
Selagi Jose masih bicara dengan Edgar di rumah dan tiga pelayan Garnet mencari Maria, Marco sedang menghadapi nerakanya sendiri di puri kapel di Gunung Bjork.
Malam itu, setelah pintu baja menara berdebam di belakang Marco, kesunyian membungkus malam. Ia tidak bisa mendengar suara Nolan lagi. Yang ada di sekeliling Marco hanya kegelapan dan kesunyian mencekam.
Ruangan itu pasti gelap total andai saja tidak ada lentera milik para penyerangnya yang terdahulu. Satu lentera terbakar di lantai, masih menyala-nyala sampai sekarang. Satu lentera lagi terletak di tengah ruangan, tempat Nolan sempat berbaring, darahnya masih tercecer di situ.
Marco diam di tempat untuk mengamati. Si hantu hitam juga diam setelah ia menembaknya. Dari tubuh hantu itu menguar asap putih yang tipis. Aromanya seperti lemak terbakar. Makhluk itu bernapas dengan serak, yang malah membuatnya kedengaran seperti sedang tertawa.
Seluruh tubuh Marco terasa kebas. Kepalanya masih merinding hebat berulang kali sampai saat ini, membuatnya gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sekarang ia mengerti kenapa dayang Renata sampai mengalami shock demikian hebat dan tak sadarkan diri sampai saat ini. Makhluk di depannya ini, kalau memang itu yang dilihat Jose serta kedua dayang Argent, benar-benar mengerikan dan menjijikan. Marco merasa ususnya melilit. Perutnya mulas dan ia ingin muntah mencium aroma lemak yang menyebar di menara tersebut.
Hantu itu panjangnya hampir dua meter, kini melata dengan keempat kakinya. Empat kaki. Kaki manusia dewasa. Tubuhnya tidak terlalu kelihatan karena ruangan begitu gelap, jadi yang bisa dilihat hanya sosok hitam yang berkedut-kedut. Wajahnya ada empat dan menatap ke segala arah, kulit mukanya seperti jenang, dengan lubang-lubang kecil memenuhi permukaannya yang halus dan lembek. Mata dan mulut makhluk itu kopong, mungkin karena itu dia mengendus-endus udara setiap kali ingin menemukan sesuatu.
Marco menahan napas, menghitung jarak. Ia bermaksud lari ke tangga sampai ke puncaknya, lalu kalau monster itu mengikutinya, ia akan menendangnya jatuh ke bawah. Makhluk itu kelihatannya tidak bisa terbang, jadi Marco berpikir idenya cukup baik. Ia akan menendang salah satu lentera ketika berlari, untuk membuat pengalih perhatian. Marco puas. Rencana itu terasa cukup baik dan aman. Ia akan sedikit lambat karena kakinya yang sakit, tetapi ia yakin larinya masih cukup cepat. Staminanya masih cukup.
Marco baru mengangkat sebelah kaki untuk melangkah ketika hantu hitam itu menggerakkan keempat kepalanya dengan lambat ke arah Marco, kemudian dengan kecepatan mengerikan berlari ke arahnya—berlari dengan empat kaki yang tak keruan.
__ADS_1
Marco bergidik ngeri. Kakinya seperti membeku di tempat. Refleks, ia menodongkan revolvernya dan menembak beberapa kali, tetapi yang terdengar hanya suara klik klik klik tanpa letusan peluru.
Pelurunya sudah habis, Marco baru ingat. Dilemparnya senjata itu ke depan, tepat mengenai salah satu muka si hantu, tetapi tidak memberi pengaruh apa pun. Revolvernya jatuh terbanting ke lantai dan hantu itu justru makin cepat. Marco membeliak. Ia menjejak lantai, melentingkan tubuhnya ke samping supaya terhindar dari makhluk itu—yang kini menabrak tembok di belakangnya.
Mereka berdua diam. Marco merayap di lantai dengan napas tersengal. Jantungnya berdegup sangat kencang seolah ingin menjebol dada. Ia meraba lantai, mencari senjata, dan menemukan salah satu dari pedang pendek yang tercecer. Gembira dengan penemuannya, Marco membalik tubuh untuk melawan.
