
Ruang tamunya didominasi warna merah marun. Tirai-tirai berat ditutup melapisi jendela-jendela kaca besar di ruangan itu. Sir William berdiri membelakangi jendela, bertanya-tanya apa yang akan terjadi pagi ini. Ia sudah menemui banyak medium sebelumnya, dan kebanyakan dari mereka berakhir membencinya atau takut padanya. Ada juga yang mencoba melawan dengan percuma, hanya untuk berlutut memohon ampun di kakinya. Satu hal yang sama dari semua mediumnya adalah mereka selalu menghindarinya dalam insting yang sama seperti tikus menghindari kucing.
Ini pertama kalinya ada medium yang ingin menemuinya.
Sir William memperhatikan gadis itu baik-baik. Cahaya lampu menari di helai-helai rambut Maria yang cokelat madu. Kedua pipi gadis itu merona merah, tetapi bukan karena malu atau tersipu.
Maria sedang marah.
"Nona Garnet," sapa Sir William lembut. Ia mengayunkan sebelah tangannya ke arah sofa krem di sebelah kanan mereka. Meja kopi dari batu marmer terletak manis di antara dua sofa dan bangku duduk tanpa sandaran.
Maria menyapukan pandangan ke sekitar dengan kritis, seperti sedang menerka situasi, atau mencari celah kabur jika terjebak. "Aku tidak datang untuk duduk manis bersamamu, Sir," katanya dingin.
Suaranya seperti denting lonceng, pikir Sir William, menikmati mendengarnya. "Jadi kau lebih suka kita bicara sambil berdiri berhadap-hadapan begini?" balasnya. Ia bisa menggunakan bahasa yang lebih kasual sekarang berkat sering bertandang ke Gedung Diskusi. Tempat itu benar-benar berguna untuk membuatnya memahami bagaimana gaya berkomunikasi yang luwes supaya tidak dipandang aneh.
Maria masih menelusuri tiap sudut ruangan dengan pandangan mata, tidak bisa melepaskan perasaan bahwa ada yang ganjil pada tempat itu. Lampu-lampu lilin dan lampu kristal menyala terang benderang, memamerkan tiap sudut ruangan tanpa terkecuali, tetapi Maria merasa kedinginan. Suhu seolah anjlok begitu ia masuk ke dalam ruang tamu.
Sir William lebih tinggi dua kepala darinya sehingga Maria harus sedikit mendongak kalau ingin menatap mata pria itu. Mata biru yang pekat. Menatapnya membuat Maria merasa seolah terjerumus dalam kolam tanpa dasar.
Sir William berjalan duluan ke sofa dan duduk di sana dengan santai, seperti pencicip istana yang mencoba segelas anggur untuk meyakinkan bahwa tak ada racun dalam gelas. "Duduklah," katanya lagi. Nadanya masih ramah dan sopan, tetapi bulu kuduk Maria meremang.
Rasanya seperti ada kekuatan tak kentara yang memaksa Maria menuruti perintah Sir William. Gadis itu melangkah pelan ke sofa terdekat dan duduk di sana.
__ADS_1
Mereka saling berdiam diri selama beberapa saat. Rasa panik berpusar dalam diri Maria, meneriakkan peringatan-peringatan tanda bahaya dan memintanya untuk lari dari tempat ini secepat mungkin. Lari yang jauh.
Namun Maria mengabaikan itu dan meneguhkan hati. "Aku minta kau hentikan ini semua, Sir."
"Hentikan apa?" balas Sir William dengan nada tertarik, matanya menatap Maria dengan sungguh-sungguh, mencurahkan seluruh perhatiannya mengamati tiap perubahan ekspresi yang dibuat gadis itu.
Maria merasa tenggorokannya tercekat, seperti ada asap masuk ke kerongkongannya dan membuatnya tak bisa bernapas. Datang ke sini adalah hal bodoh, ia menyadarinya dengan terlambat. Namun ia merasa harus melakukannya, bahkan meski seluruh tubuhnya merinding hebat seperti dihinggapi ribuan serangga. Saat ini ia merasakan sensasi yang sama dengan semalam, sensasi yang membuatnya malu setengah mati.
Seluruh tubuhnya panas, kepalanya pening, dan ia merasa jiwanya seperti keluar dari tubuhnya.
