BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 213


__ADS_3

"Aku membawa sarapan," kata Maria di depan Hans. Ia pikir akan ada semacam interogasi atau pelototan tajam, tapi pria itu langsung membuka pintu kamar dan mempersilakannya lewat tanpa menanyakan apa pun.


Begitu melihatnya masuk, Gerald menunduk hormat dan memberinya privasi dengan berdiri agak jauh. Tempat tidur Jose disekat oleh lemari partisi yang berhias buku serta pajangan foto serta tanaman kaktus, membuatnya terhalang dari sisa ruangan yang ada. Maria meletakkan baki sarapan di atas nakas, melihat bahwa Jose sudah bangun. Lelaki itu duduk bersandar di kepala tempat tidur, sudah bersih dan tidak sepucat ketika pertama loncat dari kereta.


"Paman Rolan bilang kau kena maag, tapi itu bohong kan?" Maria berbisik, mengambil tempat di bibir ranjang untuk memperhatikan wajah kawannya. "Aku mendengar apa yang terjadi dari Hubbert. Tentang kau yang mengirim para mayat ke sungai sakral. Sungainya menyala seperti lampion?"


"Aku bukan menyalakan sungai," Jose menyergah. "Cahaya itu muncul karena ada lepasan arus listrik ketika pertemuan dua arus dalam sungai. Arusnya bertabrakan ketika portal terbuka—" Ia berhenti menjelaskan. "Aku tahu omonganku aneh, kau pasti tidak percaya."


"Kata siapa? Aku percaya padamu." Maria memunggungi jendela karena melihat sinar masih terasa sakit setengah mati meski tirainya ditutup. Ia bahkan perlu berjuang sekuat tenaga untuk tetap berdiri tegak ketika menunggu kepulangan Jose tadi. Susan memaksanya menunggu di dalam, tapi ia bersikeras ingin melihat lelaki itu kembali. Sekarang kepalanya ditundukkan, mengamati ujung-ujung kaki yang tertutup balutan sepatu. "Aku segera mengerti kenapa kau bisa sangat tenang—terlalu tenang menghadapi semua hal, seolah kau tahu jalan keluarnya. Aku mengerti sekarang kenapa kau bisa begitu yakin bilang ingin menyelamatkanku."


Jose berdehem pelan. "Gerald," panggilnya. "Keluarlah sebentar."


"Saya diperintah oleh Tuan Marco untuk tetap di sini, Tuan."


"Dan aku memerintahmu sebagai pemilik kamar ini. Keluarlah, aku tidak akan ke mana-mana. Lagi pula ada Maria di sini. Aku tidak akan bersikap tidak sopan dengan meninggalkan tamuku."


Sunyi sesaat, kemudian terdengar pintu dibuka-tutup pelan. Gerald sudah pergi.


"Kau bermaksud mengorbankan dirimu, kan?" lanjut Maria. Mata birunya berkilat tajam. "Kau benar-benar bermaksud menenggelamkannya di sungai itu, bahkan meski itu akan membuat kepalamu rusak."


"Kan aku sudah bilang sejak awal bahwa aku ingin menenggelamkannya di sana," sahut Jose heran. "Aku jelas-jelas mengatakannya di depanmu, juga di depan Marsh dan Clearwater. Kau juga dengar dengung psikis yang sama denganku, kan? Mereka memintaku melakukan itu, memintaku membawanya ke sana. Bahkan Arabella dalam bayangan Nolan juga meminta begitu. Sampaikan pada Argent, dia melihat Arabella bicara begitu dalam sungai. Maksudnya adalah minta aku tenggelamkan si pirang itu."


"Tapi kau tahu konsekuensinya!" bentak Maria jengkel. "Satu untuk satu! Satu nyawa untuk satu nyawa. Kau mau mengirimnya ke sana dengan apa? Nyawamu?"


"Tentu saja tidak," Jose tertawa heran. "Aku akan minta bantuan gunung sakral Bjork. Mereka akan membantuku."

