
Begitu keluar kamar Jose, Maria pamit undur diri ke kamarnya dulu untuk berbenah dan merapikan diri.
Susan sudah menunggunya sambil menyiapkan bak mandi, juga sudah menyiapkan gaun dan linen untuk ganti pakaian. Dayangnya itu kelihatan lebih segar sekarang. Bayangan hitam di bawah matanya bahkan mulai memudar.
"Kau istirahatlah," kata Maria begitu selesai mandi dan berpakaian. Rambutnya sudah dirapikan, dijalin dalam bentuk kepang longgar yang digelung ke atas dan disemat oleh banyak pin tajam tersembunyi, memamerkan leher jenjangnya yang putih. Ia memutar sedikit tubuhnya di depan cermin, mematut diri. Aku masih Maria, pikirnya. Kadang kupikir aku sudah bukan diriku lagi, tapi itu harus berhenti. Ia menatap Susan lewat bayangan di cermin. "Aku cuma akan menemui Marquis Argent di kamarnya, lalu setelah itu mengunjungi Nyonya Renata, mungkin. Kau lihat banyak orang berkeliaran di rumah ini, aku akan aman. Jadi istirahatlah, aku memaksa."
Susan tersenyum mengerti. Ia membetulkan lagi letak pita di gaun Maria, memastikan semuanya benar-benar rapi, kemudian mengantar nonanya keluar kamar.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Maria menjelajahi manor Argent sendirian. Ia ingat terakhir kali ia berjalan sendirian adalah saat umurnya tujuh tahun, waktu itu ia bermain petak umpet dengan Jose selagi orang tua mereka berbincang di taman.
Maria berjalan dengan pandangan lurus ke depan, merasa seperti berjalan dalam mimpi. Tempat ini selalu membuatnya merasa seperti berada di dalam buku cerita. Beberapa hal masih sama dengan yang ia ingat di masa kecil. Pintu-pintu kayu raksasa yang menyembunyikan ruang-ruang luas, perabot dan ornamen dengan sentuhan kuno yang elegan. Kayu-kayu yang digunakan, tata letak ruang dan gaya lengkung serta tarikan arsitekturnya, semuanya seperti memanipulasi Maria untuk berjalan lebih tenang, lebih anggun. Rumah ini seperti punya keinginannya sendiri, membuat orang di dalamnya mau tak mau menyesuaikan diri untuk jadi layak berjalan di situ.
Dan Jose hidup dalam suasana seperti ini, pikirnya, dalam didikan di rumah seperti ini.
Berapa banyak perempuan yang datang ke sini dan berjalan di lorong yang sama sepertinya? Berapa banyak yang sudah berpikir akan bisa menjadi ratu di manor ini?
Sesaat seperti ada rasa sakit mengiris hatinya, membuat Maria begitu sedih hingga ingin menangis, tetapi ia segera mengerjap-ngerjapkan mata dan menabahkan diri. Ia tidak tahu emosi siapa yang dirasakannya barusan. Arabella atau dirinya? Memikirkan pertanyaan itu pun membuat Maria takut.
Pintu kamar kerja Marco terbuka lebar, meski begitu Maria tetap mengetuk dengan sopan dan menunggu diizinkan masuk. Ia sebenarnya masih agak segan menemui pria itu. Hubungan mereka berdua masih dingin sejak kasus di mana ia menertawakan Marco ketika pria itu sedang bicara—tepatnya, sedang mengungkit ide pertunangan antara ia dan Jose.
Saat itu Maria masih menganggap Jose seperti saudaranya sendiri, jadi ide menjadi tunangan lelaki itu memang terdengar begitu konyol. Maria masih selalu berpikir dirinya tidak salah. Dulu ia memang tidak tertarik pada Jose.
Dulu, pikirnya bimbang sambil melangkah masuk begitu dipersilakan. Lalu sekarang bagaimana? Aku menganggapnya apa?
