BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Extra 11: The Final Game [end]


__ADS_3

"Dari mana kalian? Ibu pikir kalian akan terlambat!" Renata berbisik pada Jacob yang datang sambil menggandeng Olivia. Keduanya segera duduk di tempat kosong di antara Renata dan Juan.


"Livy agak tidak enak badan sejak kemarin," balas Jacob gelisah. "Tadi pagi dia sempat muntah."


"Aku tidak apa-apa," Olivia cepat-cepat berkata begitu Renata menatapnya cemas.


"Kau pucat," komentar Renata. "Sudah ke dokter? Sudah tanya Rolan?"


Olivia menggeleng pelan, memastikan letak topi jalanya dengan gerakan alami. "Tidak apa, Bu. Mungkin cuma reaksi alergi. Salahku karena semalam makan di pinggir jalan."


"Aku juga makan di situ, tapi tidak apa-apa!" sergah Jacob.


"Yah, kau sih makan tanah diberi garam saja tidak apa-apa," timpal Jeffrey dari bangku belakang yang segera ditanggapi dengan, "Diam Jeff!" oleh Juan karena lilin di altar sudah dinyalakan oleh Putra Altar—pertanda bahwa misa akan segera dimulai.


Jeanne duduk di antara Marco dan Jeffrey di bangku tepat di belakang mereka. Ia dan Marco sebenarnya punya tempat di sisi Edgar dan Renata, tapi ia memilih bangku itu karena dekat dengan salah satu pintu gereja, berjaga-jaga kalau Thea menangis dan perlu dibawa keluar. Ia menjulurkan kepala ke depan saat berbisik, "Pergilah ke dokter!" pada Olivia.


Olivia menoleh dengan alis terangkat, mengerti apa maksud Jeanne. "Aku memang muntah kalau makan kerang yang tidak dimasak dengan baik," ucapnya tanpa bersuara. Hanya bibirnya yang bergerak.


Jeanne sendiri tidak bersuara saat menanggapi balik. Ia hanya mengangkat sedikit bayi dalam gendongannya dan mencium kepala bulat mungil berambut hitam halus itu dengan senyum penuh makna.


Olivia mengembalikan wajah ke depan, ke arah altar putih yang ditata dengan beragam dekorasi bunga dan linen. Tidak mungkin. Setelah bertahun-tahun, ia tidak mau terlalu berharap. Namun tangannya tanpa sadar bergerak mengelus perut. Olivia menarik napas panjang, tahu ia akan memohon apa pada saat Doa Umat nanti.


***


Rolan menemukan Nolan di bangku gereja paling belakang, menatap prosesi pernikahan dengan wajah muram. Ia duduk di sisi gadis itu sambil menahan tawa. "Ini upacara pernikahan. Setidaknya pura-puralah bahagia," katanya.


Nolan cepat-cepat menyeka bekas air mata di sudut matanya, meski percuma. Rolan toh sudah melihatnya. "Aku terharu," ia berkilah. Suaranya gemetar dan Nolan tahu ia kedengaran berdusta. "Jangan bilang siapa-siapa," gumamnya.


"Soal kau menangis atau soal kau jatuh cinta pada Jose?"


Nolan melotot. Ia menoleh ke sekitar dengan gugup, takut kalau ada yang mendengar. Namun tidak ada yang peduli pada mereka. Hanya ada mereka berdua di bangku gereja paling belakang, terhalang tiang pilar. Lagi pula semua orang fokus pada Maria yang sedang mengucapkan ikrar di depan altar.


"Aku tidak akan bilang," Rolan menyahut geli. "Tapi kurasa semua orang bisa melihatnya."


"Melihat apa? Ya-yang pertama atau yang kedua?"


"Keduanya. Bekas air matamu akan kelihatan jelas. Lagi pula dari pandangan mata dan sikapmu selama ini juga kelihatan. Hanya orang bodoh yang tidak tahu."


Nolan menggigit bibir bawahnya dan menunduk, membiarkan air matanya jatuh ke pangkuan. "Jose juga tahu?" ia berbisik serak.


