yang bisa dilihat Rolan hanya garis-garis yang ditimpa pada bulatan aneh. Ia menatap Jose tak percaya. "Kau bisa membaca ini?"
"Tidak. Gambarnya tidak jelas. Aku juga bingung," Jose mengakui. "Tapi aku mungkin bisa menangkap sedikit-sedikit," sambungnya tergesa begitu melihat Nolan berhenti menggambar dan menatapnya dengan bibir melengkung ke bawah.
"Aku cuma melihat kotak, kotak, bulat, garis. Yang ini mirip orang. Ini aku tidak tahu apa," Rolan menilai dengan jujur, tidak menyadari Nolan menatapnya dengan kesal. Gadis itu merebut gambarnya dari tangan Rolan, menambahkan beberapa titik dan coretan, kemudian menyerahkannya pada Jose.
Jose tahu ia dipercaya oleh gadis itu untuk bisa mengerti, tetapi ia sebenarnya kebingungan. Andai saja Nolan bisa menulis, sesalnya.
Ia mengamati lembar demi lembar, tidak lagi menatap gambar Nolan sebagai lukisan melainkan sebagai pola. Ia mencari pola yang sama dari tiap kertas dan membandingkannya. Ternyata meski gambarnya tidak jelas, Nolan cukup konsisten. Jose mengenali banyak hal yang sama. Ia berpikir sebentar saat melihat satu-satunya bentuk yang mirip manusia di situ. "Ini Paman Marco?"
Nolan mengintip, lalu mengangguk senang. Ia menunjuk-nunjuk coretan lain dan membuat gerakan-gerakan dengan tangannya, kadang bahkan mencoba bersuara, yang malah membuatnya batuk dengan menderita.
Jose terlihat sabar meski bingung, tetapi Rolan tidak sesabar itu. Ia menarik tas hitam yang selalu dibawanya, mengeluarkan gunting dari sana, lalu melipat kertas gambar Nolan dan mengguntingnya membentuk manusia sederhana. Dalam sekejap, enam manusia kertas sudah muncul.
"Ini Marco. Kubuat kepalanya hitam sebagai penanda!" Rolan mengeluarkan pena mahal yang sudah memiliki kantung tinta dari sakunya, membuat arsiran pada manusia kertasnya.
Nolan menarik lengan baju Jose, pemuda itu menoleh dan mengangguk mengerti. "Aku tahu. Biarkan saja, itu tidak penting sekarang."
"Apa?" tanya Rolan curiga. Tangannya berhenti. "Dia bilang apa?"
"Tidak penting. Teruskan saja, Paman."
__ADS_1
"Aku yang akan putuskan apakah itu penting atau tidak buatku. Dia kenapa?"
Jose menunjuk kertas manusia berkepala hitam yang dibuat Rolan. "Paman Marco rambutnya putih."
Nolan mengangguk dua kali.
Rolan menatap kedua orang di depannya dengan kerut tak percaya. "Hmmm, memang sangat tidak penting. Itu saja yang jadi masalah? Dari mana kau tahu dia bilang apa? Dia kan tidak bicara!"
"Dari mukanya kan terbaca," sahut Jose heran. Di sampingnya, Nolan mengangguk lagi dengan penuh persetujuan.
Rolan tidak mengerti penjelasan itu, tapi ia juga malas untuk mencoba memahami. "Padahal tidak perlu protes. Isi kepala Marco kan hitam semua. Tapi baiklah, suka-suka kalian saja. Yang kepalanya hitam ini jadi Jose. Ini Marco. Ini kau, Nolan. Ini Robert. Ini ... ini hantu hitam."
Masih ada satu lagi manusia kertas yang tersisa. Rolan membiarkannya tanpa nama. Ketika Rolan sedang membuat kode penanda pada boneka kertasnya, Jose sudah selesai membuat peta Bjork dengan menggabungkan dua lembar kertas gambar. Ia juga memberi gambar ilustrasi yang jelas dengan menggunakan arang.
***
Charles akhirnya meninggalkan rumah untuk menghadiri pertemuan dengan Baron Spencer. Mereka akan mendiskusikan langkah selanjutnya untuk menjatuhkan Edgar Argent. Marco sudah hilang, berarti bagian belakang melemah. Kalau usaha Edgar karam, bagian depan Bjork yang dikuasai Argent juga akan melemah. Pada akhirnya, keluarga tersebut akan bisa disingkirkan jauh-jauh atau minimal dibuat tak punya pengaruh. Itulah impian Charles. Xavier tadinya setuju dan mendukung saja karena dipikirnya ini cuma masalah persaingan dagang. Namun ternyata yang dilakukan sepupunya itu lebih mirip obsesi. Dan setelah menyelidiki sendiri siapa orang yang ingin dijatuhkan sepupunya, Xavier makin ngeri.
