BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 170


__ADS_3

Sebenarnya ia bisa saja minta izin pada Marco untuk keluar, tapi itu hal bodoh. Jose tahu pamannya tidak akan memberi izin. Adanya para pekerja menjaga pintu-pintu di rumah ini jelas bukan sekadar untuk pengamanan melainkan juga pertanda bahwa ia memang harus tetap di rumah. Jika ia minta izin, Marco akan menolaknya, lalu kemungkinan besar malah justru memperketat penjagaan karena sudah mengetahui niatnya untuk pergi. Jose sudah hapal pada pola itu.


Satu jam setelah selesai sarapan, Jose mengurung diri di salah satu kamar kosong di sayap timur yang jendelanya terhalang pohon oak. Ia memperhatikan pergantian jaga para dari balik jendela, kemudian mendorong kacanya dengan hati-hati. Angin dingin berembus pelan meniup rambutnya. Jose menghela tubuh keluar. Kakinya memijak langkan dengan mantap.


"Jose?"


Jose memutar torsonya mendengar suara itu. Jacob ada di ambang pintu kamar dengan pakaian resmi dan rapi. Sebelah matanya masih menyipit, tapi sudah tidak bengkak.


"Hai Jake," balas Jose ringan, tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. "Jangan bilang siapa-siapa."


Jacob melengos. "Kau tahu kenapa dilarang pergi, kan?"


"Karena di luar bahaya," sahut Jose, sudah melompati birai jendela. Ia tidak tahu seberapa jauh kakaknya mengetahui masalah ini, jadi ia memutuskan tetap tutup mulut soal Sir William. "Paman tidak pernah mau bergerak sampai segala hal jelas dan semua jalan di depannya aman. Tapi aku tidak sesabar itu."


"Macam kau pernah punya kesabaran saja," ledek Jacob sambil menutup pintu lalu berjalan mendekatinya, memperhatikan bagaimana Jose meniti ornamen dinding yang menyembul sebagai pijakan. "Kalau jatuh dari sini, kepalamu bakal remuk," komentarnya.


"Sudah tahu, jadi jangan coba mendorongku."


"Oh, aku akan melakukannya," Jacob menyahut pasti, tetapi tidak melakukan apa pun. Ia hanya menyandarkan sisi tubuhnya di kosen sambil mengawasi. "Kau akan ke tempat Garnet?"


Jose tidak menjawab. Ia merapatkan tubuh ke dinding ketika seorang pelayan lewat di bawahnya. "Sampaikan salamku untuk Ayah," katanya setelah pelayan itu lewat. "Dan Lord Greyland." Ia menendang dinding dan menggunakan daya lenting tubuhnya untuk loncat ke dahan utama pohon yang kuat. Bagian mudahnya sudah selesai. Bagian sulitnya adalah menyeberangi halaman tanpa terlihat. "Hei, Jake," katanya. "Kau pakai kereta kuda atau mobil?"


"Kereta empat kuda," sahut Jacob, "mau aku lewat sini?"


"Itu bakal membantu. Aku bisa menyelundup di kompartemenmu."


"Minta maaf dulu."

__ADS_1


"Untuk apa?"


Jacob menunjuk matanya yang lebam kemerahan. Jose menatap datar, lalu membalas dengan menunjuk rahangnya sendiri yang memar kehitaman, menolak minta maaf untuk hal yang dianggapnya sudah impas.


Mereka berdua bertukar pandang dengan tatapan sama-sama menantang. Kemudian Jacob melepaskan tawa kecil pertanda mengalah. "Maaf," katanya.


Jose menyipitkan mata di balik dedaunan, merasa curiga. Mereka biasa berantem lalu berbaikan tanpa perlu minta maaf, biasanya mereka hanya mendadak bersikap manis satu sama lain untuk menunjukkan bahwa masalah telah selesai. Tuntutan permintaan maaf dari Jacob barusan pun ia yakin hanya gurauan semata.


"Maksudku karena meninggalkan kalian sepuluh tahun lalu," sambung Jacob, mengungkit bahasan pertengkaran mereka semalam. "Dulu aku memang egois. Dan kurasa kau benar, aku agak cemburu melihatmu begitu disayang Paman Marco. Tapi itu dulu. Sekarang aku punya tempatku sendiri, sementara kau memang layak berada di sini, memimpin mereka."


"Jangan bikin eulogi, aku belum mati," Jose berkata dengan nada muram, pura-pura kesal.


Jacob hanya tertawa, lalu berbalik keluar kamar.


