BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 87


__ADS_3

Kembang api meledak lagi menghias malam, membuat kota yang gelap sekilas jadi terang. Baik Maria maupun Nolan menatap ke atas dengan kagum, menghitung berapa kali letusan-letusan kecil yang datang setelah ledakan kembang api besar.


Nolan ada di Bjork Selatan, tidak bergabung dengan keramaian orang-orang elit di sebelah Utara. Sebenarnya meski selalu marah-marah, ia sedikit menanti ajakan dari Jose. Apalagi tetangganya sudah sejak pagi meledek, menanyakan apakah ia akan dijemput "Pangeran dari Utara".


Namun Jose tidak datang. Lelaki itu tidak mengajaknya. Nolan memang tidak berharap, tapi entah kenapa ia merasa kesal. Kini ia berada di teras rumah bersama adik-adiknya, memandangi para pemuda yang nekat ingin menyeberang ke Utara meski harus kejar-kejaran dengan polisi patroli.


"Enggak pergi main ke sebelah utara?" tanya Loma polos sambil mendekati Nolan. Wajahnya terangkat ke atas, memandangi langit. Kedua bola matanya berbinar memantulkan cahaya kembang api.


Nolan menggeleng sambil tertawa, menutupi rasa dongkolnya. "Orang-orang menyebut apa yang mereka lakukan sebagai pesta. Tapi di sana, mereka cuma berusaha menutupi kegelisahan sambil memboroskan uang. Para borjuis yang tidak bisa menghargai apa pun, bahkan nyawa mereka sendiri."


Ibunya mendehem dari belakang dengan nada menegur, membuat Nolan menoleh sedikit sambil berbisik, "Apa? Mereka toh enggak akan paham apa yang aku bilang barusan."


Wanita paruh baya itu mendekat, menopangkan tangannya di atas kepala Nolan, lalu membelai rambut pirangnya dengan lembut. "Bukan tentang mereka, Nolan. Tapi kamu. Kenapa kamu selalu marah?"


"Kenapa enggak boleh marah?" balas Nolan tak gentar, meski sedikit malu karena ibunya sampai menegur.


"Enggak semua hal akan baik jadinya kalau diekspresikan dengan kemarahan," sahut ibunya, bergantian mengusap rambut adik-adiknya, meski beberapa dari mereka mengelak dengan sebal. Orang dewasa mungkin suka mengusap-usap rambut anak kecil, tetapi anak-anak biasanya membenci diperlakukan seperti itu. "Kalau kamu cemas, takut, gembira, kamu boleh kok menunjukkan semua hal itu dengan jujur. Enggak perlu ditahan dalam bentuk kemarahan."


"Aku memang marah," ketus Nolan cepat. "Bukan sedang senang, malu, atau takut. Aku marah karena aku marah." Ia menarik siku adiknya yang mau meloncati selusur serambi rumah. Mereka sekarang sedang berkumpul di teras yang terbuat dari kayu, dengan pagar pendek melintang melingkari serambi. Adik-adiknya senang duduk di atas situ, tetapi Nolan harus menjaga supaya tidak ada yang lari ke hutan karena kabut kadang muncul mendadak.

__ADS_1


Ibunya cuma memperhatikan tingkah Nolan sambil menggigit bibir bawah, menyesal karena tidak memberikan perhatian serta ajaran yang lebih baik lagi untuk anak itu. Nolan tumbuh tanpa ayah, dalam dunia dan tempat di mana orang-orang dewasa selalu mengeluhkan kepedihan hidup mereka.


Saat Nolan kecil, gadis itu biasa mendengarkan orang-orang dewasa di sekitarnya membicarakan soal betapa menyusahkannya hidup di Bjork Selatan, betapa tidak adilnya pemerintah, bahwa mereka diperlakukan dengan semena-mena oleh para bangsawan, bahwa orang di sebelah Utara melakukan pemborosan besar-besaran, serta keluhan-keluhan lain.


Nolan hidup dengan mendengar teriakan protes dan juga seruan-seruan meminta keadilan yang tidak ditindak lanjuti baik oleh yang meminta maupun mendengar, membuat hati kanak-kanak gadis itu jadi mengeras. Yang ia ketahui hanya cara untuk marah, menyindir, serta balas menghardik. Ia tumbuh dalam kebencian terhadap orang-orang Utara, tanpa bahkan benar-benar memahami akar masalahnya.


