BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 250 [end]


__ADS_3

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Renata selain melihat Jose datang menggandeng Maria.


Akhirnya dia tidak akan bisa menolak memanggilku 'ibu', pikirnya penuh kemenangan, mengawasi bagaimana keduanya mengobrol dengan Nolan, Clearwater, dan Marsh.


Sepuluh menit sebelum jam makan malam, Marco dan Lady Chantall akhirnya turun. Keduanya berjalan ke ruang makan sambil mengobrol pelan. Tidak ada sentuhan fisik diperlihatkan, tapi keduanya terlihat begitu intim. Senyum tidak pernah lepas dari bibir Lady Chantall, bahkan ketika Marco memisahkan diri untuk bicara dengan Greyland.


Renata memperhatikan dengan cermat gaya berpakaian wanita itu. Kali ini Lady Chantall mengenakan gaun yang lebih tertutup dari biasa, tapi tetap saja pilihan pakaiannya terlalu berani. Namun ia tidak memberi komentar apa pun karena Marco kelihatan tidak keberatan.


Awalnya Renata curiga pada tujuan Lady Chantall mendekati kakaknya. Banyak perempuan datang dengan maksud yang jauh dari baik. Apalagi Lady Chantall masih muda. Bahkan di umurnya yang tiga puluhan, ia kelihatan seperti masih di pertengahan dua puluh. Menggaet satu atau dua lelaki muda yang kaya dan berstatus tinggi jelas bukan perkara sulit bagi wanita itu. Ada banyak perempuan tak tahu malu yang menganggap menaklukkan seorang pria sebagai permainan, Renata khawatir Lady Chantall adalah salah satunya. Meski Keluarga Chantall sudah membantu mereka sejak dulu, tetap saja ia curiga wanita itu hanya main-main dan akan membuat kakaknya kecewa. Namun melihat bagaimana cara wanita itu menatap Marco pagi ini, Renata berubah pikiran. Itu bukan tatapan orang yang punya motif tersembunyi atau sedang main-main. Itu tatapan orang yang dimabuk cinta. Dilihat dari reaksi Marco, jelas cintanya bersambut.


Merasa diperhatikan, Lady Chantall menoleh dan menghampiri Renata. Mata wanita itu tidak mengedip melihat tatanan meja makan. Belum ada hidangan disiapkan, tapi setiap kursi sudah diberi nama. "Apa ini?" bisiknya heran melihat kursinya berada di samping kepala meja, di sisi kanan Marco. Di Bjork ada tradisi bahwa hanya keluarga utama yang duduk di sekitar tuan rumah saat di meja makan. Keluarga Argent tidak mungkin lupa pada aturan itu, jadi ini jelas disengaja. "Kau merencanakan permainan baru, Renata? Belum puas menjahiliku kemarin?"


"Tidak ada permainan, milady," sahut Renata kalem mendengar nada tegang itu. Bahkan meski sambil tersenyum, Lady Chantall tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. "Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu semalam. Kalau tidak ada kau, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Marco dan Jose." Matanya mengerling melirik Marco. "Lagi pula kalau dilihat dari pakaian kakakku yang berantakan, sebentar lagi kita pasti jadi keluarga."


Warna merah muda merambat di tulang pipi Lady Chantall, membuat wanita itu kelihatan seperti boneka pajangan. Ia ikut menatap Marco dan berbisik sangat lirih, "Apa dia kelihatan berantakan? Ada yang kusut? Aku masih ingin memastikan kerapiannya tadi ... tapi Marco bilang itu sudah cukup."


Wanita es yang bisa membuat seseorang dimusuhi seantero kota dalam semalam, Renata heran bagaimana wanita yang ekspresif ini bisa punya julukan semacam itu. "Tenang saja, aku cuma bercanda. Tidak ada yang berantakan."


"Kau tidak mungkin bicara soal pakaiannya kalau memang rapi, kan?" Lady Chantall makin curiga. "Katakan padaku, aku tidak tahu apa yang salah. Jangan sampai aku membuatnya malu."