Ia menonton tubuhnya, menonton isi kepalanya, yang saat ini justru membayangkan secara detail bagaimana ia dan Sir William di atas sebuah altar batu dalam sebuah puri yang asing baginya, tanpa busana. Ia bahkan seperti bisa merasakan bagaimana kulitnya ditekan ke altar batu yang dingin. Tubuh pria itu panas, mendesaknya seolah ingin menggabungkan tubuh mereka jadi satu. Kulitnya tampak pucat dibandingkan dengan warna moka kulit Sir William. Kuku-kukunya menancap di bahu pria itu selagi tubuh mereka beradu. Ia bisa menghidu aroma keringat mereka dan merasakan hawa panas yang menguap dari pori-pori mereka.
Suara yang didengarnya di telepon semalam. Apakah memang suara Jose? Maria berusaha memikirkan jawaban pertanyaan itu, dan berhasil. Bayangan tubuhnya yang tumpang tindih dengan Sir William segera pudar dan kemudian hilang. Maria memejamkan mata, napasnya terengah. Suara bisik-bisik dalam bahasa aneh yang selalu bergema di kepalanya masih melemah dan menguat, hilang timbul seperti gelombang radio.
Maria menebak bahwa ia diguna-guna atau semacamnya setelah gangguan semalam berhenti begitu Susan datang menabur garam. Dan semua yang ia alami barusan ini menegaskan dugaannya. Ia sekarang sadar lelaki itu memang biang keroknya. Kalau tidak, bagaimana mungkin Jose begitu melarangnya sampai menonjok Sir William di pesta? Maria makin yakin.
"Berhenti ... menggangguku," katanya setelah mengumpulkan segenap tenaga untuk fokus. Mata biru cerahnya menatap tajam, tak mau kalah. "Apa pun yang kau lakukan yang membuatku ... membuatku begini, hentikan itu. Aku bukan mainanmu!"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Nona." Sir William tersenyum malas. "Kalau bicara soal mengganggu, seingatku yang mengacau di rumahku adalah kawan baikmu itu. Dan sekarang mendadak kau datang dengan nada penuh permusuhan."
"Beraninya kau! Apa pikirmu saat ini kau sedang bicara dengan gadis kampung idiot?" balas Maria geram. "Kau memang melakukan sesuatu padaku. Sejak pertama kita bertemu, selama ini, dan barusan juga!" Pipinya memanas membayangkan ilusi erotis tadi. "Kalau kau tidak segera menghentikan ini, Sir, kau akan menyesal. Sangat menyesal."
__ADS_1
Sir William menengadah, terbahak kencang. Suara tawanya kedengaran begitu geli seolah Maria barusan mengancam akan melukainya dengan bunga rumput. "Apa yang akan kau lakukan, tepatnya?" tanyanya masih sambil tertawa. Gerhana tinggal empat hari lagi, membuatnya merasa tidak ada gunanya bermain petak umpet kata dengan sang medium. "Apa yang bisa kau lakukan?"
"Yah, ini." Maria mengeluarkan sebuntal garam dari kantung gaun dan menyiramkan isinya ke wajah Sir William.
Pria itu terlonjak kaget dan bersin dua kali, tetapi tidak ada efek lain yang lebih dramatis, padahal Maria berharap ia akan melihat wajah pria itu meleleh atau semacamnya.
"Garam?" Sir William mencolek pipi dengan jari telunjuk dan menjilatnya. Ia meringis. "Kau mau memasakku?"
"Aku akan membuat hanya rasa itu yang bisa kau cecap di dasar laut!" balas Maria dingin.
Itu bukan gertak sambal. Jika Maria mempertaruhkan reputasinya, ia bisa saja menyeret Sir William dalam keadaan terikat dan melemparnya ke laut.
"Namaku Maria Garnet, dan tidak ada yang boleh mengirim guna-guna padaku." Maria bangkit dan menggeleng tajam, meneruskan dalam bisikan rendah, "tidak ada. Bahkan dalam mimpi!"
Sir William ikut bangkit dengan santai. "Guna-guna?" bisiknya, sedikit kagum bagaimana Maria bisa tetap berkepala jernih sekarang. "Maksudmu yang seperti ini?"
Maria mengerutkan kening, tidak mengerti apa maksud lelaki itu. Namun detik selanjutnya ia menangkap bayangan di belakang punggung Sir William. Bayangan hitam yang sepekat malam dan merambat dalam cara yang sama seperti cara air mengalir. Dari dalam gulungan bayangan itu muncul kepala-kepala binatang bertanduk yang membuka mulut dan menyeringai, memamerkan gigi-gigi runcing mereka yang bernoda darah. Lidah mereka terjulur keluar satu demi satu, dan dari mulut-mulut itu keluar pelupuk busa putih yang membentuk ratusan kepala manusia. Kepala gundul yang berteriak-teriak menghakimi dosa manusia.
Maria ingin menjerit, tetapi tidak menemukan suaranya.
***
__ADS_1