BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 61


__ADS_3

"Wow, wow, bukankah ada hal lain yang harusnya dikatakan dulu sebelumnya?" Nina berkata tajam, mendorong kacamatanya ke belakang hidung. "Seperti, 'halo apa kabar', 'selamat siang', atau alasan kenapa kau datang!"


"Aku sudah bilang 'hai', itu mewakili 'halo apa kabar'. Aku juga sudah berkata, 'semoga aku tidak mengganggumu', dan tujuanku datang ke sini memang untuk mengajakmu makan di luar."


"Kau tidak tahu sopan santun!" sembur Nina risih.


"Ada yang mau kutanyakan terkait arsip tua yang kupinjam," Jose menyahut cepat. Ia tidak punya waktu untuk basa-basi.


Nina mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kau mengancamku?"


"Tidak," Jose berkata kaget. "Aku serius cuma mau mendiskusikan sesuatu."


Nina diam sebentar, mengamati lelaki itu dengan kritis. Ia sudah sering menemui lelaki iseng yang cuma cari-cari alasan untuk merayu. Tetapi sepertinya Jose berbeda. Bola mata hitam itu memancarkan keseriusan.


"Sepertinya, ini bukan cuma soal tugas, ya?"


Jose tertawa kecil. "Firasatmu tajam sekali. Jadi, kau bersedia?"


Nina memutar bola mata. "Sepertinya aku tidak punya pilihan."


Kalimat tersebut dianggap persetujuan oleh Jose, yang langsung menggeretnya turun ke jalan.


"Kau tidak bawa mobil?" tanya Nina heran ketika Jose malah mengajaknya berjalan.


"Untuk apa? Jalan saja sudah sampai ke tempat tujuan. Pemakaian mobil cuma ajang pamer," tutur Jose asal. Ia memang jarang membawa mobil untuk melatih kakinya. Sama seperti keahlian lain seperti bahasa asing atau pun bermain musik, seni olah tubuh juga bisa jadi tumpul kalau tidak dilatih.


"Yang itu juga ajang pamer?" Nina menunjuk ke seberang jalan dengan dagunya.


Jose menoleh, matanya menangkap sebuah bangunan megah bergaya klasik. Cat temboknya putih membosankan, tetapi jendela-jendela yang menghiasi dinding mulus itu bening tak tercela, menampakkan pria-pria berpakaian perlente di dalamnya.

__ADS_1


Gedung Diskusi.


Jose menatap bangunan itu dengan sepintas rasa sedih, hal yang ditangkap juga oleh Nina, membuat gadis itu jadi berpikir bahwa mungkin Jose pernah kalah berdebat di sana.


"Yah, yang itu juga termasuk ajang pamer." Jose mengangguk setuju.


Nina tidak memberi tanggapan lagi. Jose menunjuk restoran yang ia pilih, membuat gadis itu terbelalak.


Tempat itu sama sekali tidak mewah. Bukan tempat kelas atas. Malah, tidak pantas disebut restoran. Nina lebih suka menyebutnya warung makan.


"Ini tempat pilihanmu?" Nina menatap heran dari balik bingkai kacamatanya. "Apa kau memang benar putra Keluarga Argent?"


Jose terkekeh. "Kenapa? Kau mengharapkan aku membawamu ke restoran mahal? Tempat itu bikin pegal, dan pakaianmu tidak cocok."


Nina mengatupkan mulutnya rapat-rapat, merasa malu. Memang benar, ia hanya memakai gaun sederhana dan sepatu murah, bukan gaun terusan yang gemerlap.


Jose melirik gadis itu dengan wajah sungkan. "Tempat ini memang tidak mewah, tapi makanannya enak. Kau akan suka."


Marco.


Tidak jauh dari keduanya, Marco memperhatikan dari dalam mobil. Tadinya ia ingin mampir dulu ke Gedung Diskusi untuk menemui langsung Direktur Pusat Arsip—pria buntal itu selalu ada di Gedung Diskusi untuk menebar jaringan—tetapi malah melihat keponakannya berjalan bersama dengan gadis yang kelihatan jelas berasal dari kelas jelata.


Keponakannya punya rambut dan mata hitam khas Argent, tampangnya di atas rata-rata. Yang membuat Marco senang adalah, bahwa meskipun Jose selalu kabur dari pelajaran yang ia berikan, meskipun Jose sangat malas mengerjakan atau terlibat sesuatu di bidang akademis, tetapi keponakannya adalah orang yang cerdas. Ia tahu bahwa semua buku di perpustakaan rumah Argent sudah selesai dibaca oleh Jose, bahkan buku tebal yang sulit milik Hegel.


