BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 116


__ADS_3

Winona Garnet bersikeras menganggap bahwa putrinya hanya melihat kecoa atau bermimpi buruk, terlebih ketika melihat bahwa sore harinya Maria memang terlihat sehat. Pipi gadis itu merona merah, mata birunya bersinar cerah, dan rambut cokelat madunya berkilau di bawah cahaya lampu. Maria tampak lebih cantik dari biasanya. Dan putrinya itu menolak diperiksa oleh dokter.


"Aku cuma kecapekan. Mungkin darah rendah," Maria bersungut-sungut waktu ide soal memanggil dokter diangkat lagi. Ia masih di depan cermin, mematut diri sambil menyikat rambut. "Aku tidak mau dokter. Aku benci rasa stetoskop dingin mereka di kulitku. Lagi pula sekarang aku baik-baik saja."


"Sebelumnya, kau muntah." Winona masih mencoba membujuk. Ia menatap wajah putrinya dengan teliti, mencari tanda lain yang bisa digunakannya sebagai alasan. Namun wajah Maria terlihat cerah dan sehat.


"Aku muntah karena makanannya tidak enak. Pasti ada yang busuk di situ."


"Omong kosong! Yang lain juga makan dari panci yang sama dan tidak ada yang muntah!"


Maria mengangkat bahu putihnya dengan lagak tak peduli. "Yang penting sekarang aku sudah sehat. Ibu lihat sendiri, kan?" Ia bangkit untuk memeluk dan mencium pipi ibunya. "Pokoknya, kalau aku merasa sakit, aku akan pergi sendiri ke dokter. Tapi sekarang aku merasa sehat!"


Winona memandangi wajah putrinya dengan saksama, kemudian menyerah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. "Baiklah, baiklah. Ini pesta dansamu. Aku tahu meskipun kau demam tinggi, kau tidak pernah mau ketinggalan pesta."


Maria memutar bola matanya. "Ibu mengungkitnya lagi. Waktu aku demam itu kan memang debutku, mana mungkin aku membatalkan debutante-ku sendiri."


Pesta debutante atau biasa disingkat debut adalah ketika seorang perempuan bangsawan sudah cukup usianya untuk diperkenalkan pertama kali pada masyarakat. Gadis-gadis ini biasanya berumur lima belas tahun ke atas, mencari pria untuk mengajak mereka berdansa dengan prospek menikah. Maria menginjakkan kaki di lantai debut pada umur lima belas tahun dalam keadaan demam tinggi.


Yang membedakan para debutante dengan perempuan lain yang sudah diperkenalkan secara resmi sebelumnya adalah, para debutante biasanya mengenakan gaun putih dan duduk berkelompok atau bersama dengan pendamping atau sponsornya. Pihak yang mempromosikan mereka sebagai sponsor umumnya adalah orang yang terpandang.


Renata Argent adalah orang yang menjadi sponsor Maria, dan Jose menemaninya berdansa pertama kali. Maria dalam demamnya menginjak kaki Jose beberapa kali dan menendang tulang kering lelaki itu saat berdansa. Jose bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan bahwa kakinya tidak sakit, tapi dia tidak mengajak gadis lain berdansa setelahnya. Maria menebak itu karena kaki Jose bengkak terinjak. Merasa bersalah dan malu kalau akan menginjak kaki pasangan dansanya yang lain, Maria akhirnya tidak menerima ajakan berdansa lagi.


Sejak itu segalanya jadi buruk bagi mereka berdua karena tersebar kabar bahwa mereka berdua berpacaran. Itu hanya rumor, tapi ketika Jose dengan keras kepala menolak semua calon istri yang disodorkan, Marco akhirnya menebak rumor tersebut memang benar. Pria itu mengangkat pembahasan mengenai pertunangan pada saat bertemu dengan Maria. Maria tersenyum kecil mengingat bagaimana ia tak sengaja menyemburkan tawa waktu itu.


"Marry?" Winona mengawasi putrinya dengan heran. "Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Baik," sahut Maria cepat. Ia memutar tubuhnya satu kali. "Bagaimana gaunku? Ada yang kurang?"


Winona tersenyum tipis. "Kau kelihatan cantik."


Meski begitu, ia merasa ada yang berbeda dari putrinya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.


