
UCAPAN TERIMA KASIH
Bloody Love akhirnya tamat juga. Yang belum rate, jangan lupa rate 5 bintang dong kalo suka, hehe.
Aku tahu bahwa cerita ini masih banyak kurangnya. Masih bertele-tele, membingungkan, membosankan di beberapa (atau banyak bagian), masih kepanjangan, mungkin juga masih ada plothole yang aku nggak sadar, dan terutama: masih banyak salah ketiknya. Aku masih berusaha edit setiap salah ketik yang ada supaya tulisan ini bisa dinikmati ke depannya. Kalau kalian lihat ada saltik dan mau bantu tunjukin, aku juga berterima kasih (kali-kali aja ada yang mau ikut repot neliti wkwk).
Setting latar Bloody Love bener-bener fiktif. Nama-nama daerah yang aku pakai dan nama-nama orangnya nggak bener-bener ada, jadi kalau ada kesamaan ... itu cuma kebetulan yang nggak disengaja. Oh, tapi Albion Raya adalah nama kuno dari Inggris, aku ambil referensinya dari situ.
Sejak dulu, aku biasanya berkutat pada genre thriller dan puzzle, bukan horror. Bloody Love adalah novel horror pertama yang aku buat, karena itu pasti masih banyak kurangnya. Meski begitu, kalau masih bisa dinikmati, aku akan senang.
PENGUMUMAN
Tahun 2020 ini aku mau melanjutkan proyek menulisku di platform lain. Karena nggak etis, jadi aku ngga akan nyebut nama platformnya di bab pengumuman ini. Novelku yang berjudul Red Light District akan terbit secara berkala pada bulan Maret di sana. Tokoh-tokoh di RLD masih muda, belasan tahun, karena genrenya young adult. Kalian bisa cek info terbitnya di twitter atau IG-ku di @narazwei. Sebenarnya aku nggak terlalu aktif di sosmed, tapi kalau ada proyek baru pasti aku infoin di sana, kok.
TENTANG BLOODY LOVE
Ini nggak terlalu penting sih, tapi kali-kali aja ada yang mau tahu, cerita Bloody Love sebelumnya pernah terbit di Novel Nusantara under pseudonym narazwei. Nama itu pisahan suku katanya na-ra-zwei karena yang belakang itu zwei (dua), bukan marga wei wkwk. Kadang ada yang ngira itu marga, jadi akhir-akhir ini aku menulis namaku terpisah jadi Nara Zwei. Kalian bisa menemukan akun-akun menulisku dengan pseudonym narazwei di tempat-tempat lain. Oh ya, Novel Nusantara udah tutup, jadi kalian ga akan bisa nemu platform itu.
Di NN, Bloody Love terbit dalam 75 bab pada tahun 2016, dan sudah tamat. Ketika memindahnya ke MangaToon, aku merombak buaaaaanyak hal sehingga jalan ceritanya berubah total. Total.
Jadi yang di NN beda jauh dengan yang di MT.
Lima puluh sampai tujuh puluh bab awal sih mayan sama, karena emang baru foreshadow sama introduksi masalah, tapi seperti anyaman yang diubah di satu sisi, ketika aku mengubah satu cabang maka otomatis banyak hal di sisi lain ikut berubah. Bahkan ending BL di MT pun beda jauuhh dengan di NN karena perubahan-perubahan tersebut. Jacob sebelumnya sama sekali nggak punya peran ketika di NN. Lady Chantall, Tuan Stuart, dan Greyland nggak ada. Clearwater dan Marsh juga nggak ada.
Yah, soalnya pemikiran dan teknik menulisku juga berubah seiring waktu, jadi ya pastinya memang jadi banyak yang berkembang baik secara plot maupun gaya bahasa. Untuk pembacaku dari NN yang kebetulan mampir, salam mwah mwah ya. Aku senang kalau kalian masih ingat akuu.
