
Maria tertegun. Senyumnya memudar. Ia tidak bisa mengatakan apa pun selama beberapa detik pertama. Pernyataan Jose barusan seperti tusukan jarum tipis di jantungnya. "Apa? Pergi ke mana? Mau apa?"
"Bekerja," Jose menjawab dengan ringan seolah perpisahan mereka bukan hal berat baginya. "Aku akan mengurus daerah perdikan Argent di Cantana, membuktikan pada paman dan ayahku kalau aku bisa mengelola tanah kami, sekalian meluaskan jaringan dagangku sendiri."
"Bukannya kau selalu menghindar setiap kali diminta? Kenapa tiba-tiba?" Maria berhenti. Napasnya tercekat. "Apa ... aku melakukan kesalahan? Kau marah padaku?"
"Tidak! Tentu saja tidak! Kenapa jadi marah padamu?"
"Habisnya ini terlalu tiba-tiba!" Maria merasa kepalanya jadi sakit. Napasnya mulai berat, tapi ia mencoba tetap tenang, berharap Jose cuma bercanda. "Apa yang kau cari? Uang? Tidak mungkin. Uangmu berlimpah, aku juga tidak miskin. Kita sama-sama sudah punya segalanya. Kalau cuma pekerjaan, kau juga sudah punya. Pacuan kuda di Redstone adalah milikmu."
"Cuma satu," sahut Jose. Matanya menatap malu. "Itu tempat kecil dan aku mengurusnya sambil main-main, tidak secara serius seperti Adrian. Aku ingin serius mulai sekarang."
"Kita baru saja bersama, semua masalah sudah selesai, lalu kau tiba-tiba ingin pergi mengurus hal yang sebelumnya selalu kau hindari?" Maria tertawa getir. Ini tidak masuk akal baginya. Ia takut kecemasannya terjadi: Jose berubah pikiran. "Bukankah kau selalu bilang bahwa kau ingin hidup sesantai angin pagi? Makanya kau punya usaha-usaha kecil yang menghasilkan uang pasif."
Jose menarik tangan Maria, mengajaknya berjalan ke balkon. Mereka bisa melihat rumah kaca dan taman samping dari sana. Aroma lavender tercium samar-samar ditiup angin. "Aku perlu membangun reputasiku," jelasnya, masih sambil menggenggam kedua tangan gadis itu, "supaya ketika aku datang untuk mengulurkan tangan padamu secara resmi, kau tidak akan merasa malu memperkenalkanku."
"Maksudmu?" Maria mengerutkan kening, menghalau helai rambut yang terbang ke wajahnya. "Kenapa aku harus malu?"
"Kau lupa aku cuma orang biasa sementara kau ini Lady?" Nada suara Jose melantun pahit. "Status kita tidak sama. Aku cuma rakyat jelata."
"Kau bukan orang biasa," Maria menyanggah. "Kau pahlawan kota ini! Semua orang melihat bagaimana kau melenyapkan mayat hidup, lalu iblis itu, lalu Sir William! Kau ambruk semalam, jadi pasti tidak tahu ... " Ia berhenti untuk menarik napas. Pipinya merona ketika melanjutkan, "Tapi aku tahu. Aku melihat bagaimana perempuan-perempuan menatapmu dengan pandangan kepengin ketika kau dibawa lewat. Bahkan pustakawati menyebalkan itu membicarakanmu seolah dia sangat dekat denganmu!"
"Pustakawati? Maksudmu Nina?"
"Ya, itu dia!" nada suara Maria meninggi. Ia menarik sebelah tangan Jose dan meremasnya lembut, seolah takut lelaki itu akan pergi sekarang juga. "Kenapa kau selalu merendahkan diri? Aku tidak peduli meski kau anak keempat atau anak ketujuh—"
"Ayahmu peduli," potong Jose. Matanya dialihkan ke arah rumah kaca. "Masyarakat peduli. Dan aku juga peduli. Aku tidak mau kau dipandang sebelah mata karena bersamaku."
"Siapa yang berani menatap sebelah mata pada seorang Argent?!" Maria mengejar cepat. "Kau bilang pada ayahku bahwa meski begitu banyak lord datang melamarku, tetap kau yang akan menang karena aku pasti memilihmu, kan? Ke mana keyakinan diri itu?"
