
Jacob tidak menyukai ini. Ketika pulang tadi dan mendapati orang-orang bermantel sulam lambang Clearwater berjaga diam-diam di dalam rumah, ia sudah menebak bahwa Jose pasti merencanakan sesuatu mengingat Clearwater adalah salah satu teman Jose. Marco melebarkan jaringan dengan membuat semua orang bekerja untuknya dalam hubungan yang profesional dan dingin, tetapi Jose lebih suka bergerak dengan menjadikan semua orang temannya.
Dari George, ia tahu bahwa Jose pergi ke Selatan membawa lima puluh pekerja untuk menjemput Marco.
Lima puluh pekerja dibawa pergi dan orang-orang Clearwater disiapkan di dalam rumah, Jacob bisa menebak apa rencana Jose. Adiknya itu jelas-jelas sengaja mengumumkan kepergiannya terang-terangan untuk memancing para pengkhianat keluar.
Sudah jelas bahwa sejak hilangnya Marco, semua hal berubah. Banyak orang menebak Marco bernasib sama seperti orang-orang hilang lain di Bjork yang tidak akan pernah kembali lagi, karena itu arus dagang berubah dan semua bangsawan oportunis segera berloncatan seperti kutu mencari mangsa. Orang-orang yang ingin mereka jatuh pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka akan datang dan mencari masalah—seperti sekarang.
Puluhan orang berjubel di depan gerbang rumah Argent, mereka berteriak dan berseru, beberapa sudah membawa batu untuk dilempar.
"Mereka meminta Tuan Marco datang," lapor George yang baru saja keluar untuk mendengarkan apa yang diserukan pada mereka. "Ada yang mengabarkan berita bahwa Tuan Marco terlibat dalam hilangnya orang-orang di Bjork, tapi kebanyakan yang datang di luar adalah orang-orang dari luar Bjork. Saya tidak mengenali separuh lebih yang ada."
Jacob mengumpat.
Tikus akan menari saat kucing tidak berada di rumah. Mengira tidak ada satu pun orang di rumah Argent, musuh mereka pasti akan langsung menyerang. Jose jelas tahu itu, dan sengaja melempar beban tanggung jawab pada Jacob. Keberadaan Jacob adalah unsur kejutan yang pasti bisa membuat para pengacau kelabakan, sekaligus membongkar siapa provokatornya. Jose memang sejak awal bertujuan menyisir Bjork, mencari tahu siapa yang akan berkhianat. Jacob tidak menyukainya. Ia tidak suka dimanfaatkan dalam permainan orang lain, bahkan meski itu adik kandungnya sendiri.
Nanti kuhajar dia kalau pulang, janjinya sambil mengawasi bagaimana Xavier yang pingsan diseret ke ruang bawah tanah.
Ia masih penasaran apa hubungannya Sir William dengan ini semua, tetapi masalah dengan Xavier bisa diurusnya tanpa buru-buru. Sekarang ia harus ke luar rumah, menghadapi massa yang berteriak ribut di luar gerbang.
"George," panggilnya. "Minta orang-orang Clearwater bersiap. Melihat pembunuh-pembunuh itu, para tikus pasti bakal diam."
***
"Raksasa tadi masih ada?" Rolan menghampiri Jose yang berdiri diam di depan pilar aula, mengamati sekitar selagi menunggu para pekerja selesai mengikat semua orang.
Jose menggeleng tanpa menatap ke arahnya. "Aku tidak melihat apa-apa. Mungkin tadi kita cuma berhalusinasi? Hawa begitu dingin, hutan ini gelap, dan kita semua terlalu tegang."
__ADS_1
"Bisa saja, meski aku tidak terlalu yakin." Rolan berjalan ke arah kanan, mendekati kumpulan lampu minyak yang mereka bawa tadi yang diletakkan di undakan aula. Mereka hanya membawa 5 lampu, satu untuk tiap pekerja, karena tidak ingin membuat waspada orang-orang di dalam puri. Penerangannya kurang, pikir Rolan, mendapat ide untuk membawa serta semua obor di puri ini. Ia tidak mau melewati hutan lindung lagi dengan penerangan seadanya setelah melihat raksasa aneh tadi. "Torfin bilang apa saja padamu?" tanyanya begitu kembali ke sisi Jose.