Ketika membuat novel ini dulu, aku cuma berpikir: pengen bikin cerita yang ada monsternya tapi bukan monster, ah. Trus cowoknya harus berkembang dari ga tahu apa-apa jadi tahu. Terus ceweknya ga boleh memble. Terus, terus, dan seterusnya. Kemudian dari daftar keinginanku itulah baru aku nyusun ide dan memilah serta menentukan banyak hal semacam mau pake berapa tokoh yang sifatnya kayak apa. Latar adalah masalah terakhir. Karena jujur aja pengetahuan geografi dan sejarahku jelek, aku mencoba mengatasinya dengan cara bikin latar fiktif. Pikirku waktu itu, dengan begini aku ngga perlu pusing mikirin kontur bumi, wilayah geografi, kebudayaan setempat, dan lain sebagainya. Pikiran naif, karena setelah dijalani ya tetep pusing ternyata. Tetep harus mikirin itu, bahkan meski fiktif. Justru karena fiktiflah malah jadi harus dibuat supaya terkesan real dan hidup.
__ADS_1
Nama dan Latar
Bjork adalah nama yang kebetulan aku comot ketika googling. Bjork artinya dahan, diambil dari bahasa Swedia. Ga ada alasan khusus memilih nama itu. Aku cuma suka bunyinya karena terkesan kaku dan misterius. Albion Raya sendiri adalah nama lain Britania Raya/Inggris. Tadinya aku pengen bikin semacam fantasi steampunk, tapi risetnya susah dan kepalaku keburu ngebul. Jadi ya batal.
Awalnya aku pake latar fiktif untuk mengatasi kelemahanku dalam bikin world building, tapi sekarang aku justru sering make latar fiktif karena suka. Jadi kalian pasti akan sering melihat tulisanku berlatar tempat fiktif. Nusa Antara di novel The Sound of Silence, Umulbuldan di Cages, Bjork di Bloody Love, Distrik Lampu Merah di Red Light District.
Akuselalu merasa senang setiap dapat komen ada pembaca bisa ikut masuk dan hanyut ke dalam suasana cerita, bahkan meski latarnya fiktif.
Ini nggak penting, bisa di-skip kok.
Awalnya aku buat judul Bloody Love sebagai lelucon untuk diriku sendiri, karena kalau disingkat bakal jadi BL. Boys Love muahaha (ketawa ala fujoshi). Oke, skip.
Bloody Love memang soal cinta yang berdarah, semua orang dalam novel ini rela menumpahkan darah orang lain dan kalau perlu darahnya sendiri demi cinta mereka—entah pada kawan, keluarga, status, junjungan, gebetan, pacar, pekerjaan, uang. Ketika di MT aku sempat mengubah judulnya jadi Bjork, tapi kemudian kukembalikan lagi jadi BL karena aku merasa endingnya bakal balik ke judul itu. Jadi lebih masuk akal daripada Bjork.
Sebenernya tiap bab pun dulu ada judulnya. Tapi kemudian ketika melakulan revisi dan pembagian ulang bab berdasar jumlah kata (maksudku, misal aku tadinya bikin 1 bab 2rb kata, trus kubagi jd 2 bab masing-masing seribu kata) judulnya jadi ga pas kan sama isinya. Aku nggak ada waktu buat mikirin judul karena buatku yang penting edit dan pisah-pisah dulu. Ketiadaan judul ini memang mempercepat proses publishku karena aku biasanya perlu mikir lama untuk menentukan judul bab yang pas. Tadinya aku mau kasih judulnya pake Chapter/Bab/Page/Trace atau apaan deh yang unik gitu, tapi setelah agak lama ngedit (waktu itu baru sampe 10 bab), aku ngerasa itu juga buang waktu. Toh di MangaToon udah ada template judul pake Episode, jadi kupake aja deh. Cuma tinggal ubah angka belakangnya sesuai bab yang lagi kugarap. Kadang aku masih suka bingung gitu kalo ada yang nanya soal episode, karena dalam kepalaku aku nyebutnya tetep "bab".
