
"Kita akan mencari ke mana, Nyonya?" tanya Margie yang menemani Renata agak di belakang. "Saya bisa suruh para pelayan untuk menyebar ke seluruh rumah, mencari Leah."
"Tidak perlu, Margie. Aku bisa menebak di mana dia berada." Renata mengangkat sedikit ujung gaun bagian depan karena perlu bergegas. "Sayap barat. Dia pasti melapor pada Xavier Hastings. Kalau tidak ada di sana, berarti dia melapor pada Flora Spencer. Tinggal dua orang itu yang ada di Bjork."
Margie menghela napas panjang. Sepanjang hidupnya melayani keluarga Argent memang tak jarang mereka akan melalui hari-hari sibuk seperti ini. Namun tetap saja ia tak bisa merasa terbiasa. Ia lebih suka tuan dan nyonya yang dilayaninya melalui hari-hari yang tenang.
Ketika sampai di lantai satu, mereka berpapasan dengan George. Renata segera meminta supaya pria itu memanggil pekerja untuknya.
"Apa ada masalah, Nyonya?" George mengikuti Renata menaiki tangga.
"Ada, George." Renata tidak menoleh. "Masalah kecil, cuma menangkap tikus. Marco sudah tahu apa yang kulakukan, tenang saja. Panggil pekerja ke kamar Xavier Hastings."
"Yang terdekat di sana ada Hans dan Gerald, Nyonya," George memberi tahu. "Tuan Muda ada di kamar Lord Dominic. Hans dan Gerald menyertainya. Saya akan memanggil mereka."
Renata menggeleng. “Margie bisa melakukannya.” Ia berhenti di landasan tangga pertama. "Kau mau ke mana?"
"Marquis Garnet meminta putrinya kembali, Nyonya." George ikut berhenti dengan keanggunan yang sama. "Kereta sudah dikirim ke sini. Tuan Besar Marco meminta supaya Nona Garnet dan Tuan Muda ikut serta dengannya ke manor Garnet. Saya hendak memberi tahu ini pada Nona Garnet, jika Nyonya tidak membutuhkan saya."
"Pergilah. Aku cukup ditemani Margie di sini."
George mengangguk hormat. Mereka berpisah, beranjak ke dua sayap rumah yang berbeda dalam kecepatan sama.
***
Ketika mendengar dari pelayan itu apa yang terjadi, Xavier Hastings tidak kaget. Anehnya, ia benar-benar tidak merasa heran. Tidak ada apa pun yang ia rasakan mendengar kematian kakak sepupunya. Hanya pria itu yang ia miliki sebagai keluarga. Ia melakukan banyak hal untuknya, tapi kabar kematian yang datang sama sekali tidak membuatnya tergerak.
“Terima kasih,” gumam Xavier sambil melambaikan tangannya. “Pergilah. Pergi sana sebelum mereka tahu kau di sini.”
Leah masih berlutut di sisi ranjangnya dengan air mata berlinang. “Saya bisa membawa Tuan ke luar,” katanya. “Saya bisa ambil kursi roda. Rumah ini punya satu, saya ... saya bisa membawa Tuan keluar.”
“Kau?” Xavier mendengus. “Dengan tangan kurusmu itu? Mengangkat ember saja kau tidak akan bisa. Lagi pula rumah ini luas. Bagaimana caramu mendorongku keluar tanpa ketahuan satu pun orang?”
Leah menyandarkan keningnya di pegangan besi tempat tidur, menyembunyikan derai air mata. Xavier merenung memandangnya. Selama tiga tahun terakhir ini, keluarga gadis itu dibiayai hidupnya oleh Charles Hastings. Leah merasa berutang budi pada sang baron, karena itu dia menangisi kepergiannya.
__ADS_1
Tapi aku? Xavier mengalihkan pandangan pada kedua tangannya yang terbuka di pangkuan. Bukankah harusnya aku merasa lebih sedih?
“Pergilah,” Xavier berbisik lagi. “Pergi, selamatkan dirimu. Kota ini bakal hancur sebentar lagi.”
"Saya tidak akan pergi tanpa Tuan!"
"Kau tidak perlu menungguku," sahut Xavier gusar. "Aku tahu kau merasa berutang pada Charles, tapi—"
"Bukan hanya Baron Hastings," sela Leah. Wajah tirus gadis itu terangkat, mata cokelatnya menatap basah dengan sorot tegas. "Tuan yang menyelamatkan saya dari jalan. Tuan yang membawa saya dan keluarga saya ke wisma Baron Hastings. Jika tidak ada Tuan, saya masih terlunta-lunta di jalan dan adik saya pasti sudah mati kelaparan!" Gadis itu terisak. Sudut bibirnya bergetar. "Ayah saya tidak selamat, tapi saya bisa memakamkannya dengan layak. Saya ... saya bisa melihatnya tersenyum sebelum meninggal."
