BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Extra 9: Disturbance


__ADS_3

Cuaca di Redstone benar-benar buruk, sama buruknya dengan kondisi rumah-rumah di sana. Sukar dimengerti kenapa banyak orang tidak mau pindah dari tepian sungai padahal sudah disediakan lahan lain yang lebih bagus serta kompensasi yang layak.


"Tuan Tanah sebelumnya juga mengalami masalah yang sama," tukas Blackwood ketika dimintai pendapat. Ia menemani Jose dalam perjalanan kembali ke Bjork. Keduanya berada dalam kereta kuda yang sama, diikuti sepuluh orang pengawal. "Masalahnya, masyarakat sudah tidak percaya karena beberapa kali relokasinya tidak sesuai rencana. Yang katanya diberi kompensasi pun ternyata dicurangi. Masalah kedua, masyarakat benci perubahan. Mereka sudah merasa nyaman di tempat itu dengan lingkungan mereka, pekerjaan, lahan, jadi susah meminta mereka pergi ke ketidakpastian."


Jose memandang ke luar, ke arah jalanan yang becek karena hujan. Untungnya tidak ada tornado lewat—hal yang sebenarnya cukup sering terjadi di Redstone. Kalau keajaiban yang diminta ratu adalah supaya ia mengubah cuaca, itu jelas mustahil. Yang bisa dilakukannya hanya membereskan sungai, membuat bendungan, mengatur ulang tata kota. Sayangnya dalam setahun ini hanya sedikit yang bisa ia lakukan karena setengah masyarakat masih skeptis padanya. Di sisi lain, istana terus-terusan mendesaknya, memintanya memberi laporan perkembangan Redstone.


"Paksa mereka, cuma itu yang bisa kita lakukan," kata Jose. "Setelah pindah, mereka akan tahu bahwa kondisinya tidak seburuk yang dibayangkan."


Blackwood tertawa. "Ya, tapi kalau kau melakukan itu sekarang, bisa-bisa bakal ada masalah. Orang-orang akan menemukan celah untuk memberontak. Satu-satu saja dulu, Redstone ... lagi pula dua minggu lagi kau akan menikah."


"Lakukan satu-satu maka kita tidak akan pernah selesai. Kenapa kalau aku menikah?"


"Mitos di Blackwood." Pria berwajah kotak itu mengangkat bahu runcingnya seolah sebenarnya tidak terlalu peduli dengan mitos yang sedang dia bicarakan. "Saat mendekati hari-hari penting seperti pernikahan atau hari kelahiran, sebaiknya jangan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Cenderung gagal."


Jose tertawa. "Ah aku tahu itu, semacam: jangan bepergian jauh mendekati hari lahir, nanti bisa mati?"


Blackwood mengangguk. "Cuma mitos," katanya, "tapi orang-orang zaman dulu punya kebijaksanaan mereka sendiri-sendiri yang mungkin sebaiknya tidak kita abaikan."


"Kebijaksanaan orang zaman dulu seringnya tidak lagi relevan dengan masa depan," sahut Jose. Ia mengembalikan pandangan ke luar jendela, melihat bahwa mereka sudah keluar jauh dari perbatasan dan sampai di Aston.


Aston begitu cerah dan ceria, diwarnai keramaian kota dan orang-orang sibuk yang berjalan cepat. Suasananya jauh terbalik dengan Redstone seolah keduanya berada di dunia yang berbeda padahal hanya bertetangga.


Blackwood mengangkat tongkat yang dibawanya dan menggunakannya untuk mengetuk atap kereta dua kali. Mereka berhenti di depan restoran. Jose meloncat turun duluan dan berjalan masuk. North sudah menunggu mereka di dalam.


"Omong-omong soal kelahiran," lanjut Blackwood yang menyusul di belakangnya, "sepupumu sudah lahir, kan? Aku belum sempat menjenguk. Siapa namanya?"


Jose mengangguk, membalas lambaian North yang menunggu di meja dekat jendela. Pelayan mengantar mereka ke sana. "Namanya Althea. Althea Argent. Kami memanggilnya Thea. Aku di Bjork waktu dia lahir." Ia menghela napas. "Dan aku baru tahu proses persalinan makan waktu lama. Sangat lama. Semalaman penuh."


"Oh ya? Istriku lumayan cepat," sahut Blackwood, bercerita tentang berapa lama proses kelahiran putra pertamanya.


Topik berganti jadi soal Campbell dan Jones begitu mereka duduk di meja.


"Bisnis mereka berpusat di Nordem," kata North setelah pelayan pergi membawa daftar menu pesanan mereka. "Dari Nordem ke Aston, jalan tercepat adalah lewat Redstone. Selama ini mereka gampang masuk karena Redstone kosong dan perbatasan ke Aston dijaga orang Campbell, tapi mungkin mereka takut kau akan menghalangi atau mempersulit mereka di Redstone."

