
Suka main-main? Maria merasa harus mengoreksinya sekarang. Akhir-akhir ini raut wajah Jose kelihatan serius, bahkan menjurus ke sikap dingin. Memang, ada yang lucu pada cara Jose menanggapi “cerita hantu” Nolan. Lelaki itu tidak kelihatan seperti sedang berbasa-basi atau cuma sekadar menyenangkan orang lain. Lagi pula, apa yang dibilangnya tadi? Jose membutuhkan keterangan Nolan? Keterangan soal apa?
Jose mengamati wajah Nolan baik-baik. Ia sama sekali tidak meragukan kebenaran cerita Nolan. Tidak mungkin anak itu berbohong. Tidak ada motifnya. Nolan adalah gadis berani yang menjelajahi Bjork bagian utara pada malam hari yang berbahaya hanya untuk mengembalikan sebuah kalung. Bahkan setelah diikat pada tiang kayu dan ditampar, anak itu tidak membencinya. Jose tahu jelas, orang semacam itu bukanlah tipe orang yang senang mempermainkan orang lain dengan cerita bohong.
Tapi, apa makhluk yang dilihat Nolan sama dengan yang masuk ke rumahnya? Apa sama dengan yang mereka lihat di sungai? Khusus untuk hal ini, Jose merasa bisa memastikannya dengan akurat.
“Mau ke rumahku?” Ia menawarkan. “Ada sesuatu yang mau kutanyakan padamu sebenarnya.”
Maria membeliak mendengar tawaran itu. Tidak biasa! Lebih dari segalanya, di atas semua ketidakbiasaan yang pernah dilakukan Jose, ini yang paling ekstrim. Marco sering menyodorkan banyak perempuan sebagai calon pasangan untuk Jose, dan semuanya cantik-cantik serta berpendidikan tinggi. Namun tidak ada satu pun yang dilirik oleh pemuda itu. Bahkan Jose hampir tidak pernah kelihatan jalan bersama dengan perempuan selain Maria, hal yang membuat gadis itu jadi merasa sedikit spesial, meski hubungan mereka memang tidak pernah lebih dari sekadar teman.
Keduanya biasa menghabiskan waktu luang bersama dan menceritakan berbagai macam hal, dari yang remeh temeh semacam kenapa kaki seribu tidak benar-benar memiliki seribu kaki sampai dengan bahasan kemisteriusan orang hilang di Bjork.
Melihat Jose kini bicara dengan akrab dengan gadis lain, bahkan sampai mengajaknya datang ke rumah, Maria merasa kesal. Sesuatu yang panas memeletik kecil dalam hatinya.
“Kau akan mengajaknya ke rumah?” tanyanya tanpa pikir panjang.
Jose menoleh. “Ya,” ucapnya. “Kenapa?”
“Tidak apa." Maria menggeleng, menahan lidahnya sendiri. Ia harusnya tidak boleh merasa kesal. Untuk apa kesal pada anak perempuan tengil yang gayanya mirip lelaki tengil? Maria menekan rasa kesalnya kuat-kuat. “Tidak apa-apa, sih. Cuma memastikan saja, kau akan membawanya yang berpakaian seperti itu?”
“Kenapa pakaianku?” tukas Nolan tersinggung.
Itu reaksi yang sudah diduga oleh Maria. Baru sebentar bertemu dengan Nolan sudah membuatnya tahu bagaimana karakteristik anak itu. Sifat tidak mau kalah itulah yang akan dimanfaatkan olehnya.
“Pakaianmu tidak pantas. Terlalu dekil! Kau tahu siapa keluarga Argent, kan? Jangankan kota ini, bahkan seluruh kerajaan ini pun pasti tahu nama itu!”
__ADS_1
“Eh, kurasa itu berlebihan,” ucap Jose heran. Nama Argent mungkin dikenal di beberapa kota tetangga yang melakukan jalinan kerja sama dengan pamannya, tetapi Jose ragu sampai dikenal secara nasional.
“Tidak, itu tidak berlebihan.” Maria melambai kesal, tiba-tiba bersemangat untuk membuat Nolan menyadari di mana tempatnya dalam masyarakat. “Keluarga Argent adalah keluarga yang berpengaruh di sini. Gelandangan tidak seharusnya diizinkan keluar masuk sembarangan.”
“Aku bukan gelandangan!” Nolan menjerit, menarik perhatian semua orang pada mereka.
“Sikapmu seperti gelandangan.” Maria mendengus. “Dan pakaianmu juga. Dan wajahmu.” Sekarang, dia berpaling pada Jose. “Kalau kau membawanya pulang ke rumahmu, entah untuk alasan apa pun, Paman Marco pasti akan sangat marah.”
