BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 236


__ADS_3

Jose sebenarnya ingin bicara satu-satu dengan pekerjanya yang tersisa, terutama dengan Gerald yang kelihatan masih terguncang, tapi tidak ada waktu. Ia bahkan tidak tega meminta mereka menunggu di Selatan bersama Rolan karena tidak ingin membuat mereka tersinggung. Lagi pula ia sendiri juga butuh bantuan sebanyak-banyaknya.


Ia dan Clearwater menunggu kedatangan Marsh di seberang jembatan, di samping tembok tinggi kantor pajak. Rolan mengawasi mereka dari selatan jembatan sementara para pengawal ada di depan, berjaga.


"Kau tidak mengucapkan selamat tinggal pada Garnet?" bisik Clearwater.


Jose menggeleng. Kalau melihat wajah Maria, seluruh pertahanan dirinya akan jebol dan semua orang akan melihat bagaimana perasaannya sesungguhnya, melihat keputusasaan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia paham sekarang kenapa pamannya mati-matian menjaga kestabilan di Bjork, ngotot membuat publik tetap tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga melakukannya sekarang, pura-pura segala hal baik-baik saja demi menjaga agar semua hal tetap terkendali, agar semua orang tetap bisa selamat.


Clearwater mengawasinya dengan tatapan menyelidik sejak tadi. "Kau baik-baik saja, Jose?"


Tidak, aku tidak baik. Jose menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan kota yang semakin menekannya. Paman Marco tidak ada lagi untuk membantu dan aku harus tetap kelihatan kalem supaya orang lain tidak putus asa. Kami kehilangan banyak orang. Kalau aku melakukan sesuatu, aku mati dan orang lain mungkin juga tetap mati. Kalau aku diam, semua orang juga akan mati.


Sesuatu yang gelap dan dingin mengamuk di dalam dadanya, menggerogotinya tanpa ampun seolah ingin menghabisinya hingga jadi kepingan-kepingan kecil tak berarti. Butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa itu adalah ketakutan. Rasa takut menguasainya, membuatnya ingin berbalik kabur dan berlindung di belakang jembatan.


Tapi itu tidak mungkin, Jose menyadari. Adalah tabu bagi seorang Argent untuk melarikan diri dari tantangan. Bahkan meskipun dirinya bukan seorang Argent, Jose tahu ia tidak akan mungkin melarikan diri. Nuraninya melarang.


Aku tidak menyesal, suara Renata mendadak terngiang dalam benaknya, suara ketika mereka sedang berbincang di kamar tamu setelah Jose melepaskan Xavier. Ingatan itu membuat Jose sadar dari bimbangnya. Apa pun yang terjadi, ia tetap harus mengambil keputusan yang tidak akan disesalinya di kemudian hari.


Ia menoleh, mengulaskan satu senyum simpul ketika mengangguk. "Tentu, Luke. Aku baik-baik saja. Ada suara langkah, mungkin itu Adie."


"Adie tidak jalan kaki." Clearwater mengerutkan kening, menjentikkan jari sebagai tanda supaya para pengawalnya bersiap.


Mereka semua ketakutan, Jose berpikir begitu melihat tungkai dan bahu-bahu di depannya gemetaran. Suara langkah itu makin lama makin keras, makin cepat, menderap. Kemudian menyusul suara napas memburu.


"Tenang," kata Jose cepat begitu menyadari milik siapa suara-suara itu. "Itu Hans!"


Seperti katanya, memang Hans yang muncul. Pria itu bersama dengan dua orang lain: Dave dan Xavier Hastings. Menyusul kedatangan mereka, Adrian Marsh juga datang bersama lima belas orang miliknya.


Begitu melihat Jose, Marsh segera berlari memeluk dan menepukkan tangan kuat-kuat ke punggungnya. "Aku turut berduka," ia berkata dengan suara basah.


Jose mengangguk. Ia balas menepuk bahu Marsh dan melepas pelukan. "Kita punya banyak waktu untuk berduka setelah ini. Setelah ini. Tidak sekarang."

__ADS_1


"Berduka untuk siapa?" Dave menghampiri mereka dengan heran. "Siapa yang mati? Omong-omong, aku sudah membuat seperti yang kau minta, Jose. Kami bertemu dengan Hastings di jalan dan dia ingin membantu."


Jose menoleh pada Xavier yang balas menatapnya lekat. Pria itu mengangkat kedua tangan dengan lagak menyerah. "Tidak ada permainan, Argent. Aku memang ingin membantu. Bahkan meski aku dan Leah bisa pergi dari sini, aku pasti tetap akan dihantui kalian."