__ADS_1


"Ditambah, mereka benci keluargamu," timpal Blackwood. "Kudengar, kedua kakakmu mulai sering berkeliaran di Aston?"


"Jeff dan Juan memang rajin menghadiri undangan," Jose mengiyakan.


"Itu juga masalah bagi Campbell, kakak-kakakmu berhasil menarik banyak teman dekat Sir William ke sisi mereka. Kurasa ada semacam perang dingin di antara kubu pendukung Sir William." North berhenti sebentar saat pelayan datang membawakan pesanan mereka, menatanya di atas meja.


"Jadi, Campbell dan Jones cemburu?" Jose ingin menertawakan alasan remeh itu, tapi ia tahu Juan dan Jeffrey tidak mungkin hanya sekadar berparade di tiap pesta dan makan malam. Kedua kakaknya pasti melakukan lebih dari itu yang membuat Campbell dan Jones merasa terancam.


"Kau tidak ikut memberi mereka pelajaran, Argent?" tanya North. "Sekarang mereka memang diam, mungkin karena kasus Eastwood. Tapi siapa tahu besok mulai menyerang?"


Kematian Eastwood adalah kecelakaan. Semua orang melihat sendiri bagaimana pria itu terlalu takut dan jadi histeris sendiri begitu Rolan datang dari arah ruang staff. Eastwood berlari keluar tanpa melihat jalan dan kecelakaan terjadi.


Yang tidak diketahui banyak orang adalah bagaimana Rolan membisikkan ancaman saat pertama menyeret Eastwood ke dalam Gedung Diskusi. Yang tidak diketahui banyak orang juga adalah bahwa kereta barang tersebut bukan secara kebetulan ada di situ lalu jatuh. Bahkan meski Eastwood tidak lari ke arah kereta barang yang siap ditumpahkan, sudah ada orang lain yang berjaga untuk mendompaknya dengan kuda liar yang seolah baru saja dibeli dari pasar.


Kecelakaan itu membuat gosip berangsur mereda. Selama sebulan ini, suasana jadi tenang. Namun itu tidak membuat Juan dan Jeffrey diam saja. Bagi mereka, waktu ini justru yang paling tepat untuk melancarkan serangan.


"Campbell takut aku mempersulit akses masuk ke Redstone," sahut Jose setelah meneguk tehnya. Ia mengusap bibir dengan sapu tangan. "Aku sudah mewujudkan ketakutannya. Dia tidak bisa lewat Redstone dan harus memutar lewat jalan gunung untuk pergi ke Aston. Itu membuatnya kehilangan waktu, tenaga, dan uang. Bagiku itu sudah cukup sebagai pelajaran. Kudengar, dia merugi sampai ratusan dukat emas karena karavannya dirampok di jalan kemarin."


"Kuharap," sahut Jose. Ia mengangkat wajah, tersenyum kecil saat matanya bertumbukan dengan mata orang lain yang sejak tadi menatap ke arahnya. "Panjang umur. Begitu dibicarakan, orangnya datang."


Campbell bertubuh tinggi ramping. Dengan tubuh seperti itu, apa pun pakaian yang dikenakannya akan terlihat bagus. Mungkin menyadari hal itu, Campbell ingin menantang mode. Tidak pernah ada yang melihatnya muncul dengan pakaian biasa. Kali ini ia mengenakan hem dengan serentetan kerut dan renda mencolok yang membuat North menyembunyikan tawa di balik sapu tangan.


"Shush, jangan tertawa. Itu mode zaman sekarang," bisik Blackwood berolok-olok.


"Selamat pagi, Argent," sapa Cambell. Senyumnya lebar dan ramah, kontras dengan matanya yang begitu dingin. "Jarang-jarang melihatmu di Aston."


Jose meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring, lalu mengangguk sopan. "Selamat pagi, Liam. Mau bergabung? Kami baru saja sampai."


Liam menggeleng. Ia menepuk perutnya dua kali. "Aku baru saja makan. Omong-omong, aku bertemu dengan tunanganmu sebelum ke sini."


Jose tidak melepaskan senyum dari bibirnya, tapi ia bisa merasakan kedua kawannya berubah tegang. Maria seharusnya masih di Bjork, hari ini gadis itu punya jadwal mengukur ulang gaun pengantinnya. "Oh ya? Di mana?"


"Tapi mungkin aku salah," kata Campbell lagi setelah diam beberapa detik. Ia mengangkat bahu. "Banyak perempuan berambut cokelat di Aston. Semuanya kelihatan sama saja bagiku kalau dilihat dari belakang. Lagi pula dia bersama Austin. Tidak mungkin tunanganmu bersama Austin, kan? Tapi rambut gadis itu cokelat madu, mirip sekali dengan Garnet."

