
"Beberapa orang pindah ke sisi Hastings," lapor Jacob pada ayahnya malam itu. Untuk sementara mereka tinggal di salah satu rumah Argent di Aston. Greyland ada di manornya sendiri, tak jauh dari mereka. Prajurit upahannya berkeliaran menjaga kedua manor.
Jacob menghampiri ayahnya di belakang meja kerja dan menyerahkan secarik kertas. "Aku mendapat kisikan siapa saja namanya."
Edgar membaca sekilas nama-nama yang tertera, kemudian membakar catatan itu dengan api lilin di atas meja. "Ikan kecil," katanya, memperhatikan abu kertas pada tatakan lilin. "Sebanyak apa pun yang beralih, jika hanya ikan kecil tidak masalah. Yang perlu kita perhatikan adalah ikan besarnya. Belum ada yang bergerak, tapi sekali saja mereka memutuskan sesuatu, ribuan ikan kecil akan mengikuti."
Jacob mengangguk setuju. "Orang-orang menghubungiku," katanya. "Mereka memastikan kebenaran rumor hilangnya Paman Marco, sekalian memberi laporan. Aku mendengar apa yang diinginkan Spencer. Yang mereka tawarkan adalah akses. Jika mereka menggantikan kita di Bjork, lalu lintas keluar masuk barang di pelabuhan akan jadi milik mereka. Mereka akan melonggarkan pemeriksaan keluar melalui Bjork sebagai ganti jalan masuk ke Aston."
"Bukan hal baru. Memang itu yang sejak lama mereka inginkan." Edgar mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja. "Mereka ingin menyelundupkan sesuatu ke luar Bjork, ke seluruh Albion, tapi aku tidak tahu apa itu. Kami belum tahu. Marco sudah pernah melakukan penggeledahan ke gudang-gudang Charles, tapi tidak ada yang mencurigakan."
"Apa?" Jacob menaikkan alis. "Paman menggeledah gudang Hastings?" Ia terbahak. "Yah, pantas saja dia begitu dendam pada kita. Siapa pun akan mengamuk jika diperlakukan begitu."
"Marco memang ekstrem," desah Edgar. Namun nada suaranya selalu bangga setiap kali membicarakan kakaknya tersebut. "Charles Hastings memang bersikap mencurigakan waktu itu, jadi tindakannya beralasan. Ketika tidak ada apa pun yang ditemukan, aku bisa membuat alasan untuk berkelit. Tapi sayang sampai sekarang kami tetap tidak tahu apa yang mereka lakukan serta di mana mereka menyembunyikan apa pun yang ingin mereka selundupkan itu."
"Mungkin senjata?"
"Seharusnya bukan. Peredaran senjata diawasi ketat oleh Greyland. Kalau ada pasokan yang mencurigakan, dia pasti memberi tahu Marco."
"Spencer punya bisnis buah kalengan," Jacob berpikir. "Mungkin yang mereka selundupkan ada hubungannya dengan makanan?"
"Untuk apa menyelundupkan buah?"
__ADS_1
"Menghindari pajak?"
Edgar tertawa. "Aku tidak yakin memang itu yang mereka lakukan. Lagi pula separuh pabean ada di bawah sepatu Hastings. Kalau Spencer cuma ingin mengemplang pajak, rasanya tidak perlu melakukan ini."
Gagang pintu kamar bergerak dan kedua Argent dalam ruangan saling berpandangan dengan waspada. Edgar meraih revolver dari dalam laci, Jacob menyiapkan pedang rapiernya. Keduanya sama-sama menghela napas lega ketika Olivia muncul dari pintu yang membuka. Wanita itu mengenakan gaun malam berselimut mantel bulu musang. Rambut ikal pendeknya diikat rapat dalam gelung kecil dan dilapis jaring rambut berpita.
"Sayang," sapanya sambil mendekat, mengecup bibir Jacob sekilas, kemudian Olivia mengalihkan wajah pada Edgar. "Papa, kau akan senang melihat suvenir yang kubawa. Kalian akan senang," koreksinya riang.
"Suvenir apa? Kepala Hastings?" tebak Jacob, yang dibalas cubitan kecil di pinggang.
"Aku menghabiskan waktu seharian menemani istri-istri bangsawan di gedung teater." Olivia melepas mantel bulunya yang berat, dibantu oleh Jacob. "Terima kasih, Sayang. Mereka memberi tahu bahwa Flora Spencer sering datang berkunjung. Mereka tidak terlalu suka pada Flora yang kasar dan angkuh, tapi mereka suka produk yang diperkenalkan perempuan itu."
"Yang adalah ...?" Edgar menunjuk kursi di depan meja kerjanya, mempersilakan Olivia duduk.
"Apa ini? Teropong?" Edgar menyentuh silinder itu, mengamati permukaannya. "Kau mendapatkannya dari siapa?"
"Aku meminjamnya dari Countess Scouten."
"Meminjam?" Jacob terbahak. "Maksudmu mencopet?"
