
Dunia ini punya aturan. Siapa pun yang berada di permukaan bumi otomatis terikat pada aturan tersebut.
William meninggalkan bayangannya di sekolah iblis sebagai ganti keselamatannya. Ia tadinya skeptis rencana itu akan berhasil, tapi ternyata iblis juga terikat oleh aturan janji yang dibuatnya sendiri sehingga tidak ingkar. Seperti ikrarnya, sang guru menerima bayangan William sebagai tawanan dan membiarkannya pergi. Namun sebagai hadiah karena sudah mencurangi iblis, William mendapat satu setan bisu sebagai pengikat antara dirinya dengan sang guru.
Panggil aku kapan pun kau mau, suara sang guru masih terngiang di telinga William seolah baru saja diteriakkan oleh iblis tersebut, peliharaan kecilku itu akan memberimu jalan menuju padaku. Saat itu, kita bisa membuat janji baru. Kontrak baru.
William sudah pernah memanggilnya. Satu kali. Waktu itu hawanya sebeku malam ini. Angin bertiup kencang, dinginnya menggigit sampai ke tulang-tulang. Ia membawa tubuh mati yang semakin beku, seperti malam ini. Bedanya, Arabella ia gendong dengan hati-hati alih-alih diseret dari belakang kerah pakaian.
Satu lagi, pikir William murung sambil terus berjalan. Hanya tinggal besok waktuku atau semua harus dimulai dari awal lagi.
Dunia ini punya aturan. Segala hal harus ditukar sama harganya. Mata dengan mata. Gigi dengan gigi. Nyawa dengan nyawa.
Di mana aku akan menemukan pride yang sesuai? Culik salah satu bangsawan congkak di Bjork? William memikirkan satu-persatu wajah para bangsawan yang diketahuinya dengan sukar. Tumbal yang sejati harus tetap mempertahankan kunci pokok dosanya saat di ambang kematian. Ia ingat greed yang tetap serakah, lust yang keras kepala berpikir bahwa tak ada salahnya memanjakan diri dalam kenikmatan berahi, wrath yang sampai akhir tetap mengamuk, serta tiga kurban lainnya. Semua tumbal dari enam dosa sebelumnya adalah kurban yang relatif mudah. Meskipun mereka ketakutan, rasa takut itu tetap tidak akan mengubah diri mereka menjadi sesuatu yang lain.
Namun pride berbeda.
Ketakutan akan mengubah esensi pride. Kalau ia salah memilih perwakilan pride dan manusia tersebut justru ketakutan lalu mohon ampun, maka manusia tadi otomatis bukan lagi pride. Statusnya tidak akan sah. Ritualnya bisa gagal.
Harusnya aku tidak membunuh orang ini, William merenung. Namun ia juga merasa bahwa kalau dibiarkan terlalu lama, Marco benar-benar akan menemukan cara untuk membunuhnya. Ia membawa-bawa mayat pria itu untuk jaga-jaga, siapa tahu tubuh itu masih mengikat nyawa di dalamnya sehingga upacara tetap bisa dilangsungkan.
Bill.
Angin bertiup lembut menyapu ujung-ujung rambutnya, nyaris seperti membelai. William menghentikan langkahnya. Ia menatap sekitar dengan heran. Jantungnya berdetak dalam degup-degup tak beraturan. Itu tadi suara yang sangat dikenalnya. Suara yang selalu muncul dalam mimpinya. Suara yang demikian dirindukannya hingga membuatnya rela remuk jadi butiran pasir asal bisa mendengar sekali lagi.
Billy, di sini.
Ia tidak salah dengar. William yakin itu. Ia mengedarkan pandangan, mencari ke sudut-sudut kota, menajamkan telinga.
Bill!
Yang barusan jelas sebuah teriakan. Seruan yang diterbangkan angin. Suara itu menyengat punggung dan tiap sendinya. William berjalan cepat mengikuti arah suara, menahan napas ketika melihat sekelebat sosok seorang gadis berambut pirang memelesat ke balik kelokan rumah. Jantungnya seperti diremas dengan butiran pasir pantai dan dibiarkan berdenyut dalam serpihan kaca. Ia berlari lebih cepat. Jika bisa bertemu dengan gadis itu sedetik saja lebih cepat, ia rela melakukan apa pun.
Ia rela.
William berlari makin cepat, sudut-sudut bibirnya naik ke atas dalam senyum lebar penuh harap. Angin malam berdesir di telinganya, menerpa tubuhnya dalam kesejukan yang tidak lagi membikin jadi beku.
