BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 205


__ADS_3

George datang tak lama setelah Renata pergi. Sang kepala pelayan belum tidur semenit pun karena kesibukan di rumah itu sejak kemarin, tapi wajahnya tetap sesegar dan selempeng biasa.


"Gerald dan Hans masih menata titik patrol para pekerja," lapornya sambil membantu Marco berbenah lebih rapi. Ia sendiri yang menggosok sepatu pria itu hingga mengilap setiap pagi. Kepuasannya adalah saat melihat semua tuannya tampil seelegan nama keluarga mereka. "Mereka menunggu dipanggil."


"Apa Robert menghubungi?"


"Inspektur Robert belum menelepon, Tuan. Tapi saya dengar dari seorang pembisik bahwa polisi patroli sudah dikerahkan."


Marco mengangguk, bertanya-tanya sendiri apakah Robert terlibat dalam masalah ini. Mayat-mayat bangkit. Kalau bukan ulah Sir William, maka pasti Scholomance yang ada di balik peristiwa ini. Masalahnya sekarang adalah publik jadi tahu bahwa teror orang hilang yang menyelimuti Bjork memang bernuansa mistis alih-alih kriminal. Terkuaknya masalah ini ke publik berarti istana juga harus mendapat pemberitahuan secara resmi. Ia harus pergi ke Aston untuk menghadap.


Atau Jose yang akan pergi, pikirnya.


Tapi seberapa banyak yang harus diungkap ke publik dan berapa yang harus disimpan di dalam gelap? Menarik garis batas antara keduanya selalu menyusahkan.


"Suruh Stuart tetap pasang mata dan telinga, aku ingin tahu apa sumber masalah lebih cepat dari orang lain," kata Marco, kini sudah berpakaian rapi dan resmi untuk berjaga-jaga pada kemungkinan harus memanggil orang lain ke rumahnya. Baju tidur jelas tidak akan membuatnya kelihatan berwibawa. Ia menyapukan pandangan ke sekitar, baru sadar ada yang hilang. "Di mana Jeanne?"


"Lady Chantall ada di kamarnya, Tuan. Apa perlu saya panggil sekarang?"


"Biarkan saja. Suruh Gerald dan Hans menghadap."


George membungkuk dengan hormat, kemudian segera bergegas pergi. Tak sampai sepuluh menit setelah kepergiannya, pintu kamar kembali terayun membuka dan Lady Chantall berjalan masuk membawa buku catatan bersampul kulit. Rambut ikal wanita itu masih tergerai bebas, tapi kali ini ia mengikat mantel tidurnya lebih rapat dan mengenakan gaun tidur di baliknya. Rumbai gaun itu bersulam emas, mencapai setengah betis.


"Aku barusan menghubungi orang-orangku," Lady Chantall berkata dengan mata berkilat penuh semangat begitu sampai di ruang duduk kamar. Ia memilih tempat persis di sisi Marco, di sofa panjang yang sama. Bahu mereka bersentuhan. "Kita bisa memanfaatkan momen ini dan membuat Scholomance jadi kambing hitam. Sekte sesat dan mayat berjalan, dua hal yang cocok kan? Hubbert akan lebih mudah diyakinkan untuk beralih pandangan. Mengingat bahwa tulisannya populer di kalangan rakyat jelata, jadi akan lebih gampang buat kita mengeksekusi rencana lain yang berkaitan dengan Spencer dan Hastings. Kau sejak kemarin tanya soal Hubbert, kan? Sebenarnya aku sudah memancingnya ke Selatan siang tadi. Jadi harusnya sekarang dia ada di sana dan pasti menyaksikan bagaimana mayat-mayat itu berjalan—itu kalau dia masih hidup."

__ADS_1


"Itu bagus." Marco mengangguk, puas karena Lady Chantall sudah langsung menangkap apa yang sebaiknya dilakukan tanpa perlu menunggu petunjuk. Sejak dulu Keluarga Chantall memang selalu berjalan dua langkah lebih cepat dalam membantu Argent.


"Nah, kejadian ini benar-benar membuatku sibuk. Aku memaksa banyak pihak mengganti berita utama mereka. Hal yang sebenarnya mustahil karena mereka pasti sudah selesai mengatur huruf dan siap cetak," sambil terus mencerocos, Lady Chantall menggoreskan pena ke buku catatannya. "Aku baru menghubungi beberapa orang seperti Albert dari harian Bjork da Albion lalu Nyonya Brown dari The Gazette. Setidaknya satu berita harus dibuat! Kalaupun tidak sempat disisipkan dalam koran, kita bisa buat satu halaman lepasan, halaman spesial, untuk diselipkan pada koran dan—" Ia berhenti, matanya menatap Marco heran. "Apa?"


"Tidak, teruskan saja." Marco tersenyum.


"Tidak, tidak. Kau menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu. Apa? Aku ingin tahu." Lady Chantall sempat waswas, tapi hatinya menghangat melihat reaksi Marco barusan.


"Bukan hal penting. Ketika George bilang kau kembali ke kamarmu, kupikir itu karena kejadian barusan membuatmu murung."


"Barusan?" Lady Chantall menelengkan kepala tak mengerti, tapi kemudian segera menangkap bahwa yang dimaksud Marco adalah teguran Renata. "Oh. Itu."


