BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 156


__ADS_3

"Ummm ... Hans?" Jose meletakkan tangan di atas lengan kekar Hans yang merangkulnya. Ia merasa begitu kecil berada dalam pelukan lelaki itu. "Kau kedinginan atau kenapa? Bisa kau melepaskanku?"


Rolan mati-matian menahan tawa di sampingnya. Lelaki itu bahkan perlu menutup mulut dengan kedua tangan kuat-kuat agar tawanya tidak menyembur keluar.


Kalian bisa memeluk Argent manapun yang ingin kalian lindungi, ia memang pernah mengatakan itu, tetapi tidak menyangka Hans akan benar-benar melakukannya.


"Kalian juga melihat itu?" bisik Jose ketika akhirnya Hans minta maaf dan melepaskannya. Makhluk yang disebutnya masih berdiri diam di balik bayang-bayang gelap pepohonan. Bagian tubuhnya yang seperti tudung pengantin berlubang tampak mengembang dan mengempis lambat seolah sedang bernapas.


Atau mungkin karena angin, pikir Jose.


"Mana mungkin tidak lihat? Kalau yang sebesar itu tidak kelihatan, mataku pasti buta," sahut Rolan. Punggungnya meremang dan panas dingin. Ia yakin para pekerja yang saat ini berkumpul mengelilingi mereka juga merinding hebat sepertinya.


Mereka juga melihat makhluk itu, yang berdiri diam di sudut mata dan sepertinya beringsut makin dekat. Satu-satunya yang membuat mereka tetap tenang adalah Jose yang ketika pertama kali melihat makhluk itu tetap bisa melangkah santai dan begitu mudah memutuskan berputar balik seolah tidak melihat apa pun. Ketenangan pemuda itu menular pada semua orang, memberi keberanian.


Jose menatap ke sekitar, memastikan mereka semua memperhatikannya. "Kita masuk ke puri. Kalau makhluk itu mengejar, larilah menghindar. Jangan lawan hal yang kalian tidak tahu. Menghindar juga merupakan bagian dari taktik, itu bukan hal yang memalukan. Kalian ingat apa tujuan kita ke sini?"


Para pekerja mengangguk. Suara mereka terdengar seperti gelegak banjir ketika menyahut bersamaan, "Menjemput Tuan Marco."


"Menjemput Marquis Argent." Jose mengangguk. Lewat sudut matanya ia melihat raksasa tudung pengantin itu bertambah besar, yang berarti makin mendekat. Anehnya, tidak ada suara apa pun yang ia dengar kecuali desau angin dan gesekan dedaunan di atas mereka. "Kita tidak ke sini untuk menghadapi makhluk hutan, jadi jangan buang waktu. Kalau perlu, kita akan tetap tinggal di puri sampai pagi datang."


Hans mengangguk. Jose menggerakkan kepala, meminta mereka pergi duluan, tetapi Hans dan Rolan menggeleng tegas.


"Kau duluan!" desis Rolan.


Jose sebenarnya lebih suka jadi yang terakhir agar bisa memastikan keselamatan semua pekerjanya, tetapi ia tahu percuma mendebat. Ia bangkit dari balik tanaman perdu tempatnya sembunyi, kemudian menjejak tumit sepatunya dan melenting jauh ke depan. Angin berdesir di telinganya, membuat suara kelebatan ribut yang familier. Sudah lama ia tidak berlari seperti ini.

__ADS_1


Rolan menyusul di belakang tanpa ribut. Ia sudah terbiasa pada malam-malam gelap di mana tapak langkahnya harus tetap sesunyi kuburan.


Hans dan para pekerjanya berlarian dalam keheningan yang sama.


***


Marco sempat terguling jatuh dari altar ketika para rahib di depannya mengasak maju, berbarengan menyerangnya. Namun itu hanya sementara. Ia bangkit dengan cepat setelah menyabetkan pedang pendeknya ke kaki-kaki yang mengurungnya. Pedang itu sudah tumpul dan hanya bisa membuat dua atau tiga rahib jatuh, tetapi tetap efektif untuk menahan serangan. Daging yang tercabik mengucurkan darah, dan darah membuat beberapa orang jadi gentar atau terpeleset.


Tidak ada yang lebih gampang diprovokasi selain para pemuda. Emosi mereka masih belum stabil. Darah panas mereka selalu menggelegak meminta pembuktian. Dalam keadaan terdesak, mereka akan tetap merangsek maju demi satu pujian atas keberanian mereka. Anak-anak berfungsi sebagai unsur dramatik. Tidak ada yang tidak akan tergerak melihat anak sembilan tahun berteriak marah mengacungkan pedang seolah dunialah yang bersalah padanya. Ketika anak-anak memegang senjata, bingkai yang dikenakannya bukan lagi seorang kombatan melainkan korban yang melawan, karena seharusnya posisi anak itu tidak di sana. Seharusnya anak itu di rumah, bermain di halaman. Karena itulah banyak perang menggunakan anak-anak sebagai offense sekaligus defense yang efektif.


Karena itulah, Marco menyadari sembari menahan tebasan demi tebasan yang datang, anak-anak ini yang dijadikan prajurit penjaga.


Ia menyikut hidung satu anak dengan keras, menendang ulu hati yang lain, menjewer kuping salah satu pemuda dan melemparnya ke samping sebagai penahan serangan, dan semua itu ia lakukan sambil berhati-hati dengan tiap serangan pedang pendek yang dilayangkan secara asal ke arahnya.