Itu memang Arabella! Ia bisa melihat punggungnya sekarang. Ia tahu bahwa sosok itu memang gadis yang disayanginya, Bella-nya. William melepaskan cengkeramannya dari kerah pakaian Marco, meninggalkan pria itu begitu saja di jalan karena menghambat gerakan.
__ADS_1
William berhasil memangkas jarak. Kini ia tinggal tiga meter dari tubuh Arabella. Ia tidak tahu bagaimana caranya gadia itu kembali dan kenapa bisa, tapi yang jelas gadis itu memang Arabella. Seperti menggodanya, Arabella justru berbelok menuju jalan berpaving batu rata yang mengarah pada kantor pajak. William berlari lebih kencang untuk menyusul.
"Bella!" serunya. Suaranya menggema di dinding-dinding sunyi.
Ketika akhirnya sampai pada area terbuka di depan kantor pajak, yang ditemui William bukanlah Arabella. Tidak ada Arabella. Jejak gadis itu lenyap, seakan berbaur dalam kabut malam.
Raut muka William berubah muram. Ia bahkan bisa merasakan otot-otot wajahnya tertarik turun dan berubah kaku dalam ekspresi tersebut. Ia menapak menghampiri satu-satunya orang yang menunggunya di sana.
Jose Argent.
Lelaki itu benar-benar sendirian. Tidak ada hawa keberadaan orang lain di sekitarnya. Jose hanya mengenakan mantel hitam tipis dengan bordiran lambang keluarganya di bagian dada, disulam mencolok dengan benang emas. Syal wol hitam melingkari lehernya, begitu tebal dan tinggi hingga menutup bibir. Mata hitamnya mengawasi dengan penuh selidik. "Di mana Marquis Argent?"
William mengabaikan pertanyaan itu. Ia ingat membuat begitu banyak pasukan mayat hidup sebelum berangkat ke Aston. Terlalu banyak untuk mengatasi dua manusia hingga ia bahkan sempat merasa bersikap berlebihan. "Kau harusnya sudah mati," katanya jengkel.
Jose menarik turun syalnya, memberi senyum sangat sopan saat menggeleng. "Kau yang harusnya sudah mati."
Mana Bella? William ingin bertanya, tapi mengurungkan diri. Tadinya ia benar-benar gusar melihat pemuda itu masih hidup, tapi setelah dipikir lagi, kehadiran Jose adalah hal bagus. Jose cukup angkuh untuk mewakili pride, lelaki itu kelihatannya tidak akan menangis minta ampun saat berada di ambang kematian. William tersenyum lega karena menemukan solusi masalahnya.
"Kau kelihatan senang," komentar Jose pelan. "Apa karena barusan melihat kekasihmu?"
William diam. Matanya menatap Jose lekat, mencermati, berusaha mencerna apa maksud pertanyaan barusan.
William masih diam, tidak berniat menceritakan apa pun pada tumbal barunya. Ia berjalan mendekat dengan langkah panjang-panjang, berniat membekuk lelaki itu hingga pingsan. Ia akan mematahkan tangan dan kaki Jose supaya lelaki itu tidak bisa kabur.
"Aku punya penawaran, aku bisa menghidupkannya untukmu," kata Jose. "Menghidupkan Arabella."
Itu omong kosong. William tidak terpengaruh. Ia memanggil setannya. Cukup dengan keinginan, tanpa perlu memikirkan apa pun, setan kecilnya sudah mengerti. Partikel hitam kembali melesap keluar dari tubuhnya, memberinya sensasi yang tidak mengenakkan. Setiap kali setan itu keluar, tenaganya seperti diisap habis. Ia adalah Solomonari, kontraktor iblis. Namun tetap saja memanggil setan dari neraka bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan.
"Kau ditipu oleh iblis itu," sambung Jose lagi, masih keras kepala mengoceh, tapi tidak mundur sedikit pun. Tubuhnya bahkan tidak gemetar. Matanya tidak gentar.
William justru gembira melihatnya. Pride sejati. Tidak semurni Marco, kurasa. Tapi aku tidak pemilih.
"Aku bisa memanggil Arabella untukmu kalau kau berjanji meninggalkan kota ini."
William berhenti melangkah. Tawa kecil lepas dari bibirnya mendengar bujukan menggelikan itu. "Kau? Memanggil Bella?"
"Aku kan sudah memanggilnya tadi." Jose mengangguk cepat. "Aku memintanya memanggilmu ke sini. Menurutmu yang kau lihat tadi ilusi? Tidak, itu nyata." Ia menoleh ke samping dan membisikkan sesuatu pada angin. Kelihatan seperti begitu karena kemudian angin hangat berputar di sekeliling mereka, menerbangkan dedaunan kering dan sampah kertas. Kemudian sesosok gadis muncul dalam sinar ektoplasma kehijauan.