Begitu selesai memastikan bahwa kereta kuda sepupunya sudah pergi, Xavier segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Ia menggelengkan kepalanya cepat seperti anjing mengeringkan air dari bulunya, berusaha membuat kepalanya jernih kembali. Ia tidak bisa mengharapkan Jose memanggilnya duluan. Ia akan ke sana langsung.
Xavier tahu bahwa seringnya para pedagang dan bangsawan menggunakan cara licik dan taktik keji untuk menjatuhkan lawannya. Ia bisa menerima itu semua. Namun makhluk sihir yang tercipta dari mayat? Ia tidak menyukainya. Ia sama sekali tidak mau membiarkan sepupunya berurusan dengan makhluk seperti ini.
Perjanjian dengan iblis pasti ada ganjarannya. Xavier khawatir ganjaran yang akan mereka terima tidak akan sanggup mereka tanggung.
__ADS_1
Ia berjalan keluar dengan santai, menolak tawaran Wales untuk menyertainya. Hari masih pagi. Sekarang pukul sebelas, waktu ketika matahari bersinar cukup hangat di Bjork. Suasana kota sudah ramai. Ada kaleng besar yang berjalan sangat lamban dan disebut mobil, ada kuda-kuda, suara kaki kecil anak-anak berlarian, aroma kue yang baru saja dibakar. Xavier menghirup udara dengan rakus, tetapi tetap tidak bisa merasa hidup. Sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang karena merasa diikuti. Awalnya ia berpikir itu hanya perasaan cemasnya yang kambuh. Ia biasanya memang jadi gampang curiga dan cemas setiap habis minum. Namun setelah beberapa lama berjalan memutari pasar, Xavier yakin ia memang diikuti. Orang-orang itu menjaga jarak tetap dengannya. Jika ia berhenti, orang itu berhenti. Saat ia berjalan, tapak kaki itu juga berjalan. Mungkin ada dua atau tiga orang.
Sejak mencoba membebaskan Marco, Xavier selalu diserang rasa cemas apakah ia akan ketahuan. Jika ketahuan, apa ia akan dibunuh Apa sepupunya akan menolong lagi?
Xavier menginjak tali sepatunya dengan sengaja, membuatnya terurai. Ia menunduk dengan natural untuk mengikatnya, mengambil kesempatan mengintip ke belakang melalui sela kaki. Ada dua pasang sepatu yang hampir berbalik, tapi lalu jadi diam waktu melihatnya hanya membetulkan tali.
Ia bisa saja berputar-putar di pasar dan tempat ramai untuk menghindar, tetapi pasar akan tutup siang hari. Ia akan kembali sendirian.
Ia berniat mencari pertolongan di bar, tetapi lalu membatalkannya karena masuk ke tempat tertutup saat sedang dikejar jelas adalah ide buruk. Xavier masih mencoba berjalan dengan lagak tenang meski jantungnya berdebar tak karuan.
Kalau ia mati, apa Charles akan menggunakan mayatnya untuk membuat golem? Mau tak mau pikiran itu melintas, membuat Xavier hampir menangis. Ia ingin minum.
Ia tidak mau mati.
Kalaupun ia harus mati, ia ingin minum dulu.
Xavier berbelok dari jalan utama menuju ke bar langganannya, memesan satu pints bir.
Ia duduk di meja bar dengan perasaan tak karuan. Wajahnya memerah dan matanya sembap. Bartender memberinya perkataan penghiburan yang tidak bisa diserap Xavier. Matanya memperhatikan pintu bar, menunggu. Berkali-kali ia membayangkan akan ada yang masuk dengan membawa pisau lalu menggorok lehernya. Atau mungkin orang itu akan menusuknya sambil berpura-pura memesan, membuat Xavier selalu terlonjak kaget setiap ada yang tak sengaja menyentuhnya atau duduk di sampingnya. Ia menunggu pembunuhnya, tanpa tahu ia akan mati untuk apa. Baginya, ia memang sudah pantas mati, jadi Xavier tidak berniat bertanya jika dewa kematiannya itu datang.
Setelah hampir dua jam menunggu dan tetap tidak ada yang datang membunuhnya—bahkan yang mengajaknya bertengkar pun tidak ada, Xavier membayar dan berjalan bingung keluar bar, kembali memutari pasar dan jalanan, lalu kembali lagi ke depan bar dengan terheran-heran. Ia sudah tidak diikuti.
Setelah berpikir agak lama, Xavier makin yakin bahwa ia pasti sedang dicurigai. Jika ia tadi nekat berjalan ke arah rumah Argent, mayatnya pasti sudah terkapar di jalan sekarang. Tanpa nyawa.
__ADS_1
Xavier mendongak menatap papan nama bar, lalu tertawa keras-keras pada gambar bir di sana dan mencium mesra tiang papannya tanpa memedulikan tatapan orang lain. Ia berbalik masuk ke dalam bar, memesan satu pints lagi untuk merayakan keselamatan.