"Tidak ada yang berantakan," Renata mengulang. "Aku tahu pakaiannya dibenahi sekali lagi oleh orang lain karena George dan Marco tidak pernah mengikat dasi dengan gaya Murrel."


"Oh."


"Baru sadar?" Renata ingat bagaimana beberapa malam lalu Lady Chantall sengaja membuka pintu hanya dengan memakai kimono tidur longgar. "Kupikir kau memang suka melakukannya? Semacam memamerkan tanda kepemilikan, seperti kucing mencakar dinding."


Lady Chantall tersenyum masam mendengar sindiran itu. "Lidahmu tajam sekali. Apa Edgar tidak terluka saat kalian berciuman?"


Sebelum Renata sempat menanggapi, jam sudah berdentang dan Marco mengajak semua orang duduk untuk sarapan.


Marco duduk di kepala meja sementara Albert di ujung yang lain. Kemudian di baris kanan duduk Lady Chantall, Greyland, Clearwater, Marsh, Tuan Stuart, Winona Garnet; sementara di baris kiri ada Edgar, Renata, Jose, Maria, Rolan, dan Nolan.


Selagi makanan dihidangkan, cerita juga dimulai. Semuanya berawal dari kematian-kematian misterius dan mayat kering yang ditemukan terdampar di sungai Bjork. Kemudian kematian Higgins dan kedatangan Nolan membawakan kalung membuat Jose mulai terlibat. Maria juga menceritakan bagaimana ia selalu dihantui rasa mencekam dan takut seolah diawasi seseorang.


"Kalau dipikir lagi, mungkin saja Nolan menemukan kalung itu juga bukan kebetulan," ujar Rolan. "Mungkin ayahnya yang membimbing dia—semoga dia istirahat dalam damai."


"Amin," gumam Nolan, masih tidak bisa melupakan wujud transparan yang dilihatnya kemarin malam. Ia melirik Lady Chantall yang sedang menyesap teh panas. Wanita itu juga pernah mengatakan hal yang sama dengan Rolan, bahwa ini semua sudah digariskan oleh nasib. Atau mungkin gunung Bjork memang membantu melindungi mereka, memberi mereka jalan. Ia juga ingat Jose pernah jatuh ke dalam lubang yang tak pernah ada, lubang yang kemudian melindungi lelaki itu dari golem lewat—golem yang pasti sedang mencari kalung Salomo.


Cerita demi cerita dikisahkan bergantian. Satu orang melengkapi yang lain. Kali ini mereka blak-blakan karena semua orang yang hadir adalah yang terlibat.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa pun pada kami?" Winona bertanya lembut pada putrinya. Ia tidak tahu Maria menderita sendirian.


"Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku, Bu," jawab Maria menyesal. "Ketika akhirnya aku sadar, segala hal berlangsung begitu cepat. Aku tidak punya waktu menjelaskan apa pun pada siapa pun. Semua peristiwa terjadi susul-menyusul."


"Wine," Renata memulai perlahan, "Aku minta maaf tidak bisa menjelaskan pada kalian yang terjadi sejak awal. Tapi waktu itu memang baru sedikit yang kami tahu, sementara segala masalah terus timbul. Awalnya Marco menghilang, lalu Edgar dipancing pergi ke Aston oleh Hastings, dan ketika kupikir segala hal sudah selesai, Sir William datang bersama iblisnya. Kami tidak sempat bernapas."


Edgar menyentuh tangan istrinya, meremasnya lembut di atas meja. "Tidak, itu salahku karena kurang kompeten. Ketika Marco menghilang, aku tidak bisa segera meluruskan banyak hal. Aku minta maaf sudah terlambat menghubungimu, Albert."


Dihujani permintaan maaf dari suami istri Argent, Albert dan Winona justru jadi kikuk. Keduanya cepat-cepat balas meminta maaf.


