BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 5


__ADS_3

Jose menatap kepergian mobil Maria dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Ia berbalik ke arah cermin, menatap bayangannya yang masih pucat dan waswas. Alasan tidak enak badan yang dimintanya untuk sampaikan pada Maria bukan bohong, tetapi itu bukan alasan utama.


Jose menghela napas. Ia merasa ngeri.


Semalaman firasat buruk menghantuinya dan ia diganggu mimpi-mimpi yang aneh. Jose memutuskan untuk tidak menemui Maria saat ini. Bisa-bisa ia meracau tentang Sir William, dan jelas itu tidak akan disukai oleh kawannya.


Ia masih memikirkan reaksi Marco dengan penasaran. Ia butuh penjelasan kenapa pamannya kelihatan sangat waspada—atau tepatnya, membenci Sir William. Sorot mata yang terlihat waktu membicarakan orang baru itu sama sekali tidak kelihatan seperti waspada atau curiga. Itu adalah kebencian.


Satu kemungkinan yang bisa dipahaminya hanyalah bahwa pamannya sudah mengenal Sir William lebih dulu, lalu mungkin keduanya pernah berselisih. Kesimpulan itu juga akan menjelaskan kenapa tidak ada undangan yang datang untuk pamannya.


Maka setelah memikirkan bagaimana pembukaan kalimat untuk pembicaraan tentang ini, Jose beranjak ke sayap timur rumah, mengetuk kamar kerja pamannya yang terletak di lantai dua.


“Masuk, tidak dikunci,” adalah kalimat yang keluar dari dalam. Suara yang terdengar berat dan penuh perintah, benar-benar khas Marco Argent.


Jose memutar kenop pintu, masuk ke dalam sana dengan penuh rasa penasaran. Ia sudah sering masuk ke dalam ruangan itu, tetapi jarang saat pamannya masih ada di dalam.


Marco adalah pria berusia lima puluhan dengan perawakan tubuh tinggi dan ramping, justru lebih mirip pria berusia tiga puluhan. Rambutnya yang berombak dibiarkan memanjang sebahu, kini sudah putih seluruhnya. Marco selalu mengenakan setelah formal yang memberi kesan kaku. Pria itu memiliki aura sendiri yang membuat tiap ruangan jadi terasa berbeda.

__ADS_1


Kali ini keberadaannya membuat ruang kerja yang penuh dengan buku serta kertas-kertas membosankan itu jadi kelihatan mencekam. Ketika melihat Jose datang, Marco menaikkan kedua alis dengan heran, terlihat jelas sama sekali tidak menyangka dengan kunjungan tiba-tiba itu.


“Tumben sekali,” ucapnya. “Biasanya aku yang kerepotan mengejarmu loncat ke sana kemari, tapi siang ini bakal hujan rupanya.”


“Bagus deh kalau benar hujan.” Jose berjalan ke depan meja kerja, mengambil tempat di sana dan mengambil sebungkus permen dari atas meja. Ia sengaja berlama-lama membuka pembungkusnya, membiarkan bunyi plastik memenuhi ruangan selagi pikirannya melantur dengan gugup. Ia kadang merasa gugup di dekat Marco, karena itulah selalu kabur setiap kali pamannya mau memberi tutor. “Paman sedang mempelajari apa?” tanyanya ketika melihat berbagai buku yang tersebar di atas meja kerja.


Marco menutup semua buku yang terbuka, seperti tidak suka—atau tidak mau Jose tahu—apa yang ia kerjakan dilihat. “Mau memelajari apa hari ini, Jose?”


“Bagaimana?”


“Hmm, sudah kuduga kau tidak datang untuk belajar,” Marco menatap keponakannya dengan prihatin. “Harusnya kau menentukan tujuan hidupmu sekarang, Jose. Mempelajarinya mulai dari sekarang akan sangat ... sangat berguna. Kau akan berguna untuk kakak-kakakmu. Hukum? Kedokteran? Apa yang kau mau?”


Sekilas mata Marco seperti memancarkan kilatan yang aneh. Ia menatap Jose dengan pandangan menyelidik. “Kenapa dengannya?”


“Aku mendengar suara kuda-kuda ribut lagi semalam,” ucap Jose, mencatat dalam hati tatapan pamannya saat ini. Ia melancarkan alasan yang sudah dipikirkannya sepagian. “Sebenarnya aku berniat keluar ...”


“Apa?” Marco berdiri dengan cepat, kedua tangan menumpu tubuh di atas meja ketika mencondongkan badan, menatap Jose dengan mata menyipit. “Jadi semalam kau mau ke istal?!”

__ADS_1


Jose mengerjap-ngerjapkan mata dengan ngeri. Jantungnya berdegup lebih kencang. “Belum, aku tidak jadi ke sana. Kenapa, memangnya?”


“Dasar bodoh! Higgins baru saja mati dan kau mau ke sana lagi!?” Marco menghantamkan tangan kirinya pada meja.


“Aku belum ke sana, Paman. Kenapa marah?” Jose mendadak curiga. “Aku mau turun karena ... yah, bisa saja kudanya kenapa-napa.”


“Biarkan saja kudanya! Kenapa kau ini! Kemarin kau merendahkan diri dibanding pengurus kuda, sekarang kuda! Apa kau ingin celaka, hah?”


“Celaka kenapa?”


“Higgins baru saja mati, harusnya kau pahami itu!”


“Lalu kenapa?” Jose mendesak. “Apa dia kena penyakit menular? Tidak, kan? Paman tidak mau mengatakan apa pun tentang dia, padahal aku berhak tahu.”


“Kau berhak untuk tetap diam setelah malam!” geram Marco. “Kau tahu soal hilangnya banyak orang akhir-akhir ini!”


“Itu ada hubungannya dengan Higgins?”

__ADS_1


Marco beranjak dari kursi, berjalan mengitari meja, lalu mengulurkan tangannya pelan-pelan ke arah Jose, mencengkeram pundaknya dengan tangan. “Pelakunya sama.”


...****************...


__ADS_2