
“Kami sudah menyusuri sungai, tidak ada mayat apa pun ditemukan,” Robert memulai ketika Marco sudah menemui mereka di kamar kerja. Mereka berdiri mengelilingi peti kayu berisi kiriman senjata dari Greyland.
Rolan sudah menerangkan padanya apa yang ingin dilakukan Marco serta apa saja yang terjadi semalam, dan meski Robert merasa rencana membunuh dengan senjata adalah hal percuma, tidak ada usul lain yang lebih baik yang bisa ia ajukan. Kedua tangannya bertaut di belakang punggung, saling meremat dengan gelisah. Kertas pengunduran diri sudah dikantungi, siap diserahkan pada pusat.
“Sepuluh orang mengalami trauma dan luka-luka," lanjutnya. "Orang-orang melaporkan mereka melihat sinar dari arah sungai. Mayat-mayat dilempar ke sana oleh orang-orang Argent dan menghilang dalam cahaya. Semua orang membicarakannya sekarang. Beberapa hari ini tidak ada kabut di Selatan, mereka pikir ini semua berhubungan.”
“Memang berhubungan, dan kau tahu itu,” sahut Marco dingin, mengamati cara Tuan Stuart memberi contoh menggunakan senjata itu. Ia tahu cara menggunakan senjata api, tapi belum pernah menggunakan model semi otomatis. Yang beredar di Albion baru-baru ini masih model klasik. “Lady Chantall akan mengurus supaya soal mayat hidup ini dihubungkan dengan Scholomance. Tentu saja, penjelasan mengenai kabut juga akan diungkap. Hari ini pergilah ke Puri Ashington dan tangkap semua orang di sana. Kita akan mengakhiri misteri ini dan menutupnya sebagai kegemparan yang dibuat oleh sekte sesat.” Matanya mengamati mimik muka Robert. “Apa ada masalah?”
Robert menggeleng. “Ini akan jadi hal terakhir yang kulakukan untukmu,” katanya berat. Ia mengeluarkan kertas dari saku dan menyerahkannya pada Marco. “Aku akan mengundurkan diri setelah semua ini selesai dan pindah ke Sivas. Kami akan memulai hidup baru di sana; aku dan Helga.”
“Oh? Jika ini memang keinginanmu, aku tidak akan mencegah.” Marco memperhatikan Robert lebih lama. “Kau yakin tidak ada lagi yang ingin kau katakan padaku?”
“Tentang apa?” balas inspektur itu tanpa melihat siapa pun. Ia menyibukkan diri mengamati isi peti. Kumisnya berkedut. “Kau ingin aku memberi pidato perpisahan?”
“Daripada pidato, aku lebih ingin penjelasan datangnya mayat-mayat hidup ini.” Marco selesai membaca surat pengunduran diri Robert, melipatnya kembali dengan rapi, dan mengembalikannya. "Menurut Jose, mayat ini dibuat oleh Sir William, jadi bukan golem."
"Memang bukan," sahut Rolan dan Robert berbarengan.
"Mayat ini bukan buatan sekte Scholomance tapi buatan sang solomonari sendiri, Sir William," terang Rolan. "Bentuknya persis dengan Gladys. Dan mereka memang dibuat untuk mengatasiku dan Jose, karena dia tidak bisa pergi ke Selatan. Aku sudah cerita bagaimana iblisnya mendekatiku, kan? Iblis itu yang mengeringkan mayat-mayat yang jadi misteri kita selama ini. Bukan vampir." Ia bergidik. "Dia lebih buruk dari vampir. Setidaknya vampir mengisap darah karena membutuhkan vitamin D manusia, untuk bisa tetap hidup. Iblis itu mengisap darah untuk kesenangan, aku melihat di matanya."
Meski sudah mendengar cerita tentang iblis itu berkali-kali dari Rolan, tetap masih sulit bagi mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Rolan pun merasa semua ini benar-benar gila. Marco sendiri menerima penjelasan itu karena ia sudah melihat dan menghadapi sendiri golem yang dibuat Scholomance.
"Dan omong-omong soal Sir William," Tuan Stuart memecah kesunyian, "aku mendapat kabar dia pergi dari Bjork kemarin, sekitar jam makan siang. Dia pergi ke Aston dan sekarang dalam perjalanan kembali ke Bjork. Ini kesempatan kita mengeksekusi rencana. Paling lama, dia akan sampai nanti malam. Sergap dia saat kembali. Lakukan di batas Bjork sehingga tidak akan melibatkan sipil."
Marco mengangguk setuju. Perbatasan utama Bjork adalah hamparan padang rumput yang luasnya lima hektar. Tidak ada pohon untuk berlindung atau bersembunyi, tapi mereka bisa menyergap dari jauh asal hati-hati. Malam akan menyembunyikan mereka.
