BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 142


__ADS_3

Xavier Hastings bolak-balik mengitari lantai kamarnya sejak jam sarapan. Ia yakin sudah memberi kode pada Jose di pesta di rumah Sir William. Ia tahu lelaki itu pasti menangkap makna ganda dari ucapan yang disamarkannya dalam bentuk ejekan.


Harusnya dia tahu, pikir Xavier gelisah. Atau dia tidak secerdas kata orang? Gosip memang seringnya melebih-lebihkan.


Atau aku kurang jelas menyampaikan pesan? Tapi lebih jelas dari itu maka aku bisa ketahuan Spencer!


Ia pikir, begitu mendapat kode darinya bahwa ia tahu di mana Marco berada, Jose akan menghubunginya dengan suatu cara. Ia pikir pemukulan Sir William hanya alasan agar tercipta peluang itu. Namun Xavier salah. Jose langsung pergi dari pesta bersama kawan-kawannya dan tidak menghubunginya sama sekali.


Ini masih pagi, Xavier berusaha menenangkan diri sendiri. Ia mengusap-usap rambut cokelatnya yang sudah berantakan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya meraih gelas wiskinya. Pestanya baru semalam tadi.


"Saya harus mengingatkan Tuan—“


"Diam!" hardik Xavier cepat sebelum Wales, pelayan pribadinya, melarang ia minum. Ia harus minum. Jika tidak, bagaimana bisa ia melupakan mayat-mayat itu serta derik monster yang mereka ciptakan? Bahkan saat ini pun, saat matahari pagi menumpahkan cahayanya ke kamar melalui jendela-jendela raksasa, Xavier merasa seolah ia masih ada dalam hutan, masih mencium aroma lemak busuk.


Ia baru menuang segelas lagi untuknya ketika Charles berjalan masuk dan menghampirinya dengan tergesa. Sepupunya itu merebut gelas di tangan Xavier dan menyingkirkannya jauh-jauh.


"Sebentar lagi gerhana yang kita tunggu, kau harusnya melakukan puasa."


Xavier menarik napas. Matanya bergerak-gerak gelisah. Mungkin sebaiknya kita tidak ikut, kalimat itu tidak bisa ia ucapkan. Xavier hanya mengangguk gagu.


Charles meringis, menepuk pundaknya singkat. "Omong-omong, kau ingat kita menyembunyikan Marco di penjara di belakang menara, kan? Penjara yang menarik. Orang lain akan meletakkan penjara di bawah tanah, tapi Duke Ashington membuatnya di tengah-tengah kastil!" Ia menyengir, wajah tirusnya makin pucat dari hari ke hari, membuat Charles tampak menyerupai mayat.


"Penjara bagus," Xavier menyetujui, mulai cegukan. Ia memutari meja bar, mencari air putih. Ia menuang air ke dalam gelas, tetapi tangannya gemetaran hingga sulit untuk fokus. Meja bar basah dan lantainya becek. Wales tidak ada di situ, jadi Xavier membiarkannya. Ia mengangkat gelas yang berisi penuh air putih, lalu meneguk isinya tanpa merasakan apa pun. Air membasahi kerongkongan, tumpah ke dagunya, menetes-netes ke leher dan membasahi kerah kemejanya.


Charles mengerutkan hidung dengan ngeri melihat cara minum sepupunya. "Sudah kubilang, kau harusnya berhenti minum."


Xavier membanting gelasnya ke meja, kemudian meniup napas keras-keras, bersyukur Charles menganggapnya gemetaran karena alkohol. "Penjara," gumamnya tersendat, berpindah-pindah antara menatap Charles dan menekuri bayangan dirinya pada meja bar. "Kenapa penjaranya?"


Charles menepuk kening dengan dramatis. "Ah, itu dia. Marco Argent dan pelayannya hilang semalam! Robert yang terakhir kali melihat semalam, katanya dia lihat mereka masih ada di tempatnya, jadi dia langsung pulang pukul sepuluh. Tapi waktu aku melihatnya lagi setelah itu? Hum, kau tidak bisa bayangkan bagaimana marahnya aku. Dia tidak ada di sana."


