BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 98


__ADS_3

Ada tubuh-tubuh mati.


Nolan hampir muntah saat melihat tubuh-tubuh yang sudah menggembung itu. Ia merasa mengenali salah satunya. Meski bentuknya sudah banyak berubah, Nolan masih ingat anak itu. Salah satu pelayan di rumah keluarga Argent. Anak muda yang mengantarkan pakaian ganti padanya. Jack.


Apa-apaan ini sebenarnya? Nolan menekan kedua tangan pada mulut, mencegah agar dirinya tidak melontarkan jeritan. Matanya panas. Tenggorokannya tercekik. Ia ingin muntah, menjerit, sekaligus menangis di saat bersamaan.


Kini ia berada jauh di dalam hutan lindung. Di depannya ada banyak mayat.


Tubuh-tubuh ditelentangkan di atas tanah, membentuk formasi tertentu. Kemudian tiga orang pria di dalam hutan menyalakan lilin yang berwarna hitam. Ketiganya merentangkan tangan ke arah langit, kemudian berteriak-teriak kompak dalam bahasa yang aneh. Makin lama makin keras. Makin cepat dan keras. Rapalan itu berlangsung selama hampir lima belas menit, sampai mereka hampir menjerit. Nolan heran kenapa ia tidak pernah mendengar suara gema jeritan semacam ini.


Setelah menatap lagi ke sekeliling, Nolan baru sadar bahwa penyebabnya pasti pepohonan yang tumbuh merapat di sekitarnya. Daun-daun dan batang pohon mencegah suara itu sampai ke luar.


Bersamaan dengan jeritan yang merupa jadi pekikan panjang, tubuh-tubuh mati yang tersebar di tanah kini berkedut-kedut, seperti jantung yang hidup. Kemudian semuanya merayap seperti ulat berkumpul menuju titik tengah, dan lumer.


Benar-benar lumer.


Nolan melihatnya seperti cokelat yang meleleh karena panas. Ia menahan napas. Angin dingin menyusup melewati benang-benang pakaian, membuatnya menggigil.


Tubuh-tubuh yang menggembung dan berkedut itu kini meletup jadi satu, membentuk gumpalan tinggi besar yang berwarna hitam dan menyebarkan bau gosong yang aneh. Baunya seperti aroma asap yang timbul setelah memadamkan nyala pada lilin.


Itulah kelahiran Hantu Hitam yang akhir-akhir ini kerap dilihat Nolan. Gadis itu menelan ludah. Kakinya gemetaran dan lututnya terasa lemas. Punggungnya seperti disiram dengan air es. Rasa mulas menyergapnya dalam belitan yang kuat.


Ia melihat, dari sekujur tubuh sosok hitam menjijikan yang bangkit terhuyung itu, keluar asap berwarna putih yang meliuk-liuk. Hantu Hitam itu seperti menguap, tapi di saat yang bersaman wujudnya jadi makin nyata.


Sekarang Nolan menyadari dari mana munculnya kabut aneh yang selalu menyelimuti Bjork bagian selatan. Orang-orang di depannya lah dalangnya. Pembuatan si Hantu Hitam.


Kesadaran itu membuat Nolan merasa sangat marah. Jantungnya berdegup ngeri, tetapi kepalanya panas. Tangannya yang gemetaran meraih ke belakang punggung, menyentuh gagang pisau dapur yang ia selipkan di sana.

__ADS_1


Sebelum pergi, tentu saja ia sempat mengambil senjata. Sebuah pisau besar yang dibungkus koran agar tidak melukai kulit punggungnya.


Namun membuka kertas koran yang melapisi pisaunya ternyata tidak gampang. Suara kertas yang bergesekan membuat bunyi nyaring di hutan yang sepi.


Nolan berhenti bergerak karena kaget pada suara yang ia timbulkan sendiri. Suasana mendadak jadi sangat hening. Suhu anjlok hingga Nolan merasa ujung-ujung jarinya membeku. Seluruh tubuhnya kaku. Punggungnya disengat rasa dingin yang luar biasa, dan tungkainya seperti berubah jadi agar-agar. Udara panas yang busuk menerpa tengkuknya, membuat leher Nolan berputar secara otomatis.


