BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 226


__ADS_3

Maria hanya ditemani satu pekerja Argent yang bernama Pete, satu pelayan keluarga Garnet, serta Susan. Ia memindahkan senjatanya ke balik kantung tersembunyi dalam lengan mantel bulu, mempersiapkannya agar mudah diraih. Ini bukan masalah, pikirnya, rencana hanya dipercepat. Bukan masalah.


Dengung menyakitkan melintas di dalam kepala Maria, membuatnya tercekat sakit. Sesuatu jauh dalam dirinya memberontak, memaksanya untuk minggir. Maria tahu apa sesuatu itu. Ia melawan sekuat tenaga. Dalam waktu singkat keningnya dipenuhi titik keringat.


"Nona?" Susan memanggil cemas.


"Tidak apa," bisik Maria cepat. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan bunyi ruwet dalam kepalanya. "Korsetku ... agak sesak. Itu saja."


"Saya akan melonggarkannya begitu kita sampai di Selatan," bisik Susan.


"Tidak perlu, Sue." Maria menggeleng samar, benar-benar sudah merasa lebih baik.


Kereta berjalan dengan mulus. Seperti selayaknya kendaraan mewah yang dimiliki Argent, tempat duduk mereka bahkan tidak berguncang meski melewati jalan yang tak rata. Maria menyibak sedikit jendela kereta kuda untuk melihat ke luar. Orang-orang terlihat cemas. Mereka semua buru-buru pulang. Pintu-pintu dan jendela rumah ditutup rapat meski masih siang hari. Kendaraan-kendaraan dan kuda melaju ngebut meninggalkan asap debu tanah di jalan. Belum ada polisi patroli terlihat. Ia tidak melihat kumpulan berseragam biru tua itu di sepanjang jalan yang mereka lewati.


Maria memperkirakan mereka akan sampai ke Selatan sekitar lima belas menit lagi. Ia menutup tirai. Sedetik setelahnya, seolah dipicu oleh menutupnya tirai jendela, kereta berhenti. Keempat orang dalam kereta saling berpandangan. Mereka harusnya belum sampai tujuan.


Pete menyiapkan pedang pendeknya, lalu membuka kereta untuk memeriksa. Maria hendak menyusul, tetapi segera dicegah oleh Susan dan satu pelayannya.


"Periksa keretanya!" Maria mendengar suara itu berseru dari luar, disusul bunyi derap langkah dan logam pedang bergemeretak. Itu suara seseorang yang sangat dikenalnya.


Flora Spencer.


Jauh di jantung Bjork, di belakang mereka, dentang lonceng mulai bergema. Balai kota menyerukan peringatan tanda bahaya.


***


Lonceng balai kota berbunyi kembali untuk yang kedua kalinya hari ini.


Sama seperti dini hari tadi, kali ini dentangnya tak sudah-sudah, bersahut-sahutan penuh selama beberapa menit. Bunyi semacam itu hanya punya satu arti: pertanda bahaya. Polisi patroli menyebar cepat menjaga jalan-jalan dan tiap sudut kota, memastikan semua pintu terkunci rapat dan memberi penjelasan sesingkat-singkatnya.


"Apa lagi ini, Wayne?" Pierre bertanya pada salah satu polisi sambil menutup jendela-jendela tokonya dari luar.


"Sama seperti semalam, tapi kepolisian Bjork dan Argent akan mengatasinya. Semua aman dan terkendali," Wayne mengucapkan itu dengan mulut sekering pasir. Ia masih membenci semua keluarga Argent, terlebih karena Jose mengancamnya kemarin. "Pastikan pintu rumah kalian terkunci rapat, nyalakan radio, tunggu berita selanjutnya. Kalian akan terus dikabari apa yang terjadi."


"Mayat hidup lagi?" Pierre berseru heran. "Kau tahu Albert terluka karenanya, kan? Pria malang, dia pikir itu putranya yang hilang!"