Jose membuka mulut untuk bicara, tapi kemudian berhenti. Sebelah alisnya naik agak tinggi. "Dari mana kau tahu? Kau dengar aku kemarin?"
"Ayah yang cerita." Maria menapak satu langkah lebih dekat dan menyandarkan kening di dada Jose. Detak jantung lelaki itu menjalar padanya, membuatnya bernapas dalam irama yang sama. "Dia menceritakannya pada semua orang semalam seakan membanggakan putranya sendiri. Setengah bangsawan di kota ini sudah tahu kau melamarku. Besok pagi seluruh Bjork pasti sudah tahu. Ayah menyukai keberanian dan kejujuranmu. Ibu juga. Kau kan tahu ibuku selalu berusaha menjodohkan kita. Kau menyelamatkan kota ini. Apa yang membuatmu merasa kau tidak pantas bersamaku? Aku ... aku juga ..." Maria mengangkat wajah, berusaha menahan agar suaranya tidak kedengaran terlalu putus asa, tapi mustahil. "Aku mencintaimu, jadi jangan tinggalkan aku."
"Aku bukan mau meninggalkanmu ..." Jose menyelipkan helai-helai rambut Maria yang diterbangkan angin ke belakang telinga. "Maksudku tadi cuma pergi sebentar untuk belajar, bukan selamanya. Mungkin satu tahun. Dua atau tiga tahun, paling lama. Aku mengerti sekarang kenapa kakak-kakakku pergi. Jika tetap di sini, aku akan tetap berada di bawah bayangan Paman Marco yang besar. Aku akan tetap menjadi ... spare." Ketika mengatakan itu, ekspresinya berubah muram. "Aku tidak keberatan dengan olok-olok itu awalnya, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kau juga terkena efeknya. Aku ... ingin menjadi seseorang yang pantas untukmu."
"Siapa sih yang bilang kau tidak pantas untukku? Sebutkan namanya, biar kuberi pelajaran panjang tentang kepantasan!"
"Tidak ada, Mary," sahut Jose sabar. "Ini keputusanku sendiri."
"Memangnya kau tidak takut aku akan melupakanmu kalau kau pergi?" Sulur-sulur kepanikan menjerat Maria, membuatnya marah dan kecewa. Ini tidak mungkin, tapi ia merasa Jose seperti sedang membikin-bikin alasan untuk menolaknya. "Kau tidak takut akan ada pria lain yang datang merayuku? Aku putri satu-satunya keluarga Garnet! Banyak lord datang merayu dan melamarku!"
"Aku percaya padamu," sahut Jose tenang. Ia menelengkan kepala dengan heran, mulai menangkap arti kecemasan gadis itu. "Tunggu ... itu yang kau cemaskan? Kau takut aku tergoda perempuan lain? Aku?"
"Aku percaya padamu, Jose. Tapi aku tidak percaya pada orang lain." Maria menyilangkan kedua tangannya di dada. Kini giliran ia yang membuang pandangan ke taman. Pipinya memanas. "Kau terlalu baik. Bagaimana kalau ada perempuan jahat memanfaatkanmu? Bagaimana kalau kau dijebak?" Ia mengangkat wajah menatap langit, mencegah air matanya jatuh. "Banyak cerita tentang perempuan kampungan mengincar lelaki-lelaki bangsawan lengah, menjebak hingga punya anak dengan mereka. Kebanyakan perempuan itu diberi uang banyak untuk tutup mulut atau dijadikan gundik. Tapi kau tidak sejahat itu, jadi kau pasti akan memilih bersama perempuan itu karena merasa bertanggung-jawab. Aku tidak mau itu terjadi. Aku. Tidak. Mau. Kalau kau pergi, aku juga ikut," tandasnya.
__ADS_1
Awalnya Jose hanya bisa menganga tanpa sanggup mengatakan apa pun mendengar skenario Maria. Kemudian tawanya meledak. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya sakit, sampai ia perlu bersandar pada langkan balkon agar tidak jatuh. "Siapa yang mau menjebakku seperti itu? Dengan cara bagaimana?" tanyanya masih sambil tertawa histeris, tidak tersinggung sama sekali. "Kau pikir aku senaif apa sampai bisa dijebak menikahi orang lain?"