"Aku tidak akan menghantuimu," tukas Jose dengan kening berkerut. Ia melanjutkan sambil tersenyum. "Karena kita akan selamat. Kita harus selamat. Semuanya, mendekat!"


Mereka semua berkumpul membentuk lingkaran dengan Jose berada di tengahnya. "Untuk yang belum tahu, Marquis Argent sudah gugur." Ia mengangguk pada Hans yang melotot kaget. "Begitu pula setengah kekuatan dan pasukan kita. Tapi," ucapnya agak keras untuk mengatasi kelumpuhan yang dialami semua orang, "tapi perjuangannya belum selesai. Dan kita masih punya bantuan dari Lord Greyland. Dia akan datang sebentar lagi."


Tidak ada yang tampak semangat. Tidak ada yang kelihatan yakin. Hanya kawan-kawannya serta para pekerjanya saja yang menatap percaya. Ini bukan hal bagus. Yang bakal membuat sebuah pasukan jatuh bukanlah jumlahnya melainkan semangat moral mereka.


"Kau pasti punya rencana kan, Jose?" tanya sebuah suara. Jose berbalik kaget mendengarnya. Itu pamannya. Rolan.


"Paman? Kupikir Paman harusnya berjaga di seberang sana?"


"Aku tidak akan mencegah apa pun yang kau lakukan," Rolan berjanji. Ia berdiri di samping Clearwater, menatap dengan keteguhan penuh. "Tapi aku ingin mendengar rencanamu. Aku harus mendengarnya."


Jose diam sejenak. Tidak ada waktu untuk menimbang atau berdebat, jadi ia mengangguk setuju. "Rencananya tetap sama: kita akan memaksanya datang ke sini dan menenggelamkannya ke sungai. Dia mencari Maria, jadi mungkin akan datang ke sini. Meski begitu kita tidak bisa terlalu yakin. Bisa saja dia menarik Maria, memancingnya dengan suatu cara. Padahal sebaiknya kita tenggelamkan dia sebelum gerhana matahari besok. Jam berapa sekarang, Luke? "


Jose mengangguk. "Makin cepat dia ke sini makin baik. Aku akan memancingnya. Tugas kalian hanya satu: serang dia saat berada dekat sungai."


"Dia membawa iblis, Jose ..." Rolan tahu tidak baik menyanggah Jose di hadapan semua orang. Selain tidak sopan, itu akan melukai harga diri Jose. Tapi ia harus membuat keponakannya tahu segala bahaya yang datang.


Jose tidak terganggu dengan keberatan pamannya. Ia mengangguk mantap. "Aku tahu," katanya. "Xavier memberi tahu aku mengenai satu sigil yang bagus yang akan membantu kita. Dan aku sudah meminta Dave serta Hans untuk membuatnya tadi."


"Sigil?" Rolan menoleh pada Xavier. "Kau tahu apa tentang sigil?"


"Tahu lebih banyak darimu, Dokter," sahut Xavier ketus. Ia memberi tahu Jose apa yang diketahuinya sebelum pergi dari manor Argent. Itu adalah tanda mata darinya, hadiah perpisahan. Namun di tengah jalan ia berpikir ulang berkali-kali dan akhinya memutuskan untuk sekalian membantu pemuda itu. Untuk terakhir kalinya, ia ingin hidupnya berguna bagi seseorang, ia ingin Leah mengenangnya sebagai seseorang yang berjuang alih-alih pria yang kabur dari peperangan. Ia tidak mau lagi menjadi seseorang yang sekadar lewat.


"Iblis itu akan menjadi urusanku." Jose memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk memusatkan konsentrasi, membiarkan seluruh jiwanya berada dalam kondisi mengambang, berusaha mencapai fase trans agar dapat menyelaraskan frekuensi kesadarannya dengan Bjork. Dengung dalam kepalanya perlahan berubah statis. Sebelum bunyi itu kembali bergerak tak beraturan, Jose berbalik ke arah sungai dan mengulurkan sebelah tangan ke sana. Rolan dan Clearwater menepi, memberinya keleluasaan menatap ke sungai pemisah. "Domine, adiuva me," bisik Jose pelan.


Sekejap. Hanya sekejap saja seluruh anak sungai dari hulu sampai hilir berkerlap dalam warna putih keunguan seperti petir bisu. Malam berubah jadi siang selama sedetik. Kemudian segala hal berubah kembali jadi gelap.