Wayne tidak mendengarkan. Ia melanjutkan langkahnya ke pintu lain untuk mengucapkan hal yang sama persis. Semua hal aman dan terkendali. Kepolisian Bjork bekerja sama dengan Argent. Pastikan rumah terkunci. Jangan ke luar apa pun yang terjadi. Nyalakan radio. Kepolisian bekerja bersama dengan Argent.

__ADS_1


Di pintu keenam ia batal mengetuk. Wayne berbelok dan berjalan lurus ke rumahnya, tidak ingin lagi memuntahkan kebohongan tersebut. Ia tahu tidak akan ada yang bisa mereka lakukan. Material hitam yang dilihatnya bergelung jauh di timur Bjork jelas-jelas bukan sesuatu yang bisa dihadapi oleh polisi maupun tukang pukul Argent. Apa pun itu, melihatnya saja sudah membuat Wayne merasa tak nyaman dan ingin muntah. Saat menatapnya terlalu lama, ia merasa mendengar suara mengembik samar-samar dan benaknya dipenuhi bayangan-bayangan buruk.


Mereka diperintahkan untuk berbaris menjaga sipil, tapi menjaga dari apa? Ia tidak mau melakukan hal yang sia-sia dan mati konyol. Ia akan pergi dari kota ini secepat mungkin lewat laut.


Robert menatap punggung Wayne yang makin menjauh, lalu menghela napas. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Seharusnya ia menghukum desertir. Jika dibiarkan, orang semacam itu akan membawa pengaruh buruk bagi yang lain, merusak moril anggota lain. Namun Robert tidak tega. Ia merasa tidak bisa menyalahkan pria itu, yang hidup sendirian membesarkan kedua putrinya sejak masih belia. Ia paham bahwa tak semua orang akan memiliki keteguhan yang sama dengan orang-orang Argent, mereka tidak dilatih atau dipersiapkan untuk itu. Anggotanya bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi. Tak ada tempat untuk lari.


Seorang pekerja Argent sudah diutus untuk membawa Helga ke Selatan, bagi Robert itu sudah cukup. Renata juga akan ada di sana, jadi Helga akan punya teman bicara. Ia ingat kedua wanita itu cukup akrab.


Robert sendiri bertekad memenuhi tugas terakhirnya sebaik mungkin. Sekarang ia berjaga di muka gapura kota, memperhatikan para pekerja Argent lewat menggunakan tiga kereta barang yang ditarik enam kuda.


Marco menyusul paling belakang menunggang Imbrue, kudanya yang berwarna kuning pucat. Beberapa polisi patroli yang melihat pria itu lewat segera meludah ke tanah untuk membuang sial. Melihat Marco membuat mereka semua ingat kisah kiamat yang tertulis di Kitab Wahyu; ada empat penunggang kuda yang melambangkan penghakiman ilahi. Penunggang yang keempat bernama Maut, kudanya kuning pucat kehijauan, dan kerajaan kematian mengikuti di belakangnya.


***


Marco tahu apa yang dipikirkan orang-orang tentangnya dan ia tidak peduli. Gulungan gelap yang muncul dari arah timur langit jelas bukan awan. Tidak ada awan yang berbintik dan bergerak ribut seperti serangga kesetanan.


Ia memacu kudanya lebih cepat begitu melihat mobil Tuan Stuart ada di depannya. Tidak butuh waktu lama menjajari Tin Lizzie berkecepatan 40 km/jam itu.


"Apa itu?!" seru Marco begitu Tuan Stuart menoleh ke arahnya.


"Sayang sekali, aku bukan Ensiklopedia Fenomena Mistis, Argent!"


"Artinya aku tidak tahu!" Tuan Stuart tertawa kering. Ia menghentikan mobilnya di tengah jalan, di tempat yang tadinya mereka rencanakan untuk menata regu sergap, lalu keluar dari mobil dengan membawa teropong binokular. "Aku merasa itu bukan awan," katanya pada Marco yang meloncat turun dari Imbrue.