Marco mengajaknya bicara di ruang duduk dan mereka bertukar salam serta basa-basi seadanya. Maria menggigit bibir, merasa agak canggung. Keduanya duduk berhadap-hadapan, hanya disekat meja kopi. Di atas meja tersebut ada sebuah peti logam berukuran sedang.
__ADS_1
"Kau tahu berapa lama lagi waktu kita?" Marco memulai.
"Paling lama tiga hari," jawab Maria, mengenali pola pembukaan ini. Marco bukan bertanya karena tidak tahu. Mereka sedang menjajaki pengetahuan satu sama lain, menyamakan info apa saja yang sudah diketahui masing-masing. "Sekarang hari Selasa. Jumat besok gerhana matahari. Itu batas maksimalnya."
Marco mengangguk. Kedua tangannya ditautkan jadi satu, dengan siku bersandar di paha. "Aku berpikir sangat lama semalaman, tentang kenapa ini semua harus terjadi di Bjork. Kenapa pria itu tidak bergerak meski dia tahu kita sudah tahu apa yang mau dilakukannya."
"Dia santai karena tahu kita tidak akan bisa pergi," Maria memberi alasan. "Gugus sihir itu mencegahku pergi. Anda pasti juga tidak bisa."
Marco belum mencoba pergi dari Bjork, jadi ia juga belum melihat sendiri ilusi ala pita moebius yang dimaksud. Namun ia tidak meragukan cerita Maria maupun Jose sedikit pun. Marco tahu keduanya tidak mungkin berbohong. "Dan dia mengurung kita untuk gerhana. Jadi kemungkinannya, dia akan datang pada kita saat itu. Kemungkinan besar padamu dulu."
Maria mengangguk, sudah menduga akan hal itu. "Dan apa yang harus kulakukan?"
"Ini." Marco menepuk boks logam di atas meja dan membuka kuncinya. Dalam boks tersebut terdapat sebuah senjata yang tak pernah dilihat Maria sebelumnya. "Pistol dari EUA. Tidak seperti revolver, cara menggunakannya cukup mudah dan jangkauannya lebih jauh. Daya rusaknya juga lebih kuat. Recoil-nya juga, sih."
Maria mengamati pritilan senjata itu, yang dirakit dengan terampil oleh Marco. Ketika menerimanya, ia terkejut mendapati betapa dingin dan berat senjata tersebut. "Ini akan membunuhnya?"
Maria menggeleng.
"Antumbra," jawab Marco hati-hati, matanya mengamati Maria dengan penuh penilaian, seperti berusaha mencari sebuah tanda. "Kita tidak bisa melihat lingkarannya tertera ke bumi, tapi lelaki itu mungkin saja bisa. Aku menebak ... ah, bukan," ralatnya segera, "aku tahu itulah yang dia tunggu, yang membuatnya tidak segera membunuhku atau melakukan sesuatu padamu."
Maria merasa itu masuk akal. "Penggantian jiwa jelas butuh energi yang besar, dan portal sihir semacam itu tidak mungkin bisa dia buat sendiri," katanya. Semua hal edan ini bisa diterimanya dengan mudah sekarang, seolah ia sudah memiliki pengetahuan itu sejak dulu. Seolah aku sudah melalui ritual ini berulang kali.
"Tepat. Sihir membutuhkan lingkaran, dan dia akan menggunakan lingkaran paling kuat yang ada, lingkaran yang tidak bisa diganggu manusia. Dia akan menggunakan bayangan antumbra yang jatuh ke bumi ketika merapal atau melakukan ritualnya."
"Berapa lama gerhana matahari berlangsung?" Maria merasa sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan Marco. Pria itu sengaja tidak mengatakannya dengan gamblang karena berhati-hati, baik pada dinding rumah ini, juga pada Maria sendiri—pada eksistensi lain di dalam diri Maria. Mereka saat ini berdiskusi di depan musuh mereka sendiri, dan keduanya bahkan tidak tahu pasti apakah suara mereka akan sampai ke telinga Sir William.
