BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 199


__ADS_3

Mereka berdua hanyut dan terpisah. Ketika senja mulai pekat barulah Jose menemukan pamannya. Rolan berjalan terseok melintasi hutan tanpa alas kaki. Pakaiannya sudah dilepas, ia kini hanya mengenakan tunik putih dan celana pendek basah. Bibir pria itu membiru dan tubuhnya menggigil kedinginan. Jose berlari menghampiri. Di tangannya terdapat pakaian kering dan ia juga menggendong tas kulit hitam besar yang sepertinya muat mengisi satu ekor kambing dewasa.


"Kau selamat," kata Rolan gemetar. Ia masih memukul-mukul sisi kepalanya, mengeluarkan sisa air dari telinga. Bicara rasanya susah. Rahangnya kaku. Uap putih keluar dari bibirnya setiap kali ia membuka mulut. "Kau selamat. Ini memang kau atau aku melihat setan?"


"Apa setan akan membawa pakaian ganti? Neraka pasti mewah sekali. Aku bawa pakaian kering, tapi tidak ada sepatu. Ikat kemeja ini saja untuk jadi alas kaki." Jose berlutut di tanah, mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam tas. Ia mengangkat wajah, menatap Rolan yang masih membeku di tempat. "Paman?"


"Kau kembali ke Utara?"


"Tidak. Kenapa bertanya—oh, tas ini? Ganti dulu saja, aku akan cerita selagi Paman berpakaian."


Rolan mengangguk patuh. Lagi pula ia benar-benar kedinginan. Rasa dingin membakar lebih panas dari nyala api, membuatnya kesakitan di mana-mana. Telapaknya sakit karena berjalan tanpa alas dan tubuhnya memar karena beberapa kali terpeleset lumut dan akar.


Mereka mencari tempat yang nyaman untuk bernaung. Sambil mengumpulkan ranting kering yang berserakan untuk membuat api, Jose memulai, "Aku sudah cerita bahwa aku bertemu dengan entitas yang purba ketika tenggelam di sini, kan? Entitas yang ... mirip dewa, kurasa. Sejak saat itu kupikir mungkin nantinya aku akan perlu meloncat ke sungai lagi untuk menyelamatkan diri." Ia selesai menumpuk ranting dan menyalakan api menggunakan pemantik. Sebentar saja udara sudah lebih hangat di sekitar mereka. "Dan jika itu terjadi, aku tidak mau berjalan-jalan di hutan dengan pakaian basah kuyup. Orang-orang Selatan tidak mungkin bisa diandalkan karena kita sama-sama tahu ada banyak dari mereka yang juga anggota sekte Scholomance. Jadi aku menyiapkan tas berisi pakaian ganti dan ransum sebagai persediaan darurat."


"Dan kau tidak memberitahuku atau Marco soal ini?"


Jose hanya tertawa. Ia mengusap rambutnya yang masih lembap basah. "Kita sekarang di tengah hutan. Tidak ada kabut aneh muncul sejak tadi, berarti Scholomance tidak membuat golem lagi. Kita bisa tenang."


Rolan duduk di atas batang pohon mati, di samping Jose, mulai merasa hangat setelah mengenakan berlapis-lapis pakaian kering dan mantel tebal. Ukuran tubuhnya tidak jauh beda dari Jose, jadi ia bisa mengenakan pakaian keponakannya itu. Ada banyak yang ingin ditanyakannya pada Jose, tapi satu yang paling penting, “Apa aman kalau kita kembali ke Utara?"


Jose mengangkat bahu. "Aku belum mencoba, jadi tidak tahu. Sejak tadi aku masih berkeliaran di hutan mencari Paman."


"Tapi .... dia mati, kan? Kau menembaknya. Aku melihat dia jatuh."


"Mana mungkin mati?" Jose tertawa hambar. Ia mengeluarkan bungkusan roti dari dalam tas dan menyerahkan sekerat pada Rolan. Mereka menusuk roti itu pada sebatang dahan dan memanggangnya supaya empuk. Aroma wangi ragi melayang di sekitar mereka. "Dia cuma jatuh karena kaget. Iblisnya bahkan masih mengejar waktu kita lari."


“Jadi kita aman di sini?”


“Tidak juga. Untuk sementara, dia memang tidak bisa mengejar kita. Tapi aku tidak yakin gunung ini bisa bertahan lama.” Jose menoleh ke sekitar dengan sedih. “Orang-orang tidak percaya lagi pada dewa-dewa lama di Bjork sehingga mereka kehilangan kekuatannya.”


Rolan sebenarnya ingin mengomentari keanehan sistem kerja dewa semacam itu, tapi ia menutup mulutnya karena merasa akan kurang ajar kalau bersikap sinis pada entitas yang menolong mereka.