"Orangku di Aston memang melaporkannya juga. Omong-omong, Charles dan Spencer sudah diurus oleh Jake dan Edgar." Ia menangkap perubahan sekilas pada mimik muka Robert ketika nama Jacob disebut. "Greyland akan membantu kita dari Aston, jadi kita akan mengapitnya seperti sandwich begitu dia sampai di perbatasan. Hancurkan dia sebelum gerhana. Kesempatan kita hanya besok Kamis ini, mulai nanti malam."
Ketegangan naik dalam kamar itu. Semua mengangguk, memberi gumam-gumaman setuju.
"Kau akan membutuhkan polisi patroli?" Robert bertanya.
"Ya, tapi tidak untuk penyergapan. Siagakan mereka di seluruh kota. Lengkapi mereka dengan senjata. Tugas mereka adalah menjaga sipil di Bjork. Untuk penyergapan di sabana akan diurus olehku dan Greyland." Marco menoleh pada Rolan. "Lavender dan dandelionnya?"
__ADS_1
"Jadi lebih mudah membuat seluruh kota memasang bunga-bunga itu setelah kejadian semalam," Rolan menyahut. "Lady Chantall yang mengurus persebaran infonya, masyarakat akan menyerbu bunga-bunga kita seperti hewan lapar sesegera mungkin. Kita cukup menyediakan pasokannya—yang memang sudah siap."
Semua yang mendengar mengangguk puas.
"Pertama, kita akan menggunakan senapan bius." Marco mengetuk peti kayu dengan ujung kukunya, menggoresnya ke samping. "Jika dia berhasil dijatuhkan, kita akan menembaknya bergiliran. Aku akan membagi pasukan jadi beberapa unit lapisan. Begitu satu lapis selesai menembak, mereka akan segera mundur untuk mengisi peluru dan digantikan lapis kedua, dan seterusnya. Kita akan terus melakukannya sambil membawa dia ke sungai. Tenggelamkan dia, biar Jose mencoba apakah keajaiban yang dilakukannya pada mayat-mayat itu akan bisa diterapkan pada Sir William."
Ide itu kedengaran bagus, tapi Robert merasa ada satu kesalahan. "Bagaimana kalau dia tidak bisa dibius? Bagaimana kalau dia tidak jatuh meski ditembak?"
"Aku merencanakan ini berdasar data empiris," sahut Marco tenang. "Jose menembaknya dan dia bisa jatuh. Kalaupun dia tidak mati, setidaknya dia bisa dilumpuhkan sementara sampai kita sampai di sungai."
"Kau lupa soal iblisnya," kata Rolan. Ia sendiri baru ingat bagian itu. "Ketika Sir William jatuh, iblisnya tetap bergerak."
"Itu memang jadi masalah," Marco mengakui. "Kita akan mengandalkan lavender dan garam murni. Garnet mendapat petunjuk bahwa garam bisa mengusir iblis yang mendatanginya."
"Kau yakin itu akan berhasil?" Robert masih ragu.
"Tidak ada bedanya meski aku yakin atau tidak yakin." Marco tertawa. "Kalau ini tidak berhasil, maka tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Tidak ada cukup waktu dan tidak ada rencana lain. Ini pertaruhan kita."
"Bagaimana kalau untuk sementara, pindahkan orang-orang ke sebelah Selatan?" usul Rolan. "Sir William tidak bisa mendekati tempat itu. Setidaknya kita bisa selamatkan separuh Bjork kalau bergegas."
"Dan menurutmu berjalan menembaki Sir William sepanjang jalan tidak akan membuat mereka ribut?"
"Mereka akan ribut, pasti," Marco berputar sedikit untuk menjawab Robert. "Mereka akan bertanya-tanya, kemungkinan besar akan panik. Tapi mereka akan diam melihat senjata-senjata itu, dan tidak akan melakukan apa pun. Masyarakat akan diam selama yang terancam bukan diri mereka. Mereka hanya akan menonton, dan mungkin bergosip. Dampak yang kita timbulkan akan jauh lebih kecil daripada kalau kita meminta mereka berbondong-bondong ke Selatan. Setelah ini, Hubbert dan Jeanne akan menutupi apa yang terjadi dengan mudah."
"Jeanne?" ulang Tuan Stuart dan Rolan heran.
"Lady Chantall," koreksi Marco.
Robert, untuk pertama kalinya sejak datang ke manor itu, menyeringai geli. "Kau memanggil nama kecilnya. Itu berarti akhirnya dia berhasil menaklukkanmu?"
"Akhirnya?"
"Ayolah Marc," Rolan terkekeh. "Sudah sejak lama semua orang tahu dia tergila-gila padamu. Semua orang bisa melihatnya dari cara dia mengusir dan memelototi tiap wanita yang mendekatimu. Hanya saja, dia selalu menyangkal sementara kau tidak peka."
