BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 191


__ADS_3

Rolan ingin mendesak Jose lebih jauh agar mendekati Maria, tapi kemudian segera mengingatkan diri sendiri bahwa itu bukan urusannya. Lagi pula prioritas mereka saat ini adalah melewati gerhana dengan selamat.


"Marco ingin membunuh Sir William dengan cara biasa," ujarnya. "Dengan menggunakan senjata api."


Jose mengangguk. "Aku tahu. Paman akan menyewanya dari pasar gelap, kan?"


Rolan menggeleng. "Lord Greyland bisa meminjamkan pada kita, dia barusan menghubungi. Saat ini orang-orangnya sedang melakukan pengecekan senjata untuk kita, mereka akan datang ke sini secepat mungkin."


"Paling cepat berarti besok pagi." Jose merenggangkan otot-otot lehernya, masih kelihatan setengah mengantuk. "Paman kelihatannya tidak senang."


"Apa dia bisa dibunuh semudah itu? Rencana ini cuma bisa digunakan satu kali, pada satu kesempatan. Kalau kita salah ..."


"Maka matilah kita."


Jose mengucapkan kalimat itu dengan nada kelewat tenang sehingga Rolan jadi curiga. "Apa yang mau kau lakukan, Jose?" tanyanya. "Apa rencanamu?"


"Lho, masa belum tahu? Kupikir kemarin Paman mencuri dengar waktu aku sedang bicara dengan teman-temanku?"


"Aku tidak mencuri dengar," Rolan menyahut masam. Ia menoyor kening keponakannya. "Kau sengaja membuka sedikit pintunya. Kau tahu aku pasti langsung datang begitu kau pulang. Kesimpulannya adalah kau memang menungguku, kancil sialan."


Jose tertawa. "Aku membuka pintunya agar Paman masuk, bukan menempel dan mendengarkan dari luar."


"Kalian sedang serius, aku tidak mau mengganggu." Rolan mengerutkan kening ketika melihat Jose bergerak bangkit. "Mau ke mana?"


"Ganti pakaian, aku mau keluar sebentar."


Rolan ikut bangkit. Ia bermaksud memukul lagi kepala Jose sampai pingsan atau menyuntiknya sekalian dengan obat penenang. Marco dan Jose hanya kebal dengan obat-obatan yang diminum, jadi yang disuntikkan pasti akan berhasil. Ia baru mempertimbangkan mau menggunakan metode yang mana ketika menyadari cara Jose menatapnya. Mata hitam itu menyorot dingin, memperingatkan, seolah mengumumkan bahwa Jose akan membunuh siapa pun yang menyentuhnya meski hanya seujung jari.

__ADS_1


"Aku berhasil meyakinkan Renata bahwa kau mimisan karena hawa dingin," tutur Rolan. Ia sebenarnya yakin kakak perempuannya itu tidak percaya. Renata hanya mengalah untuk sementara saja tadi. "Tapi bukan itu kan sebab aslinya? Tidak ada tanda benturan di kepalamu. Semalam jendelamu tertutup rapat dan perapianmu tidak mati, jadi alasanmu jelas cuma karangan." Rolan menempelkan telunjuknya di dada Jose. "Kalau kau penasaran, aku tahu semua itu karena mengecekmu secara berkala! Tiap empat jam sekali! Tahu kenapa? Karena takut kau akan pergi tengah malam melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu!"


"Aku tidak akan apa-apa," kata Jose hati-hati, suaranya meyakinkan. Namun Rolan tidak terkesan. Ia tahu semua Argent sanggup membuat diri mereka kelihatan atau kedengaran meyakinkan kalau mau—bahkan meski diri mereka sebenarnya sedang tidak yakin.


"Kau berdarah-darah, Jose. Dan itu jelas apa-apa. Kalau kau sampai terluka—"


"Banyak yang akan repot, aku tahu," potong Jose. Ia melepas syal rajutnya, melempar benda itu dengan kasar hingga tersangkut di kap lampu meja, lalu berjalan ke lemari pakaiannya di balik partisi pemisah ranjang. Ia mengeluarkan satu jas dari sana dan melemparnya ke tempat tidur, kemudian memilih vest dan dasi dengan sekenanya. "Paman tahu apa yang dikatakan orang lain tentangku di belakang?" tanyanya ketika melepas sweater. Ia menoleh, memberi satu senyum tawar. "Spare. Jose 'Spare' Argent."


Rolan diam di tempatnya, di belakang meja kopi. Spare Argent. Argent cadangan. Ia juga sudah mendengar julukan itu. Tidak jelas siapa yang memulai, tapi orang-orang mulai menyebut Jose sebagai cadangan Marco sejak pemuda itu muncul secara resmi sebagai representatif Marco di beberapa kesempatan. Itu julukan yang diberikan dengan maksud menghina, mereka menertawakan Jose yang mereka anggap adalah ban serep Keluarga Argent. Bukan Tuan Tanah, tidak akan menjadi Lord, tapi selalu kena getah.