"Dia tidak bodoh, kan?"


"Bagus." Nolan hampir tertawa getir mendengar tanggapan Rolan barusan. Hampir. Ia membersut hidung dan menghapus air mata dengan sapu tangan. "Biarkan saja dia pura-pura tidak tahu. Aku juga pandai berpura-pura."

__ADS_1


Tapi Nolan tidak pernah berbakat berbohong. Ia bahkan gagal membohongi dirinya sendiri barusan. Sekarang giliran Jose yang mengucapkan sumpah di depan altar, suaranya jelas dan tenang. Meski biasanya Nolan suka mendengar suara lelaki itu, kali ini tiap katanya terasa mengiris, melukainya dengan kejam.


"Permisi," bisik Nolan sambil bangkit dan bergerak pergi. Ternyata ia memang tidak sanggup mendengarnya. Ia tidak mau melihat keduanya saling memasang cincin. Ia takut dirinya akan mengajukan keberatan ketika Imam memberi kesempatan bagi yang keberatan untuk bicara.


Rolan menjulurkan kakinya ke depan, menghalangi jalan. Ia menarik pergelangan tangan Nolan dan mengempaskannya kembali ke tempat duduk. Beberapa orang menoleh ketika mendengar suara empasan itu, tapi tidak menemukan sumber keributan karena Rolan dan Nolan segera memasang wajah tak berdosa.


"Apa yang kau lakukan? Aku mau ke toilet!" Nolan berbisik marah ketika wajah orang-orang kembali ke depan.


"Tetap di sini," perintah Rolan tajam. Mata cokelatnya menyorot dingin. "Jika kau tidak bisa bertahan melewati ini, kau juga tidak akan bertahan hari-hari selanjutnya melihat mereka."


"Apa pedulimu soal aku?" desis Nolan.


"Aku tidak peduli," Rolan menjawab gamblang. "Tapi kau bekerja untuk keluarga ini. Jika kebersamaan keduanya membuat hatimu goyah, kau akan mengganggu apa pun yang mereka lakukan ke depannya."


"Aku bekerja untuk Jeanne!"


"Yang adalah seorang Argent." Rolan tidak melepaskan cengkeraman tangannya. "Dan tugasku adalah memastikan semua pekerja Argent setia."


Nolan terperangah. "Apa hubungannya denganku? Lepaskan aku!"


Tangannya tidak bisa lepas dari cekalan Rolan. Ia menoleh dengan kalut, melihat tudung pengantin sudah dibuka. Sama seperti Marco dulu, Jose juga mencuri kesempatan untuk mencium Maria. Seisi gereja heboh. Nolan mengambil kesempatan untuk mengayunkan tas tangannya kuat-kuat ke wajah Rolan. Pria itu mengaduh. Cekalannya lepas. Nolan tidak membuang waktu. Ia cepat-cepat melarikan diri setelah sebelumnya mendesis, "Bagaimana aku mengatasi perasaanku adalah urusanku, jangan sok ikut campur!"


Nolan bukannya tidak paham apa yang ingin dipastikan Rolan. Dokter itu ingin memastikan bahwa semua orang yang bekerja dengan keluarga Argent tidak akan mudah digoyahkan oleh hal personal yang mungkin memengaruhi kesetiaan menjalankan tugas. Karena ia cukup dekat dengan keluarga inti, dengan Jeanne, segala informasi mudah didapatkannya.


Nolan membenci itu. Ia benci Rolan. Ia benci kecurigaan dokter itu. Ia benci kekejamannya. Ia benci dipaksa mendengar dan melihat bagaimana cinta pertamanya hancur di depan matanya sendiri. Di atas semua itu, Nolan benci karena ia memahami bahwa bagi Rolan, semua ini hanya urusan pekerjaan. Perasaannya tidak berarti.