Ketegangan membuat gigi Rolan bergemeletuk. Matanya mengawasi sekitar dengan resah, masih merasa seolah diawasi. Benaknya masih dibayangi bentuk kepala kambing dan ayam yang muncul dari gulungan asap hitam. "Bagaimana kau bisa masuk ke sana?” bisiknya gemetar. “Sir William bilang dia mengunci Bjork dalam jarak dua puluh meter, jadi harusnya tidak ada yang bisa mendekat."

__ADS_1


"Mungkin karena kalungnya. Beberapa pekerja melapor bahwa mereka tidak bisa menemukan Pusat Arsip. Jadi aku mencoba ke sana dengan memakai talisman dan membawa senjata. Senapan itu dari Marsh, tapi hanya popornya saja yang perak. Kami sulit mencari peluru perak, harus memesan khusus." Jose meneruskan dengan muram, "Dan aku meninggalkannya di Utara."


Rolan menarik napas pelan-pelan, menghirup aroma dingin hutan dan spora dari beragam pakis di sekitar mereka. "Satu yang paling penting, Jose," katanya perlahan, meletakkan rotinya yang panas di atas daun. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan mencengkeram lutut. "Aku melihat kau melempar sesuatu ke langit waktu itu. Bentuknya berkilau. Kumohon jangan bilang kalau itu ...," Matanya menatap Jose dengan memelas.


Jose memperhatikan ranting-ranting yang meretih, tidak mau menatap Rolan. "Aku melempar talisman Arabella," katanya.


Rolan mengerang. "Idiot!" bentaknya. Sebelah kakinya mengentak tanah. "Benda itu adalah cincin Salomo! Kalung itu perantara sihir! Kau tahu bagaimana dalam cerita-cerita para penyihir punya tongkat sihir, kan? Kalung itu adalah tongkat sihir bagi Sir William! Dia memang solomonari dalam legenda, dan kau malah memberikan senjata itu padanya? Apa kau gila?"


“Itu pertanyaanku, Paman. Paman jalan-jalan sendirian tanpa pengawalan. Sudah gila, ya?”


“Itu dua masalah yang beda! Mana aku tahu dia bakal muncul di siang hari dan bikin kota membeku?! Tapi kau kan tahu bahwa kalung itu berharga!”


"Aku tidak punya pilihan.” Cahaya api unggun terpantul di mata hitam Jose, berkobar di sana. "Sejujurnya yang ingin kulakukan hanya menembak, tapi monster itu menyerang Paman."


"Kau bisa menembak iblisnya, bukan kalungnya!"


"Aku tidak yakin itu bakal berhasil!" Jose menoleh tajam. "Aku panik dan cuma cara itu yang terpikir olehku!"


"Lalu?! Sejak kapan Argent dilarang panik?"


"Mana aku tahu? Memangnya apa semboyan Argent?! Ketenangan kan?!"


"Tata krama dan sopan santun!" Roti yang dipanggang Jose terbakar gosong. Ia mencabutnya dari dahan dan melemparnya jauh-jauh sekuat tenaga. Makanan itu menghilang dalam semak. "Aku tadi panik dengan sopan dan penuh tata krama!" serunya jengkel. "Puas?!”


Bara api meretih, memotong mereka.


Keduanya diam untuk menata napas. Rolan menenggelamkan kepala di antara kedua lututnya yang ditekuk ke atas. Kepalanya berdenyut sakit karena kedinginan dan stress. Tadinya ia masih berpikir mereka bisa balas menggunakan mantra atau sihir apa pun untuk melawan dengan menggunakan talisman itu. Sekarang rencana tersebut jelas tidak mungkin dilakukan.


“Kau kurang dingin untuk ukuran Argent,” desahnya. “Harusnya kau tetap menembak, apa pun taruhannya. Kalung itu jauh lebih berharga … “


"Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi." Jose mengeluarkan sekerat roti lain yang masih baru, menusukkannya dengan kasar pada dahan kayu dan mulai memanggang. Suara letik kayu yang patah terbakar mengisi kesunyian di sela kalimatnya. "Higgins, Jack, Krip; aku gagal menyelamatkan orang-orang yang seharusnya bisa kulindungi. Tadi aku bisa saja menembak iblis itu, tapi bagaimana kalau itu tidak menghentikannya?" Ia menoleh, menatap Rolan dengan sorot menantang. "Kalau kepala yang satu kutembak, apa kepala yang lain tidak akan menyerang? Bagaimana kalau muncul kepala lain yang baru? Siapa yang bisa menjamin aku bisa menghentikan iblis itu dengan peluru sementara manusia yang jadi inangnya saja tidak mati? Yang bisa kulakukan hanya mengalihkan perhatian Sir William. Aku tidak punya pilihan."


