
Maria masih terus menembak sambil berjalan. Napasnya tersengal dalam uap putih. Matanya berembun basah dan terus mengucurkan air mata. Ia tidak bisa membedakan apakah itu air matanya atau air mata Arabella. Yang jelas, ia berhasil mengambil alih tubuhnya tepat waktu.
Aku kembali lagi, pikirnya lega. Puji syukur.
Sesaat tadi ia hampir kehilangan kesadaran sepenuhnya. Ia bahkan merasa jiwanya berada jauh di luar tubuh, menatap segala hal dari langit. Kemudian sesuatu mendorongnya jatuh kembali ke bumi. Waktu kecil ia terkadang bermimpi jatuh ke dalam sumur. Barusan ini rasanya persis seperti itu. Begitu kembali pada dirinya tadi, Maria otomatis mengeluarkan pistol yang masih disimpannya dalam kantung mantel dan menembak. Pistolnya berisi enam peluru perak. Satu sudah dipakai untuk Flora. Tiga tembakan baru saja ia letuskan.
Maria menarik pelatuk.
Ini peluru keempat.
Kelima.
Begitu pelurunya habis, Maria segera berlari mendekati Jose yang masih berbaring bingung di tanah.
"Jose, kau bisa bangun?" Maria memekik ngeri melihat tungkai lelaki itu tertekuk tak wajar. "Tulangmu!"
Jose berguling duduk, kemudian membetulkan letak kakinya dan berusaha bangkit. Masih dengan sebelah tangan patah, lelaki itu mendorongnya ke Selatan. "Mundur ke belakang jembatan, dia belum mati!"
"Aku menembaknya dengan peluru perak," kata Maria, tapi mundur dengan patuh. Keningnya berkerut melihat Jose sudah berjalan dengan lancar seolah barusan tulang keringnya tidak patah. "Kakimu?"
"Aku tidak apa-apa, tapi kau ke sana!" Jose mendorongnya lebih keras hingga Maria hampir jatuh.
Maria mencengkeram selusur kayu jembatan sebelum terempas. Matanya membola menyadari apa yang membuat Jose panik. Sir William memang masih hidup. Pria itu bangun dengan cara yang ganjil, kini bahkan tertawa. Tidak ada bekas peluru di kulit pria itu, padahal Maria yakin ia tadi melihat darah ketika menembak.
"Jadi Bella memang ada di sana," Sir William berkata sambil tertawa lemah. Ekspresinya terlihat lega dan bahagia. "Aku yakin yang tadi itu memang Bella, bukan akting. Sebentar lagi ... sebentar lagi memang akan sempurna!"
Maria menggigil ketika tatapan mata mereka bertemu. Ia ingin menggeret Jose lari, tapi tubuhnya terasa kaku. Kalau tertangkap, aku mati. Kalau tertangkap, aku mati! Ia bisa merasakan cengkeraman tangan kematian menghampirinya dalam kegelapan.
Hanya dalam satu kedipan mata, Sir William sudah memelesat mendekati Jose. Sebelah tangannya terangkat dalam bentuk cakaran yang mengancam, tapi sebelum kuku-kuku itu sempat terayun, suara raungan mesin membelah malam, memotong perhatian mereka.
Maria menganga kaget melihat sebuah Tin Lizzie hitam meloncat ugal-ugalan melewati jalan bergeronjal dan berhenti begitu mendadak hingga hampir terguling jatuh di depan mereka. Sinar lampu mobil menyorot terang, kemudian padam ketika mesinnya mati.
Pintu mobil tersebut menjeplak membuka dan Marco Argent melangkah keluar sambil menodongkan pistol. Lady Chantall ikut turun dari kursi kemudi dan berlari memutari mobil untuk berjaga di sisi Marco. Ia memegang revolver dengan dua tangan, matanya sesekali memperhatikan Marco dengan cemas.
"Paman?" Jose berbisik dengan suara tercekik.