__ADS_1


"Jose. Kau mengirim mayat-mayat itu ke sungai juga dengan bantuan mereka, dan apa kau tetap bebas dari konsekuensi? Tidak. Kau muntah darah."


Jose memutar bola mata. "Itu karena aku memforsir tubuhku untuk menyembuhkan Paman Marco," katanya. "Pertukaran setara: aku mengambil luka paman-pamanku dalam bentuk psikis, tapi ternyata tetap saja berpengaruh ke tubuhku secara fisik. Tapi kau tidak usah cemas, segini saja sih kecil. Lihat sendiri, aku sudah pulih."


"Kenapa kau keras kepala sekali, sih?"


"Kenapa kau tidak percaya padaku?" balas Jose gusar.


"Aku bukannya tidak percaya padamu!" Maria menyatukan jemarinya di pangkuan, meremasnya kuat-kuat. Aku tidak suka melihatmu terluka, kata-kata itu ada di ujung lidah, tapi tak terucap.


Jose memindah duduknya dan menurunkan kaki ke karpet, bergeser hingga menjajari Maria di bibir ranjang. "Aku menembak kepalanya." Ia menyentuh kening dua kali dengan jari telunjuk. "Di sini. Dia tidak mati. Dia tidak bisa mati dengan senjata itu, Marry. Rencana Paman tidak berguna. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menyeretnya ke dasar sungai."


"Bagaimana caramu melakukannya? Bagaimana caramu menyeretnya ke sana? Menurutmu Willy akan langsung berendam di sana kalau kau minta?"


"Willy?"


"Apa?"


Maria mengerutkan kening. "Aku memanggilnya Willy?"


"Ya. Jelas sekali."


"Aku tidak sengaja," gerutu Maria kesal. "Ingatanku berputar-putar di kepala. Aku melihat dia dalam banyak momen, banyak kenangan, banyak hari dan masa. Kadang semuanya bercampur jadi satu. Kadang aku merasa seperti bukan aku. Aku paham apa yang diinginkannya. Dia cuma ... seseorang yang kesepian dan menyedihkan."


"Ya, ya."

__ADS_1


"Aku serius! Dia melakukan pengulangan, mencari perempuan yang mirip dengan Arabella, mengajaknya melakukan hal yang persis sama dengan yang pernah dilakukannya dengan Arabella." Maria memejamkan mata, merasa bisa melihat momen demi momen jika memaksa. Itu bukan ingatannya. "Dia ingin memperbaiki sesuatu, ingin memperbaiki putaran nasibnya. Dia ingin mengembalikan lagi Arabella yang meninggal. Gadis itu sakit, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Tapi William berharap bisa. Dia mencari tubuh yang sehat, yang muda, yang sama dengan gadis itu. Mencari wadah baru."


Jose tidak ingin mendengar apa alasan di balik semua pembunuhan. "Dan kau bersimpati dengannya? Apa alasan itu bisa dijadikan justifikasi atas semua yang sudah dia lakukan?"


"Tidak. Tentu saja tidak! Aku hanya ingin cerita bahwa aku merasa agak paham apa motifnya."


"Dia tidak mencintainya, Mary." Jose menarik napas pelan-pelan dan mengembuskannya dengan sabar. "Dia juga tidak mencintaimu. Tidak ada cinta yang bisa diletakkan di atas kubangan darah seperti ini. Jika dia memang mencintai Arabella, dia tidak akan tega melakukannya."


Maria menoleh, ditatapnya Jose dengan mata birunya yang jernih dan dalam. "Bukankah itu disebut cinta karena dia rela melakukan apa pun, bahkan melumuri kedua tangannya sendiri dengan darah demi mendapatkan kembali gadis yang dia cintai?"


