
Maria memejamkan mata. Ia merasa lebih nyaman sekarang, dengan kamar gelap yang ditutupi tirai. Dokter barusan memeriksanya, dan tidak ditemukan keanehan apa pun. Ia hanya anemia.
Susan sampai menangis ketika melihatnya muntah. Maria geli mengingat itu. Akhir-akhir ini ia memang merasa mengantuk, saat siang hari. Ia akan baik-baik saja saat malam datang.
"Bangunkan aku sore nanti," pesan Maria pada Susan. Dayangnya itu bersikeras ingin duduk menunggui di kamar, takut kalau-kalau Maria membutuhkan sesuatu. "Aku harus sudah siap saat Jose datang."
"Nona sedang sakit. Lebih baik pertimbangkan kembali. Tidak perlu memaksakan datang ke pesta," Susan memohon.
Maria tersenyum sekilas, kemudian menggeleng. "Aku sudah menolak Sir William sebelumnya, tidak enak kalau sekarang aku tidak datang lagi. Lagi pula ... aku ingin bertemu Jose."
Susan balas tersenyum. "Jadi siapa yang ingin Nona temui? Tuan Jose Argent atau Sir William Bennet?"
Maria tertawa, tahu Susan hanya menggodanya. "Akhir-akhir ini Jose sibuk mengurus sesuatu. Rasanya dia berubah ... aku merasa dia seperti bukan lagi Jose yang selalu memanjat pohon untuk tidur atau kabur dari kejaran Paman Marco. Orang-orang bilang, Jose sudah melewati fase nakalnya dan mulai tumbuh dewasa."
"Nona merasa kehilangan?" tebak Susan hati-hati.
Maria memejamkan mata, mengangguk. "Aku merasa kehilangan. Rasanya seperti kehilangan seseorang. Padahal dia ada di situ, tapi aku merasa kehilangan. Aneh, ya?" Ia menghela napas panjang. "Tapi aku salah, Sue. Aku tidak perlu merasa begitu. Kemarin kami menghabiskan malam bersama, main seperti dulu. Dan aku sadar dia tidak terlalu berubah. Dia masih Jose yang sama, yang selalu jahil dan kekanakan kalau melihatku mendekati bahaya. Dia pikir Sir William berbahaya untukku."
Susan menaikkan kedua alisnya, mulai tertarik. "Maksud Nona, Tuan Jose Argent cemburu pada Sir William?"
Maria tertawa. Ia membalik tubuhnya, berbaring dengan miring. Mata gadis itu berbinar dalam gelap, dan Susan bersyukur melihat nonanya mulai ceria.
__ADS_1
"Bukan cemburu. Dia memang selalu begitu. Protektif. Kadang aku penasaran, kalau aku punya saudara lelaki apa akan seperti itu? Kadang dia kelihatan menyebalkan seperti adik lelaki yang nakal, tapi dia juga sering bisa diandalkan."
Susan tersenyum tipis. Ia sudah memperhatikan hubungan antara nonanya dengan tuan muda dari Argent sejak lama. Menurutnya tidak ada yang lebih cocok mendampingi nonanya selain Jose Argent. Maria selalu kelihatan ceria setiap membicarakan lelaki itu. Sayang, Maria menolak ketika Marco mengajukan usul pertunangan.
***
Jose masih terdiam di atas kudanya, memandang pinggir tebing sambil membisu. Ia tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Run meringkik keras dan menderap, membuatnya tersadar. Saat itu matahari sudah tinggi, berada tepat di atas kepala Jose. Rambutnya terasa panas seperti dijemur selama berjam-jam. Jose benar-benar sudah kehilangan jejak soal waktu.
Ia bahkan sempat lupa apa yang sedang dilakukannya di tempat itu. Namun bayangan mata Gladys yang membusuk dan dipenuhi ulat putih terkilas dalam benak Jose, membuatnya bergidik ngeri dan ingat kembali apa yang baru saja terjadi.
Setelah melihat ke sekeliling dengan gugup, Jose beranjak turun dari kudanya. Ia tidak melepaskan tali kekang Run saat beringsut maju ke bibir tebing. Dalam bayangannya, mungkin saja Gladys akan meloncat, melenting tinggi melawan gaya bumi dan kembali menyerangnya.