Maria mengepalkan kedua tangannya dengan jengkel. "Itu mungkin saja terjadi! Kau tidak lihat sih bagaimana perempuan-perempuan semalam menatapmu dengan vulgar! Semuanya seperti serigala kelaparan! Liur mereka menetes-netes!"
"Kau berlebihan, tapi justru karena itu aku perlu membebaskan diri dari nama Paman Mar—"
"Mereka bukan mengincar nama keluargamu!" Maria menyela frustrasi. Susah sekali menyadarkan Jose bahwa dirinya memang menarik. Jose tumbuh terlalu lama di bawah cerita hebat tentang paman, ayah, dan kakak-kakaknya; di bawah bayang-bayang kebesaran nama keluarganya, sehingga setiap perhatian yang datang selalu dianggap oleh Jose sebagai konsekuensi menyandang nama Argent alih-alih karena dirinya pribadi.
Jose tersenyum samar. Ia menyentuh bahu Maria dan menundukkan kepala tiba-tiba, menyapukan bibirnya pada bibir Maria dalam satu kecupan lembut. "Aku tidak akan melirik perempuan lain," katanya tegas. "Aku cuma pergi untuk ... yah, katakan saja untuk membesarkan nama. Aku ingin dikenal sebagai aku, bukan karena paman atau ayahku."
"Jose ... " Maria menyentuh kedua lengan Jose, masih berusaha membujuk. Jantungnya berdegup kencang, ia tidak tahu apakah itu karena kecupan barusan atau karena takut. Maria benar-benar tidak ingin ditinggalkan, tidak sekarang, tidak saat ia sudah sadar bahwa ia sangat menyayangi lelaki itu.
Jose balas menatap dengan lembut. "Kau sangat cantik Mary," bisiknya. "Sangat cerdas, pemberani, teguh, sangat berharga untukku. Kadang aku berharap kau tidak perlu sesempurna ini agar tidak punya banyak saingan."
"Omong kosong. Aku biasa saja." Maria menelan rasa cemas. Air matanya siap tumpah. Ini dia yang ia takutkan. Ia takut Jose akan menggunakan rayuan manis untuk menjauhkan diri.
"Aku serius. Kau memang benar, akan ada banyak lord datang melamarmu seperti biasa. Kau satu-satunya putri Marquis Garnet, bahkan meski ayahmu menyukaiku, tentu saja urusannya akan beda kalau menyangkut status." Jose menundukkan kepala, menyandarkan keningnya pada kening Maria. Mata lelaki itu memejam.
Maria menahan napas. Hatinya dipenuhi keresahan sekaligus harapan.
"Kau sempurna. Aku tidak mau jadi satu-satunya kelemahanmu, Mary. Aku ingin kau bisa berdiri di sisiku tanpa seorang pun bisa mengkritikmu," lanjut Jose. Kelopak matanya terbuka, menampakkan tatapan lekat yang teguh. "Begitu aku punya namaku sendiri—setidaknya minimal harus sama dengan Jacob, aku pasti akan kembali padamu. Eh tidak, aku akan tetap kembali setiap musim, sih. Aku juga akan mengirimimu surat dan meneleponmu sampai tagihan listrikmu membengkak. Kau bisa yakin itu."
Kelegaan menjalar di seluruh tubuh Maria, membuat bahunya melemas dan rasa sakit lenyap dari kepalanya. Jose bukan ingin menghindarinya atau berpisah darinya. Kesadaran itu membuat Maria merasa begitu bahagia hingga ingin menangis. Ini pertama kalinya ia merasa ingin hidup bersama seorang lelaki selamanya, menghabiskan seumur hidupnya dengan orang itu. Ia tidak ingin Jose pergi. Maria tahu kalau ia memohon sedikit lebih keras lagi sambil menangis, Jose tidak akan tega meninggalkannya. Namun ia tidak mau melakukan itu. Mata Jose menyorot penuh tekad, ini adalah masalah harga diri baginya. Lagi pula, para pria punya jalan mereka sendiri yang sebaiknya tidak dihalangi.
Maria menghela napas, menatap dari balik bulu matanya yang panjang. "Begitu punya nama, kau akan langsung kembali untukku?"
"Asal kau bawa oleh-oleh."