Marco mendehem pelan, menghentikan hujan rasa bersalah yang membuat meja makan dinaungi hawa tidak enak. "Sebenarnya, tidak ada yang salah di sini," katanya dengan suara berat. Edgar dan Renata sudah mengambil posisi untuk menundukkan kepala dengan rendah hati. Bagiannya adalah untuk mengangkat kembali wajah mereka. "Sir William—dan terutama iblisnya, dan ditambah Baron Hastings serta Spencer, mereka bukan musuh satu-dua orang atau keluarga. Mereka berniat menghancurkan Bjork. Kita semua yang terlibat bukan menyembunyikan info dengan sengaja, segala hal ada tujuannya." Ia berhenti untuk membiarkan setiap kata mengendap di kepala semua orang. "Dan tujuan itu adalah untuk menyelamatkan rumah kita, saudara, keluarga, orang-orang yang kita sayangi. Kita di sini sekarang, bisa berkumpul dan bercerita, karena tujuan itu sudah terpenuhi. Karena rencana-rencana yang dengan hati-hati disusun berakhir sukses. Jadi jangan ada rasa bersalah. Sebaliknya, aku ingin berterima kasih pada semua orang yang ada di sini, yang membantu kesuksesan kita bersama. Terima kasih untuk kalian semua."


Edgar mengangguk setuju. Ia mengangkat gelasnya dalam salut, diikuti semua orang. "Jose?" pintanya sambil tersenyum.


Jose mengangkat sebelah alis. Ia menoleh pada Marco, yang memberi satu anggukan kecil.


Bersama dengan semua orang, Maria ikut meraih gelas, memandangi Jose yang bangkit dari duduknya. Lelaki itu mengangkat gelas di tangan, memimpin salut. "Terima kasih untuk semua orang—yang hidup maupun yang meninggal. Bersulang untuk kemenangan kita semua!"


Gelas-gelas diangkat, saling dibenturkan dalam denting manis sesuai tradisi lama untuk menangkal roh jahat. Suasana kembali hangat dan ketegangan mengendur. Ketika semua orang sudah mulai tersenyum lagi, Marco meraih tangan Lady Chantall di atas meja, lalu masih sambil menggenggamnya, mengumumkan rencana pernikahan mereka di musim semi tahun ini.


Ada keheningan mendadak, kemudian keriuhan meledak. Semua orang mengucapkan selamat silih berganti dan bertepuk tangan, termasuk para pelayan. Jose ikut bersiul nyaring bersama dengan teman-temannya. Lady Chantall masih tertegun, tapi tidak lama. Dengan sigap ia segera membalas setiap ucapan selamat yang datang. Rona wajahnya begitu cerah. Lady Chantall kelihatan gembira, malu-malu, terharu, tapi juga kaget. Wanita itu pasti tidak menyangka Marco akan membuat deklarasi saat sarapan.


Jose sedikit iri. Ia melirik, mencuri pandang ke arah Maria yang sedang mengucapkan selamat. Ia juga ingin membuat Maria berwajah sebahagia Lady Chantall saat ini.


***


Tuan dan Nyonya Garnet masih tinggal di manor Argent malam itu. Albert ada di ruang santai bersama Tuan Stuart dan Rolan. Pria itu masih penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


"Kalian menghadapi iblis!" katanya, kini tidak lagi marah melainkan antusias. "Kenapa tidak mencari pertolongan dari orang-orang gereja?"


"Meminta bantuan Vatikan akan makan waktu. Kota ini keburu lenyap." Rolan menuang konyak untuk Albert. "Lagi pula menurut Jose tidak efektif."


"Dia menggunakan analogi pintu air irigasi," terang Tuan Stuart, masih ingat dengan jelas bagaimana penjelasan yang didengarnya dari Marco. "Jika kita membuka semuanya, itu malah justru akan membuat kerusakan. Pintu air tadi adalah agama, aliran kepercayaan, dan semacamnya. Karena di Bjork yang lebih tua adalah agama lama pada gunung, sebaiknya kita fokus ke sana. Bisa dibilang, itu adalah pintu air dengan pondasi terkuat di Bjork. Itulah yang digunakan."