__ADS_1
Mereka berdua seperti duduk di atas rakit kayu di tengah lautan dengan kedua mata tertutup kain hitam, tidak tahu kapan badai datang atau apakah ada hiu di bawah mereka. Yang bisa keduanya lakukan hanya mencoba dengan nekat. Nyawa mereka jadi taruhannya, begitu pula nyawa seluruh orang di Bjork.
"Gerhana bisa berlangsung sampai hitungan jam, tapi puncaknya biasanya cuma beberapa menit." Marco menatap dengan pandangan penuh arti. "Puncaknya, saat itulah dia menggunakan antumbra."
Beberapa menit. Maria menggaris-bawahi keterangan itu dalam kepalanya. "Dan kalau rapalannya terdistraksi, kita bisa menggagalkannya." Ia mengangguk.
"Dia mungkin tidak mati, toh kita hanya menggagalkan ritualnya. Tapi tujuan distraksi itu memang bukan untuk membunuhnya, melainkan menyelamatkanmu untuk sementara." Marco menerima pistol yang dikembalikan padanya, mengetukkan moncong senjata tersebut beberapa kali ke pelipisnya sendiri, kemudian ke dadanya.
Maria memperhatikan dengan cermat, menyimak setiap gerakan Marco. "Aku akan berusaha sebaik mungkin," bisiknya, masih berhasil mengendalikan suaranya agar tidak mencicit gemetar. Seorang Garnet tidak boleh gentar. Ia menarik napas pelan. "Kalaupun akhirnya aku mati, setidaknya aku mati saat melakukan perlawanan."
Senyum Marco terkembang manis mendengarnya. "Senang sekali mendengar bahwa kita punya prinsip hidup yang sama persis." Ia bangkit perlahan, diikuti oleh Maria. "Sebentar lagi temanku dari EUA akan datang," lanjutnya sambil menyerahkan kembali pistol tersebut. "Kau tahu Tuan Stuart, kan? Dia akan mengajarimu cara menggunakan senjata ini—dan juga hal-hal lainnya."
Maria menerima senjata itu sambil berterima kasih. Ia diam selama beberapa saat, kemudian mendadak meluruskan punggung dan menegakkan bahu. Kedua tangannya menumpuk sopan di depan tubuh; tangan kanan diletakkan di atas punggung tangan kiri yang menggenggam pistol, kedua ibu jarinya tersembunyi. Maria menarik kaki kanannya ke belakang kaki kiri dalam posisi berjinjit. Kemudian ia memiringkan sedikit kepalanya hingga menunduk, dan menekuk rendah kedua lututnya dengan keanggunan seekor angsa.
Curtsy yang elegan dan sempurna. Marco tidak heran. Yang di depannya saat ini adalah putri Garnet, gadis yang dididik keras dengan aturan ala istana. Gadis yang menurutnya paling tepat mendampingi Jose.
Marco membalas dengan menjatuhkan pandangan ke lantai, meletakkan tangan kanannya di depan jantung, kemudian menunduk penuh hormat, mengabaikan pinggangnya yang terasa seperti disayat.
Mereka mengangkat wajah bersamaan. Marco tersenyum kecil, dan Maria membuang wajah untuk menyembunyikan kekehannya. Kemudian keduanya tertawa bersama, merasa geli sendiri dengan urutan struktur pertemuan mereka yang kacau.
**
-recoil: hentakkan yang dihasilkan sebagai reaksi ketika menembak.
-curtsy: salam formal (khusus perempuan) dengan cara menekuk lutut dengan satu kaki di depan kaki lain. Pada umumnya yang di depan adalah kaki kiri, yang di belakang kaki kanan karena ada ungkapan "lutut kiri untuk raja, lutut kanan untuk Tuhan (ketika berdoa)".
__ADS_1
-antumbra: bayangan perpanjangan/tambahan ketika bayangan umbra (bayangan inti yang gelap banget) tidak sampai ke bumi. Ini hanya terjadi jika matahari ada dalam jarak tertentu hingga piringan matahari terlihat lebih besar daripada piringan bulan. Ketika antumbra bulan jatuh di bumi, kita bisa melihat cincin emas gerhana matahari annular di wilayah tersebut.