"Apa gadis itu bahagia diletakkan dalam tubuh yang bergelimang darah orang lain?" balas Jose ketus. "Aku melihatnya, Mary. Aku melihat Arabella. Gadis itu tidak suka apa yang dilakukan Sir William. Dia capek. Dia ingin diselamatkan dari pesta dansa tanpa henti—yang maksudnya adalah repetisi ritual itu. Dan Sir William harusnya mendengar itu. Dia harusnya mendengar teriakan dan permohonan Arabella kalau dia memang mencintainya. Kalung itu pasti bisa membuatnya mendengar. Tapi tidak." Jose menggeleng. "Dia cuma memikirkan dirinya sendiri, karena itu tidak bisa mendengarnya."


Maria diam, menekuri ujung-ujung kukunya yang berkilat, naik ke pergelangan tangannya. Ia memakai gelang emas hadiah ulang tahun dari Jose. "Kau sendiri bagaimana?" bisiknya. "Kalau aku minta kau tidak ikut campur, kau akan mendengarkan permintaanku?"


Jose menoleh. Keningnya berkerut, tidak mengerti maksud kalimat tadi. "Ini urusanku," katanya. "Aku dimintai tolong oleh suara-suara yang membuat kepalaku serasa seperti digerogoti binatang pengerat tiap hari. Sejak Paman Rolan tidak sengaja mengucapkan mantra evokasi dan membuatku menyeberang ke alam kematian, mereka sudah menitipkan permintaan padaku. Aku tidak mungkin menolaknya. Dan yang terlibat di sini adalah seluruh Bjork. Pamanku. Kau. Mana mungkin aku tidak ikut campur? Aku sudah terlibat!" Ia menghela napas, membuang muka dengan marah. "Kau sangat percaya Paman Marco, sampai meletakkan nyawamu di tangannya. Apa segitu sulitnya memercayaiku?"


"Bukan begitu," sahut Maria tergesa. Ia hendak menyentuh lengan Jose, tapi segera menahan tangannya di udara. Wajahnya ditundukkan. "Kau selalu kelihatan seperti siap mati dan aku tidak suka itu," gumamnya.


"Apa?" Jose berpaling. "Apa kau tidak sadar bahwa rencanamu dan Paman Marco yang justru lebih kedengaran seperti bunuh diri? Kalian mau menunggu sampai gerhana cincin terjadi dan dia merapal mantranya, kan? Bagaimana kalau dia tidak merapal? Ada banyak lubang dalam rencana kalian!"


"Paman Marco membuat rencana dengan wajah orang yang ingin hidup. Dia tak sudi ditundukkan kematian," kilah Maria, masih belum mau menemui mata Jose. Ia menoleh ke samping, menggigit bibir bawahnya. "Di sisi lain, kau selalu menabrak bahaya seolah tak peduli konsekuensinya. Menenggelamkan mayat ke dalam sungai sampai tenggelam, pergi sendirian mencari Paman Rolan dan tak kembali lagi. Lalu aku dengar juga bagaimana kau lari ke dalam hutan mengejar Lord Dominic—meski kau tidak tahu apakah itu memang dia. Awas, jangan potong aku! Aku belum selesai! Dan jangan lupa, kau menyelidiki rumah Sir William sendirian, lalu mencari gara-gara dengan menghajarnya langsung di depan semua orang. Kau kan tahu dia monster! Semua yang kau alami dan kau ketahui, kau tidak mengatakan apa-apa padaku, meski kau sadar aku juga terlibat. Kadang aku merasa kau tidak mau melihat masa depan, tidak mau melihat bagaimana kalau orang-orang yang kau tinggalkan nantinya kehilanganmu. Kau selalu dan selalu saja ...," Ia berhenti untuk mengusap air mata dengan ujung-ujung jari. Mata birunya yang basah menatap Jose lemah. "Selalu membuatku khawatir."


Jose gelagapan melihat air mata itu. Ia memeras otak, mencari alasan, mencari sesuatu untuk diucapkan. Pada akhirnya, yang bisa ia temukan hanya satu kata yang diulang lembut, "Maaf ... "


***

__ADS_1


¬justifikasi: pembenaran


__ADS_2