"Itu lucu," sahut Albert heran. "Sebab dia sendiri berdoa dengan cara Katolik. Aku dengar suaranya. Aku dengar doanya."


Rolan tertawa keras. "Yang jadi masalah ketika bicara dengan awam, dalam hal ini kebanyakan imam Diosesan adalah: mereka akan sulit memahami apa yang terjadi kemarin. Kemungkinan paling baik, kami bisa dituduh melakukan penistaan agama. Kemungkinan terburuk yang terjadi: semua rencana akan kacau. Bisa dibilang, yang dilakukan seluruh Bjork semalam adalah perang iman. Keraguan sedikit saja akan mengacaukan segalanya. Tapi Jose tidak ragu, dia tidak pernah ragu, karena itulah dia berbeda. Tuan Garnet, kau melihat sendiri bagaimana kami muncul dari dalam sungai serta bagaimana sungai itu berkerlap seperti kilat dan berwarna petir." Ia meneguk konyaknya. "Sekte Scholomance ingin membuka portal menuju Eden untuk bisa menjadi seperti Tuhan, tapi Jose bisa mencapai apa yang mereka inginkan tanpa mengorbankan darah siapa pun. Tanpa bahkan menginginkannya. Ironis, kan? Seperti ada tertulis di kitab suci, Tuan: bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu!"


***


Lady Chantall bertemu dengan Nolan di foyer. Gadis itu baru saja turun dari lantai dua, selesai berpamitan dengan Renata. George mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"Kau membantuku pagi ini." Lady Chantall menghampiri gadis itu dan menggenggam kedua tangannya dengan hangat.


"Aku tidak melakukan apa pun," Nolan menyangkal.


Lady Chantall menggeleng pelan. "Aku masih ingat dengan jelas, Nolan. Waktu itu aku masih syok dan bingung karena kehilangan Marco. Stuart minta bantuanku, tapi jujur saja saat itu aku tak peduli apa pun. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi apa yang harus publik tahu dan tidak tahu, tak peduli pada rencana kita awalnya. Mati pun aku tak peduli. Aku benar-benar menyerah." Senyumnya terulas tipis. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memeluk Nolan yang dua puluh senti lebih pendek darinya, mengecup lembut pipi gadis itu dengan penuh syukur. Nolan beraroma seperti bunga kering. "Suaramu tadi pagi menyelamatkanku. Kau bisa tetap berpikir jernih, menjelaskan banyak hal, menggiring publik sesuai skenario kita tanpa kehilangan arah. Dan berkat ketangkasanmulah, saat semuanya kembali seperti sekarang, aku bisa tampil tanpa mengecewakan Marco. Aku berterima kasih padamu, Nolan."


Nolan tidak terbiasa dipuji dan disayang-sayang seperti itu. Kelembutan Lady Chantall justru membuatnya jengah. Rasanya ia lebih suka melihat wanita itu menatap tajam dan dingin. "Aku cuma mengikuti petunjukmu," katanya dengan wajah merona. Ia juga perempuan, tapi dipeluk dan dicium wanita secantik Lady Chantall tetap saja membuatnya tersipu dan salah tingkah. Ia mendorong tubuh wanita itu dengan hati-hati dan bergeser beberapa langkah agar tidak dipeluk lagi. "Aku akan belajar menulis dan membaca," katanya sambil menepuk tas cangklongnya. Renata memberikan hadiah satu tas serta buku-buku baca-tulis. "Kalau sudah lancar, aku akan menulis surat untukmu. Apa pun yang kau ingin tahu."


Lady Chantall tersenyum mendengarnya. Itu berarti Nolan setuju untuk bekerja dengannya menggantikan Titus. "Bagus. Aku bisa memasukkanmu ke sekolah juga."


"Mana bisa! Itu mahal!" Nolan berkata kaget.


