
"Tuan Marco tidak memberi tahu apa pun pada saya," kata Krip heran ketika Rolan menanyainya. "Apa mungkin beliau sedang melakukan investigasi pribadi? Semalam Tuan kelihatan baik-baik saja. Tuan bertemu dengan Tuan Stuart, Earl Greyland, serta Lady Chantall."
"Tanpa Robby?" tanya Rolan.
Krip menggeleng. Ia juga tidak memberi tahu Rolan bahwa Robert tidak diundang karena Marco mencurigainya. Informasi yang dipegang Krip hanya akan disampaikan pada seorang Argent.
Rolan menghela napas. "Aku bertemu Lord Greyland di jalan menuju ke sini," katanya. "Ada yang mengincarku, dan dia membantu mengurusnya. Sebentar lagi bakal banyak mayat dibuang di sungai Bjork."
Krip menaikkan kedua alisnya dengan ngeri. "Semoga dosa mereka diampuni," katanya.
"Semoga tidak," gerutu Rolan kesal. "Untunglah Lord Greyland datang. Kalau tidak, mayatku yang akan mengambang di sungai. Atau malah mayatmu!"
Krip tertawa. "Tenanglah, Dokter. Anda masih hidup, dan hanya itu yang penting. Tuan Marco pasti akan kembali. Nah sekarang ambillah kue jahe, minum tehnya. Itu akan membuat Anda tenang."
Rolan mengerang. "Kau benar-benar pandai berkelit. Marco hilang. Pembicaraan kalian berempat kemarin bisa saja mengungkap di mana dia sekarang!"
Krip menghela napas. "Saya tidak bisa mengatakan apa pun pada Anda, Dokter. Kenapa Anda tidak tanya pada Tuan Greyland ketika kalian bertemu tadi?"
"Mana aku tahu kalau sebelumnya dia mengadakan pertemuan dengan Marco?" Rolan melotot sebal. Ia menghela napas berat. Ia tahu bahwa Krip tidak salah. Sebagai informan pribadi Keluarga Argent, Krip memang tidak boleh sembarangan membeberkan rahasia. Bahkan meski yang meminta adalah dokter keluarga.
"Aku tadinya tidak ingin melakukan ini, tapi bagaimana kalau kita barter informasi?" Rolan berusaha membujuk.
Krip terbahak. "Dokter, Anda memang pintar. Cara itu pasti bekerja untuk informan lain. Tapi tidak dengan saya. Dokter ingin tahu apa yang saya tahu? Bawalah seorang Argent, Dokter. Atau minta seorang Argent memanggil saya. Selama mereka mengizinkan Anda ikut mendengar, saya akan memberi tahu apa yang Anda inginkan."
Rolan memutar bola mata. "Argent yang kau layani hanya satu, dan dialah yang hilang itu!"
__ADS_1
"Ada satu lagi, Dokter." Krip tersenyum. "Ada satu Argent lagi."
***
Ketika Rolan kembali ke rumah utama dengan penuh harapan, ia diserbu oleh Hans dan Gerald yang segera menariknya ke kamar Jose. Rolan mengikuti dengan patuh.
"Begitu pulang, Tuan Kecil sudah seperti itu," kata Hans cemas.
"Kami meminta Tuan Kecil memerintahkan kami mencari Tuan Marco," Gerald berusaha bercerita sambil jalan. "Tapi Tuan Kecil menjawab dengan aneh. Tuan bilang, 'kalau hilang beli lagi saja', lalu sekarang kondisinya jadi aneh, Dokter. Tuan Kecil bahkan tidak bisa diajak bicara."
Rolan menahan napas. Ia mulai panik. "Sekarang bagaimana keadaannya? Dia tidur? Siapa saja yang tahu soal ini?"
"George mengetahuinya, Dokter. Tapi George meminta kami jangan bicara dulu pada Tuan Edgar. Katanya kami harus menunggu Dokter Rolan dulu. Finnian baru saja mau memanggi Dokter."
Rolan mengangguk, menyetujui tindakan George. "Jangan beri tahu siapa pun dulu. Aku perlu melihat kondisi Jose."
Pemuda itu tidak menoleh ketika Rolan datang. Kondisinya seperti sedang syok akan sesuatu. Pandangannya sekosong Anna dan Linda, dayang Renata yang mengalami trauma.