__ADS_1
"Kau juga masih hidup?" Sir William tidak kalah kaget, tapi pria itu segera tertawa melihat senjata yang ditodongkan padanya. "Peluru tidak akan membunuhku, Argent. Kau tahu itu."
"Bukan kau," sahut Marco, menggeser arah senjatanya pada Maria. "Tapi dia."
Maria mengerjap sekali. Dua kali. Kemudian letusan itu menggema di antara dua Bjork. Dadanya sakit. Tubuhnya terempas mundur sebagai reaksi.
Ia bisa mendengar suara orang-orang memanggilnya, kemudian segala hal jadi gelap seakan seseorang mematikan lampu.
***
Lima belas detik tersisa dari tambahan waktu 60 detik.
Warna merah mekar seperti mawar besar di gaun putih Maria, menyebar di dada gadis itu dengan cepat. Kemudian tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh dengan cepat.
Jose sudah meloncat menangkap sebelum kepala Maria membentur tanah, lalu berteriak memanggil Hans.
Sepuluh detik.
Marco menurunkan pistol, tersenyum pada Sir William. "Tanpa mediummu, kau tidak akan bisa memanggil Arabella, kan? Kau kehabisan waktu."
Lima.
Kepulan partikel hitam itu datang lagi, bintik hitam yang akan membuat siapa pun yang disentuhnya jadi abu. Marco bergerak cepat membuka pintu mobil dan menarik lengan Lady Chantall, melempar wanita itu ke dalam sana. Besi adalah penghalang yang bagus. Wanita itu akan aman selama berada dalam kaleng berjalan ini. Ketika menutup pintu mobil, Marco tak sengaja bertatapan mata dengan Lady Chantall. Mata hijau yang jernih dan dalam, mata yang selalu menatapnya dengan pandangan memuja. Tadinya Marco heran kenapa ia dikembalikan dalam waktu satu menit, tapi sekarang ia sadar bahwa entitas itu bisa mengembalikannya karena doa Lady Chantall. Pertukaran setara? Apakah doa adalah hal yang setara?
Terima kasih, ia ingin mengucapkan itu, tapi punggungnya disergap rasa dingin yang lengket.
Dunia sudah berubah jadi titik buram dan pecah menghilang dalam gelap. Hal terakhir yang didengarnya adalah Lady Chantall menjeritkan namanya.
***
"Hans!" seru Jose lantang sambil menutupi tubuh Maria dengan mantelnya. Gadis itu masih bernapas. Hans segera berlari menghampiri meski dikerubuti shelédbolis. "Jaga Maria!"
Hans mengiyakan dalam raungan lantang. Pria besar itu menghajar banyak shelédbolis dan mengadu kepala-kepala mereka hingga pecah, kemudian meraih tubuh Maria, menggendongnya pergi ke Selatan. Hans bahkan tidak menghiraukan shelédbolis lain yang menyerang punggungnya.
Sir William mengalihkan wajah dari Marco yang sudah jadi abu. Ia kelihatan marah, mengamuk, tapi tidak stabil. Partikel hitamnya bergerak ribut kehilangan arah, berputar-putar seperti angin topan. "Kau pikir aku tidak bisa menyeberang?" geramnya. "Aku akan mengejarnya! Aku akan mengejarnya meski harus menyeberang!!"
__ADS_1
Jose menyentuh lengan kanannya yang dipatahkan, membetulkan letak tulangnya dan berdoa dalam hati. "Seseorang mencarimu, Sir," katanya. Ia menunjuk ke belakang Sir William. "Lihat, dia datang."
Sir William tertawa mengejek. Ia menggerakkan tangannya untuk mengibas. "Kau pikir tipuan itu—" suaranya terhenti bersamaan dengan gerakan tangannya. Seseorang mencegahnya bergerak. Tidak, bukan seseorang. Ketika menoleh, Sir William bahkan hampir menjerit kaget melihat wajah rusak itu.