"Kuharap dia tidak membuatmu sedih. Renata tidak bermaksud buruk."


Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara.


Tepat pada saat Marco mengira Lady Chantall sedang menangis, wanita itu segera mengangkat wajah dan memamerkan kerlingan nakal. "Tapi lalu aku ingat bagaimana caramu menciumku. Aku ingat apa yang kita lakukan seharian ini," bisiknya sambil meraih tangan Marco dan menggenggamnya dengan hangat. Mata hijaunya berkilau riang. "Dan itu yang membuatku bersemangat lagi. Kau kan tidak mungkin melakukannya kalau tidak menyukaiku, dan meski aku sangat-sangat-saaangat ingin keluargamu menyukaiku ... aku sadar bahwa pendapat mereka tidak sepenting itu bagiku." Ia mendekatkan wajah tiba-tiba dan mencuri satu kecupan di bibir, lalu terkikik kecil karena berhasil. "Yang paling penting buatku cuma pendapatmu," katanya sambil menyusurkan ujung jari pelan-pelan di dada pria itu. Kelopak matanya mengerjap cepat. "Dan omong-omong, kalau dia mengadu soal pakaian, aku harus memberi klarifikasi bahwa setelanku normal! Aku memang sedikit berantakan malam ini, tadi, tapi pakaianku biasa saja sejak kemarin. Bukan salahku punya tubuh erotis! Kalau adikmu yang kau sayang-sayang itu menganggap kurva tubuhku tidak sopan, suruh saja dia protes pada ibuku karena menurunkan gen—"


"Aku tidak punya keluhan apa pun, Jeanne," sela Marco, tahu bahwa wanita itu sebenarnya masih sedih. "Aku juga tidak akan mengatur caramu berpakaian. Itu hakmu."


"Oh ya?" Lady Chantall menaruh ujung dagu di bahu Marco. Mata hijaunya bercahaya. "Setahuku kau biasanya menghakimi orang dari cara mereka berpakaian."


"Memang, tapi itu tetap tidak mengubah fakta bahwa cara orang lain berpakaian adalah hak mereka sepenuhnya. Bukan tempatku untuk mengatur mereka."

__ADS_1


Senyum tertoreh dalam cara yang paling manis di wajah Lady Chantall, membuatnya kelihatan sepolos gadis dua belas tahun yang diberi hadiah Natal. "Aku sangat mencintaimu," bisiknya lembut. Untuk sesaat tidak ada yang bisa ia pikirkan selain kalimat itu serta perasaan bahagia karena diterima oleh pria yang ia cintai. "Aku mau diatur olehmu. Kalau kau yang meminta, aku akan mengubah caraku berpakaian."


"Aku suka caramu berpakaian."


Senyum polos tadi berubah lengkung jadi lebih mesra. Lady Chantall mendekatkan bibirnya dan berbisik sensual, "Kalau caraku menanggalkan pakaian? Kau juga suka?"


Marco menanggapi dengan satu ciuman panas, yang segera dilepas ketika mendengar pintu diketuk sopan dari luar. Lady Chantall melepas pelukannya dan bergeser sedikit, kembali sibuk dengan buku catatannya dan memasang raut dingin yang kalem meski tidak terlalu berhasil karena kedua pipinya masih merona dalam semburat merah.


Gerald dan Hans masuk begitu dipersilakan. Mereka melapor bahwa keamanan manor sudah ditingkatkan dan para pekerja bersiap menunggu perintah selanjutnya.


"Bagus. Sekarang pergilah ke Selatan, jemput Jose dan Rolan," titah Marco. "Bawa senjata. Aku ingin melihat satu mayat yang sedang berulah itu, jadi tangkap satu kalau sempat. Tapi prioritas utama kalian adalah menemukan Jose dan Rolan, apa pun risikonya. Aku tak peduli meski kalian harus menyisir hutan sampai matahari terbit. Aku mau mereka kembali dalam keadaan utuh dan selamat!"


Baik Gerald maupun Hans menerima perintah itu dengan penuh semangat. Mereka memang sudah gelisah sejak Jose dikabarkan menghilang dan ingin segera melakukan pencarian.


Begitu kedua orang itu pergi, Lady Chantall mengangkat wajah dari catatannya dan bertanya, "Selatan? Kau yakin mereka di sana?"


"Mayat-mayat hidup itu pergi serentak ke Selatan, kan?" tukas Marco. Ia menyandarkan punggung ke sofa, menatap langit-langit kamar yang berukir pola Damaskus. "Aku ikut mengurus Jose sejak dia masih bayi dan membawanya pergi ke banyak tempat untuk menempanya. Ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Jose sejak dulu. Kapan pun dia mendadak hilang, aku pasti akan selalu menemukannya di tempat atau situasi yang paling berbahaya. Selalu."


Lady Chantall menempelkan ujung pena ke bawah bibirnya, kelihatan heran. "Dia memang tipe orang yang selalu mencari bahaya?"


"Sebaliknya," sahut Marco dalam nada heran yang sama. Ia menoleh dan mengangkat bahu. "Bahaya selalu mencari Jose."


***

__ADS_1


__ADS_2