***


"Tumben, kau tidak membawa mobil sendiri?" tanya Maria begitu melihat Jose muncul diantar oleh supir. Ia mengerutkan alis ketika melihat supir mobil Jose justru melambai padanya. "Lho? Dokter Rolan yang menyetir?"


"Ya, Paman sedang kelebihan waktu luang. Dia ingin mengantar kita." Jose menaiki undakan pelataran Maria, kemudian membungkukkan punggung sedikit untuk memberi hormat dengan gaya terlalu sopan. "Kalau kau keberatan, Putri, aku bisa memintanya turun supaya hanya aku yang bisa jadi supirmu."


Maria tertawa. Ia menepuk bahu lelaki itu keras-keras menanggapi kelakar barusan. "Ayolah kita berangkat!"


"Pura-pura tidak tahu," cibir Maria. "Ayah dan Ibu pergi ke Gedung Diskusi. Mereka cuma pesan pada Susan, kalau bukan kau yang menjemput, aku tidak boleh pergi."


Jose menoleh ke belakang Maria. Ada butler keluarga Garnet, beberapa pelayan lain, serta dayang Maria: Susan. Ia sudah mengenal dayang itu sejak remaja. "Itu benar atau aku harus mendobrak masuk untuk memberi salam dulu?"


Susan tersenyum kecil. "Benar, Tuan. Nyonya memang berpesan seperti itu."


"Kau pikir aku bohong?" Maria sengaja membuat wajah terluka. Sebelum lelaki itu sempat menjawab, ia segera menggeret Jose ke mobilnya. Di undakan kedua, Jose berhenti mendadak hingga Maria terhuyung jatuh.


Para pelayan yang masih menunggu di depan pintu terkesiap kaget. Susan bahkan sudah setengah beranjak menghampiri mereka. Maria yakin ia akan menghantam tanah, tetapi Jose sudah merangkul pinggangnya dengan cepat dan membantunya tegak kembali.


Jantung Maria masih berdegup kencang karena kaget. Ia siap membentak Jose, tapi berhenti begitu melihat lelaki itu menatapnya dengan serius.

__ADS_1


"Apa?" tanya Maria waswas.


Jose mengulurkan tangan, menyentuh ujung dagu Maria dengan pelan. "Kau sakit?"


Maria menepis tangan Jose, mendadak salah tingkah begitu menyadari jarak mereka terlalu dekat. Ia bisa merasakan tatapan para pelayan di punggungnya. "Tidak. Kenapa? Aku kelihatan pucat? Mungkin make up-ku."


"Bukan, kau kelihatan lebih cantik dari biasa," sahut Jose jujur, tidak sadar membuat pipi Maria merona merah. "Tapi ada luka ... di lehermu. Rasanya terakhir kita bertemu tidak ada."


Maria menyentuh kedua sisi lehernya dengan kaget. Ia tidak ingat melihat ada luka saat merias diri tadi. "Luka di mana?" Ia menoleh ke belakang, ke arah Susan yang juga mendengar mereka. Dayangnya segera mendekat untuk memeriksa.


Susan mencermati leher Maria, tapi tidak menemukan apa pun yang mirip luka. Dayang itu menggeleng pelan.


"Permisi," ucap Jose tak sabar, kemudian menyentuh ringan rahang Maria hingga gadis itu menelengkan kepala karena terkejut. Di leher kanan Maria ada bintik kecil berwarna kemerahan.


Susan mengerutkan kening. "Ah, saya juga melihat itu tadi. Tapi saya pikir itu karena serangga."


Maria mengelus lehernya sendiri, tapi tidak menemukan apa pun. "Kau berlebihan," katanya pada Jose, tapi diam-diam merasa cemas pada lehernya. "Lukanya kelihatan jelas?"


"Tidak, Nona. Hanya satu bintik merah. Sepertinya gigitan nyamuk. Tidak kelihatan," Susan menoleh pada Jose dan menambahkan, "kecuali kalau ada yang memperhatikan dengan sangat cermat."


Jose tidak menanggapi sindiran itu. Ia menatap Maria agak lama, "Marry, akhir-akhir ini kau sering bertemu Sir William?"


Maria menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi mendengar pertanyaan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2