Xavier tidak ingat ia pernah melakukan hal sebaik itu. Mungkin ia melakukannya saat mabuk. Mungkin ia hanya iseng. Apa pun alasannya, gadis itu menganggapnya penolong, dan untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Xavier merasa ia ingin memenuhi harapan seseorang, untuk menjadi semulia seperti yang terpantul di mata cokelat gadis itu.
Xavier masih menatap jemarinya yang buntung, menyesali pilihan-pilihan yang ia ambil selama ini. Apakah masih ada peluang? Ia menertawakan dirinya sendiri yang mengharapkan kesempatan kedua. Semuanya sudah selesai, sudah usai. Segala hal telah berakhir dengan kematian sepupunya. Namun setidaknya gadis ini harus selamat.
Sebelum Xavier sempat memutuskan apa yang sebaiknya dikatakan sebagai balasan, pintu kamar menjeplak membuka. Ia menebak yang datang adalah Renata, yang sudah menebak apa arti hilangnya salah satu dayang. Namun dugaannya salah. Jose Argent melangkah masuk, menatap dua orang dalam kamar bergantian, lalu menutup pintu kamar di belakang punggungnya.
Leah buru-buru bangkit dan meminggirkan diri, memberi salam hormat. "Tuan Kecil," gumamnya ketakutan.
"Leah," balas Jose dingin. "Kau bekerja untuk Hastings?"
Xavier tidak tahu kenapa ia berbohong, tapi ia merasa setidaknya harus melindungi seseorang. Ia ingin membebaskan satu orang dari kota terkutuk ini. Ia ingin tetap dikenang sebagai seorang penyelamat, seorang pahlawan, di mata seseorang.
"Biarkan dia pergi, Argent," gumamnya lemah, dengan seluruh ketulusan. "Dia cuma anak-anak."
Jose melewati Leah tanpa memandangnya. Ia duduk di sisi ranjang Xavier, lalu menyentuh kaki pria itu. Wajahnya kelihatan tak senang. "Aku belum minta maaf soal ini. Jake yang melakukannya, kan?"
Xavier mendengus, tak ingin dikasihani. "Aku yang melakukannya sendiri!" serunya. "Aku pergi ke sana dan ke sini, kebingungan memilih harus berada di mana sehingga nasib mematahkan kakiku agar aku tidak bisa bergerak lagi." Ia menunduk, mengutuk matanya yang justru berembun basah saat Jose berada di depannya. Padahal tadi matanya benar-benar kering. "Aku bahkan tak ada di sisinya saat dia tiada."
Seluruh tubuhnya berdenyut dalam rasa sakit hebat. Xavier memejamkan mata, mencengkeram selimutnya erat-erat. Ia benci dirinya yang tak berdaya, yang pada akhirnya hanya menjadi alat orang-orang di sekitarnya. Ia terlalu lemah dalam mengambil keputusan dan pada akhirnya malah tidak bisa mencapai apa-apa. Masih banyak yang ingin ia lakukan, ingin ia capai. Namun tidak ada lagi kesempatan untuk itu. Ia tidak bisa melakukan apa pun dalam kondisi seperti ini. Dan ia akan mati seperti ulat terinjak. Kesadaran itu memukulnya begitu kuat hingga ia merasa putus asa. Samar-samar ia mendengar Leah terisak makin keras, dan Xavier jadi bertanya-tanya sendiri untuk apa gadis itu menangis. Seluruh tubuhnya terasa gatal dan sakit, terutama di bagian yang patah dan cacat. Ia menggertakkan gigi, menahan agar tidak ada erangan keluar. Semua penghinaan ini sudah cukup, ia tidak mau tampak lebih menyedihkan lagi di hadapan Argent.
Kemudian rasa sakit itu hilang.
Xavier membuka mata perlahan. Rasa sakit dan gatalnya hilang, juga rasa nyeri dan linu yang sejak kemarin menderanya hingga membuat ia tidak bisa bergerak atau tidur. Semuanya lenyap seperti ditiup angin. Ia mengangkat wajah dengan heran, mendapati Jose sudah bangkit dari bibir ranjang.