Total jumlah kata dalam novel ini ada 250k kata lebih lho (dan bakal nambah makin banyak deh karena akan ada extra). Untuk info aja, 1.500 kata standarnya 5 halaman. Jadi 250.000 kata adalah ... banyak halaman deh. Dan kalian sudah baca sebanyak itu~
Kuharap beribu-ribu kata yang sudah tertulis di novel ini bisa meninggalkan kesan untuk kalian. Jujur saja, aku menulis bukan untuk tujuan mulia semacam menginspirasi orang lain, menyebarkan pelajaran moral pada pembaca, atau menyebarkan kata-kata mutiara. Hmmm. aq tak semulia itu.
Aku tergabung di komunitas literasi Dimensi Kata yang salah satu prinsipnya adalah menulis sesuka hati demi memuntahkan egoisme dan idealisme penulis. Itulah yang kulakukan, untuk diriku sendiri. Karena itu juga aku selalu senang setiap mendapatkan apresiasi atas keegoisanku ini. Ehehehehe
Oh ya, Bloody Love juga sempat beberapa kali ada di daftar atas genre supernatural dan horror di MT, , itu benar-benar bikin aku happy. Dan semua itu berkat kalian pembaca setia yang bikin performa novel ini jadi baik dengan rajin membacanya, memberi like, memberi komen, rate, vote, serta tips. Dan berkat itu jugalah novel ini jadi bisa menemukan pembaca lain. Pembaca pada umumnya cenderung akan tertarik baca novel yang punya review bagus dari sesama pembaca. Jadi sebenarnya kalau kalian suka novel ini dan ingin mendukungnya lebih dari sakadar like atau fave, cara termudah dan termurah adalah cukup kasih ulasan aja tentang kesan kalian membaca novel ini.
Aish jadi panjang, padahal intinya aku cuma mau bilang makasih untuk kalian yang sudah setia baca hingga menjadikan novel ini bisa tampil lebih jelas di muka aplikasi MT dan NT. Terima kasih juga untuk dukungannya selama ini ketika aku menulis di MT ya.
__ADS_1
Novel ini ga mungkin tamat hari ini kalau kalian nggak ada. Soalnya awalnya kupikir ga ada yang baca novel ini karena genre atau mungkin isinya ngga sesuai selera pembaca di MangaToon, jadi sempet mau hiatus aja buat lanjut ngedit novel Red Light District. Toh novelnya bisa kulanjut dan tamatin kapan-kapan kalau luang. Tapi ternyata ada yang komen kalo mereka baca dan nungguin. Menamatkan novel bagiku jauuh lebih sulit daripada memulainya. Semua orang bisa memulai cerita, tapi mengakhirinya adalah tantangan tersendiri yang butuh komitmen, begitulah menurutku ... karena itu aku senang bisa menyelesaikan Bloody Love lebih cepat dari rencana.
Makasih ya untuk kalian semua yang setia baca, setia komen, setia like, setia kasih vote dan tips, dan sudah nemenin aku nulis cerita ini.
Sekadar informasi, hari-hari dalam novel ini berjalan berurutan, nggak ada hari yang kulompati dalam cerita. Nggak ada tetiba dua hari kemudian atau seminggu kemudian atau setahun kemudian. Ada yang tahu sudah berapa hari berlalu dalam novel ini dari bab 1 sampai terakhir?
Lalu satu hal yang bikin aku penasaran: apa sih yang bikin kalian memilih novel ini dan tertarik membacanya? Mungkin kalau ada yang kasih tahu, hal itu bisa kugunakan untuk memaksimalkan lagi tulisanku ke depannya.
Tapi kalau jawabannya karena "kebetulan asal pilih eh suka", nah yang ini ga bisa aku apa-apain, faktor hoki memang susah dikontrol haha
Terima kasih ya sudah membaca novel ini. Sampai jumpa dalam waktu dekat ataupun jauh.
Salam sayang,
Nara Zwei.
PS: Ini beberapa sampul sebelumnya Bloody Love sesuai urutan. Kalian suka yang mana?
__ADS_1