Sesuatu yang tajam mengiris sisi pinggangnya. Marco memutar tubuh dan menghantamkan sisi pedangnya pada hidung pemuda idiot yang terkesiap gembira sekaligus kaget karena berhasil menusuknya. Pemuda itu jatuh, tetapi yang lain belum. Masih banyak yang memekik marah menyerbunya.


Haus, lapar, dingin. Ia merasa tubuhnya terhuyung. Seseorang berhasil menggoreskan pedang di keningnya, membuat darah mengucur menutupi pandangan.


Marco jatuh bertumpu pada ujung pedang, tetapi tidak mau menyerah begitu saja. Ia tidak mau mati di sini, ditusuk-tusuk seperti babi guling di meja pesta. Dengan sisa tenaganya, ia mengayunkan tangan, membabat siapa pun yang mendekat untuk mendobrak jalan, mencari celah.


Ada seru-seruan lain tertangkap oleh telinga Marco di sela dentum perkelahian, suara yang rasanya pernah ia kenal. Suara yang seolah sudah bertahun-tahun tidak ia dengar.


Gerald?


Begitu nama tersebut terlintas, para pemuda berjubah rahib yang mengelilinginya terkuak jatuh seperti dihantam meriam. Gerald meraung keras dan menghajar siapa pun yang terjangkau tangannya, melempar begitu banyak pemuda ceking ke udara seperti boneka kertas. Di belakangnya, belasan pekerja Argent melakukan hal yang sama: meraung dan menjotos semua orang yang menghalangi. Meskipun membawa senjata, tak satu pun dari mereka menggunakan sisi tajamnya ketika bergerak.

__ADS_1


Marco menghantam jatuh satu pemuda yang masih nekat menyerbunya. Lewat pandangannya yang buram karena darah, ia melihat Finnian juga merangsek masuk, mengarahkan pekerja yang dipimpinnya untuk menghalau para tamu tak bersenjata ke sudut aula.


Jauh di luar sana, tertutupi gerak hilir mudik manusia yang sibuk, Marco melihat Jose berlari masuk melintasi halaman puri diikuti oleh beberapa orang lain. Rolan juga ada di sana.


Baru setelah melihat keponakannya itu, Marco tersadar akan seluruh rasa sakit yang menderanya; seolah Jose melepaskan sumbat penghalang sakit yang ia miliki. Atau mungkin, itu hanya karena ia merasa lega. Pergelangan kakinya sakit sampai ke tulang. Darah merembes keluar dari sisi pinggangnya. Kepalanya nyeri. Seluruh otot di tubuhnya seperti ditarik-tarik hingga lepas. Ia mundur, menyandarkan tubuh pada altar batu dengan lelah. Lima orang pekerja Argent berdiri memunggunginya, berfungsi sebagai barikade.


Dalam beberapa menit yang terasa bagai berjam-jam, aula sudah ditaklukkan. Para tamu pesta duduk berkumpul di satu sisi aula, dijaga belasan pekerja bersenjata tajam. Orang-orang berjubah rahib dilucuti dari pedang mereka. Tidak ada lagi yang melawan, semua senjata sudah jatuh dan dikumpulkan oleh para pekerja. Jose berlari masuk, menendang keras kepala seseorang yang menggumamkan sesuatu sambil berbaring di atas lingkaran kapur, kemudian menghampirinya.


Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan. Jose hanya menunduk dalam salam hormat dan berkata, "Kami menjemput Paman. Kita pulang jika Paman sudah siap."


Pulang.


Kata itu bergema bagai musik di telinga Marco. Ia mengangguk, masih mencengkeram sisi pinggangnya yang perih berdarah. Tubuh-tubuh tersungkur di sekitarnya, meregang nyawa dan mengeluarkan ampas kematian, menyebarkan aroma busuk ke udara.


Seorang pekerja datang berlari membawa kursi, menawarkannya pada Marco, yang dengan senang hati duduk di sana.


Rolan datang beberapa saat kemudian, membawa serta Hans dan sepuluh pekerja di belakangnya. Hans bergabung dengan Gerald, mengatur orang-orang yang masih hidup dan meminggirkan mayat.


"Baiklah, Tuan Putri," kelakar Rolan sambil berlutut di depan Marco untuk memeriksa luka-luka di tubuh pria itu. Ia membuka tas selempang hitamnya dan mengeluarkan antiseptik. "Pangeran-pangeran ini sudah datang untuk menyelamatkanmu. Kau bisa tenang."


"Suruh salah satu pangeran haturkan makanan dan minuman untukku," Marco menggeram ketika luka di keningnya dibersihkan. "Tuan putri ini sangat lapar."


Jose menggerakkan kepalanya, memerintah salah satu pekerja. "Apa ada orang lain lagi di sini, Paman?" tanyanya. "Selain yang ada di aula ini?"


"Entahlah, Jose." Marco tersenyum. Ia merasakan kebanggaan yang aneh menyusup di hatinya melihat Jose begitu efektif dan tenang mengendalikan para pekerja. Hanya beberapa hari mereka tidak bertemu, tetapi ia tahu Jose sudah berkembang jauh lebih dewasa dari terakhir mereka berpisah. Keponakannya bukan lagi pemuda yang sama dengan yang merajuk ketika dijemput polisi patroli. "Aku tidak tahu soal orang, tapi di sini ada setidaknya satu golem berkeliaran."

__ADS_1


Rolan mengumpat mendengarnya.


***


__ADS_2