
"Kupikir kalian pergi dengan kereta?" tanya Renata gelisah. Ia melihat sendiri bagaimana Marco jatuh. Kakak iparnya itu pasti sudah terbanting ke lantai seandainya Jose tidak sigap menangkap. "Kenapa pulangnya jalan kaki?"
"Kami pergi dengan kereta roda," Jose mengiyakan, "tapi kuda-kudanya hilang dan roda keretanya rusak ketika kami kembali. Bahkan pekerja yang kami tugaskan untuk menjaga kereta juga tidak ada."
"Mati?" tanya Jacob.
Jose tidak menjawab. Ia memijit pangkal hidung, kepalanya masih sakit dan ia merasa ingin muntah. Dengung aneh yang ia rasakan di hutan masih terus bergema jauh di dalam sana, di dalam kepala, meneriakkan kata-kata yang tidak bisa ia tangkap.
Mereka kini berkumpul di depan pintu kamar Marco, menunggu Rolan selesai membersihkan dan merawat luka-luka pria itu secara menyeluruh. Jacob melirik ke arah Jose yang masih menunduk memejamkan mata dengan kening bersandar pada kepalan tangan. Ia lebih tua empat tahun dari adik bungsunya itu, tapi merasa Jose tidak pernah bersikap hormat sebagaimana mestinya. Itu membuatnya kesal.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Jose?"
"Ya?"
"Seseorang sengaja menggunakan rumah ini sebagai umpan untuk memancing pengkhianat keluar. Kau tahu siapa orang itu, kan?"
Jose meringis. "Orang yang pintar, pastinya."
"Orang sepintar itu melindungi tamu yang malah mengacak-acak kamarnya?" ejek Jacob. Mereka mendekatkan kepala dan saling bicara dengan suara rendah agar tidak mengganggu Renata atau Lady Chantall; yang juga ikut menunggu bagaimana kabar terbaru mengenai kondisi Marco.
Bukannya kaget atau tersinggung dengan sindiran kakaknya, Jose justru menyunggingkan senyum kecil. "Dia mencari kalung?"
Jacob mengerutkan kening. "Kau tahu? Tunggu ... kau ... sengaja memeliharanya karena tahu dia akan menggeledah kamarmu?"
"Tidak persis begitu." Jose menatap sekitar dengan hati-hati dan berbisik lebih pelan, "Aku cuma skeptis dia benar-benar datang untuk minta perlindungan. Dia memang kelihatan ketakutan ... dan aneh. Kalau aku pergi, dia mungkin akan bergerak dan menunjukkan wujud aslinya. Begitulah menurutku," Jose melanjutkan dengan nada main-main, "dan kalau dia benar bergerak, aku percaya kau atau George pasti akan menangkap basah. Kita jadi tahu apa yang dia incar."
__ADS_1
Jacob tidak percaya. Ia yakin Jose tidak punya rencana apa pun soal Xavier dan hanya mencocokkan kesimpulan yang ada, berpura-pura segala hal tetap berada di bawah kendali karena tidak mau mengakui kekeliruannya. Ia hendak menanggapi, tetapi pintu di depan mereka sudah terayun ke dalam, membuka dalam celah sempit.
Rolan melangkah keluar dengan wajah kuyu dan berantakan. Bayangan hitam tampak jelas di bawah matanya. "Kolaps karena kelelahan, kekurangan darah, dan kurang tidur," lapornya pada semua orang. Ia mengusap kening dengan punggung tangan. "Dia juga sedikit demam karena luka-lukanya—dan karena kedinginan, kurasa. Tapi kondisinya cukup stabil, tidak ada yang perlu dicemaskan, dia masih sekuat banteng. Biarkan dia istirahat dulu."
"Aku boleh masuk?" tanya Jose. "Ada yang mau kubicarakan."
"Besok, Jose." Rolan menggeleng. "Ini sudah larut. Istirahatlah. Aku yang akan menjaga Marco."
"Kau juga istirahat, Rolly," sahut Renata tegas. "Aku yang akan menunggu Marco."
Rolan ingin menolak, tetapi kelopak matanya terasa begitu berat dan ia tidak ingin diributkan dengan pertanyaan-pertanyaan atau membahas misteri Bjork. Renata adalah pilihan tepat karena tenang dan cekatan, juga tahu kapan harus diam.
"Bangunkan aku langsung kalau ada apa-apa." Rolan mengalah. Ia membuka pintu, mempersilakan kakak perempuannya masuk.
Renata tidak segera beranjak. Wanita itu berbalik pada Lady Chantall, yang berdiri diam dengan wajah cemas di antara mereka. "Milady," tegurnya lembut. "Marquis Argent sudah berada di tangan yang tepat, Anda tidak perlu cemas. Saya sudah menyiapkan kamar untuk Anda malam ini, silakan." Tangannya terulur ke samping dengan anggun, dan Lady Chantall tidak punya pilihan selain mengangguk sopan dan mengikuti Margie yang membimbingnya ke kamar tamu.
