BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 48


__ADS_3

Edgar mengerutkan kening. "Justru karena itu lebih baik dia tidak dilibatkan."


"Aku berhak tahu, Ayah," bantah Jose.


"Kau akan tahu setelah semua ini selesai."


“Setelah semuanya selesai!” ulang Jose dengan suara sinis. "Dan kapan semua akan selesai? Kak Jacob akan pulang, lalu apa? Kalian akan menceritakan padanya yang tidak tahu apa-apa, tapi tidak mau mengatakan sepatah kata pun padaku?”


“Jacob pulang untuk menemani ibumu. Kembalilah ke kamar, Jose.” Edgar bangkit mendekat, kemudian menepuk punggung putranya perlahan.


Jose menatap ayahnya dengan marah. Rona merah merambati pipinya dengan cepat. Namun ia segera berbalik pergi, tidak sampai membanting pintu karena masih ingat soal tata krama yang ditanamkan Marco begitu dalam pada dirinya.


Edgar sangat jarang marah. Biasanya pria itu begitu penuh pertimbangan, dan kemarahan tidak pernah masuk dalam opsi yang harus dia pilih. Saat memerintahkan Jose untuk pergi pun, wajah Edgar masih selunak dan setenang biasanya. Tidak ada kemarahan.


Namun ada sesuatu yang aneh dalam nada bicara Edgar yang membuat Jose mengalah. Perintah ayahnya, dikombinasikan dengan wajah yang terlihat sendu itu membuat Jose teringat pada masa lalu.


Wajah Edgar barusan adalah wajah seorang ayah yang ketakutan tetapi mencoba untuk tegar. Ayahnya memasang ekspresi itu pada saat menarik Jose turun dari mesin giling yang dikemudikan Jose diam-diam waktu remaja. Ayahnya memasang ekspresi itu waktu awal-awal Jose menunjukkan keahlian parkurnya. Ayahnya juga memasang ekspresi yang sama waktu memerintahkan Jose untuk tidak bergaul dengan para preman bawah tanah Bjork. Ayahnya memasang air muka yang sama barusan. Wajah khawatir. Wajah takut. Wajah seorang ayah yang berusaha menjauhkan putranya dari bahaya.


Melihat ayahnya berekspresi seperti itu sebenarnya membuat Jose justru ingin menantang, ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan lagi anak kecil yang perlu dilindungi. Ia mampu menghadapi segala hal selayaknya lelaki dewasa. Ia bahkan tidak mengalami rasa takut berlebihan padahal baru saja bertemu dengan sosok aneh itu di Bjork selatan.

__ADS_1


Namun ada yang beda dalam ekspresi yang tersirat pada wajah Edgar barusan, membuat Jose tidak punya pilihan lain kecuali mundur. Meski begitu, Jose sama sekali tidak berniat sungguh-sungguh mundur. Ia akan menyelidiki sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Kalau Higgins saja bisa ditemukan mati tiba-tiba, lalu bagaimana dengan pelayan lain? Bagaimana dengan anggota keluarga Argent?


Masalah ini jelas bukan hal sepele. Lagi pula, yang mereka hadapi memang bukan manusia biasa. Jantung Jose berdegup kencang mengingat berkas laporan yang baru saja ia baca.


***


Nolan menatap adiknya dengan wajah tak percaya. Loma kelihatan sungguh-sungguh. Lagi pula deskripsi sosok yang diceritakan barusan benar-benar persis dengan apa yang dilihat oleh Nolan saat memancing bersama Jose tadi siang.


Sosok berselubung warna hitam yang berkibar seperti jubah terkoyak. Nolan menggigil. Matanya kembali menangkap asap kabut yang merayap mengisi bagian atas rumah. Sebentar lagi kabut akan mencapai tengah, kemudian lenyap perlahan. Kabut hanya muncul dan bertahan sebentar, tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Nolan tidak pintar masalah alam dan orang-orang di sekitarnya juga tidak ada yang mampu menjelaskan asal muasal kabut.


