
Ada suara geleser batu berat, disusul dengan suara langkah. Beberapa orang memasuki ruang rahasia dan menuruni tangga batu. Mereka berbisik-bisik. Suaranya menggema, tapi tidak kedengaran terlalu jelas. Nolan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ujung-ujung jarinya terasa dingin. Hidungnya dingin. Napasnya makin cepat. Ia dicekam rasa ngeri.
Marco menyadarinya. Ia menepuk pelan punggung Nolan dua kali untuk menabahkan hati anak itu, mengatakan bahwa gadis itu tidak sendirian. Usaha Marco sedikit berhasil. Napas Nolan berubah lebih tenang. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dari mulut ke telapak tangan, berusaha menghangatkan jarinya yang beku.
Nolan menoleh ke samping, ke tempat di mana harusnya wajah Marco berada, tetapi yang bisa ia lihat hanya hitam yang pekat. Ia bahkan tidak bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Sebenarnya ia ingin mencoba berbisik, menanyakan apa yang harus ia lakukan nanti atau tanda apa yang akan diberikan Marco padanya supaya ia tidak salah bertindak, tetapi Nolan takut suaranya akan terdengar keras dalam ruang sesunyi itu, jadi ia tetap diam.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya orang-orang itu sampai di dasar menara. Jumlahnya dua orang, dan keduanya adalah pemuda bertubuh tanggung yang mengenakan jubah bertudung hitam. Tudungnya tidak mereka kenakan, membuat rambut cokelat kering mereka terlihat dalam temaramnya cahaya. Masing-masing dari pemuda itu membawa lentera sebagai penerangan serta satu bilah pedang pendek.
Nolan melirik, melihat Marco menatap ke arahnya dengan satu jari menempel pada bibir, memintanya tetap diam. Gadis itu mengangguk patuh.
Marco cukup percaya diri dengan staminanya sendiri. Bahkan meski tahun ini ia sudah melewati tanggal lahir yang kelima puluh tiga, ia yakin akan bisa menghajar kedua pemuda itu sendirian. Itu kalau keduanya tidak membawa pedang. Namun lawan mereka sekarang membawa pedang. Dan ia tidak tahu apakah masih ada lagi yang menunggu di atas menara. Marco menyentuh revolver yang ia selipkan di ikat pinggangnya, mempertimbangkan untuk menggunakan senjata itu. Ia bisa saja menembak kepala kedua lawan sekarang. Namun bagaimana kalau mereka bertemu lawan lain yang lebih kuat nanti?
Kedua pemuda berjubah hitam itu berjalan dengan langkah pelan-pelan seperti ketakutan. Mereka bahkan berdiri berdempet-dempetan. Keduanya bicara dengan logat daerah Selatan yang kasar dan kasual.
"Nggak ada siapa-siapa. Mana mungkin mereka ke sini, mereka kan nggak tahu ada ruang rahasia. Ayo balik, tempat ini bikin aku takut setengah mati!" kata pemuda pertama dengan suara melengking gemetar.
Nolan menelan ludah. Dua lelaki itu memang mencari mereka.
"Tunggu, ada pintu di sana. Kita periksa dulu," sahut pemuda kedua, kedengaran sama resahnya.
"Pintu itu cuma hiasan! Kan dulu pernah ada yang mau coba buka, tapi nggak bisa! Ayolah! Si tua itu nggak mungkin jalan jauh. Kakinya kan luka!"
Nolan menoleh ke arah Marco dengan kaget. Ia tidak tahu pria itu terluka. Rasanya ia melihat Marco berjalan dengan normal sejak tadi.
__ADS_1
"Eh, yang satu itu cewek kan?"
Jantung Nolan seperti tersengat mendengar orang itu membicarakannya. Kedua lelaki itu sengaja bicara keras-keras, mungkin untuk mengatasi rasa takut mereka. Keduanya tidak melihat Marco maupun Nolan yang meringkuk di bawah tangga pilin.
"Kita bisa garap dia dulu kalau ketemu nanti. Mubazir kalau dibu—“
Pemuda pertama tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Marco sudah keluar dari persembunyian dan melempar pisaunya, tepat mengenai batang leher satu orang yang sebelah kanan. Orang itu mengeluarkan suara tercekik, kemudian ambruk. Lentera yang dibawanya jatuh dan pecah. Api menyambar minyak yang tumpah di lantai. Pemuda yang kedua membeliak, menatap tubuh kawannya yang mengejat-ngejat dengan mulut menganga. Sebelum lelaki itu sempat pulih dari rasa kagetnya, Nolan menjerit dan berlari kencang, menendang lampu lentera yang dibawa pria itu dengan niat mematikan cahaya. Tendangannya tidak cukup kuat. Lampu itu tidak lepas dari tangan lawan, tapi cukup untuk mengalihkan fokus perhatiannya.
Marco gantian menderap maju, melayangkan kepalan tangannya keras-keras ke bawah rahang lelaki itu. Umur pemuda itu mungkin masih awal 20. Jalan hidupnya harusnya masih panjang. Marco tidak peduli. Ia menendang keras selangkangan pemuda itu hingga dia terjengkang jatuh. Sambil menjerit, pemuda itu mengayun-ayunkan pedang dengan liar. Marco menggunakan sol sepatunya yang keras untuk menahan bilahnya dan menendang senjata itu tepat pada gagang hingga terpental. Suara denting logam mengisi menara. Pemuda itu membalik badan dan merayap untuk mengambil kembali senjatanya, tetapi Marco mengangkat kaki tinggi-tinggi dan menginjak pergelangan tangannya tanpa ampun.
