
Gladys menggeleng lagi, menarik paksa tangan Sana. “Temani aku, kumohon. Habisnya, aku kan takut kalau sendirian. Ada yang lainnya juga sih, beberapa orang, tapi aku tidak kenal mereka. Aku jadi tidak nyaman.”
“Maksudmu siapa?” Sana bertanya panik karena Gladys menyeretnya begitu kuat. Ia mencoba menarik balik lengannya, tetapi sia-sia. Kakinya terus terseret, menimbulkan jejak seretan di atas tanah lembap. “Gladys?”
Gladys bergeming. “Ayolah, San, masa kau tidak mau menemaniku? Aku kan sudah sering menemanimu ke mana-mana!”
“Tapi kau menemaniku belanja, bukan masuk ke dalam hutan! Sebenarnya kita mau ke mana?”
Wajah Gladys terpilin aneh. Gadis itu melemparkan tatapan dingin pada Sana, tatapan yang sepintas tiba-tiba terlihat sangat keji, membuat Sana terkesiap kaget.
“Oke, aku akan menemanimu,” ucapnya cepat, takut kalau-kalau Gladys jadi marah.
“Benarkah?” Kedua mata Gladys bersinar cerah. “Kau sungguh-sungguh? Terima kasih, San! Oh, sungguh, terima kasih!”
“Tentu, tentu, tapi bilang dulu, kita mau ke mana?”
“Ke sana, di balik sana,” lengan putih Gladys terjulur panjang ke belakangnya, memamerkan deretan pohon-pohon yang jauh. “Di balik sana ada banyak orang, tapi aku takut.”
“Kenapa kau harus takut? Orang-orang itu sedang apa?” Sana jadi merasa tidak nyaman. Ia melongokkan kepala dan berusaha melihat ke kejauhan, tetapi tidak bisa melihat apa-apa. Ia baru saja mau menanyakan lebih lanjut siapa orang-orang yang disebut itu, ketika terdengar suara memanggil di belakangnya.
“Kau sedang apa?”
Suara lelaki.
Sana menoleh kaget, tidak sampai menjerit, berkat ajaran di rumah Argent.
Yang ada di belakangnya adalah lelaki yang sangat dikenalnya.
Jose Argent. Lelaki itu tidak sendirian, ada Nolan juga di sampingnya, kini mengenakan pakaian lusuhnya yang biasa.
__ADS_1
“Tuan Kecil!” seru Sana cepat, “Anda sedang apa di sini?”
“Tuan Kecil?” Nolan mengulang panggilan itu seraya menoleh pada Jose dengan pandangan geli.
“Aku yang bertanya, San,” Jose menukas, mulai merasa percuma mencegah semua pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Kecil. “Sedang apa kau di sana? Gelap-gelap? Sendirian?”
“Sendirian?” Sana menoleh ke sampingnya. Gladys sudah tidak ada. “Lho, Glad? Gladys?” Ia membentuk corong di depan mulut dengan kedua jarinya, memanggil-manggil nama gadis itu.
“Siapa Gladys?” tanya Jose heran.
“Teman saya, Tuan, tadi kami bersama. Tapi entahlah, mungkin dia pergi duluan,” Sana menjawab, kini kebingungan.
Sekarang, Jose dan Nolan saling berpandangan.
“Sejak kapan dia pergi?” tanya Nolan.
“Barusan,” Sana menyahut, menahan keketusan yang mau keluar. Ia tidak senang pada anak itu. Menurutnya, anak tengil itu mengejar-ngejar Jose demi kekayaan Argent. “Saya bersama-sama dengannya terus, tapi setelah Tuan Kecil datang, entahlah, mungkin dia malu.”
Sana mengerutkan kening mendengar anak itu memanggil nama depan tuannya dengan kasual. Ia menoleh pada Jose dengan tatapan bertanya.
Jose mengangguk sebagai penegasan. “Kami berdua melihatmu, San. Aku juga melihatmu. Sejak tadi, kau sendirian saja di sini, berjalan ke arah selatan. Apa yang kau lakukan di sini?”
Sekarang giliran Sana yang bingung.
***
“Kurasa, itu pasti siluman,” usul Nolan setelah mendengar penjelasan Sana.