Yang Nolan ketahui dengan jelas hanyalah bahwa kabut yang merayap di sebelah selatan kota ini berasal dari hutan; awalnya hanya muncul secara alami tiap pagi dan malam, pada saat hari belum terang. Tetapi akhir-akhir ini, seiring dengan banyaknya peristiwa orang hilang, kabut muncul jadi lebih sering. Asap putih itu menyusup keluar dari hutan dan menjangkau sudut-sudut kota seperti punya jiwa sendiri. Anak-anak di Bjork bagian selatan malah percaya bahwa kabut itu punya tangan yang akan mencengkeram siapa pun yang kedapatan berada di luar rumah, dan itulah yang menyebabkan orang-orang menghilang.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Padahal aku tahu hantu itu beneran ada. Padahal Jose sudah coba memperingatkan orang-orang di sini! Gara-gara aku tidak mendukungnya keterangannya tadi ... sekarang orang-orang enggak bakal ada yang percaya kalau tiba-tiba aku bilang memang ada makhluk aneh di seberang sungai.


Tapi memangnya makhluk itu beneran ada di sana? Apa dia tinggal di sana atau cuma kebetulan keluar dari sana?


Nolan memejamkan mata, teringat kembali pada sensasi ngeri dan membekukan yang dialaminya waktu ia melihat sosok itu menyeberangi sungai. Ia masih ingat pada suara kecipak air itu. Rasa tanah dan tusukan dahan kering di tangannya, angin dingin yang mendirikan bulu roma, kemudian juga rasa panas dari punggung Jose ketika menggendongnya.


Nolan terkesiap sendiri, memukul keningnya dengan kesal karena tiba-tiba memikirkan hal itu. Ia masih kagum memikirkan ketika Jose tiba-tiba menariknya, kemudian berlari sambil menggendongnya—bahkan sanggup meloncati batang pohon raksasa yang rubuh itu. Tidak masuk akal. Ia belum pernah melihat ada lelaki yang sanggup melakukan hal tersebut. Maksudnya, menggendong orang sambil berlari.

__ADS_1


Bahkan setelahnya Jose masih bisa bicara dengan cukup jelas dan lancar, meskipun sedikit terengah. Nolan menggaruk-garuk kepalanya sendiri dengan kesal. Malu karena teringat pada nada dinginnya yang merendahkan ketika dia menipu semua orang, mengatakan bahwa yang dilihat Jose hanya musang. Ia ingat bagaimana wajah halus berambut hitam itu terlihat tersinggung. Jose berjalan pergi tanpa menengok ke belakang, tanpa mengucapkan apa pun.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumamnya tanpa sadar. Ia menutup mulut, kemudian mengembuskan napas lega ketika melihat adik-adiknya masih tidur. Loma juga sudah pulas di sampingnya.


Ah, sudahlah! Pikirnya sebal. Daripada bikin kepikiran, besok aku datang lagi deh dan minta maaf sama dia!


Tepat pada saat Nolan menarik selimutnya dan hendak memejamkan mata, matanya menangkap sosok itu berkelebat di jendela. Si Hantu Hitam.


***


Maria kembali dihadapkan pada Lidya, membuatnya sedikit kesal. Ia punya banyak urusan yang harus dikerjakan dan daftar toko sepatu yang harus didatangi. Namun setelah mengingat lagi apa yang sedang dialami perempuan itu, Maria merasa malu sendiri karena sudah berpikir egois. Ia berjalan turun tangga, menemui Lidya yang segera menyambutnya dalam genangan air mata. Maria bahkan belum mengucapkan salam selamat pagi.


“Dave belum kembali! Polisi belum menemukannya!” Lidya berkata di sela isak. Hanya terisak. Sepertinya tidak ada stok air mata yang cukup untuk dikeluarkan. Kelopak mata gadis itu bengkak dan kedua matanya merah, tetapi tidak ada air mata.


“Tenang,” hanya itu yang bisa diucapkan Maria selagi menuntun Lidya duduk. Dia memeluk gadis itu, menepuk-nepuk punggungnya dengan sabar. “Aku sudah bicara pada Marquis Argent soal ini. Keluarga Argent pasti bisa mempercepat pencarian.”


“Benarkah?” Lidya mengangkat wajah. Aroma bunga lilac merebak dari wajah kuyu itu.


Yaa, aku memang bicara, dan Keluarga Argent memang bisa mempercepat pencarian, pikir Maria diam-diam. Tapi soal apa mereka bakal mencari atau tidak, itu aku tidak tahu ....

__ADS_1


__ADS_2