"Ah, itu kan cuma masalah perspektif," Olivia membalas ringan. Ia adalah putri seorang Earl, tapi perempuan tidak punya masa kecil yang mendebarkan di Albion. Tidak banyak yang bisa dilakukan putri bangsawan sebelum mereka diperkenalkan secara resmi pada publik, padahal Olivia bukan gadis yang suka berdiam diri. Ia selalu menyelinap keluar rumah dan menyamar menjadi orang biasa, juga berkawan dengan orang-orang jalanan. Dari jalan jugalah kecepatan tangannya diasah. Olivia senang menguji kemampuannya dengan mencopet jam tangan atau anting orang yang berpapasan dengannya. Itu dilakukannya selama dua tahun sampai Olivia tak sengaja bertemu Marco, pria yang begitu ia mencopet jam tangannya, segera membalas dengan menjegal kakinya hingga jatuh lalu menyeretnya tanpa ampun ke pinggir jalan. Andai Olivia tidak segera mengaku bahwa ia putri earl, tubuhnya pasti sudah dibenamkan ke dasar laut. Pengakuan itu adalah titik perubahan dalam hidupnya yang dulu membosankan.
__ADS_1
"Perhatikan bagian katupnya, Pa," Olivia memberi petunjuk, mengalihkan benaknya dari bayangan masa lalu. Ia sekarang seorang Argent, dan semua keahlian yang ia miliki akan digunakan untuk membantu keluarganya. Untuk Jacob.
Edgar mengikuti saran menantunya, melihat bahwa silinder itu punya tutup yang bisa diputar dengan mudah. Permukaan bagian dalam tabung dilapisi semacam resin transparan, tiga perempat bagian silinder diisi dengan bubuk putih kekuningan. "Gula?" tanyanya.
Jacob mengerutkan alis. Bulu kuduknya meremang. "Jangan dihirup, Ayah. Permisi, izinkan aku memeriksa." Ia menarik selembar kertas dari tumpukan folder, meletakkannya di tengah meja, kemudian menumpahkan isi tabung bambu yang diterimanya dari Edgar ke sana.
"Mereka menyebutnya Serbuk Mimpi," Olivia menjelaskan. "Menghirup sedikit akan membuat kepala jadi enteng dan lebih relaks. Kalau ditaburkan dalam minuman, tubuh jadi segar. Flora bilang ini populer di kalangan intelektual karena membantu mereka jadi lebih kreatif. Katanya semacam kopi Ottoman."
Jacob mencolek bubuk itu dan menjilatnya. "Serbuk Mimpi?" cemoohnya. "Serbuk Neraka rasanya lebih tepat. Ini bukan kopi, tapi kokaina. Ada campuran ammonia."
Edgar mengumpat. "Kokain! Tentu saja!" geramnya. "Harusnya aku bisa menebak! Hastings selalu mabuk, yang lebih muda itu! Marco memberantas mafia narkotik dan tidak mengizinkan barang sialan itu muncul. Bahkan opium untuk kedokteran pun diperketat, jadi aku tidak menyangka ..." Ia menggertakkan gigi. "Harusnya kami sudah menyangka."
"Ekornya tidak tertangkap selama ini karena dia bekerja sama dengan Spencer. Paman dan Ayah mencurigai Hastings, jadi hanya mengawasinya. Padahal barang ini disebar dengan tangan Spencer." Jacob merangkul Olivia dan mengusap bahu wanita itu dengan sayang sebagai bentuk terima kasih. "Mereka pikir mereka akan menang, karena itu bersikap ceroboh dan mulai menaikkan barang ini ke permukaan. Flora Spencer masih di sini, Sayang?"
Olivia menggeleng. "Dia sudah kembali ke Bjork, ada pembukaan dapur umum yang harus dia urus."
"Kemungkinannya barang ini dia sembunyikan di Selatan!" Edgar menukas. "Karena itu berulang kali dia menentang usul pembangunan Selatan. Mereka bisa mendatangkan serbuk ini dari Timur karena sebagian pabean dipegang Hastings, tapi mereka kesulitan mengeluarkannya dari Bjork karena aliansi dagang ada di bawah Marco dan mata Argent ada di tiap penjuru. Rolan berpikir Marco hanya asal-asalan waktu bilang ada motif ekonomi di balik semua kisah hantu ini, tapi dia benar. Lagi-lagi Marco benar!"
Jacob tersenyum kecil. "Aku bisa mengurus ini, tapi Ayah pasti lebih suka mencekik lehernya dengan tangan Ayah sendiri. Kita panggil Greyland?"
Edgar menghela napas. "Sama seperti kita mengawasi mereka, mereka juga mengawasi kita dengan ketat. Yang mereka awasi jelas Greyland. Kalau dia bergerak, semua orang akan tahu bahwa kita melakukan sesuatu dan akan kabur." Ia menatap serbuk putih di atas meja dengan jijik. "Mengurus mereka harus dilakukan dengan hati-hati. Kita tidak hanya bicara soal satu lawan satu, tapi soal rantai dalam aliansi dagang. Satu perubahan bisa menimbulkan pergolakan yang berpengaruh pada banyak hal ... tapi ini? Ini tidak bisa dimaafkan!" Ia menoleh pada putranya. "Kau kuizinkan bergerak, Jake. Cari karavan-karavan Spencer dan hancurkan. Charles Hastings adalah urusanku. Malam ini kita bergerak!"
__ADS_1
***