Nolan masih terus berlari melewati sakristi, melewati pastoran, hingga ia sampai ke taman besar yang terletak di dalam gereja. Tidak ada orang di sana. Nolan menjatuhkan dirinya di atas rumput tanpa peduli pada gaunnya. Ia benci gaun bodoh itu, gaun bersih yang manis dengan hiasan renda dan keliman sutra yang kalah jauh dari gaun pengantin Maria. Nolan terisak. Bahkan meski telah memakai gaun dan memanjangkan rambut, Jose tidak akan menoleh padanya. Tidak pernah ada tempat untuk orang lain di hati Jose. Bodoh kalau berpikir gadis kumuh yang muncul mendadak bisa menang menyaingi gadis cantik yang sudah dikenal sejak kecil. Sejak awal, ia memang sudah tidak punya kesempatan. Tidak ada seorang pun yang punya kesempatan memenangkan Jose kecuali Maria.


Nolan menghela napas panjang, menyeka sisa air mata dengan punggung tangan, lalu terkekeh karena ingat ia barusan berhasil memukul Rolan. Akhirnya.


Nolan tertawa dan tertawa di atas rumput. Ia terus tertawa sampai perutnya sakit. Setidaknya akan ada yang bisa dikenangnya hari ini.


Tak jauh darinya, Adrian Marsh sedang bersembunyi di balik dinding pastoran. Saat melihat gadis itu berlari keluar gereja, ia meninggalkan Clearwater dan mengikuti intuisinya untuk mengikuti Nolan. Ia pikir gadis itu akan menangis, ternyata malah sedang tertawa. Sekarang Marsh sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia muncul dan menemui Nolan atau kembali ke dalam gereja.


Marsh mengeluarkan koin dari saku celananya untuk membuang undi, tapi beberapa detik kemudian merasa bahwa itu adalah cara pengecut untuk memutuskan sesuatu. Ia mengesah keras dan memukul keningnya sendiri dengan kepalan tangan, lalu keluar dari tempat persembunyiannya, melangkah lurus ke arah taman, ke tempat Nolan berada.


"Kalau diusir ya sudahlah, pokoknya aku cuma bermaksud baik!" gumamnya, entah untuk siapa ia membuat alasan.


***


Pernikahan Maria dan Jose dilangsungkan di Redstone, tapi perayaannya dilakukan di banyak tempat, antara lain: Garnet, Argent, Bjork, serta Chantall. Ketiga keluarga pengawal Jose sebenarnya juga ingin membuat perayaan di wilayah mereka, tapi Jose melarang. Akan buruk kalau pernikahannya dirayakan terlalu besar. Ia tidak mau memicu kecemburuan sosial. Ia tidak mau mata orang-orang istana terarah padanya dengan sinis karena menganggapnya lancang menyamai pernikahan dinasti.


Pernikahan bagi bangsawan bukanlah peristiwa biasa melainkan babak baru dalam permainan catur. Banyak langkah yang perlu diperhatikan dan banyak pihak perlu dipertimbangkan. Bahkan para tamu pun datang dengan motif ganda.

__ADS_1


Jose dan Maria memandangi kumpulan orang yang mulai menyebar di taman dari jendela kamar. Mereka baru saja kembali dari gereja dan sedang istirahat sejenak sebelum menyambut tamu di bawah. Pelayan baru saja keluar setelah membantu melepas ekor gaun pengantin yang panjangnya sampai lima meter.


"Kapan mau turun?" tanya Maria.


"Nanti," sahut Jose pendek. Mereka berdiri bersandar pada dinding di samping jendela, sisi kepala bersandar satu sama lain, dan jemari tangan bertaut.


Keduanya sedang mengendapkan upacara pernikahan yang baru saja mereka lalui, meresapi kenyataan bahwa kini mereka sudah menjadi milik satu sama lain secara resmi.


"Banyak orang datang," komentar Maria, tapi ia tidak melihat ke luar jendela. Kelopak matanya terpejam seolah tak kuat menahan beban bulu matanya yang panjang dan rimbun. "Mereka menunggu kita."


"Mm-hmm, aku tahu." Jose mengangguk singkat. Tangannya yang bebas sibuk membersihkan serpihan konfeti dari rambut Maria. "Sebenarnya aku ingin memberimu pernikahan yang biasa," katanya.