__ADS_1
"Aku menepati janjiku," kata pemuda itu tenang. "Itu kompensasi karena aku tidak bisa melindungimu dari murka Jake ketika tidak di sini. Pergilah, Xavier. Bawa Leah serta kalau dia juga ingin pergi. Hans akan mengantar kalian."
"Hah?" hanya itu yang bisa diucapkan Xavier. Ia melihat Leah menunjuk ke arahnya dengan tangan gemetar.
"Tuan," bisik gadis itu. "Jari-jari Anda ..."
Xavier menunduk, mengumpat keras dan tersentak kaget ketika melihat ujung-ujung jari yang dipotong Jacob mendadak utuh kembali. Bahkan kakinya pun bisa digerakkan. Ia kembali menatap Jose, yang sedang mengusap bibir dengan sapu tangan. "Apa ini? Bagaimana kau melakukannya?"
"Tidak penting. Sekarang pergilah. Sepupumu mendapatkan apa yang pantas didapatnya, tapi aku tahu kau berusaha keras menghentikan dia selama ini. Kau dan Leah memang tidak terlibat." Jose bicara dari balik sapu tangan, jadi suaranya agak teredam. "Sir William sedang tidak ada di Bjork, jadi kusarankan kalian pergi secepatnya selagi bisa."
Xavier mendengarkan sambil turun ranjang dan meloncat-loncat di lantai, keheranan sekaligus bahagia merasakan kembali kedua kakinya. Leah juga tersenyum lebar, kelihatan gembira untuknya. Belum pernah ada yang turut bahagia untuknya selama ini.
"Argent." Xavier mengangkat wajah, menatap mata hitam di sampingnya lurus-lurus. "Aku tidak tahu sulap apa yang kalian lakukan di rumah ini," bisiknya, masih sibuk menggerak-gerakkan jari karena tak percaya. Sebelumnya ia tidak bisa menggerakkan jari tanpa merasa kesakitan. "Aku juga tidak tahu kalian ini manusia macam apa. Tapi yang kau lakukan ini bukan kebaikan karena kakakmulah yang membuatku cacat. Kalau kau pikir aku akan berterima kasih padamu dan menyembahmu, kau salah."
"Aku tidak minta disembah," tukas Jose dingin. "Aku cuma membayar denda karena kau terluka saat berada dalam lindunganku. Aku janji kau tidak akan terluka dan Jose Argent selalu menepati janji."
Xavier tersenyum miring, mau tak mau merasa iri pada keteguhan hati Jose—lelaki yang belasan tahun lebih muda darinya, yang selalu dipandangnya sebagai bocah manja. Ia menoleh pada Leah, menatapnya dengan pandangan bertanya. "Aku tidak bisa membayarmu," katanya lirih. "Lebih baik kau di sini."
"Nyonya Renata akan membunuh saya," balas Leah parau. "Dan saya tidak butuh bayaran, justru sebaliknya, saya ingin membayar kembali utang budi saya."
"Hans!" Jose memanggil keras, terlalu tiba-tiba hingga dua orang dalam kamar itu terlonjak kaget. Pintu kembali terayun membuka dan Hans menderap masuk, membuat Xavier agak mengkeret takut. Bunyi derap langkah di rumah ini masih membuatnya trauma.
"Antar Xavier Hastings dan Leah keluar lewat belakang," perintah Jose. Sapu tangannya ia simpan kembali dalam saku mantel. "Jangan biarkan siapa pun tahu. Pastikan mereka selamat sampai luar gerbang manor. Aku tidak mau mereka terluka."
Hans menatap Jose agak lama, seperti mempertimbangkan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk patuh. Ia mengibaskan tangannya pada Leah. "Ayo," katanya pendek.
Leah membungkuk dalam-dalam pada Jose dan mengucapkan terima kasih sebelum mengikuti Hans. Xavier memperhatikan pemuda itu lama-lama, kemudian berkata pelan, "Kau hampir mati, Argent, aku bisa melihatnya. Dan kau akan cepat mati kalau terus bersikap sebaik ini."
"Aku tidak baik," Jose tertawa getir. "Setelah ini aku akan jadi jahat. Sangat jahat sampai kau tidak akan mengenalku saat kita bertemu lagi."
"Jangan cemas. Aku memang tidak ingin bertemu lagi denganmu." Xavier berjalan melewatinya. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak untuk bergumam, "Semoga jalanmu diperluas."
"Amin," balas Jose khidmat. Ia memejamkan mata. "Amin."
__ADS_1
***