BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 115


__ADS_3

"Kesampingkan dulu saja soal ini," Jose membelokkan topik. "Kebetulan Ayah memanggil, aku tadi sudah berniat menghadap."


Edgar melirik Rolan, mengerti bahwa kemungkinan hal yang ingin dibahas adalah soal misteri di Bjork. Ia mengangguk pelan. "Ini ada hubungannya dengan mayat hidup yang barusan kau hadapi? Kau mau kamarmu dijaga pelayan? Aku ingat Marco menyarankan itu waktu pertama kali kau melihat hantu hitam."


Jose menggeleng. "Krip akan tinggal di sini. Di kamar pelayan. Keadaan bahaya untuknya. Anak dan istrinya sudah diungsikan ke luar kota, tapi dia ingin tetap di sini untuk membantuku."


"Membantumu?"


"Membantu mencari Paman Marco," Jose menyahut pendek.


Edgar menatap mata hitam Jose dalam-dalam. Alisnya mengerut dalam. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka Jose terlibat dalam hal-hal gelap yang diurus Marco. Namun ia tahu ia tidak bisa mencegahnya. Roda nasib sudah bergulir ke arah sana. "Kulihat kau sudah membuat keputusan," katanya dingin. "Bahkan tanpa komunikasi dulu denganku selaku Kepala Keluarga?"


"Aku membutuhkannya, Ayah. Dia akan sangat membantuku."


"Dan bagaimana caranya membantumu?"


Jose melirik Rolan untuk meminta bantuan, tetapi sebelum Rolan sempat menyahut, Edgar sudah memotong, "Jose, kalau kau belum bisa memberi jawaban sendiri, bagaimana kau akan memimpin orang-orang yang mengikutimu?"


Pertanyaan itu terdengar tajam dan beku, Jose merasa malu.


"Aku membutuhkan Jose," Rolan angkat suara, balas menatap kedua orang di ruangan itu dengan serius. Penampilannya saat ini berantakan. Rambut cokelatnya acak-acakan, pakaiannya kusut, dan ada bayangan hitam di bawah matanya, tapi bola mata cokelatnya bersinar jernih. Rolan menanggalkan topeng santai yang selalu ia kenakan dan bersikap serius, membuatnya sekilas kelihatan seperti orang lain. "Mayat hidup dan hantu mengendus, semua itu tidak ada artinya dibanding masalah yang kita hadapi saat ini: Marco hilang. Kalau dia tidak pulang, aku akan kesulitan. Kau akan kesulitan, Edgar. Kita semua akan kesulitan. Aku tidak main-main, kau lihat sendiri bagaimana para pekerja berontak gelisah. Kita berhasil menenangkannya dengan janji palsu bahwa Marco cepat atau lambat akan kembali dari investigasi pribadinya. Tapi kita tahu sendiri apa yang akan terjadi kalau dia tidak segera kembali. Semua rantai yang dibangunnya di Bjork akan patah. Kau tidak akan bisa menanggung beban yang ditinggalkan Marco dan mengurus sindikatnya."

__ADS_1


Edgar menatap Rolan lama, mengendapkan setiap kata yang diucapkan dokter itu. Ia tahu bahwa kakaknya mengurus banyak hal gelap, tapi selama ini ia tidak tahu terlalu dalam. Semua itu urusan Marco, ia tidak berniat ikut campur. Meski begitu, dalam ketidaktahuannya, ia sadar bahwa kehilangan Marco akan membawa pukulan berat bagi keluarganya. Status mereka bahkan bisa berubah jadi sekadar tinta di atas kertas tanpa Marco sebagai pilar.


"Kau mungkin tidak percaya, karena aku juga awalnya tidak percaya," lanjut Rolan tenang, "tapi Jose bisa mengurus semuanya. Di rumah ini, di manor kalian, kepala keluarganya tetap kau, Edgar. Tapi yang bisa membantuku menggerakkan orang-orang Marco saat ini adalah Jose. Kalau kau tidak memberinya keleluasaan yang ia butuhkan, biar aku membawa Jose pergi dari sini. Aku membutuhkannya."


Edgar memicingkan mata. "Tidak ada yang bisa membawa putraku pergi ke mana pun tanpa izinku."


