
Nolan? Apa yang dilakukan anak itu di sini?
Marco masih mengamati dari tempatnya bersembunyi. Rasa dingin dan waspada yang sejak tadi ia rasakan kini seperti menguap digantikan rasa jengkel. Ia benar-benar ingin melempar anak itu ke sungai sekalian biar hanyut. Kalau Nolan ketahuan, bisa-bisa seluruh penguntitan ini sia-sia. Robert akan menyadari bahwa ada yang tidak beres dan tidak jadi menuju ke mana pun ia hendak pergi sekarang.
Tetapi setelah sepuluh menit mengekori rombongan itu, Marco akhirnya merasa lega. Nolan tidak perlu dipikirkan. Anak itu selincah dan selicik monyet. Ketika tanpa sengaja membuat suara berisik, gadis nakal itu bisa dengan mahir menirukan suara binatang hutan, menyamarkan bunyi kemerosak yang barusan dibuatnya.
Tidak hanya itu, Nolan juga memiliki keberanian yang asing. Para pekerja Marco pasti akan mengendap dengan hati-hati dan berusaha tidak bersuara saat menemani Marco menguntit, tetapi Nolan berbeda dengan mereka semua. Gadis itu tidak bisa sesenyap Jose. Gerakannya malah liar dan berisik untuk ukuran pengintai, tetapi tiap langkahnya dilakukan dengan berani dan luwes. Seperti binatang hutan. Orang tidak akan menyangka bahwa bunyi berisik itu berasal dari kaki manusia.
Rombongan aneh yang terdiri dari tiga orang misterius, gadis pengintai, serta pria tua pengintai itu berjalan dalam arakan pelan menuju sungai.
Ketika sampai ke bagian jembatan darurat yang dibuat oleh pemadam kebakaran, tiga orang pria yang sedang diikuti tersebut menengok dulu ke sekitar dengan asal-asalan, kelihatan seperti prosedur formal yang sudah rutin dijalankan sampai mereka merasa bosan dan lengah. Kemudian ketiganya menyeberang bergiliran.
Setelah lima menit menunggu, Nolan melakukan hal yang sama. Kecepatan langkahnya seperti bajing.
Berikutnya, Marco mengikuti sambil merayap. Sesekali ia menoleh ke belakang, merasa bahwa tidak hanya ada mereka berlima yang berada di hutan itu.
Jauh di atas mereka, lagi-lagi sebuah kembang api meletus dengan meriah. Cahayanya tidak sampai ke dalam hutan. Pepohonan di sekitar mereka tubuh terlalu rapat, dan hawanya makin dingin.
Tidak seperti Marco yang menyusup masuk ke hutan lindung Bjork karena mengikuti manusia hidup, Nolan memutuskan masuk ke dalam hutan Bjork karena merasa melihat manusia mati.
Ia merasa melihat mayat Gladys berjalan ke arah hutan. Mayat. Tentu saja mayat, kalau bukan hantu. Nolan tidak pernah bisa melupakan wajah wanita yang meninggal itu. Ia bahkan masih ingat pada bentuk pakaian dan juga panjang rambutnya. Sekali melihat seseorang, Nolan tidak akan melupakan wajahnya. Ia percaya diri dengan ingatannya. Nolan yakin ia tidak salah. Yang dilihatnya memang Gladys.
Didasari oleh rasa penasaran sekaligus kenekatan, Nolan merayap pergi dari rumah setelah adik-adiknya tidur. Ia harus memastikan bahwa makhluk yang dilihatnya, entah siluman atau hantu, tidak akan mendekati rumahnya. Ia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah pisau dapur yang dibungkus koran ia selipkan di belakang punggung.
Nolan menghabiskan seumur hidupnya sampai detik ini di Bjork Selatan. Ia sangat hapal pada hutan lindung yang menjadi tetangga kampungnya, sehingga tidak masalah baginya untuk menjelajah tanpa ketahuan. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan keadaan sekitar, lalu pulang. Ia akan puas kalau bisa memastikan bahwa tidak ada mayat hidup berkeliaran di dekat kampungnya.
Tetapi saat sedang menyibak semak-semak, Nolan melihat gerombolan orang yang mencurigakan. Tiga pria besar yang kelihatan seperti orang kaya. Meski mengenakan jubah kumal, wajah mereka bersih dan sepatu mereka mengilat. Jelas mereka orang Bjork Utara. Radar kebenciannya pada orang elit segera menyala, dan Nolan membuntuti mereka atas dasar ketidaksukaan karena melihat orang-orang Utara di wilayahnya.
Namun ketika melihat mereka merayap menyusuri sungai dan menyeberang ke hutan di seberang, Nolan mulai menyiapkan dirinya dengan lebih serius. Ia beranggapan, apa pun yang akan terjadi selanjutnya, kemungkinan besar menyangkut sebuah rahasia yang sangat besar.
__ADS_1
Dan Nolan benar.