Mereka bertiga ada di sebuah kedai. Nolan sebenarnya mengajak Jose dan Sana masuk ke dalam rumahnya untuk minum teh. Tetapi Sana tidak mau melihat majikannya duduk di tempat kotor dan minum dari gelas yang sedikit pecah. Ia menolak mentah-mentah usulan itu. Untuk beberapa lama, keduanya masih saling ngotot, sampai Jose menyarankan mereka minum teh saja di kedai. Sana masih menolak, merasa tidak pantas duduk semeja dengan majikan, tetapi Jose memaksa, dan Nolan mengolok-olok, jadi mereka bertiga ada pada satu meja kayu di kedai minum sederhana.
__ADS_1
Nolan di samping Sana sementara Jose duduk sendiri. Pakaian lelaki itu kelihatan sangat sederhana, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pakaian Marco atau Edgar. Jose hanya memakai celana kain hitam serta kemeja biru polos di balik mantel hitam panjangnya. Meski semuanya terlihat bersih dan bagus, tetap saja penampilannya terlalu sederhana. Sana sampai yakin, kalau ia tidak tahu siapa Jose, ia tidak akan menganggapnya putra dari keluarga ternama.
Manusia memang tidak bisa dilihat dari penampilan saja, pikirnya.
Nolan menaruh gelas tehnya. Anak itu menatap Sana dengan serius, kemudian berkata lagi, “Aku yakin pasti siluman! Di hutan ada banyak siluman, peri, dan sebangsanya!”
“Berapa umurmu?” balas Sana pedas sebagai sindiran.
Nolan tidak tahu bahwa dirinya sedang disindir, menjawab dengan jujur, “Tujuh belas! Kenapa?”
Mendengar itu, Jose menyembunyikan senyum geli di balik cangkir teh. Ia sendiri sedang meresapi cerita Sana.
Ia tahu bahwa Higgins mati dengan kondisi tak wajar, ia juga sudah melihat hantu hitam dan dikejar oleh makhluk itu, jadi tidak ada alasan baginya meragukan keberadaan makhluk mistis atau siluman, tetapi Jose tetap tidak mau menyerah pada kesimpulan gaib. Menjadikan hal-hal mistis sebagai jawaban atas sebuah masalah bukanlah gayanya. Bagi Jose, sifat semacam itu hanya penanda orang yang malas berpikir. Setidaknya, begitulah yang diajarkan Marco.
Karena itu, meski tangannya tetap terbuka pada kemungkinan apa pun yang sebenarnya terjadi, Jose tetap mencoba mempertimbangkan segalanya dari sisi logis.
“Saya tidak melamun, saya juga tidak sedang bermimpi, apa lagi terlalu capek. Ini kan hari libur saya,” ucap Sana segera, bisa menebak bahwa pasti majikannya berpikir ke arah sana.
“Aku mengerti,” balas Jose, meski sebenarnya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi. Seorang pemimpin tidak pernah boleh memperlihatkan kelemahannya atau bahwa ia tidak mengetahui sesuatu. Lagi-lagi ajaran Marco. Jose sampai bertanya-tanya seberapa jauh pemikiran pamannya merasuk dalam segala tindakannya. “Asumsikan bahwa Gladys memang tadinya bersamamu dan tanpa kau sadari, dia tiba-tiba pergi. Sebenarnya, kalian sendiri sedang apa di Selatan? Itu bukan tempat mengobrol yang bagus, kan?”
Sana merasa ragu sejenak. Ia sudah menceritakan tentang gumpalan putih yang aneh itu, tetapi memang belum bercerita tentang siapa Gladys dan apa yang mereka bicarakan. Sekarang, ia sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya bercerita atau tidak.
“Tidak ada alasan tertentu, Tuan,” ucapnya pelan, “Kami hanya mencari tempat yang lain dari biasanya untuk mengobrol. Kami pikir segalanya tidak akan masalah, lagi pula polisi patroli berkeliaran.”
Jose mengetuk-ngetukkan ibu jarinya ke dagu, ia merasa bahwa Sana menyembunyikan sesuatu, tetapi ia tidak mau mendesak. Lagi pula, tiap orang sah saja memiliki rahasia pribadi.
Tetapi, hal yang sedikit mengganggunya adalah kelakuan Sana waktu di hutan itu. Tangannya terkatung ke depan. Gadis itu seperti sedang diseret oleh sesuatu yang tidak kelihatan. Karena pemikiran itulah Jose cepat-cepat menghampirinya. Tadinya, Jose bahkan tidak tahu bahwa gadis itu adalah pelayannya sampai Sana memanggilnya Tuan Kecil.
Ia melirik pada Nolan, melihat mata biru gadis itu memancarkan cahaya yang sama dengannya. Mereka berpikiran sama tentang satu hal, ada yang tidak beres pada hutan di selatan sungai.
__ADS_1
***