Kebaikan hatinya tidak bisa diekspresikan dengan jelas. Yang bisa ia lakukan hanya marah dan tersinggung di setiap keadaan, membuat benteng pertahanan agar dirinya tidak bisa dilukai.


Yang diinginkan oleh ibunya hanya agar Nolan bisa melihat kembang api dengan senyum gembira. Melihat dunia dengan pandangan yang berbeda, menenangkan dirinya sendiri dan menikmati apa yang akan dan sudah terjadi. Hanya itu.


"Kamu enggak main sama laki-laki dari utara itu?" tanya ibunya, mencoba mencairkan suasana. Tetapi Nolan malah membuang muka sambil mendengus.


Padahal, dia kelihatan senang setiap kali habis jalan-jalan dengan anak itu, pikir ibunya. Ia tidak berharap banyak pada pertemanan Jose dengan Nolan.


Tetapi ia hanya ingin melihat Nolan bahagia. Meski sebentar saja.


Nolan sendiri tidak pernah memikirkan soal kebahagiaan atau percintaan. Sekarang, pikirannya disibukkan dengan kisah pelayan dari Bjork Utara. Ia percaya hal-hal yang mistis bisa saja terjadi. Ia percaya bahwa mungkin saja perempuan bernama Sana itu tidak bohong atau berhalusinasi.


Mungkin dia memang sedang bersama Gladys.

__ADS_1


Atau tepatnya, hantu Gladys.


Ia belum tahu pasti identitas mayat yang ditemukan tadi pagi, tetapi Nolan menebak bahwa wanita itu pasti Gladys. Siapa lagi yang bisa mati dengan waktu yang secocok itu? Yang mengganggunya adalah keterangan soal banyak orang menakutkan yang menunggu dalam hutan. Orang macam apa yang membuat hantu takut?


Gladys mungkin hantu yang menampakkan diri karena meminta mayatnya ditemukan. Tetapi saat memikirkan itu, Nolan menggeleng cepat. Lebih masuk akal kalau Gladys sebenarnya ingin mengajak Sana ke dunia lain.


"Ibu percaya pada hantu?" tanya Nolan cepat.


Ibunya menoleh, heran pada pembelokan topik yang tiba-tiba itu. Wanita itu merapatkan selendang, berpikir dengan hati-hati. "Ibu rasa, kita tidak bisa menaruh kepercayaan pada hantu."


"Maksudku, apa Ibu percaya bahwa hantu itu ada?" Nolan segera mengoreksi pertanyaannya. Ia mengangkat tubuhnya, duduk di atas selusur sambil menghadap rumah, menghadap ibunya yang sedang bersandar di dinding kayu. Adik-adiknya masih ribut melihat kembang api, tetapi mereka kini juga memasang telinga. Pembahasan tentang hantu selalu menarik.


"Mungkin saja ada." Ibunya mengerutkan kening, berpikir. "Ibu belum pernah bertemu satu pun. Tapi yang jelas, kita tidak bisa memungkiri bahwa di dunia ini ada dimensi lain. Kita enggak sendirian."


"Apa itu dimensi?" tanya Loma dengan suara kanak-kanaknya.


"Ruang dan waktu," jawab Nolan cepat, kemudian melanjutkan, "ibu pernah dengar cerita tentang orang yang ditarik pergi sama hantu orang lain?"


"Maksudmu, Bibi Henna?"

__ADS_1


Nolan mengangguk cepat, baru saja teringat soal bibinya yang satu itu.


Bibi Henna pernah bercerita bahwa pada sore hari saat ia dalam perjalanan pulang dari pasar, jalan tiba-tiba tertutupi kabut. Tidak tebal. Ia masih bisa melihat jalan. Kabut memang punya jam tetap, tapi kadang datang mendadak. Semua orang di Bjork Selatan tahu itu, jadi Bibi Henna tidak heran. Ia tetap berjalan dengan tenang karena sudah hapal rute pulang.


__ADS_2