Rolan mengusap wajahnya, mengerutkan dahi. "Dan sekarang dia mendapatkan kalungnya."

__ADS_1


"Yang berlubang," timpal Jose tak acuh. Ia membuka dan mengepalkan jemarinya, seperti masih merasakan talisman itu di sana. "Akomodasi mataku bagus. Aku menembak tepat pada ukiran sigil yang ada di sana. Talismannya terbuat dari emas murni, tanpa campuran. Benda sialan itu pasti rusak. Aku memang ingin mencoba menghancurkannya sejak lama, sekalian mencari tahu apa yang akan terjadi.”


“Itu kan pikiran bodoh.” Rolan mengerang lagi. "Benda itu bisa saja jadi senjata untuk kita. Lagi pula kalung itu memento pacarnya. Tindakanmu mungkin malah membuatnya tambah marah."


"Harga yang murah untuk nyawa Paman." Jose tersenyum, tidak terlihat menyesal sedikit pun.


Awalnya Rolan skeptis apakah Jose sedang menyindirnya. Ia termenung agak lama, kemudian menghela napas dalam isyarat menyerah. Kalau keponakannya memang sesinis itu, ia tidak mungkin selamat sekarang. "Andai aku perempuan, aku pasti sudah jatuh cinta padamu, Jose."


"Mmh, aku tidak tertarik menjalin hubungan inses."


"Dan untungnya aku bukan bibimu." Rolan menepuk singkat pundak Jose dan mengacak-acak rambut pemuda itu dengan sayang. "Kau lebih berguna dari sigil Gerald atau Hans. Anehnya, gambar itu tidak berguna. Mungkin hanya berguna kalau ditatokan." Ia menghela napas. "Terima kasih sudah menyelamatkanku, sungguh. Terima kasih."


“Tidak masalah asal jangan sering-sering. Aku sudah tidak punya lagi kalung untuk dilempar."


Rolan tertawa lirih. Sekujur tubuhnya masih gemetar karena kedinginan bercampur ngeri. "Bagaimana kau bisa tidak merasa takut, Jose?" bisiknya. Kakinya bahkan masih gemetaran dan lemas. Butuh waktu lama bagi Rolan untuk bisa sadar dari syok hebat yang mengguncangnya setelah terdampar di tepi sungai. Saat ia akhirnya bisa menguatkan diri, senja sudah memekat dan hari berubah gelap. Ia tidak mengerti bagaimana Jose bisa tetap berpikir jernih dan bersikap seolah hanya menghadapi preman pasar. Rolan bahkan hampir merasa malu pada dirinya sendiri karena ketenangan Jose menularinya. Padahal seharusnya ia yang harus bisa diandalkan, bukan malah sebaliknya.


"Aku takut," sahut Jose pendek, matanya menekuri tekstur roti panggang yang sudah keemasan. "Bahkan memikirkannya pun masih membuatku merasa ngeri. Tapi aku melihat hal yang lebih mengerikan ketika tenggelam di sungai itu, Paman." Pundaknya bergetar menggigil. Jose memejamkan mata, keningnya berkerut seperti menahan sakit. "Iblis itu ... tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala yang sudah kulihat."


Rolan ingin bertanya apa yang sudah dilihat Jose, tapi ia tidak tega. "Setidaknya sekarang kita tahu bahwa senjata api tidak akan membunuhnya. Marco harus tahu ini. Kita harus kembali ke Utara secepatnya. Kalau pagi dan malam tidak ada bedanya, lebih baik kita kembali sekarang. Makin cepat makin baik."


Jose mengangguk. "Makan dulu," katanya sambil mengeluarkan kalengan sosis dari dalam tas. "Kita tidak akan bisa melakukan apa-apa kalau lapar."


Begitu kaleng sosis dibuka dan Rolan mencium aromanya, ia baru sadar bahwa Jose benar. Perutnya lapar.


"Aku ingin kau camkan sesuatu, Jose," Rolan tiba-tiba ingat satu hal penting. Ia menarik satu sosis basah dari dalam kaleng dan mengunyahnya.


"Ya?"


"Kalau kita dalam kondisi genting dan lariku lebih lambat darimu, lebih baik kau kabur saja tinggalkan aku." Rolan menatap serius. Angin dingin berbisik di sela pepohonan, menimpalinya dengan bunyi riuh seperti hujan. "Lebih baik aku ditinggalkan daripada didorong-dorong dan ditarik seperti anak kucing," tandasnya.


Jose tergelak.


***

__ADS_1


__ADS_2