BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 42


__ADS_3

Rolan menumpangkan kaki kirinya ke atas kaki kanan. Tangannya sibuk mengambil kue kering dan mencelupkannya ke dalam teh sebelum melahapnya. Marco menatap kegiatan itu dengan wajah tak senang, tetapi Rolan tidak peduli. Ia hanya akan melakukan apa yang menurutnya menyenangkan.


Sebenarnya, menjadi dokter bukan kegiatan yang sangat menyenangkan, terlebih menjadi dokter keluarga Argent. Lagi pula nama belakangnya bukan Argent. Ia seorang Orlov.


Namun kakaknya sendiri, Renata, yang memintanya. Rolan tidak bisa tidak mengabulkan apa yang diinginkan kakaknya yang cantik itu. Bahkan di pertengahan usia empat puluh, kakaknya tetap masih terlihat menawan. Tubuhnya ramping dan tinggi, kulitnya putih susu, rambut ikalnya yang cokelat tua diikat rapi dan disanggul. Duduk di dalam rumah kaca yang dipenuhi bunga seperti sekarang membuat Renata tampak seperti lukisan hidup.


“Jadi, para pekerja masih belum menemukan siapa yang menyusup kemarin?” Renata bertanya.


“Belum, tapi tenang saja, aku sudah dapat gambaran besar siapa pelakunya.” Marco ada di sampingnya, duduk di kursi lain, sementara Edgar masih berkeliaran di luar mengurus pekerjaan.


Di depan mereka, di atas meja yang terbuat dari kaca bening, kue-kue dan teh ditata dengan rapi.


“Kuharap penyusupnya segera ditemukan,” Renata berkata lagi. “Keamanan sudah ditingkatkan, semoga saja tidak ada pencuri lagi yang masuk. Aku masih merinding mengingat yang terjadi malam itu.”


Marco dan Rolan saling bertukar pandang. Renata melihat hal itu, tetapi diam saja. Ia tahu bahwa ada rahasia lain yang disembunyikan oleh para pria, mungkin terkait dengan Higgins atau orang-orang yang hilang itu. Ia tidak diberi tahu banyak tentang penyelidikan yang dilakukan oleh Marco, tetapi itu tidak masalah. Kalau tidak ada yang mau memberitahunya, mungkin itu memang tidak perlu ia ketahui. Maka Renata tidak pernah memaksa. Ia hanya mengikuti arus yang terjadi.


“Oh ya,” ujarnya lagi. “Aku belum cerita pada kalian. Sebenarnya kemarin aku dapat kabar dari Jacob.”


Jacob adalah putra pertamanya, selisihnya dengan Jose empat tahun. Jacob sudah menikah dan tinggal di luar Bjork. Renata masih ingat dengan jelas wajah putranya yang berambut hitam itu, masih bisa merasakan uap napasnya waktu bayi. Rasanya begitu singkat, tiba-tiba saja putranya sudah berubah jadi lelaki dewasa dan meninggalkan dirinya. Jacob menolak tinggal di Argent atau pun Bjork untuk mewarisi usaha keluarga dan memilih membangun usaha sendiri.


“Kenapa Jacob?” Marco menaikkan kedua alisnya dengan heran. “Dia masih di perusahaan makaroni itu, kan?”


“Ya, ya, perusahaannya tambah besar.” Renata berusaha mengusir rasa melankolisnya dan mengganti dengan nada bangga. Putranya sudah sukses. “Dia bilang mau mampir ke sini. Tiga hari lagi dia datang.”

__ADS_1


“Wow,” ucap Rolan pendek, meraih sekeping biskuit lagi dan mencelupkannya ke dalam cangkir teh.


Renata menatap adiknya dengan dahi berkerut. Ia menangkap ketidaksukaan Marco pada cara Rolan menikmati penganan dan ia juga tahu bahwa Rolan tetap bersikeras melakukan apa yang dia suka karena senang menggoda Marco. Sifat Rolan yang satu ini membuat Renata teringat pada Jose.


“Jadi,” Marco mengalihkan tatapannya dari cangkir teh Rolan. “Dia akan datang sendiri atau dengan keluarganya? Untuk berapa lama?”


“Datang dengan istrinya, Olivia. Untuk lebih jelasnya sih dia akan menghubungi hari ini. Tapi belum ada telepon.”


“Mungkin batal,” kata Rolan ringan. “Kurasa lebih baik juga batal. Bjork sedang tidak aman, kan? Tidak ada apa-apa di sini yang bisa dilihat.”


“Tentu saja banyak yang bisa dilihat!” tukas Marco cepat. Senyum terbentuk di bibir tipisnya, sebuah senyum yang terlalu samar. “Kota ini masih berjalan dengan baik. Tidak ada salahnya kalau Jacob datang dan melihat-lihat.”


