
Maria tidak pernah berbincang cukup dekat dengan Marco sebelumnya. Bahkan pagi ini pun topik pembicaraan mereka jauh dari hal-hal kasual yang bisa mengakrabkan orang. Namun saat ini, saat mereka sama-sama menertawakan salam terlambat mereka, Maria merasa pria itu tidak sedingin dan sekeras seperti kesan yang selama ini tertanam di benaknya.
Mungkin karena kami sama-sama sedang terancam bahaya, pikir Maria. Manusia bisa mendadak jadi dekat jika memiliki musuh bersama, dan ia memang merasa saat ini mereka berdua berada dalam satu gelombang frekuensi yang sama.
Sarapan selalu dilakukan pada pukul delapan di rumah ini, Maria mengetahuinya. Itu berarti masih sekitar satu jam lagi. Jika ia tidak bicara sekarang, Maria tahu tidak akan ada lagi waktu yang tepat untuk membuat pengakuan.
"Saya," bisiknya, berdehem pelan untuk menjernihkan suara. Tatap orang yang kau ajak bicara. Maria mengangkat wajah, menatap Marco dengan penuh tekad. "Saya benar-benar minta maaf pernah menyinggung Anda di masa lalu." Ia mengerjap beberapa kali untuk mencegah air matanya menggenang. Kejadian itu bukan salahnya, sejak dulu Maria selalu meyakinkan diri. Namun kali ini segala hal tak bisa lagi ia bendung. Jika tiga hari lagi ia kalah bertaruh dan akan menghilang, ia ingin menghilangkan dulu semua bebannya. "Saya tidak bermaksud menghina Jose maupun Anda secara pribadi dengan tertawa tidak sopan. Tapi saya memang sudah bersikap sembrono."
"Tidak ada gunanya menyesali yang sudah lalu." Marco tersenyum samar. "Belum terlambat untuk bergabung dengan Keluarga Argent, kuyakinkan itu."
Tapi sudah terlambat. Tawa Maria pecah dengan getir. "Kalaupun aku selamat melewati ini," katanya serak, kembali menggunakan bahasa yang lebih kasual. "Aku tidak akan pantas."
"Siapa bilang?"
"Aku," Maria langsung menjawab. Matanya yang basah menatap Marco lurus-lurus tanpa ragu sedikit pun. Suaranya pahit ketika meneruskan, "Jose pantas mendapatkan gadis lain yang lebih terhormat."
"Gadis mana memangnya yang lebih terhormat dari seorang Garnet?" Marco mengamati. "Sang ratu sudah terlalu tua untuk Jose, lagi pula dia sudah punya suami."
Maria meremas pistolnya yang dingin, mencari keteguhan dari senjata itu. "Maksudku jelas bukan Yang Mulia Ratu," bisiknya. Ia mengalihkan wajah ke luar jendela. Pipinya memanas, tapi ia sudah tidak bisa mundur. "Siapa pun pantas, asal masih perawan."
Marco mengerutkan kening, tapi tidak berkomentar. Pria itu menunggu, memberinya waktu.
"Aku tidak tahu apakah yang kuingat adalah ingatanku atau ingatan Arabella," Maria melanjutkan pengakuannya. Pipinya merona merah. Ia bisa merasakan seluruh tubuhnya memanas dalam rasa malu. "Tapi aku dan Sir ..." Ia berhenti untuk menarik napas panjang dan mengerjap-ngerjapkan matanya yang basah.
Apa salahku sampai mengalami semua ini? Ia memikirkan pertanyaan itu berulang kali sejak mengetahui inti masalah mengenai Arabella. Namun tidak ada gunanya mengeluh. Jangan melihat ke bawah, pikirnya. Kalau melihat ke bawah, kau akan menangis.
"Anda pasti kecewa juga, kan?" bisiknya, tidak sanggup memperjelas apa yang ia alami. Maria tahu Marco mengerti maksudnya.
"Tidak," sahut Marco lembut. Pria itu berjalan melewati Maria untuk menutup pintu kamar kerja, mengurung mereka dalam privasi yang dibutuhkan oleh keduanya. "Kau mendapatkan kesimpulan itu berdasar ingatan belaka? Ilusi? Seberapa yakin kau pada kepastiannya?"
"Aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan," Maria mengakui. Seharian penuh ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi, tapi bagaimana kalau bukan? Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Jose kalau tahu. Ia takut bahkan untuk membayangkannya. "Tapi aku masih bisa merasakan sentuhannya dengan jelas, dan itu sangat ... nyata."
Marco melangkah ke bupet di sisi meja kerjanya, menuang teh dari teko porselen yang memang selalu tersedia di sana dan diganti secara berkala supaya tetap panas. Diulurkannya cangkir teh itu pada Maria, yang tidak punya pilihan selain menerima dengan bingung.
Karena Marco tidak duduk, Maria merasa tidak sopan untuk duduk tanpa dipersilakan. Ia menyesap tehnya sambil berdiri, dengan sebelah tangan menggenggam senjata. Rasanya sedikit sepat, tapi setelah beberapa teguk, dadanya mulai hangat dan kepalanya terasa lebih ringan.
"Baiklah, katakan saja bahwa itu memang terjadi dan bukan ilusi," Marco melanjutkan sambil menuang teh untuk dirinya sendiri. "Aku cuma ingin bilang bahwa keperawanan hanyalah konstruksi sosial. Itu mitos. Itu konsep konyol untuk memberi label harga pada seorang manusia. Jangan menjadikannya tolok ukur kehormatanmu. Kau tetap Maria Garnet. Putri Marquis Garnet."
Maria diam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi yang keluar dari bibirnya justru pertanyaan bernada heran, " Kupikir Anda orang yang konservatif? "
Marco tertawa renyah. "Kuakui, aku cukup kolot soal etika dan sopan santun, tapi itu tidak membuatku berpikiran sempit," ia merenung, "kau tahu kenapa keperawanan diagung-agungkan begitu banyak orang?"
__ADS_1
Maria tidak tahu.
"Karena agama impor dari Timur Tengah itu," jawab Marco santai. "Dan maksudku semuanya. Semuanya. Bahkan sejak sebelum trio monoteis abrahamik diperkenalkan, agama pagan seperti majusi, babilonia, asiria, sudah punya kisah tentang kelahiran ajaib–lahir dari rahim perawan–sebagai bukti keilahian. Klaim keperawanan adalah setara dengan kesucian berawal dari situ." Ia mengangkat bahu dengan lagak menyerah. "Posisiku memandang hal ini seharusnya jelas. Kau tahu aku benci segala omong kosong propaganda agama."
"Selain seorang agnostik, aku baru tahu Anda juga seorang feminis, my lord."
"Aku tidak membatasi diriku dalam kotak-kotak klasifikasi semacam itu." Marco menyesap tehnya tanpa suara, tahu-tahu isi cangkir itu habis. "Tidak perlu jadi seorang feminis untuk tahu bahwa keperawanan hanya konsep yang sama abstraknya dengan ilusi waktu. Keduanya sama-sama konstruksi sosial."
Maria mau tak mau tertawa kecil, merasa seperti sedang bicara dengan Jose. Mereka juga selalu berdebat dulu, sambil bersantai di pinggir danau dan mandi sinar matahari pagi. Rasanya sudah lama sekali sejak itu terjadi. Sekarang mereka berdua bahkan tidak bisa keluar di siang hari tanpa merasa sakit mata. "Tetap tidak mengubah kenyataan, my lord," katanya lembut, mengusir rasa melankolisnya dengan tetap kembali ke topik awal. "Seorang perempuan tetap saja disebut tidak perawan jika sudah berhubungan seksual, itu kriterianya. Meski Anda menyebutnya omong kosong agama atau konstruksi sosial, ini tetaplah hal yang nyata."
"Tidak. Itu kelihatan seolah nyata karena ditentukan secara konvensional," sergah Marco. Ketenangan dan kepercayaan diri dalam suaranya seakan menyeret siapa pun yang mendengar untuk ikut dalam tempo yang ia ciptakan. "Sama seperti waktu. Di mana letak masa lalu atau masa depan? Tidak ada, kita tidak bisa ke sana. Waktu bukan sesuatu yang benar-benar eksis, melainkan hanya persepsi. Waktu adalah konsep yang diciptakan agar kita bisa menghitung durasi. Bahkan masa kini pun tidak memiliki durasi. Tidak ada garis yang tepat yang bisa mengiris batas antara masa lalu, kini, dan masa depan, karena kehidupan berlangsung secara kontinyu, secara instan."