Di belakang mereka, kereta para pekerja sudah sampai dan para pekerja berhamburan dengan cergas, mulai menurunkan peti-peti senjata mereka.


Marco mendekat ke samping Tuan Stuart dan mengeluarkan teropong tunggal dari saku mantel. Ia memanjangkan monokularnya, mengatur perbesaran, dan mengintip ke kejauhan. Yang menyebar cepat di langit jauh di sebelah timur itu memang seperti gulungan pasir, bukan awan. Saat menurunkan arah teropong, ia melihat Finnian menghampiri mereka dari timur sabana, sudah kembali dari pemantauan.


"Di mana dokter Rolan?" tanya Tuan Stuart setelah melihat ke sekeliling dan tidak menemukan kepala berambut cokelat itu.


"Mengawasi Jose supaya tidak membunuh dirinya sendiri," jawab Marco sambil lalu. Ia berjalan mendekati Finnian, yang sudah sampai di depan mereka dan meloncat turun dari kuda.


"Pembisik dari Aston menyampaikan bahwa kereta kuda Sir William berlari sangat kencang," lapor pekerja itu. "Dia mungkin sampai sini nanti sore, bukan malam."


"Kau sempat melihatnya langsung?" tanya Marco.


"Sir William, Tuan? Tidak. Saya belum melihatnya." Finnian menengok ke belakang, secara tak sadar mengusap lengannya sendiri. "Yang hitam-hitam itu saya tak tahu pasti. Arahnya memang dari Aston, Tuan. Tapi terlalu di atas, saya tidak bisa memastikan apa. Mungkin awan?" suaranya ragu.

__ADS_1


"Ambil suar di kereta, pergilah mengawasi jalan. Kalau dia sudah hampir dekat, tembakkan suarnya."


Finnian mengangguk tanpa berpikir. Saat Marco menyelamatkannya dari jalanan, sumpah yang diangkatnya adalah ia rela mati di jalan pria itu. Bukan koin emas yang membuatnya tak ragu mengikuti keluarga ini dan ia senang karena mendapatkan kesempatan untuk membuktikan hal tersebut.


"Kenapa suar?" tanya Tuan Stuart begitu Finnian pergi ke salah satu kereta barang. "Itu akan membuat Sir William waspada!"


"Itu akan membuat kita siap." Marco berputar menghadapnya. Ia menunjuk gulungan hitam di belakang bahu dengan jempol. "Awan hitam itu jelas pertanda buruk. Sir William mungkin mencium hal yang mencurigakan, makanya dia merasa perlu mengumumkan kehadirannya. Dia tahu bahwa kita akan melawan. Kalau tidak, buat apa melakukan demonstrasi semacam itu? Dia sudah waspada. Kalau ingin menyambutnya dengan keramahan yang sama, kita juga harus bersiap kan?"


Tuan Stuart menatap jauh ke timur, kemudian menghela napas. Ia menatap ke sekeliling mereka. "Berapa orang di sini?"


"Tujuh puluh." Marco tahu caranya menghitung dengan cepat. "Greyland harusnya sudah bergerak dari Aston. Mungkin itu juga yang membuat Sir William waspada."


Finnian melewati mereka, memberi salam pada Marco sebelum menaiki kudanya dan berlalu. Selain suar, ia juga membawa ransum dalam tas ranselnya.


Para pekerja lainnya diurus oleh Gerald, Sam, dan Harold. Hans menjaga Jose di Bjork. Tuan Stuart berhenti memperhatikan mereka. Ia beranjak ke salah satu peti senjata yang diturunkan dari kereta, mengambil satu senapan laras ganda dari peti khusus yang diperuntukkan bagi Marco dan mengulurkannya pada pria itu. "Kau juga akan menembak, kan?"