"Oh, ya ampun, jangan sampai kau jadi seperti mereka. Kau satu-satunya harapanku!" Rolan memeriksa nadi Jose. Ia mengeluarkan senter dari dalam tas hitamnya, mengarahkannya ke pupil mata pemuda itu. Jose tidak bereaksi. "Jose? Kau lihat aku? Mengediplah satu kali kalau mengerti!" Rolan meminta, berusaha mengembalikan kesadaran keponakannya. "Apa yang kau alami?! Habis dari mana kau tadi? Jawab!"
Ketika Jose tidak juga bereaksi, Rolan tahu bahwa pemuda itu sudah tenggelam ke dalam dunia yang sama dengan Linda dan Anna.
Ia merasa frustrasi dan ingin menjerit keras-keras. Bahkan sempat terpikir juga dalam benaknya untuk lari dan meninggalkan Bjork. Terserah saja dengan Keluarga Argent. Biarkan saja mereka mengurus sendiri mayat hidup dan pembunuh yang berkeliaran di jalanan.
Rolan hampir melakukan itu, kalau ia tidak segera ingat tentang Renata, kakaknya. Kakaknya yang cantik dan lembut hati itu tidak akan mau meninggalkan Bjork. Tidak kecuali Edgar, Marco, serta Jose ikut serta. Masalahnya, Marco sendiri sedang hilang. Jika Marco tidak pergi, Edgar juga tidak mungkin pergi. Ikatan keluarga ini adalah lingkaran setan yang menyebalkan bagi Rolan.
__ADS_1
"Dokter," tegur George pelan. Suaranya yang berat menenangkan. "Saya akan membawakan teh panas untuk Dokter. Anda bisa menyembuhkan Tuan Muda, kan?"
Rolan menoleh. Tatapannya bertumbukan dengan wajah-wajah penuh harap di sekitarnya. Rolan mengangguk pelan. "Tenang saja," katanya dengan nada meyakinkan. "Aku bisa mengatasi ini."
Meski sudah berusaha, tetapi Rolan bisa mendengar sendiri getaran dalam nada suaranya. Namun tidak ada yang memprotes.
Ketika George, Hans, dan Gerald pergi, Rolan hampir kehilangan kewarasannya.
"Ini mulai mengerikan," gumam dokter itu gelisah. Ia mondar-mandir sejenak di dalam kamar. Matanya mengawasi sosok Jose yang mematung dengan tatapan kosong di atas ranjang.
Ia sudah melihat keadaan itu pada kedua dayang Renata.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Sial, sial! Kalau dua pekerja itu sampai tahu. Oh kalau Renata tahu ...." Ia mengusap wajah. Kulitnya terasa kaku. Ia berlari kembali ke hadapan Jose dan bergumam perlahan, "Apa yang harus kulakukan tanpamu?!"
Ia merasa jengkel. Dalam rasa putus asanya, Rolan menarik lengan Jose, menggeretnya ke dalam kamar mandi, lalu menceburkan pemuda itu ke dalam air dingin di bak mandi.
Jose mulanya terbenam. Gelembung-gelembung udara keluar dari hidung, mulut, dan telinganya. Beberapa detik kemudian, pemuda itu kelabakan dan segera bangun, mengeluarkan kepalanya dari dalam air. Jose batuk-batuk dan mengumpat, lalu batuk lagi.
Rolan memperhatikan tingkah keponakannya sambil menyandarkan bahu di tembok kamar mandi. Mulutnya terbuka lebar dalam posisi bengong.
Jose menyandarkan tubuhnya ke depan, menjulurkan tangannya ke luar dari bak mandi. Ia mengusap wajahnya yang basah kuyup dan melihat ke sekeliling dengan bingung. Bola mata hitam itu mendapatkan kembali sinarnya, sekaligus dengan rasa jengkel dan kaget.
"Ternyata manjur. Aku akan mencoba trik ini pada Linda dan Anna. Mungkin saja mereka tidak akan kembali, tapi mencoba tidak ada salahnya, kan?" Rolan berkata pada dirinya sendiri. Wajahnya kelihatan tenang, meski begitu ia benar-benar gembira melihat Jose bangkit dari bak mandi sambil melancarkan protes tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ganti dulu bajumu, lalu kita bicara," kata Rolan sambil meraih selembar handuk dan melemparkannya pada Jose.
__ADS_1
Pemuda itu menangkap dengan sigap dan segera mengeringkan wajahnya yang basah. Seluruh pakaiannya basah kuyup, air yang menetes membanjiri lantai. Rolan tidak bisa mengatakan betapa bahagianya ia melihat gerakan sederhana yang manusiawi itu.
***