Maria mengerutkan kening, merasa harus membantah, tapi tidak menemukan kalimat yang tepat. Bodohnya aku, sampai lupa bahwa orang ini tak pernah kalah di Gedung Diskusi.
"Kembali lagi pada hal yang kau cemaskan: di mana kau akan menarik batas ukur keperawanan, nona muda? Himen? Selaput tipis itu bisa sobek bahkan tanpa melakukan coitus, kau bisa tanya Dokter Rolan." Marco menggeleng pelan. "Kalau selembar himen begitu mulia, maka semua ibu di dunia ini pasti terkutuk."
"Aku tidak bicara soal itu," Maria menyergah. Ia meletakkan cangkir keramik dan juga pistolnya di meja kabinet karena mulai kesal.
"Kau memang bicara soal itu, kau menilai dan mengukur kehormatan seorang perempuan berdasar status keperawanannya." Marco meneruskan dengan dingin, "Pola pikir primitif. Bagi agama primitif, wanita memang kutukan. Dewa dewi Olympus bahkan menghadiahkan Pandora, seorang perempuan, untuk menghancurkan manusia. Tapi kau gadis cerdas, Maria. Kenapa harus percaya pada konsep yang jelas-jelas dibuat untuk merendahkanmu?"
"Aku tidak percaya!" tukas Maria cepat. Air matanya meleleh. "Aku Maria Garnet, putri Marquis Garnet. Bahkan meski aku membunuh seseorang dengan kedua tanganku sendiri, bahkan meski aku jatuh miskin dan telantar, itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku adalah tuan putri." Ia memejamkan mata, menata napasnya yang mulai tak beraturan. Ia tidak kuat menyimpan ini sendirian. "Tapi aku tidak bicara soal itu. Aku bicara soal kenyataan yang aku alami, my lord. Kenyataannya orang itu memang melecehkanku. Kalaupun tidak secara fisik, dia jelas memperkosa otakku! Lalu jika kehormatan seorang perempuan hanya konstruksi sosial belaka, menurut Anda aku harus menafikkan apa yang terjadi padaku? Semua yang kualami hanya omong kosong?"
Maria mengerjap. Air matanya meleleh panas. Ia seolah melihat pintu-pintu dibukakan baginya, seolah ada sumbat bandel dalam kepalanya yang dilepas bersih.
"Sejak awal kau bicara soal dua hal yang berbeda, tapi mungkin kau bingung sehingga mencampur-aduknya jadi satu." Marco mengangguk penuh pengertian. "Aku mengkritik caramu memandang kehormatanmu, bukan menyangkal eksistensi martabatmu atau menyangkal penghinaan apa pun yang kau alami. Yang kusangkal adalah label yang kau amini untuk menakar diri. Keperawanan bukan hal yang bisa mendefinisikan kehormatanmu," tandasnya.
Maria tidak bisa menerjemahkan apa yang ia rasakan saat ini. Bukan hanya lega, ia merasa dimengerti. Ia merasa benang ruwet di dadanya terurai lembut. Sekarang baru disadarinya bahwa inilah yang ia inginkan, ia bukan melakukan pengakuan untuk menebus rasa bersalah atau meminta penghiburan kosong.
Maria menyadari ia hanya mencari seseorang mengatakan sesuatu padanya, membantu meyakinkannya bahwa setelah apa pun yang terjadi, ia tetap Maria. Dan ia berhak penuh atas rasa marah ini tanpa harus menyalahkan diri sendiri.
Rasa lega membuat Maria tidak lagi merasa sungkan. Ia menjatuhkan diri ke depan, memeluk Marco penuh syukur.
Marco menahan napas. Rasa sakit menjalar cepat dari pinggang sampai ke tulang belakang, memukul kepalanya kuat-kuat. Ia mengatupkan rahang, menahan diri agar tidak mengaduh. Ditepuknya punggung Maria dua kali. "Kau tahu Jose juga akan berpikiran sama denganku."