Makhluk itu sudah ada di sampingnya.


Hantu bungkuk bermata kopong dan berwajah meleleh. Kulitnya meletup-letup seperti bubur mendidih, mengeluarkan asap putih susu yang berbau lemak terbakar. Mulut makhluk itu hanya terdiri dari bolongan bergigi jarang. Seluruh tubuh Nolan bergetar tanpa kendali. Ia tidak bisa bergerak. Yang bisa ia dengar di telinga hanya suara degup jantungnya sendiri yamg mendentum bertalu-talu. Nolan membuka mulut untuk berteriak, tetapi yang keluar hanya suara tercekik.


Tepat pada saat tangan Hantu Hitam itu bergerak hendak mencengkeram, terdengar suara letusan yang dahsyat. Suara kembang api yang meledak. Entah bagaimana, suara itu membuat makhluk di depannya terpelanting ke belakang.


Kemudian Nolan merasakan tangannya disentakkan dengan kasar ke samping hingga Nolan terhuyung dan terseok.


Bahunya sakit. Sendi tangannya sakit. Dan paru-parunya seperti terbakar. Nolan diseret kasar melintasi hutan dalam keadaan tersandung-sandung. Gadis itu baru saja hendak berteriak ketika menyadari bahwa ia ditarik menjauh dari tempatnya sembunyi barusan.


Sesuatu lagi-lagi menyergapnya dalam kengerian, membuat kepala Nolan seperti ditarik menoleh ke belakang. Hal yang kemudian disesalinya karena ia melihat itu.


Hantu itu.


Siluman itu.


Makhluk itu.


Monster itu.


Atau apa pun namanya, itu mengejar dari belakang. Kini bukan dengan dua kaki dan tubuh membungkuk seperti yang sudah pernah dilihatnya, melainkan menggunakan lutut dan siku, berlari kencang seperti anjing mengejar mangsa. Nolan melengkingkan jeritan ngeri, dan kehilangan seluruh tenaganya. Ia terjatuh lemas.

__ADS_1


Orang yang menariknya ikut berhenti, melihat juga ke belakang, dan menjulurkan tangan ke depan, melewati kepala Nolan.


Suara kembang api itu terdengar lagi, memekakkan telinga.


Tidak. Bukan kembang api.


Sekarang Nolan menyadarinya. Itu suara pistol.


Ia mengangkat wajah, melihat pada si penembak yang berdiri di sampingnya. Wajahnya melongo kaget ketika mengenali siapa orang yang sejak tadi menggeretnya berlari.


Itu Marco.


Pria tua itu menembak sekali lagi. Wajahnya setenang dan sedingin biasa, seolah yang dihadapinya hanya anak kurang ajar dalam gudang jerami.


"Bangkit sekarang! Atau kutembak kepalamu dan kuserahkan pada monster itu!" perintah Marco begitu mereka bertatapan.


Nolan berusaha bangkit, tetapi tubuhnya tidak mau menurut. Ia terjatuh lemas ke atas tanah.


Marco mendecak, tetapi cukup ngeri melihat bahwa monster hitam yang mengejar mereka ternyata tidak bisa mati. Makhluk itu justru merayap di tanah dengan cara yang sangat menjijikkan, menimbulkan suara menggeleser.


Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, Marco segera berlutut di samping Nolan, lalu melakukan hal yang sama dengan yang pernah dilakukan Jose. Ia menggendong gadis itu di punggung, dan membawa Nolan berlari meninggalkan hutan.


Nolan bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana pria setua Marco bisa menggendong orang lain dan berlari menyusuri medan yang terjal. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu hal. Ia tidak mau mati. Ia tidak mau ditangkap.


Nolan bisa mendengar derap langkah makhluk itu di belakangnya. Kemudian ada sesuatu yang dingin mencengkeram kerah bajunya. Nolan ditarik ke belakang. Ia menjerit. Marco mengumpat.


Kemudian, semuanya jadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2