“Dia memang selalu marah.” Jose mengangkat bahu dengan senyum jenaka menempel di bibirnya. “Aku sampai merasa itu adalah salah satu hobinya.”
Maria tertawa sambil mendorong bahu kawannya main-main. “Dasar bodoh. Lalu, kau mau membuat anak ini dimarahi juga?”
Jose menoleh pada Nolan. Maria ada benarnya. Kalau Marco sampai melihat Nolan di rumahnya, yang akan terjadi selanjutnya sudah jelas dan gampang ditebak. Pria itu akan marah, melontarkan sindiran, mengusir Nolan. Kemungkinannya, Nolan juga akan balas mengamuk dan menimbulkan keributan.
Itu dua situasi yang sepertinya tidak akan bisa dihindari. Jose memasang wajah susah. Ia benar-benar ingin menunjukkan berkas yang didapatnya dari Marco tempo hari. Mungkin ia dan Nolan bisa memulai diskusi dari sana. Tetapi dengan penampilan Nolan yang sekarang, bahkan kepala pelayan pun tidak akan bisa ditipu kalau Jose mengatakan anak itu hendak melamar jadi pelayan.
Jose mengangkat wajah, curiga melihat senyum di bibir kawannya. Itu adalah jenis senyum misterius yang hanya dikeluarkan Maria kalau gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang nakal. Tetapi hal nakal apa yang bisa diselipkan dalam sebuah bantuan?
“Bagaimana caranya?” Jose bertanya, merasa tidak ada salahnya untuk mencari tahu lebih dulu.
“Kalau anak ini tidak pantas, tinggal jadikan pantas saja.”
“Maksudnya?” Kali ini Nolan yang angkat suara. Ia tidak merasa dirinya tidak pantas, dan pembicaraan soal kepantasan yang keluar dari bibir gadis manis yang kelihatan kaya sama sekali tidak kedengaran menyenangkan baginya. Ia merasa curiga.
“Paman Marco akan sangat keberatan melihat seseorang yang seperti gelandangan datang ke rumahnya, mengotori lantainya,” Maria memulai, mengusap telapak tangannya dengan gembira. “Tapi dia tidak akan berkomentar apa-apa kalau yang datang adalah orang yang rapi dan bersih.”
__ADS_1
“Maksudnya?” Nolan masih tidak paham.
Namun Jose paham. Dia juga akhirnya memahami makna dari senyuman Maria. “Kau mau balas dendam karena teman belanjamu kuusir pergi?” tanyanya, menahan tawa.
“Ooh, akhirnya kau mau mengaku bahwa tadi memang mengusir Lady Lidya?”
“Tidak, tidak, aku cuma meminjam istilahmu saja, kok.”
Maria tertawa, tetapi Nolan tidak. Anak itu benar-benar tidak menangkap apa yang sedang dibicarakan dua orang di depannya. “Apa orang kaya selalu bicara dengan bahasa yang menyebalkan? Berat sekali, ya, menerangkan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang kelihatan seperti gelandangan?”
“Pertanyaanmu panjang sekali, sebaiknya jangan lupa bernapas kalau bicara,” Maria menukas sinis. Sedetik kemudian, dia segera mengubah raut wajahnya jadi kembali manis. Kedua tangannya ditepuk ringan ke depan. “Jadi begini, kau ingin datang ke rumah Tuan Argent tidak?”
“Aku sudah pernah datang ke rumah Jose!” Nolan menukas pedas, mengabaikan cara Maria mengajarinya bicara.
“Baiklah, kuralat, kau ingin datang 'lagi' ke rumahnya atau tidak?”
“Aku 'tidak ingin.” Nolan melotot. “Tapi dia mengundangku! Kenapa, sih?”
Maria menggertakkan gigi dengan kesal, sementara Jose hanya senyum.
“Kenapa? Cuacanya kan cerah, aku jadi senang,” kilah lelaki itu ketika mendapat lontaran sorot memarahi dari Maria.
“Oke, baiklah. Aku ikuti jalan pikiranmu, deh.” Maria menghela napas kesal. Belum pernah ia menghadapi orang semenyebalkan Nolan. Bahkan Lady Lidya mulai terasa lebih baik dibandingkan dengan Nolan. “Aku akan bicara menggunakan bahasamu. Kau mau memenuhi undangannya atau bersikap seperti orang udik?”
“Aku memang akan ke sana, tidak peduli kau bilang apa.”
__ADS_1
***