"Aku tahu, karena itu aku bicara dulu pada Anda," bisik Maria dengan suara teredam. Pundaknya bergetar. "Terima kasih."
"Rubah Garnet." Marco menggerutu. "Kau cuma menjadikanku tempat latihan?"
Maria terkekeh. "Aku butuh menata pikiran," katanya pelan, masih menyandarkan kening di dada Marco. Kepalanya pening, entah karena merasa lega atau karena jiwa terkutuk dalam tubuhnya berulah. "Aku tahu Jose tidak akan merendahkanku, tapi ..."
"Tapi kau risau."
__ADS_1
Maria mengangguk. Sejak tadi gadis itu menggunakan suara tegar dan kedengaran santai ketika bicara, tapi Marco tahu ini adalah masalah serius bagi Maria.
Mereka tinggal dalam masyarakat yang kejam, yang menunggu dengan gembira bagaimana para bangsawan atau satu sama lain terpeleset jatuh. Dan masalah kehormatan perempuan yang disandingkan dengan keperawanan masih seperti hukum tak tertulis di Bjork. Bahkan embusan rumor tanpa dasar pun bisa menjatuhkan seorang gadis terhormat. Yang membuat Maria berani mengakui apa yang dialaminya sekarang adalah hal yang dipahami Marco: kematian.
Meski mereka tidak akan mengakuinya, tetap ada rasa cemas menggerogoti keduanya dari dalam, ketakutan akan akhir dari segalanya. Ironisnya, justru itulah yang membuat mereka bisa bicara jujur. Kematian memang satu-satunya hal yang bisa membuat manusia telanjang seutuhnya tanpa pandang bulu.
"Baik kau maupun Jose sama saja," ucap Marco heran. "Hobi menyangkal apa yang kalian rasakan. Apa itu sedang tren?"
Maria menjauhkan diri, menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan. "Tapi dulu aku memang tidak menyukainya."
Marco hanya tertawa pendek, jelas-jelas tak percaya. "Pergilah sana. Yakinkan dia bahwa kita tidak merencanakan hal keji yang bisa membahayakan nyawamu."
"Tapi kita memang merencanakan hal keji kan?" Maria ikut tertawa, tepat pada saat pintu kamar terayun membuka.
Sebelah tangan Rolan masih mencengkeram gagang pintu, membeku dalam pose hendak masuk. Ia menganga heran melihat Maria masih setengah memeluk Marco. "Aku mengganggu?" tanyanya kikuk.
Lady Chantall ada di belakang Rolan, kedua alis wanita itu melengkung tajam dan tinggi. Bola mata hijaunya sekilas terlihat seolah berkilat menyala.
Mati aku, pikir Maria.
***
-feminis: orang/pihak yang memiliki pandangan atau mengusung gerakan agar hak-hak seseorang sebagai manusia tidak dibatasi hanya karena gendernya adalah perempuan.
-coitus: s e x.
-agnostik: diambil dari a (tidak) dan gnostik (pengetahuan), secara harfiah berarti tidak tahu. Jika ateis berarti "tidak percaya tuhan", orang agnostik bukan bicara soal "percaya" atau "tidak percaya" tapi soal fakta yang disertai bukti ilmiah. Mereka mementingkan bukti. Menurut orang agnostik, tuhan dan dewa hanya eksis pada tataran kepercayaan. Kepercayaan tidak sama dengan pengetahuan, karena orang hanya percaya saat mereka tidak tahu. Percaya tidak butuh bukti. Orang agnostik adalah orang yang menunda untuk mengakui keberadaan atau ketiadaan tuhan dan dewa karena tidak adanya cukup bukti untuk membuktikan kedua klaim tadi.
**
Kok agak panjang ya bagian catatan kakinya 😂 Aku mau mengingatkan kalau kalian bisa kirim ucapan Selamat Tahun Baru ke novel ini lho dengan cara klik/tekan banner di halaman depan novel, di bawah menu vote. Kalian bisa mengirim ucapan sampai ke 5 novel.
Kemudian pada tanggal 1 Januari besok, kalian bisa balik lagi ke novel ini di banner tadi untuk ambil hadiah poin dari Lucky Bag. Poin gratis tuh.
Happy New Year all!
__ADS_1