"Tidak ada kata mahal. Kau adalah investasiku," sahut Lady Chantall sambil merangkul Nolan, mengiringinya berjalan keluar manor. Suara langkah mereka berketak-ketuk di lantai pualam. "Kalau kau tidak mau sekolah formal, ada Sekolah Minggu. Suster-suster gereja mengajari orang-orang membaca dan menulis juga di sana. Dan, oh ... mereka pengawalmu?" tanyanya ketika George membukakan pintu untuk mereka, menampakkan Marsh dan Clearwater yang menunggu di serambi rumah.


"Jose memaksa," Nolan menjawab masam. "Sudah kubilang aku bisa menjaga diri. Lagi pula tidak ada kabut lagi sekarang. Tapi tetap saja dia menyuruh banyak pekerjanya mengawalku, aku tidak mau. Dia baru menyerah waktu dua orang ini mengajukan diri mengantar."


"Kau harusnya berterima kasih," sahut Marsh galak, tapi matanya bersinar jenaka. "Sekarang di sana pasti masih ramai. Kalau sendirian, tubuh kecilmu itu bakal terinjak-injak sampai gepeng."


"Aku tidak kecil!" Nolan mendelik sebal, lalu bergegas pergi dengan langkah panjang-panjang setelah mengucapkan salam sekenanya pada Lady Chantall.


Marsh buru-buru memberi salam dan berlari kecil mengejar Nolan. Clearwater lebih sopan, pria itu masih berbasa-basi sejenak.


"Nolan akan berada di bawah sayap Anda?" tanyanya. "Maaf, saya kebetulan mendengar ketika kalian bicara. Saya hanya ingin memastikan."


"Dia berbakat." Lady Chantall mengedikkan bahu. "Tinggal asah emosinya saja."


"Saya harap bakatnya tidak membawa dia ke posisi-posisi yang berbahaya."


Lady Chantall menaikkan kedua alis dengan takjub. "Setahuku Comte of Clearwater dikenal irit bicara."


Clearwater tersenyum samar menanggapi sindiran itu. "Itu karena sakit, m'lady. Tapi begitu saya berenang keluar dari sungai pagi ini, rasa sakit di rahang saya hilang. Tidak akan ada yang bisa mencegah saya bicara sekehendak hati, terutama kalau menyangkut keselamatan diri teman-teman saya," pungkasnya tajam.


Lady Chantall tertawa renyah. Ia begitu bahagia hari ini hingga tidak ada yang bisa membuatnya marah. "Aku tidak akan menaruh dia dalam bahaya. Nolan adalah kesayanganku juga. Kalian tidak perlu khawatir."


Clearwater mengangguk, tampak lebih lega setelah mendengar pernyataan itu. Ia segera pamit undur diri dengan sopan, yang dibalas anggukan oleh Lady Chantall.


"Selamat berjuang, Lucas," bisiknya geli sambil memandangi bayangan Clearwater yang menjauh menyusul kedua kawannya.


***


Ketika pelayan datang menyampaikan pesan bahwa ia diminta datang ke kamar kerja Marco, Jose mengira hanya akan bertemu dengan paman dan ayahnya. Namun ternyata ada empat orang lain di situ. Yang satu adalah Greyland, sementara yang tiga lainnya memperkenalkan diri sebagai sekretaris istana. Ketiganya berusia pertengahan tiga puluh sampai empat puluh. Mereka adalah Earl White, Viscount Clifford, dan Earl Frankland. Jose tahu nama-nama itu hanya dalam bisik-bisik. Ketiganya adalah keluarga yang berbahaya.


Jose mengira ketiga orang itu datang untuk Marco. Namun Earl Frankland justru mendatanginya dan menyerahkan sepucuk 'surat cinta' dari istana.


Andai tidak ada lak segel itu, andai tidak diantar langsung oleh sekretaris istana, Jose pasti akan menganggap isi surat itu lelucon belaka. Ia melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. "Aku harus memberi jawabannya sekarang?" tanyanya.