Namun pemandangan yang dilihatnya membuat Marco hampir menjerit. Makhluk itu menengok padanya dengan tubuh terpilin. Alih-alih mundur atau berbelok, hantu hitam tersebut menekuk dan memutar tubuhnya hingga setengahnya terbalik. Kini kedua kaki bagian depan tubuhnya menjejak ke atas, ke arah langit-langit.
Ia tidak akan bisa mengalahkan makhluk itu, Marco menyadari. Ia menyeret tubuhnya mundur. Tangannya tak sengaja menapak api dari lentera yang pecah, ia mengumpat kaget, kemudian mendapatkan ide.
Marco menghunuskan pedang ke depan dengan satu tangan, kemudian dengan tangan lainnya menampar api di lantai hingga percikannya terlempar ke depan makhluk tersebut.
Si hantu hitam berkedut sedikit, kemudian bergulung cepat memutar tubuhnya, kelihatan murka. Suara jeritan makhluk itu keluar dari seluruh lubang di tubuhnya, kedengaran seperti diteriakkan dari dasar laut karena bergemelupup. Marco tidak punya waktu untuk berpikir. Ia menyeret tubuhnya bangun dan meraih lentera lain. Tergesa, ia membuka wadah minyaknya dan menyiramkannya ke arah makhluk tersebut, yang sekarang sudah menabraknya. Marco tidak punya waktu menghindar. Ia ditabrak jatuh ke lantai dan ditindih. Hantu tersebut berat. Lunak dan panas. Tapi asap putih yang keluar dari tiap lubang di tubuhnya terasa dingin.
Marco merinding hebat. Matanya menatap langsung ke dalam kekosongan pada soket mata si hantu. Ada ribuan putih-putih kecil jauh di dalam soket kosong tersebut. Tadinya Marco mengira itu semacam fungus—sampai ia melihat bahwa putih-putih tersebut semuanya bergerak-gerak seperti menempel pada jantung.
__ADS_1
Itu belatung.
Marco berteriak ngeri. Permukaan kulitnya seperti dirambati ribuan serangga. Perutnya melilit, ia merasa ingin muntah. Marco menggerakkan kaki, menendang makhluk itu sekuat tenaga hingga si hantu terlempar ke belakang. Tanpa memberi kesempatan makhluk itu untuk bergerak, Marco menebasnya dengan pedang, menusuknya, mencacahnya hingga daging di muka jenang itu terkoyak dan tercecer.
Ini bukan hantu, pikir Marco, menyadari bahwa makhluk tersebut memiliki bentuk fisik. Ia menusuk dan menebas dengan brutal hingga serpihan daging, darah, dan belatung menciprati tubuhnya. Ini cuma monster, makhluk yang dibuat dengan keji!
Makhluk tersebut sudah tercacah, kini bentuknya tidak karuan, tetapi kaki-kakinya yang telanjang masih berkedut-kedut seolah hidup.
Marco berjalan gontai ke bawah tangga putar, meraih lentera yang disembunyikannya dalam buntalan waistcoat. Setelah mengenakan kembali rompinya, Marco kembali pada ceceran makhluk yang bergerak-gerak hendak menyatu kembali. Ia menendang satu gumpalan daging merah menjauh, menuang minyak pada gumpalan berkaki yang paling besar, kemudian membakarnya dengan api yang tersisa.
Makhluk itu bergerak dan mendesis karena terbakar, ia mengeluarkan asap makin banyak, tetapi tidak mati. Malah, gerakannya makin liar dan ia berusaha bangkit lagi. Wajah-wajah yang rusak itu berkeriut dan terpilin dalam ekspresi benci.
Marco menarik napas panjang dan gemetar. Ia mengangkat pedang pendeknya yang berlapis lemak dan darah, kemudian mengayunkan benda itu untuk menebas. Malam terasa panjang dan tak ada habisnya, tetapi ia akan terus menebas sampai makhluk itu tidak bisa lagi bergerak. Makhluk ini hanya bergerak saat malam, jadi harusnya matahari pagi akan bisa menyelesaikan semua masalah.
Sekarang tinggal pertarungannya dengan diri sendiri, apakah ia akan jadi gila duluan atau pagi akan datang dan menyelamatkannya.
__ADS_1
***