"Dia sudah dewasa. Bahkan tanpa izinmu, aku bisa membawanya pergi selama dia sendiri memberi izin," Rolan menukas. "Aku tidak ada waktu bermain dengan prosedur sopan santun dan etika ala Argent. Yang kutahu hanya bahwa kita mungkin sedang menghadapi bahaya, dan tiap detik begitu berharga. Karena itu tolong—" Rolan menarik napas panjang. "Tolong kerja samamu."


Jose menatap pamannya dengan heran. Ini pertama kalinya ia tahu bahwa ia begitu diandalkan, dan itu membuatnya merasa senang. "Aku tidak akan melakukan hal yang merepotkan Ayah," jelasnya pelan, menyadari bahwa ia salah karena bersikap sok penting sejak awal. Ayahnya tidak suka melihat sikap arogan semacam itu. "Aku belum bisa menjelaskan semuanya dengan benar, tapi saat semua ini sudah selesai, aku pasti akan menjelaskannya. Aku cuma ingin Ayah memaklumi hal-hal yang akan kulakukan beberapa hari ke depan."


Edgar tidak menjawab. Wajahnya kusut. "Keluar," ucapnya akhirnya. "Kalau tidak ada lagi yang ingin kalian katakan, keluar semua!"


Jose dan Rolan saling berpandangan. Meski tidak puas, tetapi keduanya keluar kamar dengan patuh.


Jose menggeleng pelan. "Bukan salah Paman. Ayah tidak melarang Krip tinggal di sini, itu berarti terserah aku. Aku akan minta Margie menyiapkan kamar untuknya seperti rencana awal. Dan seperti rencana awal juga, aku ingin tidur. Aku butuh tidur."


Rolan mengangguk. "Aku akan mengawasimu."


"Menurutku, Paman butuh tidur juga."


"Dalam keadaan begini? Mana bisa!" sergah Rolan. "Aku akan tidur dengan nyenyak kalau ini semua sudah selesai. Lagi pula, kau membawa medalionnya kan? Beberapa kali serangan ... supernatural ... rasanya masih aneh menyebut itu, tapi baiklah, beberapa kali serangan supernatural datang waktu aku membahas kalung itu, aku curiga saat kau tidur akan ada sesuatu. Untuk berjaga-jaga, aku akan memanggil Gerald dan Hans. Dan kau tidak boleh menolak."

__ADS_1


Jose terlalu lelah untuk mendebat. Ia setuju bahwa ada banyak orang di sekelilingnya akan membuatnya merasa lebih aman. Peristiwa di Tebing Curam masih selalu membayang di pikirannya, ia merasa seolah masih bisa mencium bau busuk Gladys.


***


Maria memejamkan mata. Ia mendengar keributan. Rasanya suara-suara itu seolah datang dari tempat yang sangat jauh, seseorang memanggil-manggil namanya. Itu suara Susan. Maria ingin menjawab, tapi ia malas menggerakkan mulut. Matanya terasa lengket. Lidahnya kelu. Ia merasa nyaman tiduran begini.


Kenapa sebelumnya ia tidak sadar bahwa tidur siang begitu menyenangkan? Bahkan saat kecil ia perlu dikejar-kejar dan dipaksa untuk tidur. Padahal tidur ternyata senyaman dan semenyenangkan ini. Maria bernapas dengan tenang dan teratur.


Suara tadi makin keras. Ia mendengar suara ibunya. Suara wanita itu bisa selalu dikenalinya di manapun ia berada.


"Kenapa kamarnya gelap begini? Buka tirainya!"


"Nyonya, Nona yang meminta. Matahari membuat matanya sakit."


"Kalau begitu buka tirai yang sebelah sana! Kamar ini terlalu gelap dan pengap, tidak ada udara masuk. Pantas saja Marry sakit!"


"Nona bilang akan sehat lagi nanti malam."


"Memangnya dia dokter? Susan, aku tahu Marry memperlakukanmu seperti saudara sendiri. Tapi ketahui batasanmu, dan jangan membantah!"


Susan meminta maaf, kemudian menderap melakukan apa yang diperintahkan padanya.

__ADS_1


Maria merasa tak nyaman mendengarnya, juga marah. Kenapa ibunya menyuruh membuka tirai? Ia ingin kamarnya gelap. Ia suka kamarnya gelap. Ia ingin tidur.


Terdengar suara tirai diseret membuka. Matahari merambat masuk. Maria membuka mata dengan segera, kemudian menjerit.


__ADS_2