George mengiyakan dan segera turun ke lantai satu setelah memastikan kembali pada Rolan apa saja yang diperlukan dokter itu ketika ia kembali nanti. Rolan hanya minta minuman panas.
"Kalian sudah bekerja dengan baik, Sayang," Renata memeluk kedua putranya bergantian. "Istirahat. Tidurlah sekarang. Kita akan bicara lagi besok pagi, setelah kepala masing-masing terasa lebih segar."
Baik Jose maupun Jacob hanya mengangguk dalam diam. Renata masuk ke dalam kamar diikuti Rolan, yang memberi peringatan pada keduanya untuk tidak bertindak sembrono. "Bersikap yang tenang! Pokoknya aku tidak mau ada lagi yang hilang!" katanya sebelum menutup pintu.
Begitu pintu menutup, Jacob menggeret bahu Jose dan melayangkan tinju ke rahangnya.
Dalam kekagetannya, Jose sempat menghindar sehingga serangan itu tidak telak. Namun tetap saja pukulan itu masuk dengan suara keras. Kepalanya sampai pusing.
__ADS_1
"Itu," kata Jacob sambil menunjuk marah, "sebagai peringatan untukmu, karena berani membuatku jadi pion permainan!"
Ada rasa asin yang amis di lidah Jose. Ia tidak pernah kena pukul duluan selama ini. Selalu ia yang pertama memukul. Hal yang Jose banggakan pada dirinya adalah kecepatan reaksinya baik dalam lari atau menghindar, karena itu hantaman yang ia terima barusan terasa lebih menghina daripada sakit. Darah menggelegak panas sampai ke kepala. Ia mengusap bibirnya yang kebas dengan punggung tangan, lalu balas melancarkan pukulan ke arah perut. Jacob menangkap pergelangan tangannya dengan gampang dan baru menyunggingkan senyum mengejek ketika Jose lanjut menumbukkan kepala mereka dengan keras.
Jacob mundur beberapa langkah sambil menyumpah-nyumpah. Hidungnya berdarah.
"Itu," kata Jose sambil balas menunjuk. Keningnya sendiri juga berdenyut sakit, tapi ia tidak mau menunjukkannya. "Sebagai balasan untukmu karena selalu sok ikut campur!"
"Sok ikut campur? Ini juga rumahku!"
"Yang kau tinggalkan sepuluh tahun lalu!" tukas Jose cepat. "Kau muak dengan segala peraturan Paman! Kau, Juan, Jeffrey, kalian semua tidak tahan dan kabur, melimpahkan segalanya padaku. Lalu waktu pulang dan melihat apa yang kau tinggalkan, kau jadi menyesal. Kau cuma cemburu, Jake!"
Jacob menerjang, mencengkeram dan menggeret kerah baju Jose untuk melemparnya ke dinding, tetapi Jose menendang tulang keringnya hingga mereka berdua terjungkal jatuh bersama. Kemudian keduanya berguling di lantai, saling balas sepak dan tinju.
Keributan itu terdengar sampai ke dalam kamar. Renata hendak bangkit, tetapi Rolan mencegahnya.
"Biarkan saja, biarkan saja," kata dokter itu sambil melambai dari balik selimut. Ia tidur di salah satu sofa panjang di kamar untuk berjaga-jaga kalau kondisi Marco berubah gawat. "Mereka cuma anak-anak. Biar saja pukul-pukulan sampai babak belur. Apa pun boleh deh asal mereka tidak hilang. Aku sudah capek mencari Argent yang ini atau yang itu atau yang manapun."
Kedua pemuda itu baru berhenti saat mendengar suara tapak kaki George. Baik Jose maupun Jacob segera memisahkan diri dan bangkit, lalu mengelap darah dan merapikan baju serta rambut mereka, pura-pura segalanya baik-baik saja. George tidak akan bersikap tidak sopan melihat mereka bergumul di lantai, tetapi dua orang tuan bertingkah seperti anak kecil jelas bukan pemandangan yang ingin mereka pamerkan pada pelayan.
George menyapa mereka dengan sopan tanpa bertanya sedikit pun mengenai kondisi keduanya yang lebam-lebam, lalu masuk ke dalam kamar Marco dengan membawa minuman hangat bagi Rolan dan Renata. Begitu keluar dan mendapati kedua tuannya masih berdiri kaku di depan pintu, George segera ingat apa yang sempat terlupakan.
"Tuan Hastings masih di bawah tanah, Tuan," katanya takzim. "Saya sudah memanggil dokter tadi sore untuk merawat jemarinya. Tapi apa Tuan Hastings akan dibiarkan bermalam di bawah sana?"
"Xavier di bawah tanah?" Jose mengerutkan kening. Ia menatap Jacob yang matanya lebam merah di sebelah kiri. "Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Jacob mendengus. "Menyelamatkan kamarmu."
***