"Tidak ada?" ulang Xavier gugup. Ia hampir tidak bisa mendengar suaranya sendiri karena tertutup bunyi degup jantungnya yang bertalu-talu sampai ke gendang telinga. "Maksudnya?"

__ADS_1


"Yah, dia raib. Talinya lepas, teralisnya juga. Apa boleh buat, penjara tua sih. Kita buru-buru waktu itu. Dan tidak cuma dia yang lenyap, bahkan pelayannya juga tidak ada. Aku sudah melapor dan katanya beberapa orang sudah diutus untuk berpencar mencari mereka."


Xavier hampir saja tertawa renyah, tetapi ia menundukkan kepala dan berpura-pura batuk. Ia menggunakan rambut cokelatnya yang jatuh sepipi serta bahunya untuk menutupi cengiran lebar yang muncul.


"Tapi, nah ini yang menarik." Charles tersenyum, membuat tulang pipinya kelihatan makin jelas. Ia bangkit dari kursinya dan memilih duduk di kursi bar bulat tepat di seberang Xavier. "Karena jengkel kalau dia benar-benar lolos, semalam aku mencoba membuat golem itu lagi. Sendirian di dekat puri kapel."


Xavier mengangkat wajah, menatap Charles tak percaya. "Kau bercanda, kan? Kau tahu itu bahaya, kan?"


Sepupunya melambai dan tertawa. "Tenang, aku tahu caranya. Aku sudah melihat beberapa kali, dan kita juga sudah mencobanya sendiri."


Rahang Xavier bergetar pelan. "Kau menggunakan mayat siapa?" bisiknya.


"Kuburan tak bernama, tenang saja," sahut Charles enteng, seolah mereka sedang membicarakan setoples kue. "Aku bisa melakukannya, Xav! Mungkin aku jenius. Harusnya aku lahir ratusan tahun lalu, waktu hal-hal semacam ini masih biasa, aku pasti dipuja-puja! Kau harus percaya, sama seperti yang kita lakukan waktu di hutan dengan Robert, semalam aku juga berhasil. Aku tidak tahu makhluk itu bertahan sampai berapa lama, tapi ini dia kabar baiknya ..."


Xavier meringis. Kabar baik bagi Charles tidak pernah terdengar baik di kupingnya.


"Aku menulis sigil di golemku agar dia mencari Argent. Dan pagi ini dia ditemukan!"


"Marco Argent!"


"Dia ... mati?"


Charles menggeleng. "Dia sembunyi di dalam menara seperti tikus. Golemku yang menemukannya, tapi sepertinya ada kesalahan kecil dalam proses pembuatanku," ia terkikik kecil, tetap terlihat bangga. "Robert bilang, golemku juga membunuh dua anak Selatan yang diminta mencari Argent, serta pelayan Argent itu. Mayat mereka tidak karuan lagi, katanya. Buatanku ternyata sangat buas. Kurasa aku cukup ahli dalam hal ini, bahkan tanpa talismannya. Dan kau mau dengar bagian yang lebih menarik?"


Xavier tidak ingin mendengarnya. Ia menarik gelas scotch yang tadi disingkirkan sepupunya dan mulai menenggak.


"Katanya Argent jadi agak gila," Charles tertawa gembira, suaranya terdengar sayup di kepala Xavier. "Robert bergumul dengannya, sampai dia terluka tembak. Xav, andai aku di sana untuk melihatnya. Aku benar-benar ingin melihat bagaimana rupanya tanpa keangkuhannya itu. Dasar infidel!"


Charles masih terus bicara, tetapi Xavier hanya mendengarkan setengah-setengah. Sejak kapan, pikirnya. Sejak kapan semuanya jadi salah begini?


Awalnya mereka hanya iseng saja mempelajari soal rune dan ilmu sihir, selagi berada di Rumania. Kemudian kalung itu mengubah segalanya. Kalung terkutuk itu. Ia bertekad akan mencari dan menghancurkannya. Kalau kalung itu dihancurkan, mungkin saja Charles akan kembali seperti dulu.