Tetapi itu tidak mungkin. Jose berulang kali berusaha meyakinkan diri. Itu tidak mungkin.
Gladys, orang yang seharusnya sudah menjadi mayat di ruang otopsi barusan justru menampakkan diri padanya. Tapi untuk apa? Apa yang dilakukan mayat itu di sini? Jose membayangkan bagaimana mayat Gladys bergerak-gerak dari kepolisian di Bjork menuju ke Bjork Selatan. Bagaimana mungkin tidak ada yang melihat?
Jose menurunkan tubuhnya hingga menempel pada tanah. Ia bisa mendengar bunyi degup jantungnya sendiri dari permukaan tanah. Kemudian Jose merayap pelan-pelan ke pinggir tebing, mengintip ke bawah jurang.
Ia tidak bisa melihat Gladys. Tidak ada apa-apa. Yang bisa dilihatnya hanya warna hijau pohon-pohon.
Jose menelan ludah, mulai berpikir bahwa semua yang terjadi barusan hanya mimpi. Mungkin ia cuma dipermainkan panas matahari.
__ADS_1
Run mendengus lagi, menderap-derapkan kaki depannya dengan tidak sabar. Mata hitam binatang itu menatap Jose, seolah meyakinkan tuannya bahwa yang barusan memang bukan mimpi. Jose tahu itu memang bukan mimpi. Ia masih bisa mencium aroma busuknya serta rasa elastis kulit yang dingin itu di tangannya. Yang barusan ia alami bukan mimpi. Dalam benaknya bahkan masih terbayang bagaimana tatapan Gladys ketika jatuh ke jurang.
Jose bangkit dari tanah dengan limbung, memaksakan diri berjalan tegap mendekat kudanya.
"Kita pulang, Run," bisiknya sambil berusaha naik ke pelana. Kakinya gemetar, jadi ia menghentikan usahanya untuk sementara waktu dan mengatur pernapasan. Setelah kondisinya lebih stabil, barulah Jose meloncat naik dan memacu Run pulang.
Ia memikirkan kejadian barusan berulang-ulang. Mencoba mengingat lagi wajah monster aneh yang menyerangnya. Siapa itu? Apa benar memang Gladys?
Bagaimana bisa gadis itu hidup lagi? Memangnya yang seperti itu bisa dikatakan hidup? Tapi mayat itu mengerang dan merengek ketika terlempar jatuh ke jurang.
Jose mengusap wajah dengan frustrasi. Ia harus menanyakan ini pada seseorang.
Marco.
Ia baru mencapai padang rumput hijau yang merupakan halaman Bjork Selatan ketika menyadari kondisi di sekitarnya mulai berkabut. Hanya kabut tipis. Ia masih bisa melihat jalan. Namun mendadak Jose jadi paranoid. Ia beberapa kali menoleh ke sekitar, merasa ngeri karena tidak ada satu pun manusia terlihat. Jendela serta pintu rumah-rumah di perkampungan tertutup rapat, membuat Jose merasa seolah sedang diasingkan.
Bodohnya aku, pikir Jose sambil memacu kembali kudanya melewati jembatan Bjork.
Jantungnya berdegup kencang dan ia tidak bisa tenang. Bahkan meski sudah meninggalkan Bjork Selatan, Jose merasa seolah ia masih ada di sana, dikepung oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi menutupi cahaya matahari.
Ia selalu membanggakan mentalnya yang sekuat baja, tapi Jose kini mengerti apa arti rasa takut yang sesungguhnya. Wajah-wajah yang menyapanya di Bjork saat ini, gadis-gadis yang tersenyum padanya, apakah mereka hanya akan jadi daging tanpa jiwa saat mati? Apa mereka akan berjubah jadi seperti Gladys? Apa yang bisa membuat mereka berubah?
__ADS_1
Jose menggesekkan mata kakinya ke tubuh Run, mempercepat laju kuda tanpa melihat pada siapa pun. Jika kondisi Gladys bukan karena fenomena alam tapi terjadi karena ulah seseorang. Apa ia bisa melawannya?
***