"Biasa?" Maria mengangkat wajah dan membuka mata, membuat Jose mengumpat dalam hati karena kecantikannya yang lain dari biasa. Rasanya seperti memandang boneka hidup. Seperti mimpi yang jadi kenyataan.


"Maksudku pernikahan tanpa sesuatu berbau politis," Jose menjelaskan, masih tidak bisa mengalihkan mata dari dua warna biru jernih yang menatapnya lekat. Yang menarik baginya adalah meskipun kelihatan seperti boneka, di balik wajah manis itu tersimpan tekad baja dan api yang liar. Kobaran yang selalu membuatnya kagum. "Yang tidak membuatmu lelah."


Maria tertawa mendengar penjelasan itu. "Kau pikir sedang bicara dengan siapa?" tanyanya heran. Ia mendorong pundak Jose dengan jari-jari kurusnya yang tersembunyi di balik sarung tangan. "Aku tahu bahwa pernikahanku tidak mungkin sepolos dan sesederhana rakyat jelata. Asal kau tahu, aku dibesarkan dengan pengetahuan bahwa mungkin aku memang harus menjalani pernikahan yang dingin dengan orang yang tidak kucintai tapi berguna untukku. Mungkin karena itu aku jadi punya mimpi bodoh soal Prince Charming seperti dalam dongeng. Itu semacam ... yah, pemberontakan kecil dalam hati." Ia mengangkat bahu. "Aku bahkan sudah siap jika Ayah menyuruhku menikah dengan relasinya."


"Dia tidak akan mungkin melakukan itu."


Maria mengibaskan tangan tak peduli. "Siapa tahu?" Lengannya melingkar erat di lengan Jose. "Pernikahan bagi orang-orang seperti kita bukanlah peristiwa biasa melainkan momen untuk menggabungkan kekuasaan, menunjukkan kekayaan dan relasi, unjuk gigi dan saling lobi. Selalu ada alasan politis. Bahkan tamu-tamu yang datang pun tidak sekadar memberi selamat. Semuanya saling menjajal satu sama lain, mencari celah untuk menjalin ikatan." Maria mempererat pelukannya, benar-benar bersyukur yang ada di sampingnya adalah orang yang ia cintai. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya menjalani semua ini jika pernikahaannya murni karena alasan politik. Mungkin ia akan menangis karena stress dan lelah. "Aku tidak butuh mimpi soal Prince Charming lagi. Aku mencintaimu," ucapnya lembut, mulai menyukai gema kalimat itu di lidahnya.


Jose terkekeh senang. "Aku lebih mencintaimu, Mary."


"Kenapa itu kedengaran seperti tantangan di telingaku?" Maria mengangkat wajah, memandangi Jose dengan senyum menantang yang gagal. Pipinya merona kemerahan karena senang dan mata birunya bercahaya. Daripada menantang, ia kelihatan sedang bahagia.


Jose suka melihat gadis itu bahagia. "Sebenarnya, itu tadi kenyataan," katanya, masih dengan nada seolah ia baru saja memenangkan suatu pertandingan. "Tapi aku akan senang kalau kau bisa membuktikan bahwa aku salah, dan kau yang lebih mencintaiku."


"Pintar sekali," Maria tergelak renyah. "Apa pun hasilnya, tetap kau yang menang ya! Kau tidak berubah Jose, selalu membuat aturan yang curang!"


Jose tersenyum simpul. "Kau bisa membantuku memperbaiki aturannya," katanya sambil memutar tubuh menghadap Maria. Kening mereka bertumbukan ringan. "Kita bisa mainkan tantangan ini seumur hidup."


Maria melingkarkan kedua lengannya di leher Jose, membisikkan, "Tantangan diterima," sebelum mempertemukan senyum yang terulas di bibir masing-masing dalam satu ciuman lembut.


***



END.



⁣kalau kalian suka cerita ini, mungkin kalian akan suka novelku yang lain dengan judul Red Light District. Info tentang novel itu bisa dicek di IG @narazwei ya❤️

__ADS_1


__ADS_2