Jose tertawa. "Aku akan membelikan cincin seperti yang kau inginkan: dengan intan lima karat, hiasan hati melingkar-lingkar di sekelilingnya, ada batu ruby dan safir yang sebiru matamu."
Itu jenis cincin pernikahan yang diimpikan Maria waktu masih berumur dua belas tahun. "Sekarang aku tidak mau yang seperti itu," katanya malu-malu. "Aku mau yang sederhana, dengan nama kita terukir di sisinya."
"Anggap saja sudah dikabulkan, Putri." Jose melepas pelukannya untuk memandang Maria lebih jelas. Mata biru safir itu menatap pasrah, jenis tatapan yang membuatnya tidak bisa bernapas, seperti ada yang meninjunya tepat di ulu hati hingga ia kesulitan menghirup udara. Mereka sudah sama-sama tahu ke mana ujung hubungan ini, tapi Jose tetap ingin menegaskannya. Namun tidak di kamar ini. Tidak di hari ini. Ia ingin melakukannya dengan lebih mewah, lebih manis, mungkin setelah membelikan cincin seperti yang diinginkan Maria. Jadi meskipun ia benar-benar ingin meminta Maria menikah dengannya, Jose memendam kalimat itu dalam-dalam, menyimpannya untuk lain waktu. "Aku sangat mencintaimu," bisiknya lembut. Hanya itu yang bisa ia katakan sekarang. Tangannya menyibak rambut ikal Maria, menahan tengkuk gadis itu di tempat selagi menundukkan kepala, membisikkan kata cinta sekali lagi sebelum menyatukan bibir mereka.
Maria sudah memejamkan mata dengan kesiapan penuh. Kedua tangannya melingkar di leher Jose. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut, perlahan, menikmati setiap sentuhan dan sesapan tanpa buru-buru. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi sensasinya masih selalu baru bagi Maria. Tubuh mereka merapat panas, saling menekan, jantung berdenyut bersahut-sahutan, kemudian ada getaran listrik ketika ciuman itu berubah lebih panas dan dalam, lebih posesif, seperti kobaran api yang melahap setiap benda di dekatnya. Maria mendengar seseorang mengerang lemah. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa itu adalah suaranya sendiri. Ketika bibir mereka akhirnya berpisah dengan lembut, Maria menyembunyikan wajah di pelukan Jose. Napasnya tersengal. Lututnya lemas hingga ia perlu berpegangan erat pada lengan Jose untuk mempertahankan keseimbangan.
"Aku juga mencintaimu, Jose," bisiknya. "Jangan pergi terlalu lama."
Jose mendaratkan ciuman sekali lagi sebagai jawaban.
***
Gerhana matahari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Dalam kelelahan sekaligus harapan, semua orang bersiaga dan menunggu.
Sir William memang sudah lenyap, mereka juga bisa merasakan udara Bjork berubah lebih jernih setelah iblis yang mencengkeram kota itu musnah, tapi siapa tahu ada trik lain.
__ADS_1
Jose berada di luar, bersama Edgar, Marco, dan seluruh pekerja Bjork, juga prajurit bersenjata dari Clearwater, Marsh, serta Greyland. Polisi patroli menyebar di seluruh Bjork.
Rolan diminta berada di dalam manor untuk menjaga keluarga Garnet dan para wanita serta pelayan. Mereka semua memandangi langit dari balik jendela kaca manor yang dilindungi vitrase, di salah satu kamar sayap timur di lantai dua yang kacanya masih utuh.
"Bagaimana kondisimu?" Rolan menoleh pada Maria, memastikan suaranya pelan agar tak terdengar Albert maupun Winona Garnet. "Kau masih pusing atau mau muntah?"
Maria menggeleng pelan. "Aku tidak merasakan apa-apa, Dokter. Sedikit sakit otot, tapi cuma itu."
Rolan masih menatap Maria dengan kritis, tapi kemudian hanya mengangguk. "Baguslah kalau begitu," gumamnya. "Kupikir Arabella masih di dalammu."
Arabella sudah menghilang, Maria bisa merasakannya. Setelah serpihan jiwa gadis itu menghilang dari dirinya, kini ia benar-benar bisa merasakan tubuhnya seutuhnya. Seluruhnya. Seolah ada ruang-ruang kosong di sudut jiwanya yang bisa ia genapi. Ia tidak lagi merasa ada sesuatu yang asing menyesaki dirinya. Ia tidak merasa sakit melihat sinar matahari. Ia juga tidak merasa mual.