Ia melihatnya. Makhluk hitam itu.
Si Hantu Hitam.
***
Ketika Nolan dan Marco sedang blusukan di hutan lindung di Bjork Selatan, di saat yang sama Jose sedang membelikan Maria permen kapas.
"Menurutmu, suatu saat nanti Bjork akan bisa tenang?" Maria bertanya. Tangannya menggenggam tangkai permen kapas berwarna merah muda. Bentuknya seperti awan mendung.
"Tentu," sahut Jose pelan, kini tidak terlalu yakin. Saat masuk ke dalam Gedung Diskusi tadi, ia mendengar kabar bahwa Dave masih belum ditemukan, malah ada seorang putra Baron yang hilang. Baron adalah gelar bangsawan yang terendah. Gelar-gelar semacam itu sebenarnya tidak terlalu diperhitungan lagi dalam dunia bisnis maupun kehidupan modern di Bjork, tetapi tetap merupakan salah satu tolok ukur. Bjork memang kota yang sangat timpang. Di satu sisi menerima segala perkembangan kemajuan, tetapi di sisi lain juga masih sangat kolot dan primitif.
Orang-orang yang hilang bukannya berkurang, tetapi justru makin banyak. Padahal polisi patroli makin ketat menjalankan tugas. Satu hal yang disimpulkan oleh Jose dengan gampang adalah, ada yang tidak beres dengan kepolisian di Bjork.
"Kenapa melamun?" Maria menyenggol lengan Jose. "Omong-omong, Inspektur Robert hari ini tidak kelihatan, ya. Padahal kupikir dia akan berkeliaran seperti tahun lalu."
"Mungkin dia sibuk," sahut Jose kalem, tetapi diam-diam ikut mencari keberadaan sosok berkumis panjang itu.
"Mungkin juga. Keadaan tambah parah, kan, akhir-akhir ini? Kudengar kau menemukan mayat perempuan di sebelah selatan? Tidak cerita padaku, eh?"
Jose tertawa. "Marry, aku bahkan tidak berpikir untuk menjadikan hal sesuram itu jadi bahan pembicaraan dengan orang lain."
"Aku kan bukan orang lain." Bola mata Maria berkilat aneh.
"Aku tahu, maksudku bukan seperti itu."
"Ya, ya, cuma bercanda. Aku tahu, kok maksudmu," Maria menggigit permen kapasnya, meninggalkan jejak lekat yang berwarna lebih tua pada makanan yang seperti awan itu. "Kita memang dalam keadaan yang menyedihkan, ya. Bahkan pembicaraan tentang mayat dan orang hilang sekarang jadi normal."
__ADS_1
"Karena, bisa dibilang, kita sudah hampir terbiasa pada kejadian ini. Kalau ada orang hilang, kita bahkan sampai tidak kaget lagi."
"Karena sudah banyak kejadian," Maria menanggapi. "Sama seperti kabar tentang bom di daerah perang. Tidak akan seramai dan sehebat kalau ada bom di daerah tenang dan damai seperti Bjork."
"Tenang dan damai." Jose melambungkan bola air yang sempat dibelinya tadi. "Itu cuma judul buku saja. Tidak ada dalam kenyataan."
"Tergantung persepsimu tentang tenang dan damai itu sendiri, kan?"
"Tentu saja dilihat dari kacamata obyektif dong. Kalau apa-apa dilihat secara subyektif, yang ada cuma pertikaian dan mau menang sendiri."
Maria tertawa. "Kau benar. Sudah lama kita tidak berdebat seperti ini."
Jose mengulaskan senyum lembut. Bola mata hitamnya menatap Maria dengan hangat. "Aku tidak tahu kau sekangen itu padaku."
Maria membeliak. Rona merah merambati pipinya yang putih. Ia memukul pundak Jose dengan kesal, yang ditanggapi tawa oleh kawannya itu.
"Omong-omong, kau sudah dengar? Katanya, sebentar lagi ada gerhana, lho." Maria segera mengalihkan topik, karena barusan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasa.
"Gerhana apa? Matahari? Bulan?"
"Matahari. Masa kau belum baca atau dengar beritanya, sih? Kan sudah heboh sejak bulan lalu?"
Jose menggeleng. Matanya menatap pada kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Meski mereka tertawa dan bercanda, ia bisa melihat ada sorot mata yang sama: kecemasan.
"Gerhana matahari?" Jose mengerutkan kening dengan heran. "Maksudmu, siang jadi gelap?"
"Tidak, gerhana matahari itu ketika bintang-bintang jatuh dari langit dan berubah jadi sereal," Maria menyahut sarkastis. "Tentu saja siang akan jadi gelap, Jose! Kau ini bagaimana, sih? Namanya saja gerhana!"
Jose mengusap rambut depannya dengan gugup. Gerhana bisa jadi merupakan titik balik dalam sebuah peristiwa. Dalam hati ia menghitung hari.
__ADS_1