__ADS_1


"Kalau aku jadi kau, aku akan memastikannya sebelum bicara," kata North datar. Pria pendek gempal itu tidak menyembunyikan ketidaksenangannya sama sekali. "Apa sudah jadi kebiasaan Campbell untuk meributkan hal yang tak jelas baginya?"


"Aku tidak mau mengganggu Austin, dia kelihatan mesra dengan gadis itu. Lagi pula, aku dan Austin sedang bertengkar." Campbell tersenyum kering. Matanya melirik Jose. "Karena Redstone melarang peti kemas dibawa lewat tempatnya, kami memilih jalan gunung dan dirampok. Uang Austin juga ada di sana. Dia jengkel dengan keputusanku dan kami jadi bertengkar."


"Aku memang melarang peti kemas dibawa lewat," Jose menjelaskan, "jika tanpa dicek. Kalau lolos pemeriksaan, tentu saja kau boleh lewat."


"Pemeriksaan yang meliputi pemerasan besar-besaran," sahut Campbell jengkel. Jemari kurusnya mengibas santai di udara. "Tapi sudahlah, tidak usah bahas itu. Aku cuma ingin memberi salam dan memberi tahu apa yang kulihat. Yang kualami adalah kecelakaan, aku tidak menyalahkanmu." Ia menyeringai. "Tapi aku tidak tahu ya soal Austin."


Jose menggerakkan tangan dengan cepat, mencegah Blackwood dan North bangkit berdiri. Ia memandangi keduanya dengan tajam, lalu menoleh kembali pada Campbell. "Kau barusan mengancamku, Liam?"


"Mengancam seorang marquis? Aku tidak berani," Campbell tertawa. Pria itu membungkuk dalam salam berlebihan, lalu berbalik pergi setelah mengucapkan, "Selamat pagi."


Begitu Campbell pergi, Jose segera memastikan kondisi Maria. Ia menelepon ke Bjork, tapi tidak ada yang tahu di mana Maria berada. Gadis itu juga tidak ada di sekretariat gereja, di rumahnya, atau di butik tempat mereka memesan pakaian pengantin. Saat menghubungi Chester, inspektur itu menyampaikan bahwa ia melihat Austin Jones memang sempat berkeliaran di Bjork kemarin.


"Tenang, Argent," pinta North begitu melihat kawannya kembali dari menelepon dengan wajah pucat. "Mereka tidak akan berani melakukan apa pun pada Garnet. Aku akan mencari Austin dan memastikan, lagi pula Campbell pasti hanya asal bicara."


Austin Jones adalah pria yang dikenal kejam pada wanita. Pria itu besar, berotot, seperti binatang buas; pelaut yang banting setir menjadi pengusaha kayu dan sukses setelah bertemu dengan Sir William. Namun bahkan setelah namanya masuk dalam Gentry, sifat kasarnya tidak berubah. Jose belum memberi Maria peringatan soal Campbell maupun Jones karena merasa ketiga orang itu pasti tidak akan bertemu. Namun sekarang ia menyesal. Bagaimana kalau Maria masuk dalam perangkap?


"Kita tangkap Campbell?" tanya Blackwood yang sejak tadi gusar dengan kehadiran pria itu.


Jose menggeleng. Menangkap pria itu tanpa dasar di Aston sama saja cari mati. Aston adalah 'Kota Suci' tempat ratu bertahta. Tak boleh ada darah ditumpahkan di sini selama orang itu tidak melakukan pelanggaran yang melibatkan dunia bawah.


"Kita ke Bjork," Jose memutuskan. Ia menoleh pada North. Suaranya terdengar kecil dan jauh ketika bicara, seolah diucapkan oleh orang lain. "Aku perlu memastikan ... Clearwater harusnya masih di sana, di Bjork ... aku lupa menghubunginya. Telepon dia dan minta pastikan di mana Maria berada."


North mengangguk. Ia menepuk punggung Jose dua kali. "Dia tidak akan apa-apa, Argent. Tenanglah."


"Kalau Maria sampai terluka ..." Jose berbisik lirih sambil bangkit dan melangkah keluar restoran. Seorang pelayan mengejarnya, membawakan mantel yang belum ia ambil. Blackwood menerima dan membawakan untuk Jose, yang segera memakai sambil terus berjalan ke arah kereta yang menunggu. "Kalau sehelai saja rambutnya sampai jatuh, aku bersumpah tidak akan ada yang lolos dari tanganku."


Hugo Blackwood mengangguk setuju. Mengikuti Jose, ia masuk kereta dan segera mengetuk atapnya dua kali. Kereta berangkat meninggalkan Aston dalam kecepatan penuh.


***


¬dukat: Dukat adalah uang logam emas atau perak yang diperjualbelikan di Eropa semenjak Akhir Abad Pertengahan sampai abad ke-20. Ada berbagai macam dukat dengan beragam kandungan logam dan daya beli yang berbeda-beda.

__ADS_1


__ADS_2