__ADS_1


"Kalian sudah dengar apa yang kulakukan dengan mayat-mayat hidup, kan?" tanyanya tanpa menatap ke mana pun. Jantungnya berdegup tak berirama. Ia mendengar suara-suara, merasakan tatapan banyak orang. Bjork melihatnya. Mata mereka mengawasinya, berharap padanya. Ia juga mendengar tapak langkah di atas rumput. Yang berada di karavan sekarang keluar semua untuk melihat apa yang terjadi. Jose mengabaikan semuanya dan melanjutkan, "Itu juga yang akan kulakukan pada iblis di sana. Tanpa iblisnya, Sir William cuma manusia biasa!" Ia melihat ke sekelilingnya, melihat wajah-wajah keheranan dan takjub, juga ngeri. Ekspresi itu bercampur jadi satu, bercahaya karena harapan. Demonstrasinya berhasil.


Rolan menatap Jose curiga, memperhatikan kondisi keponakannya dengan saksama.


"Apa yang kita lakukan sekarang?" Marsh yang pertama memecah kesunyian selagi kedua kawannya dan yang lain masih tercengang. Suaranya yang serak-kasar dan penuh semangat makin meletikkan api pada diri orang-orang yang mendengar. "Aku percaya rencanamu akan berhasil, Jose! Kalaupun tidak, kita toh akan mati ketika mencoba, bukan ketika sedang sembunyi!"


Semua orang mengangguk mantap.


Jose tidak bisa mengatakan betapa bersyukurnya ia memiliki teman seperti mereka. "Menyebar. Cari tahu di mana Sir William. Beri tahu aku di mana letak persisnya dan menuju ke mana dia. Jangan lakukan apa-apa, cukup beri tahu aku di mana dia berada. Aku yang akan memancingnya ke sini."


"Kalian dengar itu, kan?" Marsh bertanya lantang. "Bubar jalan!"


Para pengawal pergi meninggalkan Jose, Clearwater, Marsh, Rolan, Dave, dan Xavier Hastings menunggu di tanah kosong di samping kantor pajak. Suara gemericik air sungai mengisi malam.


"Kau kelihatan terlalu tenang," komentar Xavier pendek. "Ada hal tertentu yang kau tahu?"


Aku tidak 'tenang' . Aku juga takut. Jose merapatkan mantelnya dan menatap ke sekitar, pada wajah-wajah yang begitu jelas sedang berharap padanya. Harapan ternyata sama beratnya dengan kutukan. Jose menyilangkan kedua tangan di dada untuk menghangatkan diri.


"Hukum pertukaran setara," katanya tenang. "Aku berpegang pada itu. Dia pernah masuk ke rumah Argent minimal dua kali. Yang pertama saat dia datang dengan tubuh fisiknya, lalu mengacak-acak kamar kerja Paman Marco untuk mencari kalung. Dan yang kedua saat Paman Rolan di pondok Higgins." Ia menoleh, menatap Rolan yang mengangguk sambil bergidik. "Tapi anehnya, dia tidak mencoba lagi. Dia malah meminta Xavier mengambil kalung itu dariku." Sekarang ia berpindah menatap Xavier yang menelengkan kepala dengan heran.


"Lalu?" balas Xavier. "Apa artinya?"


"Artinya, dia terbatas melakukan sesuatu. Sama sepertiku, melakukan semua hal jelas ada harganya. Mungkin harga yang harus dibayar adalah nyawanya, mungkin energinya. Yang jelas dia sama seperti kita—tidak bisa melakukan sesuatu tanpa membayar ganjaran yang setimpal. Sesuai dengan Hukum Kekekalan Energi yang pertama, dia hanya bisa mengubah sesuatu dari sesuatu yang lain yang tadinya sudah ada. Nah," Jose menarik napas pelan. "Sigil yang lalai kita temukan adalah untuk membuka portal neraka. Dia bisa membuat manusia jadi abu dalam sekali lihat, itu karena dia meminjam kekuatan iblisnya. Sebelumnya dia tidak melakukan itu. Dia tidak bisa. Untuk bisa melakukannya, dia pasti memberikan ganjaran yang setimpal. Itu artinya, makin kuat Sir William kelihatannya, dia justru semakin lemah. Kita bisa memusnahkannya."


Rolan mengangguk mengerti. "Tapi dia akan pulih," katanya. "Jika ganjaran yang diberikannya adalah energinya, bukan nyawanya, energi akan pulih seiring waktu."


"Makanya kita harus pancing dia secepatnya," tukas Jose. Ini akan jadi pertandingan, pikirnya, apakah aku yang hancur duluan ketika memancingnya, atau dia yang musnah.


Ia mengeluarkan jam saku. Sekarang pukul sepuluh tiga puluh malam.


***

__ADS_1


-Domine, adiuva me: Tuhan tolonglah hamba. Dalam bahasa latin, Tuhan: Deus, tapi Jose sengaja menggunakan Domine: Tuan, diksi yang sama dengan yang digunakan perempuan di kisah Matius 15:25.


__ADS_2