Rahang wanita itu lepas. Kulit wajahnya menggembung, melepuh. Belatung tumpah dari soket matanya. Itu mayat hidup. Gladys. Mayat itu menempel di punggungnya, mencengkeram erat lengannya. Bahkan meski setiap hari sudah melihat iblis, bukan berarti Sir William terbiasa melihat hal-hal mengerikan. Ia berusaha melepas makhluk itu, tapi tidak bisa. Bahkan perintahnya pun tidak lagi didengar, kemungkinan karena Shakranim sudah tidak ada lagi. Iblis itulah yang membuatnya bisa membuat dan mengendalikan mayat hidup.
Selagi Jose menyembuhkan diri dan Sir William sedang dihinggapi mayat hidup, Lady Chantall menyeka air mata dan menghidupkan mesin mobilnya tanpa menyalakan lampu depan.
Ia mencengkeram setir erat-erat. Mata hijaunya mengawasi Jose yang, begitu menyadari raungan mobil, segera mundur perlahan. Sir William sendiri tidak menyadari suara mesin di tengah gemeretak langit yang menumpahkan setan tengkorak.
"Tuhan lindungi hamba-Mu," gumam Lady Chantall sepenuh hati.
Begitu Jose sudah berada dalam jarak aman, Tin Lizzie melaju kencang menabrak Sir William hingga jatuh ke dalam sungai.
***
Nolan yang pertama kali berlari ke tengah lapangan rumput. Ia menggunakan tongkat besi yang dibawanya dari karavan untuk memukul pecah kepala-kepala tengkorak yang menyerang. Lengannya yang terluka sebenarnya masih sakit dan nyeri, tapi ia tidak peduli. Ia memukuli setiap shelédbolis dengan kalap, membuka jalan bagi Hans untuk datang.
Tuan Stuart ada di belakangnya, sudah mengisi ulang senjata dan mulai menembak shelédbolis yang luput dari hantaman Nolan. Albert menggunakan pedang tersembunyi dalam tongkat jalannya untuk menusuk dan menghajar tiap makhluk neraka yang mendekat, kemudian bergabung dengan Nolan dan menjaga bagian belakang gadis itu.
Hans berlari tergopoh-gopoh menggendong Maria, akhirnya bergabung dengan mereka tepat ketika Tin Lizzie di sebelah Utara meraung dan menabrak Sir William ke dalam sungai. Suara logam mobil beradu dengan tubuh manusia terdengar seperti pohon patah. Air sungai pecah dalam gelombang besar dan menciprat sampai ke sekitar jembatan. Mobil tersebut terjungkir, moncongnya yang ringsek tenggelam di sungai.
"Chantall!" seru Tuan Stuart ngeri. Ia kelihatan ingin berlari menghampiri, tapi tidak bisa melakukannya menyadari bahwa ia masih harus melindungi Nolan dan yang lain. Albert memeriksa kondisi putrinya dengan panik, hampir menangis.
Nolan masih memperhatikan kehebohan di perbatasan.
Agak jauh di sebelah mobil itu, awalnya kelihatan seperti hanyut ke hilir, seseorang berjalan di tengah sungai.
Bulan memamerkan sinarnya tanpa tertutup awan. Warna pirang pada rambut itu membuat Nolan tahu siapa yang sedang bangkit dan berjalan mengatasi arus sungai. Sir William.
"Kenapa dia nggak mati, sih?" jerit Nolan sambil mengayunkan tongkat, memukul salah satu tengkorak yang datang. Tangannya berhenti bergerak ketika melihat ada bayangan lain di dekat Sir William. Banyak bayangan. Salah satunya begitu ia kenal, bahkan sekilas seperti menoleh dan tersenyum padanya. Nolan merasa tenggorokannya tercekat.
Albert akhirnya sampai ke tengah lapangan rumput, ke samping Nolan. Ia menggeret lengan gadis itu dan berteriak menyadarkan, "Jangan melamun, Nak! Kita kembali ke karavan!"
Nolan menunjuk ke arah sungai dengan mata biru berembun basah. "Tapi ... tapi itu Papa ..."
__ADS_1
***