***


Apa kau akan berubah jadi mayat hidup di rumah ini? Rolan bertanya dalam hati sambil mengikat kedua tangan dan kaki Dave ke ranjang dengan kain lembut sebagai upaya jaga-jaga.


Setelah menengok kembali kondisi Linda dan Anna yang belum pulih, Rolan meninggalkan ruang rawat untuk melapor pada Marco. Ia baru beberapa langkah menyusuri selasar yang menghubungkan ruang utama dengan ruang belakang ketika telinganya menangkap suara erangan keras dan panjang. Suara Dave.


Rolan memutar tubuh dengan tenang, entah kenapa mulai terbiasa dengan segala hal aneh tak terduga yang selalu menyibukkan harinya sejak ia mengenal keluarga ini.


Apa dia berubah jadi mayat hidup? Rolan mendapati pertanyaan itu lagi-lagi mampir ke kepalanya. Tangannya menyusup masuk ke dalam saku jas, menyiapkan scalpel.


***


Ketika mendengar suara langkah mendekati kamarnya, Xavier pikir itu Jose atau Jacob. Namun tamunya pagi ini benar-benar tak terduga. Ia bahkan mendapati dirinya merasa ingin lari begitu melihat sosok Marco membuka pintu. Pria itu kelihatan segar dan sehat. Andai di atas alis matanya tidak ada bekas luka panjang yang masih baru, Xavier yakin ia akan ragu Marco benar-benar pernah tertangkap.

__ADS_1


Monster, pikirnya heran. Tak mengerti bagaimana caranya pria itu bisa tetap selamat.


Di belakang Marco berdiri seorang lelaki kurus berusia tiga puluhan tahun yang mengenakan jas hitam seolah barusan menghadiri pemakaman. Rambut cokelat tuanya disisir rapi dengan minyak, kumis hitamnya melintang dan mata lelaki itu semuram musim dingin.


"Raymond Stuart," bisik Xavier pelan, mengenali wajah itu. "Pembisik Keluarga Argent."


"Informan," ralat Tuan Stuart tenang. Ia menarik satu kursi kayu di dekat nakas dan meletakkannya di pinggir ranjang Xavier. "Dan menurut info yang kudengar, kedua kakimu patah. Jadi tidak perlu repot berdiri memberi hormat."


Xavier meludah ke lantai.


Marco berpura-pura tidak terganggu. Ia duduk di kursi yang disediakan Tuan Stuart. "Kita bertiga akan bicara panjang lebar, jadi simpan ludahmu."


"Kalau aku tidak mau bicara, kau akan melakukan apa?" Xavier tertawa getir. Ia melambaikan jari-jarinya yang buntung. "Memotong jariku? Mematahkan tulangku?"


"Kalau kau mau bicara," Marco berkata pelan, "aku akan menolong sepupumu."


Selama beberapa detik hanya ada keheningan mencekam dalam ruangan itu. Xavier mengerjap-ngerjap keheranan. "Apa yang ..." Setetes air mata jatuh melewati pipi. Ia buru-buru menghapusnya dengan ujung selimut sambil tertawa lirih. "Kau mau menolong Charles dari apa?"


"Seseorang melarangmu untuk bicara," sahut Marco tenang. "Kita berurusan dengan energi-energi alam yang tidak dimiliki manusia biasa. Sihir, istilahnya. Kita berurusan dengan sihir, dan aku menduga kalian berdua—kau dan Charles, tenggelam terlalu jauh dalam urusan yang harusnya tidak kalian campuri. Mari kita mulai dari awal: kau berusaha melepaskanku, kau mencari perlindungan dari Jose, tapi di sisi lain kau juga tetap patuh pada perintah Sir William. Aku menduga ada ancaman, atau mungkin ikatan. Mungkin sihir? Apa pun bentuknya, itu yang membuatmu tidak bisa bebas berbalik arah. Atau mungkin kau hanya belum yakin apakah aku akan bisa membantumu, karena itu berusaha bermain di dua kaki."


Xavier terkekeh. Matanya bersinar sedih. "Tidak ada apa pun yang bisa disembunyikan dari Keluarga Argent, eh? Sekarang aku tahu kenapa banyak orang takut padamu." Ia menarik napas gemetar, lalu mengembuskannya pelan. "Tapi dengan cara apa kau akan menolongnya?"


Marco tersenyum. Ia mengeluarkan talisman emas dari sakunya sebagai jawaban. Bandul kalung itu bergerak seperti pendulum.


***


¬Eulogi: pidato penghormatan/pujian pada orang lain. Biasanya diucapkan di pemakaman untuk yang meninggal.

__ADS_1


__ADS_2