BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 184


__ADS_3

Ketika pagi-pagi benar George mengetuk pintu kamarnya dan masuk bersama Rolan, Marco segera tahu bahwa ada yang tidak beres.


Jangan Jose, pikirnya ngeri. Kemudian ia jadi ingat adiknya yang masih berada di Aston, mengurus rubah-rubah licik oportunis. Jangan ada apa-apa terjadi padanya atau Edgar.


Keluarga bagi Marco adalah satu-satunya yang paling penting. Ia ingat tiga puluhan tahun lalu seorang gadis pernah memberinya satu pertanyaan usil, "Jika harus memilih antara keluargamu yang kuhilangkan atau status kebangsawananmu yang kucabut, kau akan memilih yang mana, Sayang?"


Gadis itu anggun dan cantik. Begitu muda, begitu kenes, begitu tinggi hati dan cerdas. Gadis dengan rambut hitam mengilap dan senyum yang selalu tertekuk agak miring. Bicara dengannya membuat Marco merasa sedang menghadapi misteri dan teka-teki. Ia suka kedua hal itu.


Namun pertanyaan gadis itu bukan teka-teki baginya. Marco masih ingat dengan jelas apa jawaban yang ia berikan seolah baru mengucapkannya sedetik lalu.


Ia menciptakan sendiri opsi ketiga yang adalah meninggalkan gadis itu.


Kenapa harus bersama dengan seseorang yang demikian egois hingga membuatnya harus memilih antara ini atau itu? Perempuan benar-benar tidak masuk akal baginya. Bahkan meski hanya bercanda atau jahil, jelas ada nada tertentu dalam pertanyaan tadi. Gadis itu sedang mencari tahu letak kelemahannya. Marco tidak suka dicobai, dan yang lebih utama: ia benci jika keluarganya diusik atau dijadikan bahan eksperimen. Bahkan meski hanya dalam pengandaian.


Kalau pagi ini ia mendapat kabar bahwa anggota keluarganya terluka atau celaka, Marco bersumpah ia akan mengobrak-abrik Bjork dan mengirim kembali Sir William ke neraka dengan kedua tangannya sendiri, tak peduli berapa banyak nyawa yang harus ia korbankan.


"Ada yang salah?" tanyanya sambil menyibak selimut sebisa mungkin tetap menampilkan wajah tenang. "Kalian kelihatan pucat. Semua baik-baik saja?"


George menutup pintu kamar rapat-rapat sementara Rolan mendekatinya, membuka perban di pinggang dengan cekatan.


"Masih belum kering," komentar Marco. Ia merasa dagingnya menebal di sisi yang teriris. Namun rasanya sudah tidak terlalu nyeri asal ia bergerak hati-hati.


"Aku malah bakal heran kalau lukamu kering dalam waktu sehari," tukas Rolan. "Masih sekitar dua sampai lima hari lagi sebelum jahitannya bisa dicabut. Perkembangannya bagus, kok. Luka di keningmu juga sudah mulai membaik. Kulepas saja penutupnya."


Marco menatap George dan mengangguk, memberi kesempatan bicara padanya.


"Tuan, Krip meninggal," lapor George tanpa basa-basi. "Saya menemukan mayatnya di depan pintu rumah. Kondisinya ... mengenaskan. Persis seperti Higgins."

__ADS_1


Marco diam, menunggu kabar lain yang lebih buruk. Ketika tidak ada lanjutan lain, ia memastikan, "Lalu?"


"Lalu, Tuan?" George tidak mengerti maksudnya. Pria itu segera menambahkan, "Tidak ada yang tahu selain saya dan Dokter Rolan. Semua orang masih tidur."


"Jose?"


"Tuan Muda masih tidur di kamarnya," George segera paham apa maksud Marco. "Nyonya Renata masih aman, para dayang selalu mengabari saya dengan memberi kode lonceng tiap beberapa jam. Belum ada kabar dari Tuan Edgar, tapi jika ada masalah saya yakin Tuan Muda Jacob akan segera mengabari. Nona Garnet masih aman di kamarnya, dayangnya juga memberi saya tanda dengan menarik pita lonceng tiap beberapa jam."


Itu kabar bagus. Marco merasa bahunya melemas. Ia mengusap rambut, merapikannya dengan jari. "Siapkan air mandi dan pakaianku sekarang, lalu sambungkan dengan Greyland. Suruh Stuart kemari segera setelah sarapan."


George membungkukkan punggungnya dengan takzim, kemudian mulai melaksanakan perintah secara berurutan mulai turun ke lantai satu untuk menyiapkan air. Dua pelayan membantunya membawa baskom-baskom besar air panas, kemudian segera pergi setelah selesai memenuhi isi bak mandi. George tetap tinggal di kamar untuk membantu Marco membasuh diri.


"Dia menantang kita," kata Rolan muram. Ia sendiri juga menyiapkan sebaskom air panas serta antiseptik untuk membersihkan luka Marco. "Hati-hati dengan lukanya, George. Jangan sampai kena air."


"Saya mengerti, Dokter."