Marco punya harapan yang besar pada Jose daripada kepada anak-anak keluarga Argent yang lain. Putra pertama sampai ketiga memiliki ketajaman khas Argent, tetapi tidak memiliki integritas yang cukup. Tentu saja mereka adalah yang terbaik di bidang mereka sendiri, tetapi Marco selalu merasa kecewa. Mereka semua tidak menguasai cara berkomunikasi dengan orang lain. Berkomunikasi maksud Marco adalah mengenal sisi-sisi gelap Bjork dan mengendalikan orang-orang di dalamnya.


Hanya Jose yang bisa. Marco tahu bahwa keponakannya itu selalu ‘memakai’ Krip sebagai penyedia informasi. Marco memiliki banyak anak buah lain yang bersembunyi di kegelapan, mengawasi gerak-gerik Jose. Marco menyadari bahwa keponakannya yang keempat memiliki bakat untuk mengandalikan Bjork dengan cara yang sama dengan dirinya.


Karena itulah Marco berniat memilihkan pasangan yang sesuai dengan Jose. Pasangan yang tidak akan menyulitkan keluarga Argent. Perempuan yang pantas, yang tahu tata etika serta tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara. Sayangnya, semua calon yang disodorkan oleh Marco malah ditolak.

__ADS_1


Dan sekarang, Jose malah dekat dengan perempuan-perempuan yang aneh. Anak dekil dari Bjork sebelah selatan, lalu sekarang ada lagi perempuan jelata yang lain.


Marco meninggalkan supir serta mobilnya di depan Gedung Diskusi, tetapi tidak memasuki bangunan tersebut seperti rencananya semula. Kakinya melangkah panjang ke arah restoran kecil di seberang jalan.


Ketika ia masuk, pelayan yang menyambut sampai tergagap, tidak menyangka akan dikunjungi oleh seorang Marco Argent. Pria tua itu tidak menggubris pelayan yang bertanya padanya dengan terbata-bata. Matanya menyapu ruangan, mencari di mana kiranya Jose dan kawan jelatanya.


Ia menemukan keponakannya di tempat yang sedikit tersembunyi. Dari tempatnya berdiri, Marco hanya melihat punggung Jose dan wajah perempuan berkacamata itu. Keduanya mungkin sedang membicarakan hal yang serius menilik dari wajah tegang si perempuan. Marco berjalan mendekat, memilih duduk di meja di belakang Jose daripada menyapa mereka. Ia perlu tahu apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya.


“Aku tidak mengerti maksudmu, Tuan Jose Argent ... ”


Marco mendengar suara yang perempuan, lalu mengangguk tenang. Setidaknya, orang itu memiliki kesopanan standar dan menyapa keponakannya dengan etis, bukannya menyebut langsung nama depan seperti yang dilakukan oleh Nolan.


“Aku ini pustakawan, bukan perpustakaan. Kalau kau memang ingin tahu daftar orang-orang yang hidup dua puluh tahun lalu, datang saja ke Pusat Arsip. Cari sendiri di sana.”


Seorang pelayan datang pada Marco, memberikan menu dengan sopan. Marco menyuruhnya menyingkir. Ia tidak mau makan atau minum di tempat seperti ini. Bahkan kehigienisannya pun diragukan. Kepalanya kembali didorong ke belakang, Marco memasang telinga baik-baik.


“Baiklah, tapi setidaknya, kau pasti tahu soal Sir William Bannet, kan?” Sekarang suara Jose.


“Orang baru itu? Siapa yang tidak tahu? Dia sering datang ke Pusat Arsip.”


“Wah!” seru Jose kaget. Tidak hanya Jose, bahkan Marco pun menajamkan pendengarannya.


“Memangnya, apa yang dia pinjam?”


“Daftarnya sih ada di Pusat Arsip. Sudah kubilang, kan? Tapi memangnya untuk apa kau tahu soal itu?”


“Berburu vampir,” Jose menyahut sambil tertawa. Nada suaranya kedengaran seolah ia sedang bercanda, tetapi Marco merasa sebaliknya. Ia bangkit dan berjalan pergi dari tempat itu. Di luar, seorang lelaki kurus yang mengenakam topi pet berlari kecil ke arahnya dengan wajah merah karena kehabisan napas.


Marco mengerutkan kening, mengenalinya sebagai salah satu pelayan di rumah. Ia menebak bahwa pelayan itu pasti membawa kabar penting dari rumah.

__ADS_1


Aneh, pikirnya, biasanya Jack yang bertugas hilir mudik jadi utusan.


***


__ADS_2