"Paman akan tahu kalau saja tidak membunuhnya."
Rolan tersenyum kecut, tahu bahwa Jose kesal padanya. "Kau memang bilang bahwa sebaiknya kita tidak membunuh siapa pun," katanya. "Tapi dia tadi mau menyerang Marco, jadi tanganku bergerak otomatis." Ia menghela napas. "Tadinya kupikir Marco cuma bangsawan congkak penuh gaya yang menyukai misteri. Bisanya cuma suruh sana-sini dan jalan-jalan ke sana-sini tanpa tujuan. Tapi begitu dia hilang, segala hal berantakan, dan aku sadar bahwa dia sangat penting. Kau juga kelelahan tanpanya, kan? Percayalah, aku tidak mau hari-hari seperti ini berlangsung lebih lama lagi. Bjork membutuhkan dia. Dan kalau aku harus membunuh banyak orang supaya dia tetap aman, aku akan melakukannya. Aku juga akan melakukannya kalau kau yang dalam bahaya. Kuharap kau mengerti."
Jose mengerti maksud Rolan. Ia juga melihat sendiri bagaimana Torfin menerjang dengan penuh nafsu membunuh, tetapi dalam hati ia masih tidak setuju. Nyawa adalah hal yang sangat berharga.
Jauh dari mereka, di depan altar batu di aula, Lady Chantall sedang mengeluarkan koleksi jimatnya dari kantung-kantung rahasia di balik gaun dan menata semuanya di atas altar. Ada kalung kristal, dua kantung garam murni, dua botol kaca berisi air suci, rantai besi tipis sepanjang dua meter yang digulung rapi, serta dandelion kering pengusir arwah jahat. Ada juga dupa dari hati ikan trout yang siap dinyalakan.
"Greyland menemani Edgar ke Aston," katanya sambil menata dan memasukkan kembali semua jimatnya ke dalam tas tangan yang ia rampas dari salah satu tamu wanita. "Dan Stuart sepertinya sudah mengatakan semua yang ia tahu pada Jose."
"Dia memang cepat tanggap," komentar Marco. "Dan tahu siapa yang harus dicarinya saat aku tidak ada."
Kedua pipi Lady Chantall memanas mendengar sindiran itu. Ia memutar kaki menghadap Marco, yang menyandarkan setengah tubuhnya pada sisi mesbah. "Aku tidak datang pada Jose karena tidak dipanggil olehnya. Dan aku juga tidak tahu harus bertemu siapa. Dokter Rolan tidak menghubungiku juga. Lagi pula aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kukatakan pada mereka. Kau kan tidak berpikir aku harus lari-lari ke rumahmu untuk bilang kalau aku habis merayu Hastings dan berpikir puri ini mencurigakan?"
"Sebenarnya, kau harusnya melakukan itu."
"Aku tidak punya kewajiban untuk itu." Lady Chantall menatap Marco marah. "Aku bekerja untukmu, bukan untuk orang lain. Dan kau tidak pernah berpesan padaku untuk menghubungi Jose. Jadi kau tidak bisa mengkritikku." Ia menaikkan dagu, bersyukur bisa merasa cukup marah untuk menutupi rasa sakit hatinya. Marah lebih baik daripada bersedih.
"Kau datang dengan penuh persiapan."
"Lalu? Apa aku berdosa karena itu?"
Marco menggeleng. "Aku hanya heran wanita yang biasanya berhati-hati dan berdiri diam di balik layar sepertimu mau turun tangan langsung melakukan investigasi pribadi tanpa mengatakan apa pun, tanpa bahkan menghubungi Rolan dulu. Kau tahu dia tangan kananku."
"Kau curiga aku ada hubungannya dengan Scholomance?" Lady Chantall menganga. Detak jantungnya tersendat. "Kau pikir aku berkhianat? Aku?"
__ADS_1
"Kau tahu siapa yang memenjarakan dan mengikatku di tempat ini?" tanya Marco, seperti mengabaikan apa pun kecuali pikirannya sendiri. "Robert. Robert yang melakukannya. Dia bekerja bersama Hastings bersaudara, menciptakan golem yang menyerangku."