Earl White mengangguk tegas. "Paduka Ratu sudah menunggu, jadi makin cepat makin baik. Jika Anda menolaknya, kami akan membawa surat itu kembali ke Aston. Anggap saja Anda tidak pernah membacanya."


"Namun jika Anda menerima," sambung Viscount Clifford, "Anda bisa datang bersama Marquis Argent bulan depan ketika memberi keterangan resmi pada Paduka. Upacara akan dilangsungkan juga saat itu. Silakan musnahkan suratnya jika Anda menerima."


"Begitulah tradisinya," Earl Frankland mengakhiri, "setiap surat cinta dari istana harus dibakar."


Surat cinta? Ini sih surat perintah. Jose menautkan kedua tangan di pangkuan. Baik Marco maupun Edgar tidak memberi komentar, itu bisa saja pertanda buruk. Atau mereka percaya padaku, pikirnya. Namun ia tidak mau buru-buru memutuskan. Isi surat itu kedengaran manis, tapi beban yang dibawanya mengerikan.


"Bagaimana dengan Duke Ashington?" Mendadak Jose ingat. Ia menatap ketiga utusan di depannya bergantian. "Duke Ashington juga terlibat dengan hal ini."


"Duke akan menjadi urusan dinasti," tukas Earl White. "Kami menemukan istananya berantakan. Mayat di mana-mana, Duke Ashington sendiri tidak ada di sana, tapi itu adalah urusan internal dinasti. Anda tidak perlu mencemaskannya."


"Kami terlibat di sini," Jose menolak untuk mundur.


Earl White diam sejenak, lalu menghela napas lembut. "Sejujurnya, kami curiga Duke Ashington sudah musnah. Tapi ini masih dalam penyelidikan. Anda benar bahwa Keluarga Argent terlibat, karena itu berhak tahu. Kalian akan dikabari hasilnya."


Jose mengangguk puas.


Viscount Clifford berdehem pelan. "Sekarang yang penting adalah jawaban Anda, Mr. Argent."


"Ini masalah penting," kata Jose. "Aku perlu bicara secara pribadi dengan keluargaku."


Apakah itu dibolehkan? Jose menatap lurus-lurus pada Earl Frankland, yang berkedut ketika tersenyum.


"Tentu, Mr. Argent," kata pria itu dengan suara beratnya. Ia bangkit, diikuti kedua rekannya. Jose dan Edgar ikut bangkit, tapi Marco tetap duduk memandangi mereka. Posisi pria itu memang yang paling tinggi di sini.


"Kami akan menunggu di luar," imbuh Viscount Clifford. "Jika Anda sudah selesai berdiskusi, silakan panggil kami."


Greyland bergerak tanpa disuruh untuk mengantar dan menemani ketiga pria itu di luar. Begitu pintu kamar kerja menutup, Jose menjatuhkan diri ke sofa dan mengesah keras. "Apa-apaan ini?" tanyanya kaget. Suratnya dikibaskan. "Aku? Menjadi Marquis? Memangnya itu mungkin?!"


Marco mengamati Jose agak lama. "Mungkin saja, jika dia ingin begitu. Daerah mana yang diberikan untukmu? Biar kutebak ... Redstone?"


Jose mengangguk lemah sementara Edgar mengerang pelan.


"Seingatku kau punya peternakan di sana?" tanya sang ayah.

__ADS_1


"Kuubah jadi pacuan kuda."


"Kau pasti tahu bagaimana kondisi Redstone kalau begitu," Edgar berkata pahit. "Di sana sama saja dengan Bjork saat pertama aku dan Marco datang. Malah lebih buruk, kurasa. Yang Mulia Ratu sudah mendengar tentang keajaiban yang kau lakukan semalam. Dia pasti berpikir kau bisa melakukan hal yang sama di sana—melakukan mukjizat."


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu lagi!" kata Jose. "Aku menukarnya dengan kalian semua."


"Dia tidak peduli," sahut Marco kalem. "Dia bahkan tak akan mau tahu bentuk keajaibanmu apa. Yang dia tahu adalah kau bisa melakukan keajaiban di sini, jadi dia mengharapkan keajaiban kedua: membetulkan Redstone. Kalau kau merasa tidak sanggup, kau berhak menolaknya. Perempuan itu memang selalu seenaknya."