__ADS_1


"Aku kangen kita yang dulu," ucap Xavier tanpa sadar di sela arus minumnya.


Charles menarik gelas beling dari genggaman sepupunya. "Aku sih tidak," sahutnya santai, segenit biasa. Ia mengernyit pada bayangan wajahnya di gelas tersebut. "Dulu kita begitu miskin. Ke mana pun aku pergi, mereka tidak percaya saat kubilang aku Baron Hastings. Ingat banyak yang melecehkanku dengan meniru-niru caraku bicara? Semuanya lebih baik sekarang, lebih enak. Kau juga bisa melakukan apa pun sesukamu tanpa perlu cemas soal biaya."


Xavier menjatuhkan keningnya ke meja bar, menangis tersedu. Kalau ia menghancurkan kalungnya, apakah kekayaan mereka akan hilang juga? Kalau kekayaan mereka hilang, apa ia akan kembali jadi beban bagi sepupunya? Apa mereka akan bisa berjalan dengan dagu terangkat tinggi seperti sekarang?


***


Jose ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Rolan menolak mendengar darinya. Sebagai gantinya, ia meminta Gerald dan Hans menceritakan apa yang sudah terjadi.


Mereka bertiga bicara di ruang terpisah karena Rolan tidak ingin keberadaan Jose membuat pada pekerja jadi sungkan. Namun dua orang itu sama sekali tidak sungkan jika membicarakan soal tuan mereka. Keduanya persis seperti gadis perawan membicarakan pujaan hatinya atau anak-anak membicarakan tokoh cerita favorit.


Gerald dan Hans secara berurutan menceritakan dengan bangga bagaimana Jose melucuti kekuasaan Robert di depan bawahannya. Rolan menganga lebar mendengarnya, dan tanpa menunggu cerita itu selesai—mereka baru sampai saat Jose mengancam satu per satu anak buah Robert—Rolan segera masuk ke kamar sebelah, tempat Nolan dan Jose duduk bersebelahan di atas sofa panjang. Kertas-kertas bertebaran di sekeliling mereka dan Nolan dengan tekun mencoretkan arang ke atas kertas. Margie masih di sana juga, memberi pandangan hangat seolah sedang melihat anak-anaknya bermain dengan akur.


Rolan menarik napas dalam-dalam, mencegah agar dirinya tidak mengamuk. Jose pasti punya alasan, pikirnya, aku akan coba memercayainya dulu. Dia tidak mungkin benar-benar sedang santai menggambar.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Rolan dari sela gigi, gagal tersenyum.


Jose mengangkat wajah. Ia menerima satu lagi kertas hasil gambar yang diserahkan Nolan padanya ketika menjawab, "Menggambar? Nolan yang menggambar, aku hanya melihatnya."


Rolan menatap Margie, menyuruhnya keluar dengan satu kerjapan mata. Wanita tua itu mengerti dan segera berpamitan setelah mengingatkan Nolan untuk meminum susu madu hangatnya.


"Sebutkan satu alasan kenapa aku tidak perlu mencekikmu sekarang, Jose!" Rolan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menoleh ketika merasakan hawa keberadaan orang lain, mendapati Gerald dan Hans menatapnya tajam dari ambang pintu yang terbuka. "Mencekik ... secara metafora," ralatnya segera.


Jose tertawa geli. "Kemarilah Paman," katanya. "Nolan menceritakan padaku apa yang dia alami lewat gambar. Dia sedang tidak bisa bicara, juga tidak lancar menulis. Jadi kami menggunakan gambar."


Rolan mengembuskan napas lega mendengarnya. Gerald dan Hans kembali mengalihkan wajah ke muka dinding, berjaga di luar ambang kamar. Jose sengaja membiarkan pintu dibuka agar Nolan tidak merasa terperangkap.


Jose belum tahu jelas apa yang dialami gadis itu, tetapi memutuskan untuk berhati-hati agar tidak memicu stress atau trauma pada Nolan. Gadis itu nara sumber langsung mereka yang bisa menjawab di mana Marco berada.


***

__ADS_1


__ADS_2