__ADS_1
"Kapan pernikahannya?" Robert bertanya dengan nada sangat serius yang kentara dibuat-buat. "Sebaiknya kau lakukan paling lambat besok, sebelum Sir William kembali, jaga-jaga kalau rencana kita gagal dan seluruh Bjork melesak ke tanah."
"Selamat!" Tuan Stuart tergelak. "Aku juga diundang, kan?"
"Kau mau pakai jas putih atau hitam? Aku bisa mengurusnya." Rolan menggosok telapak tangannya penuh semangat. "Sayang sekali, pernikahan Katolik butuh proses sangat lama. Tidak akan keburu. Tapi kau bisa mendaftar saja ke catatan sipil. Atau kita berlayar sebentar, kapten kapal bisa menikahkan kalian nanti malam."
"Bagus sekali," kata Marco datar. "Aku senang kehidupan pribadiku bisa membangkitkan semangat kalian. Pekerjaku akan menyiapkan senjata untuk pasukanmu, Rob. George akan mengantarmu nanti. Kalian boleh membawa anggota keluarga kalian berlindung di Selatan, tapi lakukan secara rahasia, jangan biarkan siapa pun tahu supaya tidak membuat Bjork resah."
Robert masih terkekeh, sedikit terhibur menyadari pria itu hanya lelaki biasa yang bisa menyerahkan diri pada wanita. "Kau tidak memberi tahu gereja soal masalah dengan iblis-iblis ini?"
"Mereka malah akan menghalangi arus kekuatan lain di Bjork," Marco menyahut. Ia menatap ke sekitar, menyadari tiga pria di ruangan itu menatapnya terheran-heran. "Bukan kataku," ia menjelaskan dengan geli. "Itu kata Jose. Dia bersikeras dan aku tidak punya alasan untuk menolak pendapatnya."
"Apa pendapatnya?" Tuan Stuart tertarik.
"Menurutnya, Tuhan adalah sebuah kesatuan sistem, pada intinya adalah sesuatu yang Esa bukan Eka," jawab Marco. Ia masih ingat setiap detail kata yang diucapkan keponakannya. "Meski begitu, agama-agama dan cara menuju pada ilahi tadi cukup berpengaruh pada kestabilan sistem yang berkelindan di bumi; semacam memilih pintu air mana yang kita buka untuk irigasi. Jika kita membuka semuanya, itu malah justru akan membuat kerusakan, lagi pula tidak efektif. Pintu air tadi adalah agama, aliran kepercayaan, dan semacamnya. Karena di Bjork yang lebih tua adalah agama lama pada gunung, sebaiknya kita fokus ke sana. Bisa dibilang, itu adalah pintu air dengan pondasi terkuat di Bjork."
"Dan kau percaya itu?" tanya Robert heran.
"Aku percaya pada pertimbangan keluargaku," kata Marco, bergerak menjauh dari peti senjata untuk membuka pintu—tanda bahwa pembicaraan mereka telah usai. "Mengenai mumbo-jumbo agama dan tuhan atau dewa? Tak ada gunanya bagiku memilih percaya atau tidak percaya. Pada akhirnya hanya fakta dan hukum alam yang jadi penentu, bukan mereka. Kalian mau percaya hukum gravitasi atau tidak, kenyataannya gravitasi memang ada, dan kepercayaan kita tidak memengaruhi eksistensinya. Fakta tidak ada hubungannya dengan kepercayaan, dan itulah pedomanku."
Robert hanya mendecak dan menggeleng-gelengkan kepala, menggerakkan tangannya ke arah pria itu. "Keangkuhanmu inilah alasan kenapa kau yang jadi tumbal utama proud."
"Hal yang bagus karena dengan aku sebagai kunci utamanya, segala hal jadi lebih mudah dan efisien." Marco tergelak renyah. "Bayangkan kalau kuncinya adalah orang lain."
Tidak ada yang menyangkal pernyataan itu.
***
×Catatan×
¬Empiris: pengetahuan yang didapat berdasar pengalaman/observasi/percobaan.
¬Esa: kesatuan, Eka: Satu
__ADS_1
¬Berkelindan: berjalinan/berkaitan jadi satu
¬Pernikahan Katolik harus lapor dulu supaya dicatat dan diumumkan ke banyak gereja stasi (supaya kalo ada yang keberatan/halangan bisa memberi tahu pihak gereja) selama tiga pekan sebelum pernikahan. Kapten kapal sendiri sebenarnya nggak secara legal bisa menikahkan orang, cuma dianggap begitu karena di kapal yang berlayar di lautan, sang kapten ada di hierarki tertinggi jadi dianggap punya wewenang atas segala hal yang terjadi di kapal dan dianggap berhak juga bertindak sebagai hakim, notaris, penghulu, dan sebagainya.