Rolan memutar bola mata. “Menurutku sebaiknya dia tetap di luar kota.”


Alasan itu membungkam mulut Rolan. “Apa pun yang membuat Kakak senang,” ucapnya dengan nada mengalah. “Lagi pula, kalian tuan rumahnya.”


“Omong-omong soal Jose, aku belum melihatnya sejak dia mengantar Garnet pulang," komentar Marco.


“Ah, mengingat itu aku jadi menyesal. Aku tidak sempat menemui Maria waktu makan siang tadi. Apa dia kecewa?” Renata meletakkan cangkirnya kembali pada tatakan, membuat suara gesekan yang lembut.


“Tidak, dia tidak kecewa,” hibur Rolan. Ia menengadahkan kepala ke atas dan menyipitkan matanya. “Aku melihat jendela kamar Jose sudah tertutup rapat, padahal tadi terbuka. Mungkin dia sudah pulang. Biar kucoba melihatnya.”


Ia bangkit berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya untuk menyingkirkan remah-remahan kue, sekali lagi menyengir ketika Marco melotot padanya. Rolan tahu bahwa meski semarah apa pun pria itu padanya, ia tidak akan diusir dari rumah Argent. Ia adalah tangan kanan Marco.

__ADS_1


Sambil melenggang keluar dari rumah kaca, Rolan kembali teringat pada mayat pertama yang datang padanya.


Waktu itu hujan gerimis. Marco menggedor pintu rumahnya dengan batu karena mengiranya sedang tidur, padahal Rolan sejak lama bersandar pada pintu sambil menghitung dalam hati. Tentu saja ia tahu apa yang membuat Marco begitu tidak sabaran waktu itu.


Marco tidak sendirian. Ada juga Inspektur yang membawahi kota Bjork. Juga ada dua atau tiga orang polisi yang sudah tua, serta tiga orang petugas koroner. Rolan mengenali mereka semua.


Di hantaman pintu yang kesebelas, Rolan mengacak-acak rambutnya, membuka kancing kemejanya yang paling atas, kemudian membuka pintu sambil berlagak seperti orang barusan bangun tidur. Ia membelalakkan matanya, berpura-pura terkejut ketika melihat orang-orang itu membawa kantong mayat.


Rolan tahu bahwa Marco menguasai sisi gelap Bjork. Ia tidak kaget. Malahan, ia memang sudah menduga kalau Marco akan datang padanya suatu saat sambil membawa mayat.


Hal yang tidak diduga oleh Rolan adalah isi kantong mayat tersebut. Isinya memang mayat, tetapi Rolan tidak memalsukan rasa kagetnya waktu melihat kondisi mayat tersebut. Mayat itu membelalakkan mata, tubuhnya belang-belang biru dan hitam. Kulitnya kisut. Lidahnya yang abu-abu menjulur keluar. Darah mayat itu kering kerontang.


Itu adalah mayat kering pertama yang dibawa oleh Marco kepadanya. Selain dirinya, hanya sedikit yang mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi pada beberapa orang hilang di Bjork. Mayat kedua dan ketiga, kemudian beberapa mayat lagi datang pada Rolan setelahnya.


Marco tahu praktik gelap yang dilakukan Rolan. Sebaliknya, Rolan juga tahu bahwa Marco adalah pengendali sisi kotor dan gelap Bjork. Tanpa perlu mengatakan apa pun, keduanya saling bekerja sama soal orang-orang yang hilang itu. Mereka bekerja dalam kesepakatan sunyi.


Marco mengizinkan Rolan untuk membedah tiap mayat dan mencari tahu bagaimana cara darah-darah tersebut terkuras. Rolan tidak peduli pada uang yang dikirimkan Marco ke dalam dompetnya. Ia lebih tertarik pada misteri yang terjadi di Bjork. Namun ia tidak menunjukkan sama sekali tentang minatnya yang berlebih. Kalau Marco sampai tahu bahwa dirinya tidak berminat pada uang dan tertarik secara sukarela pada misterinya, bisa-bisa Marco tidak lagi memperlakukannya dengan hati-hati.


Atas perintah Marco, polisi sama sekali tidak menyebarluaskan urusan penemuan mayat kering tersebut. Yang masih diketahui oleh publik hanyalah bahwa orang-orang yang menghilang belum ditemukan, dan bahwa mereka harus hati-hati setelah hari gelap.


Meski sebagian orang sudah menduga bahwa kemungkinannya, orang-orang yang hilang itu tidak bisa lagi ditemukan selamat, tetapi dugaan itu hanya disimpan dalam hati. Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa orang-orang itu memang benar-benar sudah mati. Dan lagi, tanpa darah.


***

__ADS_1


__ADS_2