Matanya menatap ke luar jendela, memandangi Jose yang sedang mengamati gerhana matahari dari bak kayu berdiameter empat kaki berisi air yang diletakkan di halaman.
"Flora." Maria mendadak ingat nama itu. Ia bergidik sedikit ketika membayangkan kembali bunyi tembakan dan rasa panas darah yang menciprat padanya. Matanya bergeser ke arah Lady Chantall yang berdiri di samping Nolan. Ia berjalan menghampiri wanita itu. "Milady," sapanya. "Mengenai pembukaan dapur umum yang direncanakan Flora. Apa Anda tahu bagaimana kelanjutan acara itu?"
Lady Chantall mengangguk singkat. "Acaranya ditunda karena Flora meninggal dalam keributan semalam." Mata hijau wanita itu menatap penuh makna. "Dia meninggal karena peluru nyasar polisi patroli."
Maria tersenyum menyadari Lady Chantall mengiranya sedang memastikan apa sebab kematian Flora yang akan diberitakan pada umum. "Dan acaranya, milady? Dia akan mengadakan acara melihat gerhana setelah misa."
"Ah, itu." Lady Chantall tertawa dan mengibaskan tangan. "Tentu saja tidak akan ada acara selain pemakaman. Kau tidak perlu mencemaskan para tamu undangan."
"Wow! Bentuknya sudah jadi cincin!" seru Nolan keras, membuat semua orang menoleh sekilas pada gadis itu sebelum mengembalikan pandangan ke depan, ke arah kegelapan di luar.
Lingkaran itu berwarna oranye, seperti lingkaran api yang menggantung di langit.
Jangan ada iblis lagi, kumohon ... Maria menautkan kedua tangannya di depan dada, berdoa dengan penuh kesungguhan.
Lady Chantall tidak memandangi gerhana. Matanya justru fokus menatap Marco, mencemaskan pria itu. Kalau sampai ada iblis turun lagi, ia tidak mau diseret pergi seperti yang dialaminya kemarin. Ia ingin berada di sisi Marco.
Nolan memandangi dengan mulut terbuka dan mata biru berkilat-kilat. Ini pertama kalinya ia melihat gerhana matahari cincin—meski tidak terlalu jelas karena dihalangi vintrase.
Hanya Renata yang tetap tenang. Ia menatap ke luar, kelihatan seolah sedang menikmati gerhana, tapi mata cokelatnya dengan awas memperhatikan sekitar. Kepalanya membuat reka adegan apa yang akan dilakukannya kalau terjadi hal buruk. Yang pertama harus diselamatkan jelas tamu-tamunya. Renata tahu tanggung jawabnya sebagai nyonya rumah. Para pria di luar pasti akan melindungi jalan masuk ke rumah, jadi mereka akan aman selama beberapa menit pertama. Kecuali kalau rumah mereka dihantam shelédbolis seperti semalam.
Marco dan Jose tak kalah tegang di luar. Mereka berusaha tetap tenang, meski sebenarnya sangat letih dan ingin tidur. Greyland sudah memecah pasukannya dan meminta semuanya menyebar sejak gerhananya mencapai puncak. Jika ada yang menemukan keanehan, mereka akan memberi tanda dengan suar.
Jose memasang telinga, menunggu dengan jantung berdegup kencang. Meski banyak orang berkumpul, tidak ada yang berani bicara di luar. Semua orang menajamkan indera mereka semaksimal mungkin, menunggu tanda, mencari suara atau bentuk mencurigakan.
Namun bahkan setelah tujuh menit berlalu dan hari perlahan kembali jadi terang, tak ada suar dibunyikan. Tak ada awan gelap mengerikan muncul di langit.
Mereka saling pandang dengan heran. Senyum demi senyum terbit perlahan. Kemudian entah siapa yang memulai, semua orang jadi bersorak dan berpelukan.
"Kita benar-benar berhasil, Ayah?" Jose menoleh pada Edgar, yang memberinya satu senyum lebar dan rangkulan sayang.
"Semuanya sudah selesai, Kak!" Edgar berseru gembira.
__ADS_1
Marco mengangguk. "Semuanya sudah selesai."
***