Pemuda di bawah kakinya melolong panjang sambil mencengkeram pergelangan tangannya, yang kemungkinan patah.
"Ambil pedangnya, Nak." Marco menggerakkan kepala dengan gaya memerintah. Nolan dengan patuh mengambil pedang pendek yang terlempar agak di belakang Marco.
Nolan memungut pedang pendek di lantai, yang ternyata cukup berat. Panjangnya tiga puluh senti dengan mata ganda. Pegangannya terbuat dari logam murah. Nolan berniat menyimpan benda itu sebagai senjatanya. Ia menoleh untuk mengatakannya pada Marco, tepat ketika matanya menangkap pemuda pertama yang tertusuk pisau di leher tadi mencoba bangun, mengerahkan sisa tenaganya untuk melemparkan pedang pendek yang masih ia genggam ke arah Marco.
Semuanya terasa begitu lambat bagi Nolan. Dunia seolah berhenti bergerak dan suara-suara hilang dimakan waktu. Nolan menjatuhkan pedang yang ia pungut dan berteriak memperingatkan. Tangannya terulur ke depan. Kakinya bergerak begitu lambat seolah ia berjalan dalam lumpur. Marco mendengar suara teriakannya dan menoleh. Pemuda kedua yang ada di depan Marco menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan kabur.
***
Pesta memang diadakan juga di lantai tiga. Ketika berbelok ke koridor yang menuju ke kamar master, mereka disambut ruangan luas dengan bukaan lengkung tanpa pintu. Ada lima puluhan lebih orang berkumpul di sana, laki-laki dan perempuan, dan semuanya mengenakan topeng hias seperti dalam karnaval. Bahkan para pelayan juga mengenakan topeng.
Jose menoleh ke arah di mana Arabella berada tadinya, tapi perempuan itu sudah menghilang di tengah kerumunan.
__ADS_1
Denting piano mengambang di udara, dan orang-orang menatap pada Jose sambil terkikik dan berbisik-bisik. Jose menelan ludah, merasa tak nyaman dengan semua ini. Tempat ini ramai dan sesak, tapi ia merasa kedinginan setengah mati seolah berada di tengah badai salju. Ia mundur perlahan, berusaha untuk tidak menarik perhatian siapa pun, meski percuma. Ketika Jose akhirnya menemukan keberanian untuk berbalik, ia dihadang oleh seorang pelayan perempuan berseragam putih yang membawa nampan perak berisi anggur merah.
Pelayan itu mengenakan topeng karnaval berwarna hijau yang hanya menutupi matanya. Ia mendekati Jose dan menawarkan minum. Jose menggeleng dengan sopan. Pelayan itu tampak kecewa. Rambut cokelatnya yang digerai berayun ringan waktu ia berjalan maju, masih dengan nampan minuman di tangan.
"Tuan, Anda menyelamatkan saya satu kali," pelayan itu berkata. Suaranya manis seperti dalam mimpi. "Apa Tuan sudi menolong saya sekali lagi?"
"Apa?" Jose mengerutkan kening. Sebelah tangannya masih menyentuh medalion di balik tux. Ia menatap sekitar dengan gugup, merasa seolah dikurung oleh para tamu. "Maaf, aku tidak mengenalmu."
"Anda mengenal saya!" Pelayan itu menatap ke belakang Jose, kemudian mengulang dengan suara lebih keras, "Tuan Argent menolong saya! Membebaskan saya dari gunung!"
Jantung Jose mencelos. Tengkuknya seperti dirambati ribuan serangga. Ia merasa lututnya lemas dan perutnya melilit. "Mustahil," bisiknya pelan. Dalam benaknya kini terbayang sosok lain yang jauh dari cantik, sosok mayat hidup berbau busuk yang mengeluarkan bunyi seperti air mampet. Jose menggeleng sekali lagi, berusaha mencari kata-kata yang hilang dari kepalanya. "Gla ... dys?"
Pelayan di depannya meringis. "Sudah saya bilang, Tuan mengenal saya."
"Anda juga bisa menolong kami?" tanya seseorang yang lain. Jose berbalik, melihat bahwa ia tidak salah. Para tamu memang bergerak mendekatinya dalam cara yang mengintimidasi. Para tamu sudah membentuk kurva mengelilinginya. Mereka semua mengenakan topeng pesta, dan semuanya tersenyum hingga gigi-gigi putih mereka terlihat. "Selamatkan kami sekalian!"
Rasa ngeri muncul dalam gelombang-gelombang yang memukul tanpa ampun, melumpuhkan. Lebih lama lagi berasa di situ, Jose tahu ia bisa histeris. Jose bergerak mundur perlahan, kemudian berlari keluar ruangan. Bahunya menabrak bahu Gladys. Mau tak mau Jose membayangkan kembali sosok gadis itu ketika berada di Tebing Curam. Sosok mayat yang bahunya lepas dan sendi-sendinya tak beraturan. Napas Jose tersengal. Dadanya terasa panas terbakar. Jose mempercepat larinya hingga hampir tersandung kaki sendiri. Ia masih bisa mendengar suara tawa mereka di belakang punggungnya, tawa tak berjiwa. Ia bisa mendengar suara-suara permohonan mengerubuti telinganya seperti dengung tawon.
Selamatkan kami.
Suara itu begitu jelas, seperti diucapkan langsung ke dalam kepala Jose.
Kami ingin berhenti berpesta!
__ADS_1
***