"Kak ... yang sedang kau bicarakan itu ratu kita," tegur Edgar geli. Matanya beralih pada Jose. "Jika kau menerimanya, kau akan menjadi bangsawan bawah—sama seperti Marco, sama seperti kakekmu dan kakek buyutmu dan seterusnya leluhur kita. Tapi bedanya dengan yang diemban Marco, misimu bukan misi turunan. Anak-anakmu tidak akan menjadi pion istana. Hanya kau."


"Tunggu ..." Jose mengerutkan kening, baru sadar sesuatu. "Kupikir Paman sengaja tidak menikah atau mengangkat anak karena ingin menghentikan kewajiban turunan itu. Kenapa sekarang Paman menikah dengan Lady Chantall?"


"Dia mencintaiku," sahut Marco pendek.


Edgar tertawa. "Memangnya kau akan menikahi setiap orang yang mencintaimu?"


"Cuma dia saja," Marco menjawab tenang. Ia menyukai kekeraskepalaan Lady Chantall dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan, tapi itu tidak akan diumbarnya serampangan. "Dan setelah kupertimbangkan, pernikahanku akan membebaskan Jose dari kutukan keluarga. Aku membebaskanmu dari beban membereskan sisa pekerjaan Argent yang mungkin memantul balik. Biarlah itu jadi urusan putraku nanti. Mungkin ini terkesan tidak bertanggung jawab, mengingat aku melatihmu dengan keras untuk menjadi pagar hidup keluarga ini begitu aku tiada ... tapi kau bebas Jose. Kau bebas memilih bagaimana akan menjalani hidupmu."


Itu memang kedengaran sangat tidak bertanggung jawab dan seenaknya. Namun Jose tahu pamannya tidak menyesal sama sekali. Ia sendiri juga tidak menyalahkan pamannya. Berkat semua latihan pria itulah ia menjadi Jose yang sekarang dan bisa bertahan hidup sampai detik ini.


"Ayah tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya pada Edgar.


"Kau sudah membuat keputusan, aku bisa melihat itu," sahut ayahnya lembut. Tangannya yang besar menepuk punggung Jose, mengusapnya penuh kasih sayang. "Apa pun yang kau putuskan, kami mendukungmu. Ibumu sudah tahu hal ini, dia satu suara denganku."


Jose menatap surat di tangannya dengan penuh pertimbangan. Ia mengenal Redstone. Tempat itu memang berbahaya. Dalam surat, Ratu mengundangnya untuk bersama-sama menjadikan Albion Raya sebagai negara-kerajaan yang moderen dan berpendidikan serta beradat. Jose tahu ia akan dituntut untuk mengembangkan tempat itu sama seperti Marco dituntut untuk mengembangkan Bjork.


Keluarganya menanggung janji pada istana sejak awal kerajaan ini dibangun. Selama kerajaan masih berdiri, Argent akan selalu menjadi bangsawan bayangan, hidup menanggung beban membereskan hal-hal kotor di Albion dan melayani perintah dinasti yang berkuasa. Namun beban itu hanya akan ditanggung oleh anak pertama pada anak pertama, karena itu Marco bermaksud mengakhiri apa yang ia sebut sebagai kutukan dengan tidak memiliki keturunan. Jose disiapkan hanya sebagai benteng penjaga untuk membereskan sisa-sisa yang mungkin ditinggalkan Marco yang akan membahayakan keluarga. Jose sudah memahami tugasnya sejak dulu.


Kini ia lepas dari tugasnya, tapi malah mendapat pilihan untuk menanggung beban yang sama, hanya saja tidak akan diturunkan. Beban itu hanya akan menjadi miliknya.


Pada praktiknya tentu saja tidak akan semudah itu menyelesaikan tugas. Ia bisa saja tidak berhasil memenuhi keinginan Ratu. Saat itu, apakah keluarganya akan menanggung konsekuensi yang berat?