"Aku tidak keberatan," kata Jose sambil memilih kemejanya yang berwarna biru pucat. "Pada kenyataannya, aku memang seorang pengganti. Cadangan kalau Paman tidak bisa melakukan sesuatu. Aku tahu kenapa Paman Marco melakukan semua ini, kenapa dia berusaha sekeras mungkin menjadikan Bjork lebih modern, lebih terbuka. Paman sudah memberi tahu apa tujuannya padaku sejak lama. Mungkin karena aku sangat patuh, dia merasa berutang penjelasan."


Jose selesai mengenakan jas dan mengancingkan mansetnya. "Aku sendiri tidak keberatan menjalani semua latihan darinya. Jadi julukan semacam itu tidak terlalu kupikirkan." Tatapannya melunak ketika meneruskan, "Meski begitu, aku ingin Paman ingat bahwa aku tetaplah aku. Aku Jose Argent. Aku punya kehidupanku sendiri, nyawaku sendiri, tanggungan serta tujuanku sendiri yang berbeda dari Paman Marco." Ia menggeleng pada Rolan. "Aku bukan boneka yang bisa disimpan dan dikeluarkan sesuka hati."


"Aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai boneka," sergah Rolan kaget.


"Aku menahanmu di sini karena mencemaskan keselamatanmu, Jose."


"Karena Paman khawatir kalau aku terluka maka tidak akan ada cadangan lagi untuk mengatur tukang pukul di Bjork." Jose tertawa kering. "Karena mereka hanya patuh pada dua orang: Paman Marco atau aku."


"Krip mati!" Rolan bergegas ke pintu kamar dan bersandar di sana, mencegah Jose membukanya. Ia memperhatikan raut keponakannya baik-baik, bersyukur ketika melihat ekspresi manusiawi muncul di sana. "Mayatnya kering. Persis seperti Higgins. Dia mati di tempat lain, tapi diletakkan di depan pintu rumah ini. George yang menemukannya. Kemungkinannya dia dibunuh kemarin malam, pada saat pulang dari Pusat Arsip. Sir William membunuhnya. Itu peringatan darinya. Ancaman!"


"Pusat Arsip?" Jose mengerutkan kening. "Apa yang dia cari?"


"Para pekerja sudah diutus untuk mencari tahu soal itu." Rolan mencengkeram gagang pintu erat-erat, berjaga-jaga kalau Jose menyerobot mendadak. "Sekarang tahu kenapa aku mencegahmu keluar, kan? Aku memikirkan keselamatanmu!"


"Keluarganya sudah diberi tahu?" Jose mengabaikan pembelaan diri barusan. "Bagaimana santunannya? Pemakamannya? Paman Marco sudah mengurusnya?"

__ADS_1


"Kurasa dia tidak sempat memikirkan itu." Rolan sendiri juga tidak sempat memikirkannya. Semua hal datang bertubi-tubi hingga ia merasa tak ada waktu cukup bahkan untuk menarik napas. "Keluarganya belum diberi tahu apa-apa."


"Aku yang akan mengurusnya. Dia datang ke rumah ini di bawah lindunganku, dia ada dalam tanggung jawabku. Paman Marco pasti akan setuju. Di mana mayatnya? Ruang perawatan?"


Rolan mengangguk.


"Aku akan ke sana. Sendirian." Jose menatap Rolan dengan sorot tak bisa dibantah. "Tenang saja, aku tidak jadi pergi. Setidaknya sampai Clearwater atau Marsh datang."


"Aku akan mengantarmu," Rolan bersikeras. Ia tidak mau ambil risiko Jose meloncat keluar dari jendela dan melakukan hal berbahaya.


Jose menggeleng. "Ini rumahku," katanya dingin. "Aku tahu di mana ruang perawatan tanpa perlu diantar. Permisi, Paman. Beri. Aku. Jalan."


Rolan masih bertahan selama hampir semenit, kemudian mendesah kalah. Ia membuka pintu dan membiarkan Jose berjalan keluar.


***


Begitu turun ke lantai satu dan memastikan sendiri bahwa yang terbaring di atas kasur ruang perawatan memang benar Krip, Jose jatuh berlutut di lantai, kepalanya ditundukkan dalam-dalam, berusaha fokus menatap celah pada lantai kayu parkit. Kedua tangannya di atas ranjang, menggenggam tangan kisut Krip yang tinggal tulang berbalut kulit tipis.


Jose memejamkan mata rapat-rapat, menahan keinginan untuk meraung keras atau memukul sesuatu. Ia baru tahu kesedihan bisa menyakitinya secara fisik. Tenggorokannya seperti tersangkut kail tajam yang menyakitkan dan napasnya mulai tersengal.


Jose mengangkat kepala. Ia menatap kulit putih pucat dalam genggamannya, lalu kembali menundukkan wajah.


Ia teringat tong beras tempatnya biasa duduk bercerita. Krip biasa mendengarkan sambil melak koin dalam mesin kasir. Aroma kue jahe seakan tercium samar di ruang rawat. Tidak akan ada lagi yang memanggilnya Tuan Kecil dengan suara membahana di toko itu.


Pertama Higgins, sekarang kau. Aku harusnya bisa melindungi kalian lebih baik.


Air matanya menetes jatuh ke lantai kayu.

__ADS_1


***


__ADS_2