Sekarang Lady Chantall mengerti kenapa Marco terasa lebih waspada dan jauh darinya. "Aku bukan Robert!" desisnya. "Aku benar-benar tidak ada hubungannya dengan ini! Hastings mencari patron. Kau tahu kenapa ada banyak sipil idiot di sini? Mereka cuma berfungsi sebagai dua hal bagi Hastings: sebagai prajurit idiot, atau sebagai patron idiot. Mereka butuh uang! Kau tahu apa yang kumiliki? Uang! Dan karena itulah aku bisa ada di sini."
Marco diam saja, jadi Lady Chantall melanjutkan, "Aku sendiri sadar bahwa ini tidak seperti aku. Aku biasanya tidak gegabah seperti ini. Kau mau tahu kenapa aku tidak bersikap seperti aku yang biasanya?" Bulu matanya yang hitam panjang mengerjap-ngerjap, berusaha menahan air mata kemarahan yang hampir keluar. "Aku panik!" desisnya. "Rasa panik dan cemas menguasaiku, aku tidak bisa berpikir dengan benar selama dua hari ini! Dan kau mau tahu kenapa?"
Marco menaikkan sebelah alis, menebak alasannya berkaitan dengan konspirasi aliansi dagang, hantu, atau misteri Bjork. Namun ia salah.
Lady Chantall mencengkeram erat tas tangannya dengan kedua tangan. Ia menegakkan bahu dan mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi, menatap Marco tepat di manik matanya ketika berkata, "Karena aku jatuh cinta padamu."
Lady Chantall mengatakan itu dengan begitu angkuh seolah ia ratu yang mengizinkan rakyat jelata mencium ujung sepatunya, membuat Marco perlu waktu beberapa detik lebih lama untuk memproses apa yang baru saja ia dengar. "Apa?"
"Aku mencintaimu, Argent," ulang Lady Chantall, untuk pertama kali dalam seumur hidupnya mengerti bagaimana rasanya menjadi bebas. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia bisa mendengarnya begitu ribut di telinga. Ia bahkan tidak peduli meski orang lain mendengar apa yang dikatakannya. Saat ini, ia hanya ingin bebas. "Kau tidak perlu menjawabnya, aku tahu kau memutuskan untuk melajang seumur hidup entah demi tujuan apa. Aku tidak menuntut apa pun. Aku cuma menjawab kecurigaanmu barusan ... dan agar kau tahu bahwa akan ada yang bersedih kalau kau terluka."
Perbedaan usia mereka hampir dua puluh tahun. Di matanya, Lady Chantall hanya seorang partner muda. Lebih masuk akal baginya kalau yang disukai wanita itu adalah Jose atau Rolan. Namun sama seperti misteri hantu dan monster di Bjork, perempuan memang selalu saja bersikap tidak masuk akal. Jadi meski masih terheran-heran, Marco memutuskan untuk tidak mendebat.
"Tidak curiga lagi?" Lady Chantall tersenyum, mengenali ekspresi pria itu barusan.
Marco tidak sempat menanggapi. Rolan berlari ke arah mereka dengan wajah pucat. "Marc!" serunya tergesa.
Rolan bahkan tidak memberi salam atau mengucapkan permisi ketika sampai, membuat Marco tahu apa yang akan dikatakan lelaki pasti sesuatu yang penting. "Kenapa? Kau seperti habis melihat setan!"
Rolan mencengkeram erat lengan Marco, seperti meminta dukungan. Raut wajahnya tegang. "Jose lari ke hutan! Aku mau mengejarnya, tapi kehilangan jejak! Larinya cepat sekali!"
"Lari? Maksudmu? Kenapa dia lari? Siapa yang mengejarnya?"
"Katanya dia melihat Dave lewat, maksudku Lord Dominic." Wajah Rolan begitu putih pucat. Suaranya gemetar. "Aku ingin minta dia minta izin dulu padamu atau setidaknya membawa Gerald, tapi dia sudah melesat pergi sebelum aku sempat membuka mulut! Kancil sialan itu! Padahal bisa saja raksasa itu masih di sana, oh ya Tuhan!"
__ADS_1
"Raksasa apa?" Marco membelalak.
***