Namun tidak tertulis soal konsekuensi pada surat kontrak yang dipegangnya ini. Ia sudah membacanya berulang kali. Keluarganya tidak akan mendapat beban apa pun. Ratu sepertinya hanya melakukan peruntungan, mungkin saja berita tentang keajaiban yang dilakukannya membuat sang ratu penasaran dan ingin melakukan percobaan.


Ini adalah kesempatan bagus. Jika menerima tawaran ratu, ia bisa mengulurkan tangan pada Maria tanpa membuat keluarga Garnet merasa malu karena hanya mendapatkan lelaki biasa. Ia bukan lagi putra keempat, bukan earl, bukan viscount, bukan baron, tapi seorang marquis. Itu satu tingkat di bawah duke.


Jose memejamkan mata, teringat kembali kejadian pagi ini, ketika Maria dengan sengaja menyerahkan tubuhnya untuk dikuasai Arabella. Itu dilakukan Maria untuk mengulur waktu agar Jose pulih, bahkan meski taruhannya adalah nyawa.


Ia tidak bisa membiarkan hanya Maria yang mempertaruhkan segala hal untuk hubungan mereka.


Inilah hal-hal yang kami lakukan demi cinta. Jose bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar kerja, mempersilakan empat pria yang sedang mengobrol di kamar sebelah untuk masuk kembali.


Demi keluarga. Jose menatap paman dan ayahnya.


Demi kekasih. Ia teringat Sir William, yang sampai akhir hidupnya masih bersikeras mengembalikan Arabella.


Demi teman. Sekarang Nolan yang lewat di benaknya. Gadis pemberani yang bermulut lancang tapi begitu mudah menangis. Gadis yang menolong mereka berkali-kali. Ia juga ingat pada semua temannya yang tidak meninggalkannya bahkan setelah tahu bahwa musuh mereka adalah iblis.


Demi melindungi semua yang kami cintai, apa pun akan kami lakukan. Inilah manusia.


Ia mengerti sekarang kenapa Marco tetap bertahan sebagai bangsawan bawah Albion. Dengan berada dekat pada bahaya, pria itu tahu apa yang bisa melukai keluarganya—dan kemudian jadi bisa melindunginya. Selama ini, itulah yang dilakukan Marco.


Jose menatap ketiga sekretaris istana di hadapannya secara bergantian, bertanya-tanya sendiri apa yang dilindungi ketiga orang tersebut. Apakah sang ratu? Negara ini? Atau sesuatu yang lain? Jose tidak ingin bertanya. Ia mengangkat surat dari sang ratu ke depan mereka bertiga, lalu menyobeknya jadi empat bagian, dan membuangnya ke dalam perapian yang menyala-nyala.


Edgar menatap putranya dengan mata bekaca-kaca sementara Marco hanya tersenyum samar.


Begitu api melahap habis amplop tersebut, Earl Greyland, Earl Frankland, Earl White, dan Viscount Clifford secara serentak, tanpa dikomando, meletakkan sebelah tangan mereka di dada dan menekuk lutut dalam salam hormat pada Jose—pada sosok yang berkenan menceburkan diri ke dalam lumpur Albion bawah.


Marquis baru telah lahir malam ini.


Marquis of Redstone.


***






~end





⠀Catatan: cerita tentang Jose ada di novel baru dengan judul Avarice. Ada di web karyakarsa. Ada bonus bab juga di sini. Silakan cek bab selanjutnya ya~ kalau kalian suka cerita ini, mungkin kalian akan suka novelku yang lain dengan judul Red Light District. Info tentang novel itu bisa dicek di IG @narazwei ya❤️

__ADS_1


Catatan:


¬Imam diosesan: pastor projo/imam keuskupan. Mereka di luar ordo. Gampangnya, mereka ini pastor-pastor 'biasa' yang bekerja melayani sebagai romo di gereja-gereja Katolik.


__ADS_2