__ADS_1
Rambut pirangnya dijalin longgar dan disampirkan ke bahu kanan. Gaunnya sederhana dengan belahan dada rendah dan seuntai kalung mutiara melingkar di leher. Gadis itu membawa kipas merah.
William membeliak, terpaku di tempatnya. Bayangan tersebut memang Arabella. Selama beberapa detik, tidak ada yang bisa ia lakukan. Lidahnya kelu. Begitu sadar dari kebingungan yang melanda, William mendekat perlahan dan mengulurkan tangan, tapi bayangan tersebut buyar kembali menjadi angin hangat.
Jose menatapnya cermat dalam jarak satu meter. Awan-awan putih kecil keluar dari bibirnya selagi dia bernapas. "Hanya segitu yang bisa kulakukan. Tenagaku tidak cukup. Tapi," katanya cepat dan tegas, "aku bisa memanggil bentuk fisiknya secara permanen dengan meminjam kekuatanmu."
"Kekuatanku?" William masih menatap tempat kosong di mana Arabella sempat berada, sedikit memejam untuk menikmati angin hangat yang ditinggalkan. Itu tadi memang Arabella. Caranya menatap, caranya berdiri.
"Ya," suara Jose setenang tetes air. "Kekuatan iblismu dan kalungmu."
***
Sir William menggunakan jalan utama, jadi harusnya ia bisa menyusul. Lady Chantall menyetir dengan luwes menghindari beberapa mayat yang melintang di tengah jalan. Punggungnya terasa dingin dan ia diserang rasa takut yang hebat. Ia takut hantu. Ia takut monster. Ia takut Sir William akan menyakitinya. Ia takut mati.
Namun di atas semua ketakutan itu, yang paling ditakutkannya adalah kalau ia sampai melewatkan waktu kritis Marco. Satu-satunya hal yang membuatnya tetap teguh hanyalah keinginan untuk melihat lagi wajah pria itu, bahkan meski hanya semenit.
Meski hanya semenit saja, aku ingin bicara dengannya. Aku ingin mengucapkan perpisahan, Lady Chantall menyetir mobilnya melintasi jalan dengan ngebut. Ia mengenal jalan di Bjork seperti telapak tangannya sendiri. Bjork begitu gelap dan sepi, tapi mudah baginya menghindari mana tonjolan batu serta mana celah retakan jalan meski hanya mengandalkan lampu mobil yang temaram.
Ia melambatkan mobil setiap kali melihat bayangan hitam di jalan. Pada beberapa kesempatan, Lady Chantall menghentikan otomobilnya dan turun untuk memeriksa apakah yang dilihatnya adalah Marco atau bukan.
Pukul sebelas dua belas. Lady Chantall kembali ke mobilnya dan melanjutkan menyusuri jalan utama Bjork.
Sir William ingin bertemu Garnet, pikirnya, dia mungkin ke Selatan. Marco mungkin dibawa juga.
***
Ketika rombongan Greyland akhirnya sampai dan mendengar apa yang terjadi dari Robert, yang ingin pertama dilakukannya adalah memastikan apakah kematian Marco memang benar. Pria itu juga dikabarkan mati sebelumnya ketika ditawan sekte Scholomance, tapi ternyata masih hidup dan segar bugar. Ia tidak akan mau mengakui kematian Marco selama belum melihat jenazahnya dengan mata kepala sendiri.
"Semua yang ada di sini bisa bersaksi untukku," kata Robert, memahami keraguan Greyland.
Edgar sendiri masih berada di atas kudanya, kelihatan begitu terpukul. "Jose ...," bisiknya parau karena angin. "Jose dan Renata bagaimana?"
"Mereka ada di Selatan." Robert mengangguk ke arah kegelapan kota. Beberapa rumah menyalakan lampu, tapi tidak sedikit yang membiarkan kegelapan merajai malam. "Marsh dan Clearwater juga ke sana untuk mengabarinya. Sir William sendiri ... entahlah, mungkin dia sedang sembunyi menunggu gerhana."
Greyland menoleh pada Edgar, matanya mendesak. "Kurasa sebaiknya kau mengungsi dari Bjork, Ed."
"Dan meninggalkan anak-istriku? Meninggalkan kakakku?" geram Edgar. Wajahnya memerah berang. "Kita ke Selatan! Jika perang yang diinginkan iblis itu, berikan saja apa maunya!"
__ADS_1
Greyland mengangguk puas. Mereka mencongklang pergi, melewati Robert yang tetap ditugaskan menjaga gerbang kota. Greyland meninggalkan lima puluh orang untuk membantunya menjaga Bjork.
***