Marco menerima senjata itu dengan senyum samar di wajah. Kalau pria itu merasa cemas atau gelisah, ia sama sekali tidak menunjukkannya. Malahan, mata hitam itu berkilat penuh semangat. "Aku memang berniat melubangi tengkoraknya."


"Kita sebaiknya maju lebih ke depan," usul Tuan Stuart setelah menimbang medan. "Di sini terlalu dekat dengan kota dan tidak ada barikade untuk kita."


"Kalau tidak dekat kota, kita akan kehabisan amunisi di jalan," Marco menukas. "Tenang saja, orang kita cukup. Tujuh puluh di sini, dua ratus di kota milik Clearwater dan Marsh, lalu tambahan seratus dari Aston. Jangan lupa aku punya keponakan ajaib sekarang."


Tuan Stuart hanya tertawa.


Marco berbalik pada para pekerjanya yang segera berbaris meski tidak rapi. Ditatapnya satu per satu pasangan mata itu untuk menguatkan mereka. "Kita mungkin akan mati," katanya jujur. Ujung suaranya hilang ditiup angin, jadi Marco mengulang lebih lantang, "Lawan kita bukan manusia!" Ia memberi jeda, membiarkan informasi itu diserap dan mengendap, lalu melanjutkan, "Aku akan jujur pada kalian bahwa kita mungkin akan mati malam ini! Hari ini! Tapi kita akan mati sebagai pejuang! Bukan pengecut. Kita akan melawan! Bukan sembunyi. Dan jika di tengah deru tembakan dan hujan darah nanti kalian goyah lalu bertanya untuk apa kalian berjuang, atau untuk apa kalian bertarung di sini, lihatlah ke sekeliling kalian!" Marco mengedarkan pandangan lebih jauh ke dalam jiwa-jiwa di depannya, merengkuh keberanian mereka. Semua yang dipekerjakannya adalah orang-orang asli Bjork atau yang kemudian menjadikan Bjork sebagai tempat tinggal permanennya. "Kita berjuang karena kita adalah manusia merdeka, bukan tawanan nasib!" Ia merasakan semua orang menahan napas bersamanya, ikut menarik napas ketika ia juga mulai menariknya. Wajah-wajah di depannya sudah terbakar kobaran semangat. "Karena itu kita berontak! Kita bertarung untuk diri kita, untuk martabat sebagai seorang manusia! Tunjukkan padanya bahwa kita bukan kambing yang diam ketika dicukur untuk dibawa ke pembantaian! Teguhkan hati! KITA adalah nadi dalam Bjork!" Marco mengayunkan senapan di tangannya, menggunakan moncongnya untuk menunjuk ke arah gerbang kota jauh di sebelah barat. "Kita berjuang untuk Bjork! Untuk rumah kita di sana!"


Puntung rokok diludahkan ke tanah. Sepatu-sepatu dientakkan. Senjata-senjata diangkat. Bunyi derak logam mengiringi gelegak seru-seruan penuh semangat yang keluar dari leher-leher tegang para pekerja.


"Untuk Bjork!"


"Untuk Bjork!"


"Untuk Bjork!"


Marco mengangkat senjatanya ke langit dan ikut berseru, membakar semangat.


Tuan Stuart memperhatikan dari sisi mobilnya, mengagumi bagaimana Marco sengaja menempatkan diri bukan sebagai tuan melainkan sebagai salah satu dari mereka dengan menggunakan kata kita, menyeret para pendengar untuk bernapas dalam ritme yang sama dengannya meski hanya beberapa menit. Itu menit-menit yang singkat tapi mendebarkan, menggugah semangat. Moril mereka semua meningkat hingga pada tahap tak keberatan mati asal bisa berjuang gagah berani bersama pemimpin mereka.

__ADS_1


Tuan Stuart tersenyum ketika mengangkat senjatanya dengan salut. "Untuk Argent!"


***


__ADS_2