"Menantang? Dia mengejek kita." Marco membuka kimono tidurnya. George mengikutinya ke kamar mandi pribadi yang terletak di sisi dalam kamar. "Aku tadinya berpikir dia tidak akan bergerak sampai gerhana datang, tapi itu memang terlalu naif. Tentu saja dia tidak mungkin diam menunggu dibunuh."


"Itu mungkin saja." Marco sudah mendengar apa yang ingin dilakukan keponakannya itu. Selain Rolan memberi tahu, Jose sendiri juga sudah melaporkannya sambil menambahkan bahwa ia sengaja tidak memakai orang-orang Argent karena tahu Marco pasti punya rencana sendiri dengan para pekerja.


"Menurutmu rencana Jose akan berhasil? Rencanamu?"


Marco tertawa mendengar nada ragu itu. "Kupikir kau dokter yang penuh fantasi?"


Rolan tersenyum masam. "Dan kupikir kau orang yang realistis."


"Sejauh ini aku masih realis. Dia menyerang Krip dan melempar mayatnya ke depan pintu kita. Kenapa harus melakukan demonstrasi aneh itu? Kenapa dia tidak langsung saja mengetuk pintu, mengisap darahku, atau melakukan teror di sini?"

__ADS_1


"Kita sudah memasang lavender di mana-mana. Mungkin itu berhasil?"


Marco menggeleng pelan. "Aromanya memang bikin mabuk. Dalam beberapa mitos dikatakan bahwa makhluk semacam vampir punya indera penciuman yang sangat tajam, karena itulah mereka menghindari bawang atau lavender. Tapi kita bahkan tidak tahu apakah dia memang benar vampir. Kalaupun memang vampir, kita tidak tahu seberapa jauh kebenaran mitosnya. Yang kita tahu hanya bahwa dia memang diikuti iblis, bukan adalah iblis. Itu menurut Jose."


George selesai mengeringkan tubuh Marco dan Rolan segera membersihkan luka di pinggang pria itu, lalu membebat kembali pinggangnya dengan perban baru.


"Lalu menurutmu kenapa?" Rolan tertawa hambar. "Kenapa dia repot melakukan demonstrasi konyol itu? Sebelumnya, dia tidak melempar mayat kering ke rumah ini. Jika tindakannya ini adalah permulaan sebuah agresi, kenapa dia tidak melakukan hal yang lebih hebat? Kenapa tidak menyerangku atau Jose?"


Marco mengerutkan kening, tak suka mendengar pertanyaan yang terakhir. Ia memikirkan pelan-pelan semua hal, tetapi yang terpikir olehnya hanya satu hal. "Mungkin karena Garnet ada di sini," katanya. "Gadis itu penting. Mungkin dia tidak ingin mengambil risiko melukai Garnet dan membuat mediumnya rusak."


Rolan mengerutkan kening. "Ya, masuk akal. Lalu kenapa Krip? Dia bisa memilih orang lain untuk dilemparnya ke rumah kita."


"Tuan," George mendehem pelan. Ia selesai membantu Marco berpakaian. "Maaf karena saya menyela padahal tidak dimintai pendapat. Tuan Krip bilang, dia ingin ke Pusat Arsip untuk menyelidiki berkas lama tentang bencana-bencana."


"Tidak masalah, George. Aku selalu membuat pengecualian untukmu." Marco mengangguk. "Jadi dia ke Pusat Arsip."


"Dan dibunuh di sana?" Rolan mengerutkan kening. "Tidak, di sana selalu ramai. Berarti dalam perjalanan pulang? Mungkin juga dia menemukan sesuatu yang penting."


"Dan karena sedang meriset, dia pasti membawa catatan atau berkas." Marco mengesah. "Tapi dokumen semacam itu, kalaupun ada, pasti sudah dibuang oleh Sir William."


"Tapi kita bisa mengeceknya di Pusat Arsip, mencari tahu apa saja yang dia baca. Pasti ada catatannya." Rolan masih ingat kebijakan terbaru di Pusat Arsip adalah mencatat identitas dan judul buku yang diambil dari rak, bahkan meski hanya untuk dibaca di tempat itu. Aturan tersebut dibuat setelah begitu banyak buku jadi rusak atau berkas jadi hilang karena tangan-tangan jahil pemuda Bjork yang keranjingan mencari bahan penguat debat di Gedung Diskusi.


Marco mengangguk. "Benar. Suruh dua atau tiga pekerja ke sana," ia memerintah George. "Pastikan mereka mencari tahu apa yang dilakukan Krip di sana. Telusuri jalan dan cari tahu ada kejadian apa semalam. Tak mungkin dinding Bjork luput mendengar sesuatu."


George mengiyakan dengan penuh hormat dan undur diri setelah memastikan tidak ada lagi yang dibutuhkan darinya.


Setelah pelayan itu pergi, Rolan berpaling kembali pada Marco. "Provokator dari Jorm yang kemarin ditangkap Jacob sudah mau bicara. Kau ingin mendengar apa yang mereka katakan?"

__ADS_1


Marco menyisir rambutnya di depan kaca. Pria itu menyeringai seperti serigala. "Memang itu niatku pagi ini. Mari kita lihat ke arah mana semua titik berhubungan."


***


__ADS_2